
“Mas Arya mau ngapain?”, tanya Dinda terkejut.
“Membantu kamu melunasi hutang.”, Arya segera memblokade jalan untuk Dinda.
“Huft, mas Arya..”, Dinda berusaha menggeser lengan Arya.
“Hm?”
“Hutangnya sudah kadaluarsa. Jadi, sudah hangus.”
Saat ini Arya tengah mencegat Dinda yang baru saja keluar dari kamar mandi. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Waktunya Dinda untuk tidur. Dia sudah bersiap - siap dengan mengganti bajunya, menggosok gigi, membersihkan wajah, dan beberapa ritual lainnya.
Saat membuka pintu, Dinda kaget melihat Arya sudah parkir di depannya. Dinda ingin berjalan menuju tempat tidur mereka, tetapi Arya terus mencegatnya.
“Din. Makanan yang sudah kadaluarsa memang tidak boleh dimakan. Tapi kalau hutang, itu akan berbunga saat batas akhir bayarnya sudah habis. Kalau kamu berpendapat bahwa hutang itu sudah lewat batas bayar. Berarti, kamu juga harus membayar saya berikut dengan bunga nya.”
“Satu ciuman.”, kata Dinda.
Arya menggeleng. Dia menarik Dinda masuk ke dalam pelukannya. Tangan kanannya mengelus bagian kepala Dinda sedangkan tangan yang satunya sudah menurunkan gerakannya ke pinggang Dinda. Arya berusaha menguncinya.
“Kamu tidak adil. Tidak ada potongan untuk hutang.”, saat ini jarak mereka sangat dekat.
“Sembilan. Bunga berlaku dua kali lipat.”, tutur Arya sambil tersenyum.
“Mas Arya! Turunin mas. Mas Arya…”, belum sempat bernegosiasi, Arya sudah mengangkat Dinda ala bridal style menuju tempat tidur.
Kunciran rambut Dinda yang tidak erat terjatuh di lantai menuju kasur. Saat ini, sebagian wajah Dinda tertutup dengan rambutnya yang pirang. Dinda menghela nafas panjang. Hari ini Dinda mengenakan baju tidur berbentuk gaun, bukan piyama.
‘Kenapa aku gak pernah sadar kalau Dinda memiliki rambut pirang yang sangat indah. Rambut yang hanya dia perlihatkan padaku.’
Sedikit bagian gaun Dinda terlipat ke atas. Bentuk tubuh Dinda semakin proporsional jika dilihat dari arah Arya berdiri saat ini.
‘Apa yang ada dalam gadis ini yang membuatku selalu menginginkannya?.’
__ADS_1
Lampu malam yang redup membuat suasana mendadak menjadi romantis dan melankolis. Arya tidak membuang waktu dan ikut menaiki kasur. Tubuhnya sudah ia hadapkan diatas Dinda dengan lengan kekarnya sebagai penahan.
Mereka pernah sedekat ini beberapa kali, tetapi suasana malam ini berbeda. Arya bisa dengan jelas mendengar deru nafas Dinda dan detak jantung gadis itu. Arya perlahan menyibak beberapa helai rambut yang menutupi mata dan dan sebagian wajahnya. Arya menggeser rambut itu ke belakang bagian telinga Dinda.
Dinda terdiam. Dia menatap wajah pria di hadapannya dalam. Jantungnya terus berdetak kencang, sebaliknya tubuh Dinda benar - benar kaku. Seketika, Dinda kehilangan pikirannya. Dia terpesona melihat wajah tampan dihadapannya, dada bidang yang kekar di balik kaos putih yang dikenakan Arya.
Begitu pula dengan Arya. Dia menatap gadis yang 3.5 bulan lalu ia nikahi. Gadis yang sama sekali tidak pernah diliriknya. Gadis yang terus menarik magnet dalam tubuh Arya.
Gadis yang membuat Arya sulit untuk menahan dirinya tatkala menatap bibir ranum Dinda, leher jenjangnya, V-line bahunya yang sedikit - sedikit terbuka, dan masih banyak lagi bagian tubuh Dinda yang membuat Arya sulit untuk mengendalikan dirinya beberapa bulan ke belakang.
Dia tidak tahu mengapa dia merasakan hal - hal seperti itu. ‘Apa dia sudah terlalu lama sendiri?’, pertanyaan ini menjadi jawaban yang paling dia percaya.
Tapi, apa kabar dengan puluhan wanita seksi di club yang sering ia temui? Bahkan tidak sedikit dari mereka yang dengan frontal menggoda Arya. Kenapa tidak satupun dari mereka bisa membuat Arya begitu ingin menyentuhnya, seperti saat dia bertemu Dinda.
Pertemuan pertama dia dan Dinda di rumah mereka. Sebelum tiba di rumah, Arya sudah berencana untuk melewati meja makan dan tidak menghiraukan gadis yang akan dijodohkan dengannya.
Tapi begitu mata itu bersitatap dengan Dinda, tanpa sadar Arya malah mengambil duduk di sebelahnya. Dia ingin terlibat dengan gadis ini.
Kepribadian dan sorot kehidupan Dinda, perlahan membuatnya tertarik dengan gadis itu. Saat Dito memberitahunya bahwa Dinda belum pernah berpacaran, betapa ada gejolak dalam hati Arya yang sangat berbeda.
Dinda tidak pernah bersikap lebih di kantor saat bersama rekan satu timnya. Tak jarang Arya menangkap Dinda yang sengaja menghindar saat ada rekan kantor yang mencoba mendekat padanya atau memegangnya tangannya. Dia sangat menjaga interaksinya.
Puncak rasa yang membuat hati Arya bergetar adalah saat Dinda dengan tulus merawatnya ketika sedang sakit. Menemaninya hingga pagi menjelang dan selalu memeriksa perkembangan suhu tubuhnya.
Cara Dinda berbicara padanya yang terkesan hati - hati dan tidak percaya diri, membuatnya selalu senang bermain kata dengan gadis itu.
Cup..
Arya akhirnya mendaratkan satu ciuman pertamanya pada Dinda. Dinda masih setia mengunci bibirnya karena jantungnya saat ini berdetak lebih kencang lagi dari sebelumnya. Arya berusaha menyesap bagian atas bibir Dinda namun tak berhasil. Gadis itu mengunci mulutnya rapat.
Arya melayangkan tangan kanannya untuk menggapai kaki Dinda kemudian perlahan bergerak ke-atas. Saat itulah Dinda membuka mulutnya karena terkejut. Arya dengan cepat melakukan aktivitas yang ingin dia lakukan dari tadi.
Bukan lagi sekedar kecupan. Arya melepaskan ciumannya hanya untuk sekedar memberikan ruang bagi Dinda untuk bernafas. Saat dirasa sudah cukup, Arya kembali melayangkan ciumannya dan ini terjadi beberapa kali. Sepertinya Arya benar - benar ingin membantu Dinda melunasi hutangnya.
__ADS_1
Kembali, Dinda terengah - engah begitu Arya memberinya kesempatan untuk bernafas.
Saat Arya akan melancarkan kembali aksinya. Dinda menutup bibirnya rapat. Arya mencoba taktiknya yang tadi dan kembali melancarkan serangan tangannya yang kini hampir menyibak sedikit gaun tidurnya.
Dinda tersadar dan refleks menghentikan tangan Arya dengan tangannya. Arya menatap Dinda untuk berusaha mencari jawaban atas tindakannya. ‘Kenapa menghentikan tanganku?’, begitu kira - kira bahasa mata Arya.
“Sudah lunas, kan?”, Dinda menelan ludahnya dan menghela nafas sebentar sebelum mengatakannya pada Arya.
“Bunganya terlalu banyak. Sepertinya ciuman saja tidak cukup.”, Arya ingin kembali mencium Dinda, tetapi Dinda memalingkan wajahnya.
“Maaf mas Arya, saya masih belum siap.”, kata Dinda berusaha memberikan kelembutan pada setiap kata - kata yang dikeluarkannya.
Dinda berusaha meminggirkan tubuh Arya yang masih menguasai diatasnya. Arya tidak melakukan perlawanan. Dia merebahkan tubuhnya di samping Dinda. Wajahnya tampak sangat kecewa.
“Saya minta maaf mas. Saya masih butuh waktu.”, lanjut Dinda lagi.
“Hm.”, Arya menjawab singkat. Lalu, dia mematikan lampu dan menarik selimutnya. Tak lupa, Arya menyetel AC menjadi 17 derajat.
“Mas Arya gak marah kan?”
“Hm.”
“Hm itu Iya atau enggak?”
“...”
“Mas Arya? Mas Arya udah tidur?”, Dinda berusaha mengintip dengan bangun dari tidurnya dan menoleh ke arah Arya.
“Sebelum saya menyerang kamu lagi, lebih baik kamu tidur sekarang.”
‘Kamu kira gampang apa, tidur disamping wanita tanpa melakukan apa - apa? And It's almost 3 months. I must have had great controlling system’, bathin Arya meluapkan emosinya di dalam hati.
“Saya akan bayar hutang saya ke mas Arya segera.”
__ADS_1