
“Kenapa tidak mengaku saja?”, ujar seseorang secara tiba - tiba di belakang Dinda.
Dia tidak merasakan kehadiran siapapun menuju lift. Namun, saat ini tiba - tiba saja seseorang berada di belakang Dinda. Dinda sangat mengenal suaranya. Suara laki - laki.
“Kenapa tidak mengaku saja kalau kalian berdua ada hubungan.”, ujar laki - laki itu lagi di belakang Dinda.
Dinda menoleh ke belakang dan dia mendapati Bryan berdiri tegak dua langkah di belakangnya.
“Bryan?”
“Ada apa dengan wajah kaget itu? Kamu takut aku mengatakannya pada yang lain?”, ujar Bryan.
Dinda tidak bisa mendapatkan jawaban apa - apa hanya dengan melihat wajah Bryan.
“Apa maksud kamu? Dari tadi kamu juga melihat ke arahku terus. Ada apa?”, tanya Dinda.
“Sudah sejauh apa hubungan kalian? Haha.. aku benar - benar tidak percaya bahwa pria dewasa seperti Pak Arya mengencani intern yang bahkan baru lulus. Kamu yakin, Dinda?”, Tanya Bryan.
“Eh?”
“Aku bukan tipe orang yang ingin tahu urusan orang lain. Tapi, aku sarankan kamu berhati - hati dengan Pak Arya.”, ujar Bryan.
Pintu lift terbuka. Bryan langsung masuk ke dalam lift tersebut.
“Kamu tidak masuk?”, tanyanya pada Dinda.
“Ah.. iya.”, jawab Dinda.
“Apa maksud kamu berhati - hati dengan Pak Arya?”, Tanya Dinda.
“Dia sedang mengencanimu kan? Aku tak sengaja melihatmu turun dari mobil pak Arya pagi ini. Jangan bilang aku salah lihat. Karena aku tahu benar nomor polisi mobil pak Arya dan aku tahu benar yang aku lihat adalah kamu.”, jawab Bryan.
Pintu lift terbuka. Bryan keluar dari lift sedangkan Dinda masih terdiam. Dinda memejamkan matanya sebentar, menghela nafas, lalu menyusul Bryan.
“Bryan. Tunggu. Bisa kita bicara sebentar?”, Dinda mengajak Bryan ke pantry. Dia tidak bisa membiarkan ini selesai begitu saja tanpa pembicaraan. Dinda perlu menanyakan sesuatu padanya.
Setelah celingak - celinguk ke kiri dan ke kanan sekitar ruangan, Dinda sangat yakin tidak ada orang disana. Kantor ini memiliki dua pantry. Satu pantry untuk makan siang yang lebih luas, dan satu pantry tempat snack dan mesin kopi yang lebih kecil. Dinda menutup pintunya.
“Apa kamu mengatakan itu ke Andra?”, tanya Dinda.
__ADS_1
“Tenang saja. Aku tidak tertarik dengan urusan orang lain. Tapi, saranku sebaiknya kamu tidak berhubungan lagi dengan Pak Arya.”
“Kenapa?”, Tanya Dinda.
Seharusnya Dinda tidak bertanya. Dia beruntung karena yang melihat adalah Bryan dan laki - laki itu mengira mereka berpacaran, bukan sudah menikah. Tapi, Dinda bingung dengan kalimat terakhir Bryan. Kenapa dia harus mengatakan untuk berhati - hati dengan Arya, bukan berhati - hati agar tidak ketahuan oleh Suci, Andra, dan yang lainnya.
“Aku tidak tahu kenapa Pak Arya memacarimu. Aku sering ke klub yang dia datangi. Dia tidak sebaik penampilannya.”, ujar Bryan.
‘Bagaimana aku tidak berhubungan lagi dengannya. Dia suamiku. Apa citra pak Arya di mata orang - orang seburuk itu?’, ucap Dinda dalam hati.
“Kamu tidak akan mengatakan ini pada yang lain kan?”, tanya Dinda memastikan dengan hati - hati.
“Seperti yang aku katakan tadi. Aku tidak tertarik pada urusan orang lain. Aku hanya penasaran dan tidak percaya sampai saat ini. Kenapa kalian berdua bisa pacaran? Kenapa pak Arya yang notabene sudah dewasa memacari intern yang baru lulus? Dan kamu juga, kapan kamu mulai dekat dengannya?”
‘Kamu akan lebih kaget kalau tahu kami sudah menikah. Bagaimana ini? Melihat reaksi Bryan saja aku sudah takut. Apalagi jika yang lain tahu yang sebenarnya.’
“Em.. aku ingin bertanya. Kenapa tadi kamu bilang pak Arya tidak sebaik penampilannya?”, Dinda sangat penasaran. Apakah citra Arya dimata yang lain benar - benar seburuk itu.
“Sebelumnya aku sering melihatnya di klub bersama wanita. Tidak sekali dua kali. Aku melihatnya keluar dengan wanita berbeda. Tapi, setelah aku pikir - pikir. Aku tidak pernah melihatnya lagi sejak beberapa bulan lalu. Apa karena dia mengencanimu?”
“Ah…”, Dinda seperti menggali kuburnya sendiri. Kenapa dia harus menanyakannya.
“He..he..Aku tidak tahu harus menjawab apa.”, ucap Dinda. Dia terkejut Bryan mengetahui ini. Tapi dia sekaligus lega karena yang mengetahuinya adalah Bryan. Dia bukan tipe pria lemes seperti Andra. Dan beruntungnya, Bryan mengira mereka berpacaran.
“Baiklah. Terserah kamu. Aku janji tidak akan mengatakannya pada yang lain. Tapi sebaiknya kamu berhati - hati. Besok - besok, mungkin bukan hanya aku yang memergoki kalian.”, ujar Bryan memberikan peringatan lalu pergi.
*****
Jalanan kota sudah mulai macet karena jam pulang para pekerja kantoran sudah dimulai. Seperti semut, semua berhamburan keluar dengan semangat karena satu hari kerja telah berakhir. Mereka yang membawa mobil pribadi berjalan ke arah basement menuju parkir. Mereka yang menggunakan transportasi umum berjalan ke arah halte memesan ojek online atau melanjutkan dengan transportasi umum lainnya.
Tak terkecuali Dinda. Gadis ini sudah menunggu jemputannya sejak lima menit yang lalu, namun belum juga tiba. Arya ada meeting dadakan malam ini bersama salah seorang dari tim manajemen dengan sebuah perusahaan besar di Thailand yang baru saja membuka cabang di Indonesia. Pria itu sudah menghubungi pak Cecep agar bisa menjemput Dinda sore ini.
“Hai, Din. Mau pulang?”, sapa seorang pria yang Dinda kenal. Dimas.
“Oh. Iya.”, jawab Dinda mengangguk.
“Boleh saya bertanya?”, ucap Dimas.
“Hm?”
__ADS_1
“Sebenarnya apa hubunganmu dengan Arya? Kalau kamu ingat, kita pernah bertemu di parkiran Mall waktu itu. Aku tidak mengatakan apa - apa sampai saat ini karena aku berpikir itu bukan urusanku. Tapi, aku tidak menyangka kalian ternyata satu kantor. Apa kalian memang punya hubungan spesial? Pacaran misalnya?”
Dinda melihat ke kiri dan ke kanan untuk memastikan tidak ada yang mendengarkan. Meski halte sepi karena kebanyakan orang sudah mendapatkan tumpangannya, tetapi tetap saja masih ada orang yang mungkin bisa mendengarkan.
“Bisa pelankan sedikit suaranya?”, ujar Dinda memohon.
“Tenang saja. Mereka tidak akan dengar. Lagi pula hanya ada dua orang yang berdiri jauh dari tempat kita.”, ujar Dimas berbisik untuk menggoda Dinda.
“So, apa hubunganmu dengan Arya? Aku mendengarkan temanmu bergosip tentangmu. Hari ini tentu saja bukan kali pertama.”
“Maaf, tapi sepertinya saya tidak perlu menjawabnya. Saya rasa kita tidak seakrab itu dan saya tidak perlu menjelaskan apa – apa.”, jawab Dinda tegas.
“Kamu semakin menarik saja. Diantara semua wanita yang aku dekati. Tidak ada yang membuat garis pembatas setiap kali berbicara sepertimu.”
Dinda bergidik mendengar Dimas mengatakan itu.
“Maaf, apa kamu memang semudah itu merasa akrab dengan seseorang? Saya rasa urusan kita sudah selesai lama. Dan saya tidak berteman dengan laki - laki kecuali rekan kerja.”, ujar Dinda kembali memberikan batas.
“Lalu Arya? Aku tidak pernah tahu Arya punya adik perempuan. Apa kamu sepupunya? Tapi adegan yang aku lihat waktu itu bukan seperti pria yang sedang menggandeng sepupunya. Satu lagi, apa kamu benar - benar tidak tahu kenapa aku bersikap ramah padamu?”, Dimas maju satu langkah dari tempatnya berdiri sekarang. Dua orang yang ada di halte tadi sudah mendapatkan tumpangannya. Kini mereka hanya tinggal berdua disana. Gerakan Dimas membuat Dinda otomatis mundur.
Dinda menggeleng.
“Heh. Kenapa kamu jadi semakin menarik saja. Aku tahu sekarang, kenapa Arya yang sok cool itu memacarimu.”, ujar Dimas.
‘Bagaimana aku harus menghadapi orang ini? Sebenarnya dia mau apa? Dia bersikap seperti menyukaiku saja. Eh.. tidak mungkin kan?’
Sebuah mobil mendekat ke arah halte. Pak cecep turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Dinda.
“Maaf non, sudah lama nunggunya? Tadi Pak Cecep antar ibu dulu.”, ujar Pak Cecep pada Dinda. Pak Cecep melirik ke arah Dimas seolah dia mengenalnya.
“Ah iya Pak. Gapapa.”, jawab Dinda.
“Permisi.”, ujar Dinda pada Dimas sebelum menaiki mobil yang kemudian melaju meninggalkan kantor.
Dimas termenung sebentar.
‘Bukankah itu supir Arya? Aku beberapa kali melihatnya mengantar Sarah ke klub dulu. Sebenarnya apa hubungan mereka. Arya tidak mungkin memacari gadis seperti Dinda. Tapi, mengapa saat itu Dinda ada bersama Arya di Mall. Dan kenapa supirnya repot - repot untuk menjemput gadis itu di kantor? Apa dia memang sepupunya. Arghhh... aku ingin sekali menanyakannya pada Arya. Tapi dengan kepribadian pria itu, dia pasti akan menghajarku lagi.’
*****
__ADS_1