
Malam sudah semakin larut. Jam di ponsel Arya sudah menunjukkan pukul 2.45 dini hari. Dia memarkirkan mobilnya di basement apartemen yang sudah sangat sepi. Arya bukan tipikal pria penakut, sehingga biasa baginya untuk berada di tempat sepi seperti parkiran meski sudah dini hari sekalipun.
Tit..
Arya sudah memakirkan mobilnya dan berjalan menuju lift. Namun, lamat - lamat terdengar bunyi klakson dari arah belakang. Suara klakson yang aneh karena hanya berbunyi satu kali. Arya menghentikan langkahnya, tetapi tetap menahan diri untuk menoleh ke belakang.
Biasanya, ada satpam yang standby di area parkiran basement meski sudah dini hari karena mereka bertukar shift dan tak pernah membiarkan apartemen tanpa penjagaan selama 24 jam terus menerus. Tapi hari ini, Arya tak melihat satpam di parkiran basementnya.
Arya yang biasanya tidak takut sama sekali, sedikit bergidik. Bulu romanya berdiri. Akhirnya, ia memutuskan untuk melanjutkan langkahnya. Baru beberapa langkah, suara hak sepatu berbunyi.
Tak tak tak
Suara yang sangat jelas berkat heningnya basemen. Arya menarik dan membuang nafasnya dengan ritme yang teratur. Dia sudah bersiap untuk lari menuju lift sebelum akhirnya dia mendengar suara hak sepatu menjadi lebih cepat. Langkah Arya terhenti.
Kemudian, sebuah telapak tangan mendarat di bahu Arya. Arya, pria yang tidak pernah percaya pada hal mistis dalam hidupnya merasakan beku di seluruh organ tubuhnya untuk pertama kali.
“Hah … hah… hah…”, suara nafas seseorang.
‘Hm? Apa hantu jaman sekarang menggunakan parfum? Kenapa aroma parfumnya seperti parfum yang aku kenal?’, tanya Arya dalam hati.
“Ahhh… kenapa Anda berjalan terlalu cepat? Maaf, ini pertama kalinya saya pulang larut malam semenjak pindah ke apartemen ini. Jadi, saya benar - benar sangat takut. Untung saja, saya melihat Anda.”, ujar seseorang yang jelas - jelas adalah wanita dan manusia biasa.
Arya menoleh ke belakang dan mendapati seorang wanita sepantaran dirinya. Dia mengenakan blazer warna min, celana bahan dengan warna senada dan kemeja cream.
‘Ahhhh bikin kaget saja. Aneh sekali wanita ini. Tidak pernah bertemu, tapi bersikap sudah kenal.’, Arya segera menyingkirkan telapak tangan wanita itu dari bahunya dan berjalan ke arah lift.
“Sombong sekali.”, ujar wanita itu namun Arya sudah tidak mendengarnya. Lagipula dia juga berbicara dengan nada yang sangat pelan.
“Maaf, saya membuat Anda tidak nyaman. Tapi saya benar - benar baru pindah ke apartemen ini dan ini pertama kalinya saya pulang larut malam begini.”, jelas wanita itu sambil ikut masuk ke dalam lift.
“Hem.. nomor berapa ya?”, gumam wanita itu sambil melihat tombol lantai di hadapannya. Arya sudah menekan lantai apartemennya, namun wanita itu masih bingung mau menekan nomor berapa.
‘Sepertinya wanita ini sedikit mabuk. Ada - ada saja.’, kata Arya dalam hati.
Bahkan hingga Arya sampai di lantainyapun, wanita itu tidak kunjung menekan tombol apartemennya.
“Apa benar Anda baru pindah ke apartemen ini?”, tanya Arya menaruh curiga. Karena wanita itu sangat aneh, dia juga tidak bisa menekan tombol lantai apartemen dimana dia tinggal.
“Tentu saja. Kalau tidak bagaimana mungkin aku bisa masuk ke area lift.”, jawabnya.
Tak lama, pintu apartemen unit seberang terbuka. Wanita lansia yang waktu itu ditolong oleh Arya keluar dari unit itu.
“Rimaaa… kamu ini, jam segini belum pulang juga. Katanya kamu ada jadwal operasi hanya sampai jam 11, kenapa jam 3 baru pulang?”, teriak wanita tua bernama Ratih itu seketika saat melihat wanita itu.
“Hm.. ternyata ini lantai apartemen saya. Hahaha.”, ucap wanita itu meracau.
“Kamu mau anak kamu Deni lupa wajah kamu saking gak pernah pulang ke rumah. Dasar, sudah dewasa tetapi kelakuan kamu sama saja seperti remaja.”, wanita itu terus marah - marah tanpa sadar ada Arya di belakangnya anak perempuannya.
“Oh… nak Arya? Maaf - maaf, saya tidak sadar kalau ada nak Arya.”, ucap Ratih seketika saat melihat Arya.
Rima, wanita tadi berdiri di depan lift dan menutup akses Arya untuk lewat sehingga dia tidak bisa keluar.
“Ah.. iya Bu.”, ucap Arya singkat.
Dia sudah mengerti siapa wanita yang kebetulan bersamanya tadi di bawah tanpa harus bertanya lebih detail. Saat ia merasa bisa lewat, Arya segera bergerak dan berjalan menuju unit apartemennya tanpa berkata apa - apa lagi.
“Kalau begitu, permisi.”, ujar Arya singkat dan berlalu.
“Kamu ini, gak malu apa sama orang - orang? Sudah punya anak masih saja mabuk. Sana masuk, cuci muka dan istirahat. Besok kamu harus hadir di acara sekolah Deni. Mama gak mau tahu…”, dan bla bla bla, Ratih memukul anaknya dan terus mengomelinya sepanjang jalan. Rima hanya mengikuti tanpa mengatakan apa - apa.
******
Jam 3 pagi, Arya baru tiba di unit apartemennya. Begitu masuk, dia langsung berjalan menuju kamar utama hanya untuk melihat Dinda yang dia pikir ada disana. Tapi, Arya tidak melihat siapapun. Pintu kamar mandi terbuka dan tidak gadis itu disana.
Arya mengedarkan pandangannya ke kamar lain di sebelahnya dan hasilnya sama. Kemudian, saat dia melihat ke arah tengah, barulah dia melihat Dinda tertidur di sofa tanpa selimut. Pose tidurnya mengisyaratkan bahwa dia sedang kedinginan namun kantuk mungkin membuatnya tak ingin bergerak untuk mengambil selimut atau berpindah tidur ke dalam kamar.
__ADS_1
Arya menghela nafas dan mendekati Dinda, dia menatap wajah mungil gadis itu yang sedikit tertutup dengan beberapa helai rambut pirangnya. Arya mendaratkan kecupan singkat dan mengangkat Dinda ke ranjang di kamar utama.
Lama Arya memandang dan mengusap - usap halus pipi dan rambut istrinya sebelum dia menarik selimut dan menutup tubuh Dinda agar tidak kedinginan. Arya mematikan lampu kamar, menutupnya, dan bergerak ke meja kerjanya.
Seharusnya, malam tadi dia menyelesaikan laporan dan analisa proyek untuk persiapan meeting besok. Tetapi, masalah kemarin hingga pagi ini membuatnya tak bisa melanjutkan pekerjaannya.
Arya mencoba mencerahkan pandangannya yang sudah diserang kantuk dengan secangkir kopi.
“Ssskkk…Ah.”, Dengan gampangnya dia menyesap kopi panas dan lupa bahwa bibirnya luka akibat menerima pukulan Dimas tadi.
Arya membuka laptop, membaca laporan, dan mencoba membuat presentasi dan melakukan berbagai analisa yang diperlukan. Lebih kurang 30 menit dia mencoba melawan rasa kantuk dan lelahnya yang semakin berat.
Akhirnya Arya menyerah dan meletakkan kepalanya di atas meja. Perlahan matanya terpejam karena kantuk yang semakin dalam. Arya tertidur. Kopi tak bisa menyelamatkannya.
Dinda, gadis itu justru terbangun dari tidurnya. Dia mengerjapkan matanya dan mencoba melayangkan pandangan ke sekitar dan menyadari bahwa dia sudah berpindah tempat.
“Hm? Sepertinya tadi aku tidak tidur disini. Apa mas Arya sudah pulang dan memindahkanku kesini. Lalu dia kemana? Apa dia marah dan tidak mau tidur disini? Bukankah seharusnya aku yang marah. Dia berbuat semaunya dan pergi begitu saja tanpa pemberitahuan.”, gerutu Dinda kesal.
Gadis itu beranjak dari kasur dan berjalan keluar. Lampu luar sama redupnya dengan di kamar. Hanya tersisa lampu di area meja kerja mas Arya yang masih menyala. Dinda melihat Arya yang tenggelam di antara dokumen dan laptopnya.
‘Pria itu tertidur.’, ucap Dinda dalam hati.
Dinda mengambil selimut kecil dari dalam kamar dan bergerak mendekati Arya untuk menyelimutinya.
“Andai saja semua seperti yang Dian katakan. Andai saja alasan dari sikap mas Arya kemarin karena mas Arya cemburu. Andai saja mas Arya memang menyukaiku, bukan karena kita sudah menikah, tapi karena mas Arya benar - benar melihatku sebagai wanita. Bukan hanya sebagai teman tidur saja. Aku sangat berharap seperti itu.”, ucap Dinda dengan suara yang sangat lirih bahkan sulit untuk terdengar.
Dinda memegang lembut dan menyeka beberapa helai rambut di bagian kening Arya. Kemudian, Dinda mendekatkan wajahnya bermaksud untuk mencium pria itu, tapi Dinda kemudian mengurungkan niatnya. Dia menarik lagi wajahnya dan berjalan pergi.
Namun, baru beberapa langkah, Arya sudah memegang dan menahan tangan Dinda. Tentu saja Dinda kaget. Dia kira pria ini sudah tertidur pulas. Dia juga tidak membuat pergerakan yang berlebih dan yang membuat Arya terbangun.
“Mau kemana kamu?”, tanya Arya yang sudah bangun dari tidurnya. Kini dia duduk tegap di kursinya.
Arya berusaha menarik lengan Dinda dan menyeretnya mendekat. Dinda tak bisa mengalahkan tenaga Arya yang sudah pasti lebih kuat sehingga ia terdorong mendekat pada Arya. Tak puas sampai disitu, Arya mendudukkan Dinda dipangkuannya. Sontak, Dinda langsung kaget dan mencoba untuk bangun.
“Coba saja berdiri, aku tidak akan melepaskanmu.”, ucap Arya.
Namun, Arya langsung mengerahkan kedua tangannya dan memeluk tubuh Dinda yang masih terduduk di pangkuannya. Sehingga tubuh gadis itu tertahan dan tak bisa bangun sama sekali.
“Aku yang tidak mau bersama mereka.”, jawab Arya berhasil memberikan hipnotis pertama untuk Dinda. Kalimat ini jelas menggoyahkan hati Dinda.
“Toh mas Arya hanya mencari teman untuk tidur kan? Siapapun bisa, mereka jauh lebih cantik. Mereka tidak akan menyusahkan mas Arya, sepertiku.”
“Hm? Aku hanya ingin wanita yang ada di depanku saja. Butuh waktu untukku menyadarinya, tapi aku benar - benar tidak menginginkan wanita yang lain. Lebih seksi? Kamu tidak tahu betapa seksinya kamu saat…..”, Arya belum menyelesaikan kalimatnya dan Dinda sudah menutup mulut Arya dengan tangannya.
“Kenapa? Kamu tidak mau mendengar lanjutannya?”, ucap Arya dengan nada menggoda.
“Tidak perlu. Tidak penting. Untuk apa mendengar pujian itu, kalau mas Arya tidak….”, mulut Dinda terhenti. Begitu wajahnya menhadap ke arah Arya, pria itu langsung mengeliminasi jarak diantara mereka. Arya mengecup Dinda.
“Aku mencintaimu.”, ucap Arya dengan suara baritonnya yang gentle, dalam, dan tegas.
Dinda bisa mendengar kalimat itu dengan jelas karena jarak diantara mereka sangat tipis. Tapi, karena kalimat itu diucapkan secara tiba - tiba. Dinda tak ingat bagaimana rasanya, bagaimana jelasnya, dan dia jadi berpikir itu adalah halusinasi.
“Eh?”
Arya tidak menjawab dan hanya menatap lurus ke arah Dinda.
“Mas Arya bilang apa?”
“Haruskah aku mengatakannya baru kamu percaya? Tidak cukup dengan ciuman dan skinship kita selama ini?”, tanya Arya.
“Mas Arya bilang apa tadi? Mas Arya mengatakan sesuatu kan tadi? Mas Arya tadi apa?”, tanya Dinda mendesak Arya untuk mengatakannya sekali lagi.
“Hm?”, alih - alih mengatakannya lagi, Arya justru menggoda Dinda dengan menatapnya dengan ekspresi bertanya.
“Ya sudah, aku pergi.”, Dinda turun dari pangkuan Arya dan pria itu tidak lagi menahannya.
__ADS_1
Merasa dilepaskan begitu saja, Dinda tidak terima dan menoleh ke belakang dengan ekspresi meminta penjelasan.
Arya berdiri dan mengangkat gadis itu dengan mudah ke arah kamar utama. Arya menjatuhkan Dinda di kasur dan mengambil posisi diatasnya.
“Bisakah aku mengatakannya dengan …”, Arya kembali mendaratkan ciumannya.
Saat Arya ingin melancarkan serangannya yang kedua, Dinda menutup dan menahan bibir Arya.
“Tidak bisa.”
“Heh.. Should I say it so you know?”, tanya Arya tidak percaya.
Dinda mengangguk mantap. Arya mengarahkan kepalanya ke atas dan mengeluarkan senyum renyah, sebelum mengatakan kalimat yang paling ingin Dinda dengar.
“I love you.”, kata Arya dengan nada baritonnya yang seksi.
Seolah tak memberikan jeda, Arya langsung menyesap tubuh gadis di hadapannya. Dinda tak memberikan perlawanan. Dia menikmati setiap perlakuan Arya dan tak berhenti tersenyum mengingat satu kata yang tadi Arya ucapkan.
Beberapa kali Dinda meminta Arya untuk mengatakannya sekali lagi, tapi Arya tak mengabulkannya.
Jam 7 pagi.
“Dasar pelit.”, ucap Dinda di sela - sela aktivitas mereka.
“Hm.. satu kalimat satu malam?”, ucap Arya.
“Eh? Bukan satu ciuman atau satu pelukan tapi satu malam? Aku merasa menjadi yang paling dirugikan disini.”, kata Dinda protes.
Arya tersenyum.
“Sepertinya kita harus mengambil cuti hari ini.”, kata Arya kemudian.
“Hm?”, tanya Dinda.
“Kamu mungkin sudah tidur, tapi aku belum tidur semalaman.”
“Ya sudah, mas Arya lanjut tidur, aku bersiap ke kantor.”, kata Dinda dengan santai.
“Enak saja. Aku tidak bisa tidur sendiri. Besok aku harus ke Bangkok, kamu harus menemaniku seharian.”
‘Kalimatnya menyeramkan sekali.’, pikir Dinda dalam hati.
“Tapi mas Arya.”
“Tidak ada tapi - tapi-an. Atau perlu aku yang menghubungi Erick langsung?”, Arya sudah mengambil ponsel Dinda yang terletak di nakas, mencari nomor Erick dan menekan tombol ‘Call’.
“Mas Arya! Apa - apaan sih, siniin ga ponselnya. Mas…”
“Halo…”, terdengar suara Erick yang sudah menerima telepon dari seberang sana.
Dinda memberikan tatapan tidak percaya. Bagaimana dia bisa menghubungi Erick di situasi seperti ini.
“Hm… Pak Erick… Hm…”, kata Dinda terdengar tidak nyaman. Suaranya sedikit bergetar.
‘Mas Arya, jangan cium - cium. Ini telepon pak Ericknya masih nyambung.’, Dinda memberikan kode pada Arya yang bisa - bisanya masih mendaratkan ciuman di leher Dinda padahal dia sendiri yang menghubungi Erick.
“Dinda? Eh? Ini Dinda?”, tanya Erick sekali lagi memastikan.
“Hah (Suara Dinda yang timbul gegara Arya mencium Dinda).. Iya maaf mengganggu Pak… saya mau minta izin hari ini untuk cuti. Boleh Pak?”, ujar Dinda dengan sopan.
“Hm.. Iya boleh. Nanti ajukan saja di sistem. Saya akan setujui.”, balas Erick.
“Terima kasih banyak, Pak Erick.”, ucap Dinda sebelum menutup ponselnya.
Setelah Dinda menutup ponselnya, Erick berkali - kali memeriksa nomor ponsel yang barusan menghubunginya.
__ADS_1
“Mereka sudah mau official atau bagaimana? Kenapa Dinda menghubungiku menggunakan nomor Arya? Apa dia salah menggunakan hape?”, tanya Erick bingung.