
Arya sudah menyeruput kopinya yang ke sekian. Meeting hari ini berlangsung lama.
Dia pikir dia bisa kembali ke kantor sesudah jam makan siang, tetapi nyatanya Siska baru saja menginformasikan bahwa dia memiliki dua meeting dadakan hari ini.
Berhubung pihak manajemen juga menghadiri meeting dan workshop tersebut, maka mau tidak mau Arya juga harus hadir disana.
Dia tahu bahwa ada pesan yang masuk dari Dinda setelah sebelumnya mereka masih sempat bertukar pesan. Namun, beberapa orang terus mengajak Arya untuk berbicara sehingga Arya tak bisa membalas pesannya.
“Orang yang disana adalah CEO dari perusahaan asing yang baru membuat cabang di Indonesia. Jika berhasil mendapatkan izin, mereka ingin menunjuk kita sebagai partner. Mereka bergerak di bidang software development tetapi untuk cabang yang di Indonesia, mereka juga ingin merambah ke dunia edukasi atau scouting. Sehingga nanti mereka bisa menjadi bibit - bibit baru di perusahaan mereka.
“Hm.. program yang menarik.”, ujar Arya menanggapi.
Sebelum Arya mendekati CEO itu, dia justru lebih dulu berjalan ke arah Arya. Awalnya, Arya kira dia hanya ingin mengambil champagne yang dibawa oleh pelayan, namun ternyata setelahnya dia langsung mengajak Arya berbicara.
“Hi, I’ve heard about you a lot. I’d like to discuss more about the business as I am gonna create another one here. When will you be available for the discussion?”, ujar CEO itu menawarkan minuman pada Arya namun Arya menolaknya dengan halus.
“Thanks for your interest, I think I’m the one who should ask that question. When would you like to discuss?”
“Then how about today? Are you available after this?”, katanya memberikan jawaban.
Sebenarnya Arya tak ingin, tetapi dia terpaksa untuk mengangguk. Kemudian dia menghubungi tim 8 untuk segera datang sebelum jam 4 untuk mempersiapkan meeting. Arya sudah bisa berekspektasi bahwa dia baru akan selesai malam hari.
Dan benar, meeting berlangsung selama kurang lebih 2 jam dan Arya masih harus kembali ke kantor untuk menandatangani beberapa dokumen.
“Halo, Din? Sorry banget, kamu bisa pulang sendiri? Kalau menunggu saya, sepertinya kamu baru akan bisa pulang jam 10 malam. Kamu duluan aja ya?”, kata Arya di telepon. Saat itu jam masih menunjukkan pukul 6 lewat, kemungkinan Dinda masih menunggunya di kantor.
“Baik mas. Aku balik duluan saja. Mas Arya, jangan lupa makan. Jangan minum kopi terus.”, ujar Dinda. Arya hanya mengiyakan meskipun saran itu tidak ia ikuti sepenuhnya.
Arya melajukan mobilnya menuju kantor. Kemacetan jalan raya membuat dia sampai lebih lama dari yang diperkirakan.
“Hallo, Pak Bondan? Saya sudah sampai di kantor. Bapak dimana? Selain dokumen project yang kemarin, ada lagi yang harus saya tanda tangani?”, tanya Arya melalui telepon begitu dia sampai di parkiran mobil.
Pak Bondan adalah Manager tim 1 yang dibawahi Arya. Demi menandatangani dokumen urgent untuk bahan meeting timnya besok, Arya harus kembali ke kantor. Selain itu, Siska juga memintanya menandatangani beberapa dokumen penting lainnya yang sudah tersedia di meja Arya.
Dengan langkah cepat, Arya menaiki lift, melewati lobi dan naik lift lagi menuju lantai ruangannya. Begitu sampai, dia langsung masuk ke ruangan. Arya adalah tipe yang sangat detail. Dia tidak pernah menandatangani dokumen yang tidak dia mengerti.
“Sis, ini tentang apa?”, tanya Arya pada Siska. Dia sengaja meminta sekretarisnya untuk tidak pulang dahulu karena untuk menandatangani semua dokumen ini dia butuh penjelasan.
Siska menjelaskan satu persatu. Tak jarang Arya melontarkan pertanyaan yang membuat Siska semakin stress. Hari sudah malam dan dia hanya ingin pulang.
“Oke, tiga dokumen yang ini saya tanda tangani. Untuk yang dua dokumen ini, saya minta timnya untuk datang ke saya besok pagi. Saya tidak puas dengan penjelasan kamu, jadi suruh mereka menemui saya besok.”, perintah Arya.
“Ba-baik pak Arya.”, jawab Siska mengambil tiga dokumen yang sudah ditandatangani dan meninggalkan dua dokumen sisanya yang belum ditandatangani.
“Kalau kamu ketemu pak Bondan di luar, bilang segera temui saya. Saya mau pulang soalnya.”, ujar Arya. Pria itu mengambil satu buah sandwich yang tadi disiapkan Dinda. Perutnya sudah lapar dan makanan ini sangat membantunya.
Tok tok tok tok
Tak lama, seseorang mengetuk pintu ruangan Arya.
“Iya, masuk.”, perintah Arya dengan kondisi mulut yang penuh karena sandwich yang sedang dia lahap.
Pak Bondan masuk membawa sebuah dokumen. Beliau adalah manager salah satu tim Business and Partners yang termasuk lama di perusahaan ini. Usia beliau jauh lebih tua dibandingkan Arya.
__ADS_1
“Silahkan pak.”, pak Bondan meletakkan dokumen tersebut untuk dibaca terlebih dahulu oleh Arya.
Arya dengan tenang membacanya satu persatu. Mulutnya masih mengunyah satu potongan sandwich.
“Ohiya, silahkan pak.”, ujar Arya menawarkan sandwich tersebut pada pak Bonda.
“Ini istr….”, ucapan Arya tercekat tatkala mulutnya hampir keceplosan mengatakan tentang istrinya.
“Ah.. haha maksud saya..”, Arya mencoba meralat kata - katanya.
“Tidak pak, terima kasih. Saya sudah makan.”, baru saja Arya mencoba untuk menjelaskan, pak Bondan sudah menjawabnya.
Sebenarnya dia tidak memperhatikan perkataan Arya karena dia sudah keburu nerves dengan dokumen yang diserahkan. Jika ada bagian yang salah dan Arya tidak menandatangani dokumen itu, maka mimpi buruk untuk tim mereka.
“Bisa tolong jelaskan bagian ini?”, tanya Arya.
Pak Bondan menelan ludahnya sebentar dan menjelaskan secara rinci. Dia sudah bekerja bersama Arya selama 3 tahun dan dia sudah tahu karakter pria ini. Sebelum meminta tanda tangan, Pak Bondan memastikan dia mengetahui dan menguasai apa yang ada di dokumen.
“Arya mengambil pulpennya dan bersiap untuk menandatangani dokumennya.”
“Ok. Good Luck!”, jawab Arya sambil menyerahkan dokumen itu pada Pak Bondan.
“Terima kasih, Pak.”
“Hm.”, jawab Arya singkat.
Meskipun terdengar tidak sopan, tetapi Arya adalah tipe yang tidak membedakan karyawannya berdasarkan usia. Dia menyamaratakan semuanya, satu - satunya yang membuat perlakuannya sedikit berbeda adalah posisi. Bukan berarti Arya akan lunak pada mereka dengan posisi lebih tinggi tetapi Arya mencoba untuk menyesuaikan kapasitas pekerjaan seseorang berdasarkan posisi mereka.
Oleh karena itu, Arya tidak pernah memarahi intern secara langsung, sementara untuk level manager, dia tidak akan segan untuk menegur saat meeting.
Di lift menuju basement, Arya kembali bertemu orang yang sangat tidak ingin ditemui. Bahkan sampai dia berpikir apakah kantornya pindah saja. Seperti biasa, Arya menganggap Dimas tidak ada. Dia turun lift menuju basement. Dimas tidak mengatakan apapun sepanjang perjalanan lift dan hal itu membuat Arya lega.
Sejujurnya, bukan Arya tak ingin meladeninya, tapi hari ini dia sudah terlalu lelah dengan itu. Dia hanya ingin pulang dan bertemu Dinda.
“Arya, sampai kapan kamu akan menyembunyikan pernikahan kamu dengan Dinda?”, ternyata Arya salah, Dimas mulai mengajaknya berdebat dengan melontarkan pertanyaan yang membuat dia marah. Arya marah karena Dimas terlalu ikut campur dengan urusannya. Tidak, Arya juga marah jika nama Dinda keluar dari mulut laki - laki itu.
Arya tidak menghiraukan dan melanjutkan langkahnya. Namun, Dimas menahannya dengan memegang bahu Arya dan mencegat langkahnya.
“Mau apa kamu?”
“Aku tanya, sampai kapan kamu menyembunyikan pernikahan kamu dengan Dinda? Kamu hanya menyakitinya saja.”
“Heh, jangan sok tahu dan itu juga bukan urusanmu. Dinda adalah istriku. Apa yang aku lakukan padanya adalah hakku.”
“Urus saja wanita-mu dan anak-mu. Apa kau tidak lelah terus mengurusi wanita yang menjadi milik orang lain.”, balas Arya.
Dia melepaskan pegangan tangan Dimas di bahunya dan hendak melangkah menuju mobilnya. Tapi, pria itu lagi - lagi menghalangi jalannya.
“Sarah tidak melahirkan anakku. Dia keguguran di usia kehamilan yang menginjak 7 bulan.”, ujar Dimas.
Deg
Arya terkejut, tatapan matanya sedikit berubah, namun tak lama dia bisa segera memperbaiki ekspresinya.
__ADS_1
“Apa kamu benar - benar sudah tidak mencintai Sarah? Aku tahu pernikahanmu dengan Dinda hanya arrangement dari orang tua kalian. Sementara dengan Sarah, aku yakin kamu akan sulit melupakan kebersamaan kalian.”, Dimas terus mengungkit - ungkit perasaan yang sudah lama Arya kesampingkan.
“Urusanku dengan Sarah, biar aku yang menyelesaikannya. Aku tidak perlu bantuan darimu. Berhenti jadi munafik. Aku sudah lelah berdebat denganmu.”, balas Arya.
“Aku dan Sarah, kami hanya khilaf waktu itu. Aku mabuk, dia juga mabuk. Oke, aku yang memulainya lebih dulu dengan Sarah. Aku masih menyimpan perasaan cinta padanya waktu itu. Kamu, pekerjaanmu, dan semua kesibukanmu membuat dia kesepian. Aku tidak tega. Tapi sekarang tidak. Pernahkah kamu berpikir bahwa Sarah adalah yang paling terluka disini?”, ujar Dimas.
“Sarah ingin kembali padamu. Kamu masih tidak bisa melupakannya, kan? Kenapa harus mempertahankan pernikahan tanpa cinta dan menyia - nyiakan wanita yang kamu cintai dua kali? Kamu dan Sarah, kalian juga menyakiti perempuan polos seperti Dinda dengan permainan hati kalian?”, lanjut Dimas lagi.
Arya terdiam sebentar, dia menghela nafasnya sebelum akhirnya mengatakan dengan nada yang mengintimidasi dan penuh penekanan.
“Aku TIDAK AKAN PERNAH KEMBALI dengan Sarah, apapun yang terjadi. Berkhianat atau tidak, tapi dia sudah memilih untuk tidur denganmu daripada menyelesaikan masalahnya denganku. Dan satu lagi, berhenti mendekati istriku.”, tegas Arya pada Dimas.
“Benarkah? Aku meragukannya. Apa kamu telah benar - benar melupakan Sarah? Bukankah 6 bulan yang lalu kamu masih merencanakan untuk kembali dengannya? Kalau saja kamu tidak salah sangka waktu itu, kalau saja arrangement pernikahan kamu dan Dinda tidak hadir di saat - saat itu, aku yakin mungkin kamu tidak akan menikahi Dinda.”, balas Dimas.
“Heh, apa ini pertama kali kamu memergoki Sarah berselingkuh denganku? Tidak. Kamu selalu memaafkannya karena kamu sangat mencintainya dan tidak bisa lepas darinya. Bukankah itu alasan kamu tidak menidurinya selama setahun terakhir pernikahan kalian? Kamu tahu kalau Sarah menemuiku tapi kamu diam saja karena kamu takut mengakuinya. Kamu mencintainya tapi tak pernah bisa membagi waktu dengannya, mengerti dia, dan tak ingin memberikan anak untuknya.”, Dimas terus saja berbicara.
Arya sudah mengepalkan tangannya keras. Jika mengikuti emosinya, dia sudah memukul pria ini dari tadi. Tapi, lagi - lagi Arya tak ingin ada keributan karena dia bisa melihat ada dua orang yang baru keluar dari lift. Di bagian depan juga masih banyak manajer yang dia kenal sedang berjalan menuju mobil.
“Dinda, aku menunggunya sadar bahwa memutuskan bersama pria yang tidak akan pernah berdamai dengan cinta masa lalunya seperti dirimu adalah keputusan yang salah. Sekarangpun aku masih bisa merasakan bahwa kamu masih mencintai Sarah.”, lanjut Dimas tepat di telinga Arya, sebelum akhirnya berlalu dan meninggalkan Arya berdiri di tempatnya.
“Laki - laki brengsek.”, ujar Arya sambil menatap Dimas yang berlalu menuju parkiran mobilnya.
*****
*“Benarkah? Aku meragukannya. Apa kamu telah benar - benar melupakan Sarah? Bukankah 6 bulan yang lalu kamu masih merencanakan untuk kembali dengannya? Kalau saja kamu tidak salah sangka waktu itu, kalau saja arrangement pernikahan kamu dan Dinda tidak hadir di saat - saat itu, aku yakin mungkin kamu tidak akan menikahi Dinda.” *
*“Heh, apa ini pertama kali kamu memergoki Sarah berselingkuh denganku? Tidak. Kamu selalu memaafkannya karena kamu sangat mencintainya dan tidak bisa lepas darinya. Bukankah itu alasan kamu tidak menidurinya selama setahun terakhir pernikahan kalian? Kamu tahu kalau Sarah menemuiku tapi kamu diam saja karena kamu takut mengakuinya. Kamu mencintainya tapi tak pernah bisa membagi waktu dengannya, mengerti dia, dan tak ingin memberikan anak untuknya.”, Dimas terus saja berbicara. *
“Dinda, aku menunggunya sadar bahwa memutuskan bersama pria yang tidak akan pernah berdamai dengan cinta masa lalunya seperti dirimu adalah keputusan yang salah. Sekarangpun aku masih bisa merasakan bahwa kamu masih mencintai Sarah.”, lanjut Dimas sebelum akhirnya berlalu dan meninggalkan Arya berdiri di tempatnya.
Arya sudah berada di dalam mobilnya, perkataan - perkataan Dimas tadi terus terpikirkan di otaknya. Arya memukul setir mobil beberapa kali karena dia merasa frustasi. Dia sulit memahami dirinya sendiri, memahami perasaannya, dan memahami tindakannya.
Dinda, gadis itu membuatnya nyaman dan tenang. Tapi Arya belum tahu apakah dirinya mencintai Dinda? Setiap kali Arya ingin mengakuinya, bayangan Sarah terus muncul di kepalanya.
Arya sampai di rumah dan memarkirkan mobilnya. Hari ini melelahkan dan pikirannya kalut. Dia segera masuk ke dalam rumah, naik ke atas menuju ke kamarnya dan bermaksud mencari Dinda. Sudah jam 10 lewat, semoga Dinda belum tidur karena saat ini dia membutuhkan gadis itu.
Dan benar, Dinda terlihat sedang berdiri di balkon kamar sambil menikmati angin malam. Tanpa pikir panjang, Arya meletakkan tasnya, membuka jasnya, dan berjalan ke arah Dinda.
“Mas Arya?”, kata Dinda terkejut. Dia bisa merasakan nafas pria itu. Arya memeluk tubuh Dinda erat dan menyesap aromanya.
“Mas Arya kenapa?”, Tanya Dinda.
Namun, belum lagi Dinda mendengar jawaban Arya, pria itu sudah menghujaninya dengan ciuman di tengkuk, leher, punggung, dan pipinya.
“M-Mas A-Arya, kenapa?”, tanya Dinda lagi. Tidak biasanya Arya bersikap begini.
Meskipun beberapa hari ini mereka lumayan sering melakukannya, tapi kalau Arya begini setelah dia mandi dan datang padanya dengan intro seperti obrolan dan semacamnya, mungkin Dinda tidak akan bertanya.
Tapi sekarang, Arya benar - benar bersikap tiba - tiba. Pria itu sudah membalik tubuh Dinda, dan mendaratkan ciuman yang lebih dalam dan intens ke bibir Dinda. Gadis itu tak bisa lagi berkata - kata karena sentuhan berikutnya sudah membuat pikiran dan jantungnya tidak tenang.
‘Ada apa dengan mas Arya?’, Dinda hanya mampu menanyakan itu dalam hati.
******
__ADS_1
Jangan lupa, 'Like', Favorit', dan berikan 'Komentar' agar author semakin bersemangat untuk menulis. Thanks untuk dukungannya! :)