Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 267 Kejutan Mas Arya


__ADS_3

Arya mengendarai kendaraannya sendiri untuk pulang kembali ke rumah setelah seharian penuh meeting di sebuah hotel yang terbilang jauh dari kantor. Dia memang pergi bersama Siska, sekretarisnya. Namun, Siska sudah meminta izin untuk pulang terpisah karena dia sudah dijemput oleh sang kekasih.


Siska baru - baru ini mulai menjalani hubungan dengan seseorang yang baru dia kenal lewat pertemuan di sebuah pelatihan karyawan sekitar 6 bulan yang lalu. Beberapa bulan saling kontak, mereka akhirnya meresmikan hubungan pacaran mereka sekitar dua minggu belakangan.


Arya baru mengetahuinya hari ini. Tadinya, Siska berdalih bahwa dia dijemput oleh kakak laki - lakinya lalu turun duluan ke parkiran. Mungkin memang sudah takdirnya Arya mengetahuinya, Arya yang sudah akan turun ke basement 2 justru naik lagi ke lobby karena ada hal yang ingin dia tanyakan pada resepsionis hotel.


Disanalah, Arya akhirnya tak sengaja bertemu dengan Siska. Awalnya, Arya berpura - pura tidak tahu agar Siska lebih nyaman. Namun, malah Siska sendiri yang merasa tidak enak dan akhirnya memperkenalkan Arya pada kekasihnya.


“Ndre, ini Pak Arya, bos aku di kantor.”, ujar Siska pada Andre, nama kekasihnya (setidaknya menurut asumsi Arya detik itu.


“Pak Arya, kenalkan ini Andre, Pak. Teman saya.”, Siska memiliki kata ‘Teman’ untuk menjelaskan posisi Andre disana. 


Jidat Andre sedikit berkerut saat berjabat tangan dengan Arya. Dirinya terasa kebanting ke tanah dan Arya cukup makan asam garam hubungan masa muda untuk mengetahui kalau Andre terlihat insecure. 


“Tenang saja, Siska murni sekretaris saya. Saya juga sudah memiliki istri dan segera punya anak.”, tutur Arya lugas. 


Siska yang mendengarnya hanya bisa mengernyit heran. Dalam hati, ‘Apa - apaan, Pak Arya. Kenapa harus menjelaskannya sedetail itu?’


“Ha-ha.”, Andre hanya bisa tertawa renyah tatkala isi hatinya terbaca jelas oleh Arya yang notabene memang beberapa tahun lebih tua darinya. 


“Kalau begitu sampai bertemu lagi. Jangan lupa diantar sampai depan rumah, ya. Sis, drop a message kalau sudah tiba. Besok penerbangan sore, jangan lupa.”, ujar Arya akhirnya mempersilahkan keduanya untuk pergi. 


Ya, besok Arya dan Siska harus terbang ke luar negeri. Kali ini tidak ada kata ‘skip’ untuk Arya. Beruntung, jadwal check-up rutin Dinda masih semingguan lagi. Dia tidak menyangka kandungan istrinya sudah mau memasuki 5 bulan. 


Minggu depan adalah waktu yang paling berat untuk istrinya. Dinda, gadis itu harus melepaskan pekerjaannya sebagai intern. Semua usaha sudah dilakukan Arya. Tentunya di belakang layar dimana jangankan karyawannya, Dinda pun tidak mengetahuinya.


Tapi, semua tak bisa berjalan mulus sesuai keinginannya. Arya, pria itu ingin mengusahakan segalanya bahkan resign dari kantor hanya untuk menggertak perusahaan agar mau menerima Dinda. Namun, jika dia berpikir lebih panjang lagi, hal tersebut hanya akan memberatkan posisi Dinda di perusahaan.


Bukan satu dua kali Arya tanpa sengaja mendengar gosip tentang istrinya. Atas dasar profesionalisme, Arya juga tak bisa berbuat banyak. Sejak awal, ide ini memang sudah salah. Hal yang paling benar adalah membuatnya tak diketahui hingga waktunya Dinda selesai masa intern di kantor.


Tetapi, bukan Arya namanya jika tak bisa mencari jalan. Bagi mereka yang ketahuan bergosip di belakangnya, Arya memiliki hadiah luar biasa untuk mereka. Arya meningkatkan project yang sebenarnya pada akhirnya akan membuat mereka super sibuk sampai lupa makna ‘gosip’ itu sebenarnya apa.


“Sudah, jangan menangis lagi. Kamu sudah cek link yang aku kasih?”, tanya Arya pada Dinda. 


“Hn. Tapi aku tidak mengerti maksud mas Arya. Mas Arya ingin mengirimku ke luar negeri?”, tanya Dinda kebingungan. 


Arya mengirimkan beberapa link yang sebenarnya intinya ada dua. Satu adalah melanjutkan studi S2 ke Amerika. Kedua adalah mengikuti program magang setahun di tempat yang sama. 


“Geser sedikit.”, kata Arya. 


Sedari tadi, sejak Dinda menceritakan keluh kesahnya tentang keputusan HRD, Dinda seolah tak ingin lepas dari Arya. 


Mereka duduk di sofa di dalam kamar, beberapa meter jaraknya dari ruang kerja Arya. Dinda menyandarkan tubuhnya di bahu sofa, kemudian mengangkat kakinya menimpa kaki Arya yang duduk menghadap ke meja. 

__ADS_1


Dinda tak sedikitpun melepaskan lengan pria itu sampai dia harus membaca artikel bisnis dengan satu tangannya. Beruntung itu adalah tangan kanan. Dinda menarik lengan kirinya yang kekar seolah itu adalah bantal. 


“Mau kemana? Disini saja.”, kata Dinda yang mulai memelas karena tak ingin suaminya beranjak sedikitpun. 


“Sebentar saja, tidak sampai 5 menit. Aku tidak akan pergi kemana - mana.”, ujar Arya. 


Dinda kemudian mengangguk paham dan melepaskan segala jeratannya pada Arya. Matanya mengiringi langkah Arya seolah tak ingin pria itu jauh bahkan hilang dari pandangannya sedikitpun. 


Arya masuk ke ruang kerjanya. Dia menghilang sebentar dari pandangan Dinda sebelum akhirnya terlihat kembali sedang membuka laci meja kerjanya dan mengambil sesuatu. Dinda belum bisa melihat apa itu. 


Arya berjalan keluar. Sebelum menutup pintu, dia mematikan dulu lampu ruang kerjanya. Malam ini sepertinya dia tidak menghabiskan waktu disana. Dinda sedang begini, mana mungkin dia bisa bekerja, pikirannya. 


Dari jauh, Dinda melihat sebuah amplop menjuntai di pegangan Arya. Arya langsung duduk di posisi semula. Dinda tak lagi menaruh kakinya diatas paha Arya. Dia fokus pada amplop yang diberikan suaminya dan membukanya. 


“Oh? Ini bukannya tiket pesawat? Kemana?”, Dinda tak mengetahui singkatan - singkatan yang ada disana. 


Untuk detail perjalanan dalam negeri, mungkin dia bisa mengetahuinya. Tapi sepertinya tiket Arya bukan tiket perjalanan ke luar kota. 


“Amerika.”, ujar Arya. 


“Amerika? Mas Arya mau ke Amerika? Mas Arya serius mau ke Amerika? Kapan? Berapa lama? Kenapa?”, Dinda mulai mewek. 


Bayangan ditinggal oleh suaminya langsung membanjiri otaknya. Dia tak bisa membayangkan. Beberapa hari ditinggal untuk perjalanan singkat saja, Dinda sudah sangat merindukannya. Plus, tiket yang Dinda lihat barusan hanya satu lembar. Artinya, ini hanya one-way ticket. Kemana tiket kembalinya? Apa karena dia akan menghabiskan waktu lama disana? Berbagai jenis spekulasi mulai membanjiri pikiran Dinda. 


“Kamu belum mengerti maksudnya?”, Arya lanjut bertanya. 


“Arti apa? Mas Arya mau ke Amerika, kan?”, air mata Dinda satu persatu sudah jatuh. 


“Ha-ha-ha.”, Arya justru tertawa melihatnya. 


Wanita ini. Terkadang Arya menertawakan dirinya sendiri. Tak disangka, selama ini tipe wanita idealnya bukan seperti yang dia bayangkan. 


“Saya sudah kasih kamu link - link tadi. Mulai besok, kamu mulai kelas intensif tiga bulan untuk masuk perguruan tinggi di Amerika. Kalau gagal, kamu masih punya waktu 1 bulan ikut kelas intensif untuk mendapatkan pekerjaan internship disana. Kalau gagal juga, kamu tetap disini.”, kata Arya. 


Padahal, gagal pun di pilihan kedua, Arya akan tetap membawanya. Mana mungkin Arya sanggup meninggalkan istrinya sendirian tanpa pengawasan. Tapi, dia ingin Dinda berusaha lebih keras. Bersama dengannya menjadi motivasi paling bagus untuk Dinda. 


“Tapi aku kan hamil. Kalau gagal di kelas intensif untuk masuk perguruan tinggi, mana mungkin bisa ikut kelas intensif untuk internship. Kehamilanku saja sudah 9 bulan.”, kata Dinda. 


“Ya.. kamu ikut denganku tiga bulan setelah melahirkan.”, kata Arya. 


“Terus aku jauh dari mas Arya selama 3 bulan, tidak. Empat bulan itu?”, tanya Dinda. 


Dia kembali melihat tanggal keberangkatan Arya. Berarti mas Arya tidak akan ada bersamaku saat aku melahirkan?”, Dinda mulai mewek lagi. 

__ADS_1


Dalam hati, Arya hanya tersenyum. Jika Dinda tidak lulus kelas intensif yang pertama untuk masuk perguruan tinggi, dia akan tetap membawa Dinda di usia kehamilannya yang ke 7 menjelang 8 bulan. Dinda bisa mengambil kelas intensif online dari mana saja untuk mendapatkan pekerjaan. Dia mungkin akan bersalin di Amerika bersama Arya. Tapi, untuk memupuk motivasinya, Arya perlu mengunci rapat mulutnya terlebih dahulu dan menikmati kepanikan Dinda. 


“Solusinya sudah jelas. Kamu harus lulus kelas intensif pertama. Kan aku bisa menjadi guru cadangan yang bisa kamu gunakan. Materi kelas apapun tidak pernah terlewat olehku.”, ucap Arya dengan penuh percaya diri. 


“Mas Arya… mas Arya masa tega ninggalin aku disini sendirian. Bersalin sendirian. Tanpa suami. Anak pertama lagi. Mas…Mas Arya..”, Dinda menarik - narik lengan Arya berusaha membujuk rayunya. 


“Jadi kamu sudah pesimis duluan tidak lulus kelas intensif?”, kata Arya menoleh pada istrinya. 


“Kalau kampusnya masih dalam negeri aku percaya diri, mas. Tapi kalau luar negeri bagaimana? Aku bisa apa?”, Dinda menarik - narik lengan Arya gusar. 


“Ya.. dicoba dulu. Kamu bisa lolos intern di perusahaan, kan? Itu artinya 50% bekal sudah kamu pegang. Atau kamu proses seleksinya bayar, ya?”, goda Arya. 


“Enak aja. Bayar pake apa, mas? Daun?”, Dinda kesal. 


“Jalani aja. Kamu pasti bisa. Kampus manapun yang dekat dengan tempat pelatihanku.”, kali ini Arya mengarahkan pandangannya intensif pada Dinda. 


“Ini alasan mas Arya santai waktu menerima curhatanku tentang keputusan HRD?”, tanya Dinda. 


“Hn. Bisa dibilang begitu. Aku tidak menyangka pelatihan ini bisa diundur. Tadinya aku ingin membatalkan pelatihan ini. Tapi, setelah dipikir - pikir, ada banyak jalan yang bisa dilakukan.”, ungkap Arya. 


Dinda tak memahami seluruh kata - katanya. 


“Terus voucher jalan - jalan ke Korea-nya bisa aku gunakan kapan dong?”, tanya Dinda menagih voucher hadiah pemberian Arya beberapa pekan lalu. 


“Sebelum ke Amerika. Karena minggu ini kamu sudah tidak menjadi intern lagi, berarti kamu punya banyak waktu untuk cari membuat itinerary yang kamu suka.”, ujar Arya melebarkan lengannya dan meletakkannya ke belakang agar Dinda bisa bersandar. 


Dinda memandangi tiket perjalanan Arya yang ternyata baru saja dia beli minggu ini. Terlihat dari receipt yang masih tertera di dalam amplop selain tiket perjalanan.


“Bagaimana kalau aku berhasil diterima di kampus sana tetapi tidak lulus sesuai waktunya?”, tanya Dinda. 


“Aku akan pulang lebih dulu ke Indonesia.”, jawab Arya ringan tanpa beban. 


“Meninggalkan aku dan bayi kita?”, Dinda tak percaya. Saat itu mungkin usia bayi mereka sudah 1 tahunan lebih. 


“Tentu tidak. Aku akan pulang bersama bayi kita, dan kamu melanjutkan studi sampai selesai.”, ujar Arya. Lagi - lagi pria ini menjawab dengan ringan tanpa beban sama sekali. 


“Mas Arya jahat.”, Dinda memukul dada Arya pelan dengan tangan kirinya yang masih memegang amplop tiket perjalanan milik Arya. 


“Aku akan menambah beberapa project lagi dan menunggu kamu sampai selesai. Tapi batasnya hanya dua tahun. Memangnya kamu tidak malu menyelesaikan S2 sampai 2 tahun?”, kata Arya. 


“Bukankah normalnya memang segitu?”, Dinda heran. 


“Apakah bersamaku masih ingin mengejar yang normal - normal saja?”, kata Arya menyombongkan diri. 

__ADS_1


“Iya … iya.. Bapak Arya Pradana yang ambisiusnya mengalahkan anak - anak olimpiade internasional.”, Dinda menyerah. 


__ADS_2