
“Sudah antrian nomor berapa?”, tanya Arya yang saat ini sedang membuka laptopnya.
Sambil menemani Dinda, Arya masih harus membalas beberapa pertanyaan dari para bawahannya. Terkadang dia juga harus menerima beberapa panggilan telepon. Di sela - sela kesibukan nya, Arya menyempatkan diri untuk sekedar mengajak Dinda mengobrol.
"Masih lama kok, mas. Mas Arya santai saja. Mungkin yang di dalam masih memiliki banyak pertanyaan.", ujar Dinda pada Arya.
"Hm.. memangnya di dalam boleh tanya - tanya?"
"Tentu saja bisa mas. Ha-ha.. namanya juga kontrol. Justru itu menjadi saat yang tepat untuk orang tua bertanya mengenai kesehatan bayinya. Baca buku penting, tetapi mungkin ada pemahaman kita yang berbeda dari yang ad di buku.", kata Dinda menjelaskan.
Entah mengapa dia menjadi lebih tahu sekarang dibandingkan Arya. Padahal biasanya kalau untuk urusan lain, pasti Dinda yang akan mendapatkan kuliah singkat dari Arya.
"Hm.. Ya sudah, nanti saya harus tanya - tanya juga banyak hal.", ujar Arya seolah - olah dia ingin menghabiskan hari ini hanya untuk bertanya pada dr. Rima.
"Ohiya Din, kamu juga harus tanya, kamu jadi sering ke toilet kan sekarang. Apa itu normal atau tidak.", ujar Arya.
"Hm.. iya benar. Sama sesekali aku masih merasa tidak enak saat mencium bau kopi. Meski tidak separah dulu.", balas Dinda.
Arya membuka topik - topik dengan bertanya tentang informasi - informasi di sekitar. Kemudian sesekali membahas tentang perkembangan kehamilan.
Meskipun rumah sakit sudah berusaha menjaga waktu kedatangan pasien agar tidak lama menunggu, namun di lapangan tetap saja kadang ada kasus - kasus khusus dimana dokter juga bisa membutuhkan waktu yang lebih lama untuk pasien tertentu.
Mungkin hari ini adalah salah satunya. Dinda dan Arya sudah menunggu sekitar 1 jam namun masih ada sekitar dua orang antrian lagi yang harus mereka tunggu.
Dinda sangat senang dengan obrolan yang berusaha Arya bangun sembari mereka menunggu. Dia bisa melihat kalau Arya berusaha di tengah - tengah kesibukannya yang padat. Beralih dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, berpikir dari satu topik ke topik yang lain tidaklah mudah.
Apalagi, Arya harus menjaga ritme emosionalnya saat menghadapi bawahannya, bosnya, klien, dan juga Dinda istrinya. Dia harus bisa mengontrol intonasi saat beralih dari emosional kerja ke istrinya, Dinda. Hal itu jelas tidak mudah.
Kenapa Dinda bisa memahaminya? Meski jelas tak se-profesional Arya, namun Dinda bisa mengetahui bagaimana mengontrol emosi saat di dunia kerja dengan kehidupan personal. Walaupun dia masih intern atau magang, namun dia sudah belajar banyak.
Bagaimana sulitnya dia mengontrol stress dan emosionalnya ketika harus berhadapan dengan atasan yang memarahinya. Bagaimana menghilangkan bayang - bayang itu dan mengubah kembali suasana hatinya saat bertemu dengan teman kantornya.
Dinda belum sepenuhnya bisa berusaha seperti Arya. Kadang, saat masalah dalam pekerjaan datang, Dinda sudah pasti akan terlihat lebih diam dibandingkan biasanya saat bertemu dengan teman - temannya.
“Ada banyak masalah ya mas Arya di divisi Business and Partners?”, tanya Dinda.
Beberapa minggu terakhir, selain membaca buku - buku tentang kehamilan, Dinda juga mencoba membaca topik - topik tentang bagaimana membangun komunikasi antara suami dan istri.
Di sadar kalau dia masuk ke dalam kehidupan yang jauh lebih serius ini lebih cepat dari perkiraan. Sudah barang pasti Dinda tidak punya persiapan. Apalagi dengan segala drama yang dia dapat yang berbeda dari kebanyakan pasangan yang menikah. Ya, everyone has a different story.
Dinda harus memastikan komitmen Arya. Dinda harus berhadapan dengan masa lalu Arya. Dinda harus siap dengan orang seperti apa Arya.
Bukankah Arya juga sama? Dia punya orang yang dia cintai sebelumnya. Dia punya kehidupan yang jauh berbeda sebelumnya. Sekarang dia harus berhadapan dengan anak kecil kemaren sore yang berbagi kehidupan dengannya.
Selama ini mungkin Dinda masih berpikir tentang dirinya. Tapi, Arya juga menghadapi hal yang sama kan?
“Hm.. masalah - masalah biasa yang memang sering muncul. Bedanya, sekarang ada 10.”, kata Arya melirik ke arah Dinda sebentar lalu kembali ke laptopnya.
"Tenang saja. Masih bisa terkendali, kok.", jawab Arya.
Dinda mengangguk - angguk paham.
“Jadi, nanti kemungkinan kita sudah bisa melihat jenis kelaminnya, ya? Kamu mau apa?”, tanya Arya.
“Hm.. seharusnya begitu. Semoga baby kecil ini tidak menutupinya lagi seperti bulan lalu. Laki - laki atau perempuan tidak masalah. Yang jelas jangan dingin seperti mas Arya. Ha-ha-ha.”, Dinda tertawa renyah sambil menyandarkan kepalanya di bahu Arya sebentar.
Dinda adalah tipe yang tidak terlalu banyak melakukan kontak fisik di depan umum. Justru, Arya yang lebih sering memegang tangannya atau menarik pinggangnya untuk mempersempit jarak diantara mereka.
Bahkan, Arya juga terkadang melakukan lebih hanya untuk menggodanya. Dia tahu Dinda mudah merasa malu. Terlebih jika mereka sedang bersama keluarga besar.
“Hm?”, Arya menatap Dinda tidak percaya jika Dinda menilainya dingin.
“Iyaa.. mas Arya sih sudah tidak sedingin dulu lagi. Tapi, tetap saja terkadang ‘dingin’ melebihi kulkas. Mungkin karena mas Arya kalau tidur di malam hari, AC nya menyerupai kutub utara?”, balas Dinda memiringkan kepalanya agar bisa menatap wajah Arya.
“Memangnya kamu sudah pernah ke kutub utara?”, tanya Arya dengan nada datar.
“Tuhkan, yang seperti ini mas. Dingin!”, kata Dinda menunjukkannya dengan pergerakan tubuhnya.
"Lebih enak dingin, tidurnya bisa lebih pulas di balik selimut.", sahut Arya.
"Tapi gak sekecil itu juga mas Arya suhunya.", protes Dinda.
__ADS_1
Arya hanya tersenyum mendengar komentar istrinya. Sekarang dia tahu apa yang dia maksud. Setidaknya salah satunya. Ya, Arya terkadang memang terlalu serius.
"Nanti kamu juga terbiasa kok dengan itu."
"Tapi ya, waktu sesekali memanggil Ibas di kamarnya, aku rasa suhu disana tidak sekecil suhu di kamar mas Arya."
"Kamar kita?"
"Iya betul."
"Ya, itu memang dasar kamarnya Ibas saja kebesaran."
"Ngarang banget mas Arya. Kamar mas Arya yang jauh lebih besar."
"Kamar kita.", Arya kembali mengoreksi pengucapan Dinda.
"Iya.. kamar kita. Tunggu, aku jadi mengerti sekarang. Sepertinya luas kamar tergantung dari urutan lahir deh. Waktu main ke kamar Rafa dan Samawa, aku lihat kamar Mba Andin itu luasss banget. Terus kedua kamar 'KITA', dan selanjutnya baru kamar Ibas.", ujar Dinda berceloteh panjang.
"Kamu tahu ga, kenapa jarak aku dan mba Andin tidak terlalu jauh, sementara jarak aku dan Ibas jauh sekali?"
"Kenapa?"
"Itu karena mama sama papa rencananya cuma mau punya dua anak seperti keluarga berencana. Terus, tiba - tiba pas aku sudah mau lulus SD, mama hamil lagi. Keluarlah Ibas. Jadi kamar yang sekarang itu sebenarnya kamar tamu seperti yang lainnya lalu digabung khusus untuk Ibas.", Arya tertawa saat menceritakannya.
Cerita itu menjadi cerita favoritnya karena setiap kali dia ingin menjahili adiknya, maka Arya akan mengeluarkan cerita itu sebagai senjata ampuhnya. Ibas merasa tidak senang dan langsung bete setiap kali ada yang mengungkit cerita itu.
Dia merasa seolah menjadi anak yang tidak diinginkan. Padahal, mama Inggit sudah mengatakan padanya berkali - kali bahwa bukan seperti itu juga.
"Hm.. itu kenapa setiap kali dimarahi, dia sangat murka kalau dibanding - bandingkan dengan mas Arya.", ujar Dinda menarik kesimpulan.
"Ha-ha.. iya. Kalau dipikir - pikir kasihan juga. Tapi Papa dan mama sama sekali tidak membedakan kok. Itu hanya perasaan Ibas saja."
“Atas nama Ibu Halimah. Silahkan ke ruangan ya, Bu.”, panggil perawat mengalihkan perhatian Arya dan melihat ke arah perawat tersebut.
“Setelah ini, berarti kamu?”, tanya Arya sambil menoleh ke arah istrinya.
“Oh… iya mas. Akhirnya..giliran aku tiba.”, kata Dinda senang.
Sepertinya pasangan itu sebaya. Kalaupun berjarak, kemungkinan jaraknya tidak terlalu jauh. Terlihat di atas Dinda beberapa tahun dan masih di bawah Arya. Begitu hasil deduksi Dinda saat melihat perawakan mereka.
Uniknya, ukuran baby bump wanita itu juga masih belum terlalu terlihat.
“Okay, laptop ditutup. Saatnya untuk memeriksa baby kecil kita.”, kata Arya menutup laptopnya dan memasukkannya ke dalam tas.
Arya mengelus - elus sebentar perut Dinda.
“Oh.. sudah sebesar ini?”, kata Arya dengan ekspresi berlebihan menurut Dinda.
“Apaan sih.. Masih kecil. Mas Arya, ihhhh.”, kata Dinda protes.
“Udah besar ini, sudah ada gelembungnya. Apa istilahnya, aku lupa. Padahal sudah baca beberapa hari yang lalu. Kapan dia mulai muncul.”, kata Arya sambil mengingat - ingat namanya.
“Baby bump?”, tanya Dinda memastikan.
“Ah iya… baby bump. Ini beneran baby bump atau hasil kamu makan nasi goreng Bi Rumi tadi malam?”, goda Arya.
Mata Dinda langsung membulat. Sontak dia langsung memukul Arya dan Arya tertawa lepas karenanya.
Tadi malam, tepatnya dini hari, Dinda tiba - tiba bangun dari tidurnya. Dia mencoba memasak nasi goreng karena dia lapar. Sontak keheningan malam itu tergantikan dengan bunyi wajan jatuh di dapur.
Alhasil semua orang turun. Arya tentu saja berlari dari atas ke bawah karena dia terkejut Dinda tak ada di sampingnya. Tidak hanya itu, Inggit, Bi Rumi, Ibas, juga ikut turun karena jatuhnya satu wajan ternyata mengakibatkan jatuhnya wajan yang lain dan bunyinya sudah bisa menjadi tim drum sendiri.
“Mas Arya!”, teriak Dinda pelan pada Arya dan memukulnya.
Pria itu pasti akan terus menggodanya sampai dia lupa.
“Lagian, kamu kalau lapar, kenapa tidak membangunkan Bi Rumi? Kamu maunya membangunkan semua orang ya?”, tanya Arya tertawa lepas.
“Aku gak enak, takutnya Bi Rumi sudah tidur lelap.”, kata Dinda malu.
“Ya.. pasti Bi Rumi bersedia, kok. Gapapa. Lagipula bukannya kamu juga punya stok snack di lemari baju?”, kata Arya kembali menggodanya.
__ADS_1
Kali ini matanya juga membulat karena terkejut.
“Kok mas Arya bisa tahu?”, tanya Dinda heran.
Dinda sengaja menyembunyikan makanan - makanan itu di lemari baju agar Arya tidak tahu karena dia malu makan sebanyak itu.
Dan Arya malah dengan mudah menemukannya.
“Aku sedang mencari sesuatu dan kebetulan membuka laci itu. Dinda.. Aku ga akan komen kalau kamu menyimpan snack sebanyak itu. Memangnya kenapa?”, tanya Arya pada Dinda.
Dinda hanya tersenyum malu.
Pasangan yang ada di depan mereka memperhatikan interaksi Dinda dan Arya.
"Berapa usia kandungannya?", tanya wanita itu pada Dinda.
"4 bulan.", jawab Dinda ramah.
"Wah kebetulan sekali. Sama usianya. Saya juga masuk 4 bulan.", ujarnya tersenyum.
Dinda dan wanita itu terlibat pembicaraan kecil dan mereka terlihat nyaman mengobrol satu sama lain. Sementara suami mereka sibuk sendiri.
Usianya terpaut jauh sih. Mungkin suami wanita itu agak sungkan untuk mengajak Arya berbicara.
“Atas nama Bu Dinda Larasati? Silahkan untuk masuk ke ruangan.”, giliran Dinda akhirnya datang.
"Kalau begitu kami duluan ya, mba.", ujar Dinda pamit dengan sopan dan ramah.
Arya juga ikut tersenyum.
Keduanya langsung berdiri dan masuk ke ruangan dr. Rima.
Sementara itu dari kejauhan.
Ada ekspresi yang terkejut dan shock melihat mereka berdua. Tidak hanya fakta bahwa Arya dan Dinda sedang menunggu di depan ruangan dokter kandungan tetapi juga fakta bahwa Arya se-ramah itu, se-supel itu, se-fleksibel itu, dan semudah itu untuk tertawa.
Sarah, wanita itu tadinya sudah mengetahui kapan dr. Rima akan selesai praktek dan memutuskan untuk pergi ke Cafe untuk membeli kopi dan beberapa roti. Namun, entah mengapa, dia tertarik untuk berbelok ke arah ruangan dokter Rima hanya untuk melihat - lihat.
Disanalah secara kebetulan dia melihat keberadaan Arya dan ternyata disampingnya juga ada Dinda. Dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Selama ini, Sarah sadar bahwa Arya, pria yang dulu adalah miliknya, sudah menikah lagi dengan Dinda, wanita yang dia tidak pernah kenal.
Tapi, Sarah tidak pernah membayangkan bahwa kehidupan pernikahan yang Arya punya adalah yang seperti ini. Dan wanita itu hamil? Hal yang paling dia inginkan saat bersama Arya.
Tatapan matanya nanar seiring berlalunya Arya dan Dinda menuju ruangan dr. Rima. Meski hanya dari kejauhan, tapi Sarah bisa melihat betapa naturalnya mereka.
Sarah mengepalkan tangannya yang semakin lama semakin kuat, seolah melampiaskan kemarahannya. Nafasnya memburu karena marah. Entah marah pada siapa.
5 Tahun yang lalu
"Arya, kamu tidak mau kalau kita punya anak?", tanya Sarah blak - blakan setelah menunggu Arya pulang dari urusan pekerjaannya.
Malam itu, Arya pulang larut sekali. Tetapi Sarah menunggunya sampai pria itu datang.
"Apa maksud kamu? Memangnya kapan aku berkata seperti itu?", balas Arya meletakkan mantel hujannya.
Di luar hujan besar. Mobilnya mogok dan harus menunggu taksi untuk pulang.
"Tindakan dan sikap kamu belakangan ini membuat aku berpikir kamu tidak benar - benar ingin punya anak.", Sarah terlihat frustasi.
Dia memijat jidanya. Hembusan nafasnya berat. Hujan besar di luar terlihat dari jendela apartemen mereka.
"Aku kenapa? Aku tidak pernah mengatakan aku tidak ingin punya anak. Hanya waktunya saja yang kurang pas. Belakangan ini aku juga sedang sibuk. Banyak proyek yang harus aku selesaikan.", ujar Arya mencoba tidak terpengaruh dengan ritme bicara Sarah yang sudah menggebu - gebu dan penuh emosi.
"Dengan? Kamu terus saja beralasan proyek, proyek, dan proyek. Memangnya tidak mungkin untuk menyediakan waktu sebentar saja."
"Aku kan sudah menjanjikan untuk kita liburan? Kita bisa mencoba lagi dengan kondisi, pikiran, dan lingkungan yang mendukung.", Arya sudah lelah dengan segala jenis perkara di kantornya. Bukan senyuman atau pelukan atau bahkan kehangatan di kala hujan deras seperti ini, dia malah harus berdebat lagi.
"Kapan? Bulan lalu kamu membatalkan rencana perjalanan kita dan malah ikut dengan acara keluarga mama yang gak jelas itu. Terus malam ini kamu juga pulang larut malam? Kamu sengaja menghindari aku?", teriak Sarah.
"Malam ini hujan deras, Sarah. Aku bahkan belum sempat mengatakan kalau mobil aku mogok dan aku harus menunggu taksi sampai satu jam lebih untuk pulang. Kamu terus memotong perkataanku.", Arya sudah mencoba menguasai dirinya dan berbicara setenang dan sepelan mungkin.
"Arghh...", Sarah yang kesal masuk berjalan masuk ke kamar sambil membanting pintu. Bukan ke kamar utama mereka, tetapi masuk ke dalam kamar tamu.
__ADS_1