
Jarum jam sudah menunjukkan waktu makan siang. Sebagian besar karyawan sudah meninggalkan kursi mereka menuju pantry. Sebagian kecil sudah keluar kantor untuk mencari restoran terdekat. Sedangkan sebagian kecil sisanya masih setia dengan kursi mereka.
“Belakangan ini Pak Arya kenapa sih? Aku harus menghadiri 2x meeting dalam seminggu. Belum lagi 1 to 1 dengan Pak Arya di ruangannya hampir sekali seminggu. Hah.. kalau begini, aku bisa trauma dengan ruangannya.”, keluh Eko, Manager tim 3 yang sudah lebih dulu makan siang diluar pada pukul 11 tadi.
Kini dia harus menyelesaikan laporan karena jam 1 nanti dia ada meeting dengan Pak Arya bersama timnya.
“Sepertinya semua Manager tim mengalami hal yang sama. Belakangan Pak Arya sangat rajin mengecek kesiapan laporan, meeting, dan project terutama dengan klien di luar negeri.”, ujar Susan, Manager Tim 7.
“Mungkin dia kesal dengan meeting dadakan yang diadakan minggu lalu. Dia kan orang yang sangat menjaga work-life balance. Beberapa minggu ini, para manajer banyak yang melakukan kesalahan pada laporan mereka sampai dia harus meeting hingga larut malam.
“Memangnya siapa yang dia nanti sih di rumah. Kan dia sudah bercerai, apa gunanya pulang lebih awal.”
“Dia sudah bercerai bukan berarti dia tidak punya pacar.”
“Ah.. tapi dia sudah sangat jarang terlihat di klub. Tanya saja dengan Kevin dan Jimmy. Rumah mereka kan di Bar.”
“Atau jangan - jangan Pak Arya sedang mengincar posisi yang lebih diatas lagi? Dalam waktu beberapa tahun, dia yang usianya lebih muda dari kita saja sudah bisa di level itu.”
“Mungkin juga. Tapi dia kan baru saja dipromosikan, masa sudah ambis lagi. Aku yakin bukan karena pekerjaan. Tetapi karena wanita.”
“Ngomong - ngomong kamu tidak makan, Susan?”
“Aku sedang diet. Minggu depan aku ada acara penting. Aku harus tampil dengan body bagus.”
“Memangnya apa yang salah dengan bodymu, sepertinya sudah langsing.”
“Kamu ini laki - laki atau bukan sih, tidak bisa membedakan.”
“Ah.. apanya yang berbeda, sepertinya sama saja.
Perbincangan mereka terus berlangsung sampai jam makan siang selesai. Arya, hari ini misinya adalah pulang lebih awal. Tidak, setiap hari mulai sekarang, misi Arya adalah pulang tepat waktu dan pekerjaan tetap selesai dengan sempurna.
Sudah beberapa hari Arya berhasil melakukannya. Hari ini, dia juga pulang lebih awal.
“Din, apa seharusnya kita tidur bersama lagi. Menunggu sampai bulan depan sepertinya sangat lama. Aku juga sekarang sudah pulang lebih awal, jadi..”, ujar Arya hati - hati.
Biasanya Dinda yang selalu berhati - hati dalam berbicara sampai dia harus mencari momen yang tepat. Tapi beberapa hari ini situasi menjadi terbalik. Dinda merasa Bianca telah memberikannya solusi yang tepat.
“Masa kamu membiarkan suami kamu tidur di sofa? Kalau Bunda tahu, kamu pasti sudah diceramahi.”, kata Arya sedikit bersemangat dengan kata - katanya.
“Ya sudah, kalau mas Arya tidak mau tidur di sofa, biar aku saja yang tidur di sofa.”, ujar Dinda bangun dari tidurnya dengan membawa bantal dan selimut.
Dia sudah bersiap untuk berpindah tempat.
“Ah. Tidak - tidak. Maksudku, kamu tidur di ranjang, aku juga. Anak kita bisa lupa dengan papanya kalau terlalu lama saling berjauhan.”, Arya mendapatkan alasan baru.
“Papanya saja tidak datang saat periksa keadaannya. Jadi, bukan dia yang lupa pada papanya, tapi papanya yang lupa.”
“Din.. sayang.. Masa kamu bicara sampai segitunya sih. Aku benar - benar berusaha keras loh, agar bisa pulang tepat waktu. Bukankah seharusnya kamu menghargai usaha itu?”
“Kita lihat bulan depan sesuai perjanjian.”, ujar Dinda yang sudah kembali ke ranjangnya lagi.
“Hah.. kamu belajar dari siapa sih bisa sedingin itu.”
“Siapa lagi kalau bukan mas Arya.”, kata Dinda dengan berani.
Dinda sudah mematikan lampu nakas, pertanda bahwa dia sudah ingin tidur dan tidak mau diganggu lagi.
“Kamu tahu, kalau suami istri sudah tidur terpisah, mudah loh untuk orang ketiga masuk.”, Arya barus saja mencari tips untuk meredakan kemarahan istri di ponselnya, kata - kata barusan adalah salah satunya meski dia tidak yakin.
“Jadi, mas Arya mau coba selingkuh. Silahkan.”, kata Dinda.
Dinda mengatakan sekenanya. Dia tidak berpikir betapa berbahayanya kata - kata seperti itu. Hormon yang muncul karena kehamilan membuat dia jadi lebih sensitif dan mengatakan hal yang sama sekali tidak dia inginkan.
‘Dasar mulut ini. Kenapa aku malah mengatakannya. Hah.. membayangkannya saja aku tidak sanggup. Bagaimana kalau mas Arya benar - benar selingkuh?’, ucap Dinda dalam hati sambil memukul - mukul bibirnya dengan telapak tangan.
*******
Tuk tuk tuk tuk..
“Iya, masuk.”, ujar Arya dari dalam ruangannya.
“Pak Arya, maaf. Sepertinya Pak Arya harus mengambil alih meeting ini.”, ujar Siska.
“Hm? Project siapa ini? Tim 7?”, kata Arya menebak.
“Iya Pak.”
“Susan memangnya kemana? Saya kira dia berangkat hari ini.”
“Seharusnya begitu, pak. Tapi barusan saya mendapatkan kabar dari rekan satu timnya kalau Bu Susan baru saja dilarikan ke UGD. Sepertinya masalah serius.”, jawab Siska.
__ADS_1
“Hah? Kenapa dia?”, tanya Arya terkejut.
“Detailnya belum bisa kita dapatkan. Tadi keluarganya yang baru mengabarkan ke timnya yang memang sedang menunggu - nunggu Bu Susan di bandara. Mereka akhirnya berangkat tanpa beliau dan baru mendapatkan kabar saat sudah sampai di bandara Changi.”, jelas Siska.
“Project tim 7 yang mana? Jangan bilang..”, Arya berharap dugaannya salah.
“Iya Pak Arya. Project tim 7 yang yang tentang startup IT company terbesar di Singapura. Ini project pertama yang berhasil dimenangkan oleh company kita. Dan besok adalah initial meetingnya jam 9 pagi. Saya tidak yakin bawahan Bu Susan bisa menghandlenya sendirian.”, kata Siska.
Siska memang tak jarang mengemukakan pendapatnya tentang sesuatu. Hal itu atas arahan dari Arya. Dia ingin Siska tidak hanya menjadi sekretaris seperti pada umumnya, dia ingin gadis itu mempelajari business dan bisa memberikan nilai lebih. Karena itulah yang menjadi modalnya untuk mengembangkan karir kedepan.
“Manager Tim lain, tidak ada yang available?”, tanya Arya.
“Kalaupun ada, mereka juga sedang full dengan project masing - masing yang timelinenya juga padat, Pak.”, jawab Siska.
“Hah… shit….. Sampai kapan aku harus tidur di Sofa.”, kata Arya frustasi.
“Heh? Tidur di sofa?”, tanya Siska heran.
“Segera hubungi tim terkait sekarang juga. Beli dua tiket ke Singapura penerbangan paling cepat. Kamu dan saya. Kita ke bandara sekarang.”
“Heh? Sekarang Pak? Tapi.”, Siska kaget mendengarnya.
Meski dia tahu situasinya, dia tidak menduga Arya akan mengambil tindakan ini. Dia kira dia akan mencoba untuk menunda meeting atau semacamnya.
“Kamu sudah siapkan koper di meja kamu yang bisa dibawa sewaktu - waktu, kan?”, tanya Arya memastikan.
“I-iya sih, Pak. Tapi apa tidak bisa ditunda meetingnya. Sepertinya terlalu urgent kalau…”
“Ini project pertama. Kamu tahu artinya, kan? Mereka tidak akan menerima alasan apapun. Online? Mereka akan mengira kita tidak professional. Initial meeting seperti ini tidak bisa dilakukan secara online. Kita ke bandara sekarang.”, ujar Arya segera mengambil jasnya dan berjalan menuju pintu.
“Kamu pergi ke divisi Digital and Development, minta Erick untuk memberikan laporan terkait project tim 7 segera via email. Maksimal jam 3 sore. Seingat saya, Susan sudah pernah mendiskusikannya dengan Erick. Saya tunggu kamu di parkiran. Kamu tahu mobil saya parkir dimana, kan?”, tanya Arya.
“Iya, tahu Pak.”
Siska segera menghubungi bagian ticketing untuk memesan dua tiket penerbangan tercepat hari ini ke Singapura. Waktu perjalanan ke bandara sekitar 45 menit, Siska mengambil waktu 2 jam sebagai estimasi terburuk jika ada macet, hujan, dan sebagainya.
Setelah mendapatkan konfirmasi tiket, dia berlari ke divisi Digital and Development untuk menemui Erick.
“Guys, sorry, Pak Erick dimana?”, tanya Siska segera setelah dia sampai di divisi DD.
“Di ruangan Pak Dika, mba. Kenapa? Terlihat buru - buru sekali.”
‘Mas Arya mau ke Singapur? Dia tidak bilang apa - apa hari ini.’, tanya Dinda dalam hati.
“Buru - buru, banget. Dadakan, ya?”, tanya Suci.
“Hm. Bu Susan, Manager tim 7 tiba - tiba masuk UGD, padahal besok jadwal dia meeting. Pak Erick bisa diganggu ga ya? Aduh gak enak, nih.”, Siska tak bisa menunggu lama, tapi dia juga tidak enak jika sembarangan masuk ruangan Pak Dika.
“Oh.. Pak Erick. Siang Pak.”, sepertinya keberuntungan sedang berpihak pada Siska.
Erick tiba - tiba keluar dari ruang meeting. Sepertinya diskusi mereka sudah selesai.
“Oh, iya Sis. Kenapa?”
“Pak, Pak Arya minta laporan tim 7 untuk dikirimkan segera malam ini, ya.”
“Oh? Bukannya paling lambat malam ini atau besok pagi?”, tanya Erick kaget.
“Mohon maaf Pak, ada situasi mendadak. Bu Susan tiba - tiba masuk rumah sakit dan Pak Arya harus menggantikan meeting itu. Karena Pak Arya tidak mengetahui detailnya, dia membutuhkan waktu itu mempelajari datanya malam ini sebelum meeting besok pagi. Kira - kira apakah memungkinkan, Pak Erick?”, tanya Siska hati - hati.
“Hm.. kalau begitu, akan saya usahakan untuk menyerahkan laporan maksimal jam 3 sore ini.”, ujar Erick.
“Terima kasih Pak Erick.”
“Kamu yang jalan?”
“Haha.. iya Pak. Kalau meeting dadakan, biasanya Pak Arya selalu bawa saya, soalnya beliau pasti akan fokus pada meetingnya. Dia tidak akan bisa mengurus keperluan administrasi dan lain - lain.”
“Wah… pasti akan sangat sibuk, ya. Sepertinya belum lama ini kalian meeting dadakan di Bali. Huft, banyak project, banyak dramanya juga.”, ujar Erick.
Siska hanya tersenyum dan segera permisi. Untuk kategori meeting yang terencana, biasanya Siska lebih banyak mengatur underground dari kantor. Karena semua sudah jelas. Sedangkan untuk meeting dadakan, Siska harus menjadi tangan kanan Arya sebagai sekretarisnya.
Dia harus mengurus keperluan Arya mulai dari tiket pesawat, dokumen, hotel, transportasi, arrangement meeting dan berbagai printilan lainnya. Sedangkan Arya harus fokus pada materi, laporan, dan presentasi. Karena judulnya dadakan, tentu saja Arya harus mempelajari semuanya.
Meski semua Manager melaporkan pergerakan project mereka dan Arya memang tahu semua project yang sedang berjalan, namun untuk detail yang harus disampaikan saat presentasi dengan klien, dia tidak mungkin bisa mengingat semua sampai ke detail - detailnya. Apalagi dia memegang 10 tim dimana masing - masing memiliki beberapa project yang sedang berjalan.
To: Istriku
Din….
Arya menulis pesan saat sudah sampai di mobilnya. Dia sedang tinggal menunggu Siska selesai dengan perintah yang dia berikan.
__ADS_1
Baru menulis satu kata, Arya kembali menghapus dan menggantinya.
Sayang.. Aku harus ke Singapur. Mungkin kembali weekend. Maaf.
Satu pesan singkat berhasil Arya kirim setelah beberapa kali dia menghapusnya. Awalnya, Arya menjelaskan panjang sambil meminta maaf, namun akhirnya dia menghapusnya dan menggantinya dengan pesan yang singkat.
Dinda tak bisa menyembunyikan wajah lesunya. Dia tahu seharusnya dia tak boleh begini. Arya juga bukan main - main. Dia bekerja. Daripada fokus pada waktu yang tak bisa Arya berikan, Terkadang Dinda berpikir lebih baik melakukan sebaliknya. Fokus pada waktu yang bisa Arya maksimalkan untuknya.
“Terus, kamu sudah mau berangkat ini?”, tanya Erick pada Siska yang baru saja akan berlalu dari divisinya.
“Iya Pak. Saya mau panggil OB dulu untuk bantu mengangkat koper.”, jawab Siska.
“Wah, sudah siap 45 ya?”
“Ya.. begitulah Pak.”
Mendengar itu, Dinda langsung berjalan ke arah lift lebih dulu.
“Mau kemana Din, ke Cafe bawah ya? Ikutan dong.”, kata Delina saat melihat Dinda bangun dari kursinya.
“Engga, mau ke toilet.”, ujar Dinda.
Dinda bergerak memutar ke arah toilet namun sebenarnya dia terus berjalan menuju lift untuk turun. Kalau mendengar keterangan Siska tadi, seharusnya Arya masih di parkiran. Dinda juga hapal dimana Arya memarkirkan mobilnya. Karena dengan posisinya sebagai kepala Divisi, Arya sudah mendapatkan tempat parkir permanen yang tidak boleh ditempati orang lain.
Dinda turun dan melanjutkan lift menuju Basement. Saat itu dia tanpa sengaja bertemu Dimas, namun Dinda tak mengindahkannya.
“Hai Din, mau kemana kamu buru - buru.”, tanya Dimas yang saat itu muncul dari arah yang berlawanan.
Tak ada jawaban dari Dinda karena dia memang sedang buru - buru. Dinda segera menekan tombol menuju parkiran. Kali ini keberuntungan untuk lift berada di pihaknya. Tak perlu menunggu lama, pintu lift menuju parkiran basement sudah terbuka.
Begitu tiba di parkiran, Dinda langsung mencari mobil Arya.
“Hah.. Hah… ketemu.”, ucap Dinda ketika berhasil melihat mobil berwarna putih milik Arya.
Beruntung, tidak ada orang di sekitar sana. Tanpa menunggu lagi, Dinda langsung mengetuk pintu mobil.
Tuk tuk tuk tuk
“Hm? Kok ga ada? Dinda mencoba mengintip ke dalam mobil yang kacanya berwana hitam itu. Eh? Bukannya tadi katanya dia menunggu disini, kenapa tidak ada?”, tanya Dinda.
Nihil. Dinda sudah mengintip ke dalam tetapi tidak ada orang. Tak lama, terdengar suara familiar muncul.
“Penerbangan jam berapa tadi kamu bilang?”, tanya Arya pada Siska.
Mereka baru saja keluar dari pintu lift. Arya sedang memegang tumblr kopinya. Sepertinya dia baru saja membeli kopi keluar.
“Jam 3 lewat 5 Pak Arya.”, jawab Siska yang mencoba mengikuti langkah kaki Arya yang cepat.
“Wuh.. mepet sekali. Harus buru - buru kalau begitu. Kopernya mana?”, tanya Arya.
“Sudah siap di lobi Pak. Lebih gampang menaikkan koper di lobi dari pada harus dibawa ke parkiran.”
“Oke, kalau begitu kita jalan sekarang.”, ujar Arya sambil membuka pintu mobilnya.
Dinda sudah bersembunyi di balik mobil yang ada di sampingnya. Kebetulan area spot itu berdekatan dengan tiang. Wajahnya kecewa karena meski dia sudah buru - buru kesini, dia tetap tidak bisa bertemu Arya.
Arya menstarter mobilnya. Hal yang pertama dan sudah terbiasa dilakukan oleh orang yang mengemudi adalah melihat ke kaca spion sebelum melajukan mobilnya. Saat itulah dia melihat bayangan Dinda di belakang.
‘Dinda?’, meski bayangan itu tidak terlalu jelas karena jaraknya agak di belakang, tapi dari warna bajunya, Arya hapal sekali kalau warna itu sama seperti baju yang dipakai Dinda tadi pagi.
“Sebentar ya Sis.”, ujar Arya kemudian kembali membuka pintu mobilnya dan turun.
“Ngapain kamu disini?”, Arya muncul saat Dinda menoleh ke arah yang berlawanan.
“Oh! Kaget.”, Dinda langsung terperanjat karena kaget saat seseorang menepuk bahunya dari belakang.
“Ternyata mas Arya, kaget banget asli. Eh? Mas Arya ngapain disini?”, Awalnya Dinda terkejut. Namun dia lebih terkejut lagi saat sadar kalau Arya sudah berada di belakangnya.
“Justru aku yang seharusnya bertanya, kamu ngapain disini?”
“Ehm… mencari mobil.”, jawab Dinda.
‘Ah.. kenapa alasan yang terpikirkan hanya alasan bodoh seperti itu.’, ucap Dinda dalam hati.
“Mencari mobil apa? Kamu sedang mencari siapa disini”, tanya Arya lagi.
“Sudah sana pergi. Penerbangan jam 3, kan? Sekarang sudah jam berapa. Mepet banget. Nanti terlambat, mas Arya sudah bawa …..”, kata - kata Dinda terhenti saat Arya mencium bibirnya.
Hmphhh Hmphhhh
“Hah..hah.. Mas Arya. Oh? Mba Siska?”, kata Dinda setelah Arya melepaskan ciumannya. Dinda melihat Siska sudah turun dari mobil dan berada tak jauh di belakang Arya.
__ADS_1