Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 255 Ratu Drama


__ADS_3

Perhelatan arisan di rumah Inggit kini mulai beralih ke acara bebas. Sebagian ibu - ibu ada yang mulai berkumpul di depan TV dan menyetel speaker untuk memulai karaoke malam mereka. Sebagian lagi nampak masih seru bercerita satu sama lain seolah sudah berbulan - bulan mereka tidak bertemu, padahal kurang dari sebulan yang lalu mereka baru saja mengadakan arisan juga.


Sebagian lagi datang terlambat dan masih menyantap hidangan makanan terutama dessert. Menu utama nampaknya sudah tinggal sebagian. Biasanya tuan rumah menyediakan kotak di dekat hidangan utama di penghujung acara. Siapa yang berniat membawa pulang makanan, mereka bisa mengambil secukupnya dan menaruhnya di dalam kotak.


Inggit sudah menyediakan kotak dan juga kantong paper bag agar lebih mudah bagi teman - temannya untuk membawa makanan itu pulang. Inggit sendiri nampak asyik menikmati obrolannya sambil memberikan arahan bagi rekannya yang sedang menyetel mesin karaoke. Sesekali dia meneguk minuman es buahnya kemudian bercerita lagi.


Dinda, gadis itu masih duduk di sofa. Wajahnya terlihat lelah dan mengantuk namun dia masih memaksakan senyum. Fams sudah menawarkan untuk mengantarnya naik ke atas, tapi Dinda beralasan, dia ingin menunggu Arya baru naik ke atas bersama.


“Yaa ampun, mba Dinda. Kan bisa tunggu di kamar. Setidaknya mba Dinda ga perlu memaksakan diri untuk terlibat obrolan lagi dengan para tamu.”, ujar Fams.


“Tidak. Tidak apa - apa. Mas Arya bilang juga cuma sebentar, kok. Kalau 15 menit lagi tidak muncul, aku akan ke kamar.”, balas Dinda.


“Benar ya. Lagi pula nih mba, mba Dinda juga bisa menggunakan waktu ini untuk mengobrol sebentar dengan mamanya mba Dinda sambil menunggu mas Arya. Sedari tadi aku lihat mba belum mengajak mama mba ngobrol, loh.”, kata Fams memberikan saran.


Seharian, dia sering melihat Bunda Ratna sesekali menoleh pada Dinda. Karena orang - orang di rumah ini ramai, mereka tak sempat untuk mengobrol berdua.


“Kamu benar juga, sejak Bunda kesini, aku baru sadar belum mengobrol sama sekali dengan Bunda. Nanti, kalau dalam 15 menit lagi mas Arya juga belum pulang, aku akan mengobrol dengan Bunda dulu di kamar.”, terangnya.


“Nah begitu dong. Mas Arya paling juga keluar merokok.”, kata Fams.


“Enggak kok. Mas Arya sudah berhenti merokok.”, ungkap Dinda.


“Oh ya? Yang benar mba? Berarti dia keluar ada perlu apa, ya.”, Fams bertanya - tanya sendiri.


“Nah kamu juga bertanya - tanya, kan? Jadi gak heran kalau aku juga ingin tahu. Pak Cecep tadi sempat berbisik - bisik. Tidak ada sesuatu yang serius terjadi, kan?”, tanya Dinda.


“Tentu saja. Kalau ada sesuatu yang serius, mas Arya pasti sudah memberitahu kita. Terutama mba Dinda. Mba, kan istrinya.”, jawab Fams sekaligus menggoda sepupunya.

__ADS_1


“Hn.”, kata Dinda menjawab singkat sambil mengangguk setuju.


Inggit mengedarkan pandangannya mencari Dinda dan Arya. Dia hanya menemukan Dinda disana. Rekannya yang menyetel karaoke sudah selesai. Lagi pertama dimulai dan yang lain ikut bersorak ramai.


“Loh, kok sendiri. Arya mana?”, tanya Inggit menghampiri.


“Tadi keluar ma, mungkin ada keperluan dengan Pak Cecep.”, jawab Dinda.


Inggit sudah mengambil duduk di sampingnya.


“Kamu terlihat lelah. Kalau sudah capek, naik aja ke atas. Tidak apa - apa. Yang penting, bagian perkenalan sudah kita lakukan tadi di depan.”, kata Inggit yang bisa dengan jelas menemukan raut ngantuk di wajah Dinda.


Semenjak hamil, dia tidak bisa lagi mentoleransi jam tidurnya dengan baik. Jam 9 malam adalah waktu tidur yang harus dia penuhi. Sesekali dia bisa menahannya. Tapi, hari ini dia juga sudah bekerja keras, jadi rasa penat juga berkontribusi untuk rasa ngantuknya malam ini.


Ratna mengikuti ke sofa tempat Dinda duduk setelah berhasil lepas dari obrolan para ibu - ibu yang tertarik dengan bisnis kuliner lebih tepatnya catering yang sudah dia geluti. Sebagian bertanya - tanya sebagai calon pelanggan, sementara sebagian lagi bertanya - tanya karena ingin meminta tips menjalankan usaha dari rumah dengan tekun seperti Ratna.


“Maaf loh, Ratna. Teman - teman arisan itu memang antusias walau sudah malam. Ada yang antusias untuk karaoke. Ada yang antusias mengobrol, ada juga yang sambil tanya - tanya bisnis rekan yang lain. Namanya juga ibu - ibu.


“Ya sudah, sudah malam, kalau lelah, langsung tidur saja di kamar.”, kata Inggit pada Dinda dan juga Ratna.


“Kalau menunggu selesai, bisa sampai larut malam. Oiya, kamu kan besok juga bekerja, Din. Jadi, gapap naik saja ke atas. Arga kapan mulai ngampus?”, lanjut Inggit.


Meskipun dia sudah meminta Dinda dan Ratna untuk naik ke atas, tetapi dia juga tidak ada indikasi untuk menyelesaikan obrolan mereka. Yah, namanya juga ibu - ibu.


“Iya mba. Arga sudah mulai ngampus, tapi baru ospek - ospek saja. Mungkin minggu depan ya mulai ngampus yang serius. Saya juga belum tanya.”, jawab Ratna.


“Oh, sudah makan itu mereka yang diatas, Fams?”, Inggit beralih ke Fams untuk memastikan para anak - laki - laki itu sudah makan.

__ADS_1


Dito, Ibas, dan Arga sedang merdeka malam ini karena bisa bermain bersama di kamar Ibas. Inggit lupa, apakah dia sudah melihat mereka turun untuk makan atau belum.


“Sudah, tante. Tadi Arga turun dan mengambil beberapa makanan. Sepertinya pesanan Ibas dan Dito. Melihat itu, Bi Rumi membantu membawakan beberapa ke atas.”, jelas Fams.


“Iya, baguslah. Kalau tidak, mereka pasti tidak akan turun untuk makan. Ibas juga, padahal kemarin malam dia sampai begadang loh main game saja. Walaupun dia sudah lulus dan bekerja, tetap saja sifat  kekanak - kanakannya masih saja.”, kata Inggit setengah mengomel.


“Mengurusi apa sih Arya memangnya di luar, lama betul.”, komentar Inggit yang tak kunjung melihat Arya masuk.


********


“Halo, di Cafe yang mana? Apa yang ada pohon besar di depannya?”, tanya Dimas yang sudah sampai di sekitar lokasi yang diinfokan Arya.


Tetapi dia masih tidak tahu harus kemana menghentikan mobilnya atau lebih tepatnya taksi. Karena Arya sudah mengatakan Sarah membawa mobil, dia harus memarkirkan mobil itu agar tidak harus kembali ke sini keesokan harinya.


“Hn.”, jawab Arya singkat.


“Ada banyak pohon disini. Bisakah kamu share lokasinya.”, ujar Dimas yang masih kebingungan, karena dia tidak biasa untuk berjalan di area ini.


Arya menekan tombol share lokasi dan mengirimkannya pada Dimas. Sarah, wanita disampingnya sudah tertidur pulas setelah membuatnya kesulitan. Arya benar - benar khawatir kalau kedatangan wanita itu hanya akan membuat penyakit jantung papanya kambuh. Dia tak ingin ada keributan di rumah.


“Kalau waktu itu aku tidak berhubungan dengan Dimas, apakah hubungan kita tidak berakhir seperti ini?”, tanya Sarah menarik lengan Arya. 


Tak cukup hitungan detik, Arya menepisnya. 


“Tidak perlu banyak bicara dan tunggu saja Dimas datang menjemputmu.”, ujar Arya tegas dan datar. 


Sudah tak ada perasaan berarti dibalik kata - katanya lagi. Tidak seperti saat awal mereka bertemu kembali dimana Arya masih mengharapkan mereka kembali. 

__ADS_1


“Kamu jelas ingin kembali padaku waktu itu. Kenapa semua bisa berubah secepat itu.”, racaunya tidak jelas. 


“Jangan mendramatisir hal ini lagi. Aku sudah bosan mendengarnya.”, ungkap Arya.


__ADS_2