Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 93 Tetangga Apartemen


__ADS_3

Malam yang panjang diiringi oleh rintikan hujan berlalu dan berganti dengan pagi meski belum menampakkan fajar. Suasana sunyi sepi di apartemen Arya karena keduanya sudah terlelap. Arya mendekap Dinda begitupula dengan gadis itu. Lengannya ia lingkarkan pada dada bidang Arya meski tak bisa sepenuhnya memeluknya.


Deru nafas keduanya bersahut beriringan dan lembut. Sesekali pemilik tubuh mungil itu beringsut untuk menyamankan posisinya atau hanya sekedar terganggu dengan semilir angin dari jendela balkon yang mereka biarkan terbuka meski tirai tetap tertutup.


Teng teng teng teng


Suara bel apartemen mengusik ketenangan. Saat itu, jam menunjukkan pukul 3 pagi.


Teng teng teng teng


Pemilik apartemen masih tak bergeming meski suara bel sudah berbunyi sebanyak dua kali putaran.


Teng teng teng teng


Barulah pada putaran ketiga, Dinda terbangun dan mengerjapkan matanya sebentar. Ia berusaha mengedarkan pandangannya ke sekitar. Dilihatnya Arya yang tidur sangat nyenyak disebelahnya. Pria itu sedikit terusik dengan pergerakan Dinda dan kembali mengunci gadis itu dalam pelukannya.


Teng teng teng teng


Bunyi bel apartemen yang tadi membangunkan Dinda kembali ia dengar. Tadinya, gadis itu mengira dia hanya bermimpi, tetapi kali ini dia yakin bahwa ada seseorang di luar sana. Bertamu? Jam 3 pagi?


“Mas.. Mas Arya..”, Dinda berusaha membangunkan Arya yang sudah terjun dalam ke alam mimpinya. Dinda sudah menggoyang - goyangkan tubuh pria itu tapi Arya hanya bergeming sebentar lalu tidur lagi.


Suara bel tidak lagi terdengar untuk beberapa saat. Tapi, Dinda tetap ingin membangunkan Arya.


“Mas Arya.. Mas… Bangun. Ihh mas Arya..”, kali ini Dinda memukul lembut dada dan lengan kekar pria itu agar dia segera bangun.


“Hmm? Kenapa? Besok saya ada meeting loh.”, kata Arya mengeluh namun matanya tetap tidak dia buka.


“Udah sini.. Kamu mau ngapain sih pagi - pagi?”, Tanya Arya. Pria ini sedang berusaha menarik Dinda yang sudah duduk sambil menutupi tubuhnya dengan sebagian selimut.


Teng teng teng teng


Bel apartemen kembali berbunyi.


“Mas.. itu dengerin. Dari tadi ada yang pencet bel. Sekarang jam 3 pagi loh. Siapa ya?”, Tanya Dinda.


Gadis itu masuk ke mode parno karena menurutnya siapa yang akan bertamu atau menekan bel unit seseorang jam 3 pagi.


Arya akhirnya memutuskan untuk bangun dari tidurnya karena bel terus berbunyi. Arya bangun dari tempat tidurnya. Ia mengutip kemeja tidurnya dan mengenakannya. Tak lupa Arya juga mengambil beberapa potongan baju Dinda dan memberikannya pada gadis itu.


“Mas, jangan langsung dibuka. Lihat dulu.”, Parno Dinda mulai kumat. Dia menarik lengan Arya agar tak langsung membuka pintu. Gadis itu juga bersembunyi dibelakangnya.


“Siapa ya?”, ujar Arya yang sudah mengintip dari lubang pintu. Dia melihat seorang nenek - nenek yang sedang kebingungan di depan kamarnya, menunggu pintu dibuka.


Tanpa berpikir panjang, Arya membuka pintu. Namun, dia tetap menjaga agar pintu tidak terbuka sempurna dan membiarkan sekat pintu terpasang.


“Iya, ada yang bisa saya bantu, Bu?”, tanya Arya sopan. Dinda tidak bisa melihatnya karena celahnya tidak terlalu besar.


“Tolong saya. Saya baru pindah di unit sebelah, cucu saya sakit dan ibunya belum pulang. Saya bingung harus bagaimana. Bisa tolong bantu saya antar ke rumah sakit terdekat? Saya sudah coba menelepon ambulans tetapi sedang tidak ada yang tersedia di dekat sini.”, ungkap Nenek itu. Ekspresinya sangat panik dan bingung.


Arya membuka pintunya lebar dan keluar dari apartemen. Di lantai ini, hanya ada 4 unit apartemen. Dua unit milik Arya dan dua unit lagi tadinya kosong. Arya bahkan baru tahu jika ada yang baru pindah ke unit di lantai yang sama.


Nenek itu menunjuk unit apartemennya yang sengaja ia biarkan terbuka.


“Dirumah tidak ada siapa - siapa lagi?”, tanya Arya memastikan.


“Iya, ibunya sedang dinas malam. Jadi hanya kami berdua di rumah. Saya coba hubungi tapi tidak ada yang angkat. Kebetulan ibunya dokter dan ada jadwal operasi malam ini. Tadi cucu saya badannya gak terlalu panas dan sudah ditinggalkan obat, tapi sekarang malah tambah panas.”, ujar nenek itu lagi.


Dinda mengikuti Arya dari belakang. Arya segera masuk ke bilik kamar apartemen milik tetangganya dan benar, seorang anak kecil sedang terbaring di kasur. Tubuhnya penuh keringat dan sepertinya dia juga mengigau.


“Din, kamu tunggu disini sebentar, saya ambil kunci mobil sama outer dan hijab kamu.”, ujar Arya pada Dinda. Dinda membalas perintahnya dengan anggukan.


“Bu, saya ke kamar sebentar. Kita antar pakai mobil saya ke rumah sakit terdekat.”, ujar Arya kemudian.

__ADS_1


Arya dengan gesit kembali ke unitnya, mengambil outer untuknya dan Dinda serta hijab gadis itu. Arya juga mengambil kunci mobil dan dompetnya. Setelah memastikan pintu terkunci, Arya bergegas ke unit sebelah dan menggendong anak kecil tadi.


“Kita berangkat sekarang.”


Mereka menuruni lift langsung menuju basement. Begitu sampai di parkiran mobil, Arya langsung memasukkan anak itu ke bagian tengah mobilnya dan meminta nenek tadi untuk duduk disana. Dinda segera mengambil tempat di samping Arya dan mereka segera berangkat.


Jalanan dini hari sudah sangat sepi bahkan cenderung kosong di beberapa bagian. Meski beberapa tempat masih terlihat buka, tetapi jumlah mobil yang berlalu lalang bisa dihitung dengan jari. Arya memilih rumah sakit terdekat yang hanya berjarak 10  - 15 menit dari apartemennya.


Begitu sampai, mereka langsung bergegas menuju UGD dan memanggil dokter. Dinda berusaha menenangkan nenek itu sembari dokter memberikan pertolongan pertama.


“Panasnya sudah dari kapan, Bu?”, tanya dokter pada nenek itu.


“Baru tadi malam dok. Kami kira hanya demam biasa, jadi hanya diberikan obat demam tapi panasnya gak turun - turun malah makin tinggi dan berkeringat.”, meski nenek itu sangat cemas, tetapi dia bisa menjawab pertanyaan dokter dengan runut dan tenang.


“Sepertinya cucu ibu terinfeksi bakteri, tetapi untuk memastikan kami harus melakukan tes dulu. Untuk saat ini kami sudah memberikan obat untuk menurunkan panasnya dan memberikan infus. Begitu hasil lab nya keluar, akan kami tangani segera.”, Dokter menjelaskan.


“Anda ayahnya?”, tanya dokter pada Arya yang ikut berdiri mendengarkan penjelasan dokter.


“Oh bukan bukan. Saya tetangganya, tadi membantu mengantar saja.”, dokter mengangguk.


“Hasil lab mungkin baru bisa keluar besok. Ada keluarga yang lain?”, tanya Dokter kembali.


“Iya dok, anak saya masih jadwal operasi. Kebetulan dokter juga di RS XYZ.”, jawab nenek tadi menjelaskan.


“Oh.. dokter apa, Bu? Saya kenal beberapa orang di RS XYZ.”, balas dokter tersebut antusias.


“Dokter kandungan. Setahu saya mau pindah rumah sakit tapi saya kurang jelas.”


“Aahh.. kalau obgyn saya tidak terlalu banyak kenal. Baiklah. Mungkin bisa segera dihubungi ya, Bu. Supaya saya bisa menjelaskan prosedur selanjutnya. Untuk saat ini seharusnya sudah tidak apa - apa. Tinggal kita periksa saja di lab dan lihat hasilnya. Kalau begitu saya permisi dulu.”, Dokter Radit begitu tertulis di papan nama jasnya segera berlalu meninggalkan mereka.


Dinda merapikan letak selimut anak itu dan mengusap kepalanya sebentar. Sementara Arya mengajak nenek tadi untuk mengobrol.


“Terima kasih ya nak. Saya bingung, tidak bisa ke lobi panggil satpam karena saya juga tidak mau meninggalkan cucu saya sendirian. Pasti saya sudah sangat mengganggu malamnya.”


“Iyaa.. tidak apa - apa.. Namanya siapa? Saya Ratih, cucu saya namanya Deni dan anak perempuan saya namanya Rima, saya baru pindah ke unit itu sekitar dua minggu lalu. Saya tinggal bersama anak perempuan saya dan puteranya.”


“Hm..”, Arya mengangguk.


“Saya Arya, Bu dan itu istri saya.", jawab Arya. Meski jarak mereka tidak berdekatan, tetapi Dinda bisa mendengar Arya memperkenalkan Dinda sebagai istrinya.


Terakhir kali dia memperkenalkan diri sebagai istri Arya adalah di hotel dan itu Dinda sendiri yang mengatakannya.


Tanpa sadar Dinda merasa hatinya sangat senang mendengar kata itu dari bibir Arya.


"Kebetulan saya jarang sekali di apartemen. Dari mana ibu tahu kalau sedang ada orang di dalam?”, tanya Arya lagi.


“Saya lihat tadi malam waktu nak Arya masuk ke apartemen. Kebetulan saya keluar mau mencari sesuatu yang terjatuh. Istrinya masih muda sekali, ya. Baru menikah?”


“Aah haha.. Iya.. kebetulan sudah tiga bulanan.”, Arya menyunggingkan senyumnya dengan canggung.


“Mohon maaf sekali lagi ya. Saya berterima kasih lagi. Saya tidak tahu bagaimana harus membalasnya. Hm.. saya sudah tidak apa - apa disini. Sebentar lagi saya coba hubungi anak saya lagi. Seharusnya satu jam lagi dia sudah bisa dihubungi.”, ujar nenek itu.


“Ah tidak apa - apa. Kami tunggu disini saja sampai anak ibu datang. Takutnya ibu butuh bantuan yang lain.”


“Nggak papa nak Arya. Nggak perlu ditunggu, sudah ada dokter juga. Maaf sudah mengganggu tidurnya.”


“Benar tidak apa - apa, Bu?”


“Iya tidak apa - apa.”, jawab nenek itu merasa sangat tidak enak.


“Ya sudah. Saya tinggalkan nomor ponsel saya. Nanti kalau ada apa - apa, perlu bantuan, silahkan di telpon saja.”, ujar Arya.


Nenek itu menerima kertas berisikan nomor ponsel Arya sambil tersenyum.

__ADS_1


“Sayang, kita pulang ya.”


“Hm? Gak tunggu ibunya si kecil datang dulu mas?”


“Gapapa, nak. Oiya, istri kamu namanya siapa nak Arya? Saya jadi lupa tanya. Dari tadi ngobrol sama suaminya terus.”, ujar nenek itu sambil tersenyum.


“Dinda, Nek, eh Bu.”, Dinda jadi bingung harus panggil apa. Secara usia, wanita paruh baya di depannya ini sepertinya sudah 10 tahun lebih tua daripada Inggit. Dari usia Arya, mungkin masih cocok di panggil Ibu. Tapi Dinda malah jadi merasa tidak sopan memanggilnya Ibu karena dia masih muda.


“Panggil Ibu saja supaya saya merasa lebih muda.”, ujarnya sambil tersenyum.


“Kalau begitu kami permisi dulu ya Bu. Semoga Deni lekas sembuh.”, ucap Dinda tersenyum.


******


“Din, Din. Dinda!”, Delina menggoyangkan tubuh Dinda yang tertidur di mejanya.


Tidak biasanya Dinda tertidur pulas di meja kerja. Mungkin ini pertama kalinya Dinda tidur di kantor bahkan sebelum jam kantor dimulai.


“Iya, iya mba. Kenapa? Sudah jam 9 ya?”, tanya Dinda panik, dia melihat ke sekitar.


Pagi ini dia masuk ke kantor lebih pagi dari biasanya. Sesampainya di apartemen setelah dari rumah sakit, Dinda dan Arya langsung bebersih karena jam sudah menunjukkan pukul 5.30 pagi. Sudah tanggung jika mereka ingin melanjutkan tidur.


Akhirnya, jam 7.30 dia sudah duduk rapi di kantor yang sepi. Belum ada yang masuk kecuali dirinya dan mas Azis saat itu yang memang biasa datang pagi karena rumahnya jauh dan dia tidak ingin terkena macet.


“Kamu habis ngapain sih? Kok sampai ketiduran begitu. Sudah jam 10 lewat tahu Din. Pak Erick juga tadi sudah kesini. Mungkin karena kamu lagi gak banyak kerjaan, dia jadinya tidak membangunkan kamu.”, terang Delina.


“Ah yang bener mba?”


“Iya, sekarang sudah pergi lagi. Kayanya ke ruang finance mau bahas meeting budget.”


“Mba Suci, Bryan, dan yang lainnya kok gak keliatan, mba?”


“Wah itu aku gak tahu. Mungkin sebagian ada yang ikut meeting bareng kali ya sama pak Erick. Bryan ada tapi lagi sebat kayanya.”


“Hm.. Bryan bukannya gak pernah sebat ya?”


“Gak tahu, belakangan banyak bergaul sama Andra dan Suci jadi sebat deh bareng geng Business and Partners yang lain.


‘Aku baru bisa tidur jam 1.30 pagi, thanks to mas Arya. Dan jam 3, aku harus menjadi tetangga yang baik dengan membantu Bu Ratih dan cucunya ke rumah sakit. Aku tidur kurang dari dua jam. Kepalaku sakit sekali.’, teriak Dinda dalam hati. Dia benar - benar sangat mengantuk.


“Ohiya, mba Rini lagi cuti, ya. Dia akan balik dua minggu lagi.”, ujar Delina.


“Hm.. Iya. Mba Rini juga sudah info sih ke aku minggu lalu kalau dia mau cuti.”


“Ohiya lupa, dia kan supervisor kamu ya.”


“Hai Din. Sudah puas tidurnya?”, ujar Erick yang muncul entah dari mana.


Suci juga ternyata ikut mengekor di belakangnya bersama dengan dua orang yang hanya berlalu melewati divisi mereka.


“Maaf ya pak Erick. Tadi malam ada urusan mendadak, jadi saya kurang tidur,”, jawab Dinda merasa tidak enak. Meskipun Erick melontarkan kalimatnya dengan nada bercanda.


“Hmm..kok kamu bisa samaan sih sama Pak Arya. Tadi kita sempat meeting sama dia 30 menit. Tapi dia malah ketiduran sebentar. Gak biasanya.”, ujar Suci dari meja di samping Erick.


“Jangan - jangan urusan mendadaknya sama Pak Arya, ya Din?”, ujar Andra yang sudah kembali dari sebatnya dan ikut nimbrung omongan mereka di tengah.


“Ahahaha..apaan sih kamu.”, Dinda hanya bisa mengeluarkan tawa canggungnya. Dia tahu yang lain hanya bercanda, tetapi sejujurnya candaan itu adalah kenyataan yang sebenarnya. Erick tak bergeming dan lanjut mengerjakan pekerjaannya.


“Din, saya mau minta laporan terakhir smart report ya, yang testing. Kamu review dulu trus rapihin, sama daftar laporan bugnya juga.”, perintah Erick pada Dinda.


“Iya, baik Pak.”, jawab Dinda.


Semua kembali ke bangkunya masing - masing dan melanjutkan pekerjaan mereka.

__ADS_1


__ADS_2