
“Din, aku boleh minta tolong beliin kopi di bawah?”, tanya Rini yang baru saja bangun dari kursinya dan menghampiri Dinda.
Matanya sudah sekarat, namun masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan hari itu. Jam masih menunjukkan pukul 3 sore.
Erick juga sedang tidak ada. Lima menit lagi dia harus meeting online dengan seseorang. Dia tidak punya cukup waktu untuk membelinya sendiri.
Berhubung sepertinya pekerjaan Dinda tidak banyak hari ini, mungkin jadi ide yang bagus untuk meminta bantuannya.
Toh, Rini adalah supervisor Dinda. Jadi sudah lumrah baginya untuk meminta bantuan bawahannya itu.
“Oh iya, boleh mba.”, jawab Dinda yang langsung berdiri dari kursinya ketika dipanggil oleh Rini.
Dinda mengambil ponselnya dan mencatat pesanan Rini. Rini terkenal dengan sifatnya yang Picky Eaters. Bahkan untuk kopi pun, dia memiliki formatnya sendiri.
Dinda tak bisa mengingat itu semua. Karena itu dia perlu mencatatnya.
"Aku mau Cappucino, gulanya sedikit aja ya. Kira2 satu sendok kecil. Aku minta di tambah bubuk di atasnya terus kalau bisa agak penuh. Gapapa deh aku tambah jadi add-on. Di bawah mereka sudah hapal sih harusnya. Sama Din, tolong bilangin punya aku jangan terlalu panas ya, mau langsung di minum soalnya. Aku boleh minta cup satu lagi ga, diisi susu ya, full scream. Aku suka mencampurkan keduanya. Sama kasih cookies yang kecil - kecil itu juga ya. Plus macaron kalau masih ada. Biasanya jam segini sudah habis sih. Tapi coba tanya aja, kali aja mereka masih simpan. Cookies tambahannya yang rasa kopi.Satu dicelup ke Cappucino, satunya biarkan saja di luar. Thanks, ya.", ucap Rini menyebutkan pesanannya yang sudah seperti struk belanja bulanan. Panjaaaaaaang sekali.
Saat itu, dia kira dia hanya harus membelikan kopi untuk Rini saja, sampai setumpuk request mulai berdatangan padanya.
Maklum, dia masih anak magang yang terkadang ada saja yang memberikan pekerjaan di luar ruang lingkupnya. Contohnya seperti Rini.
Biasanya Rini tidak pernah meminta bantuan Dinda kalau ada Erick. Karena Erick pasti akan meminta Rini untuk membelinya sendiri atau meminta bantuan OB yang tidak tahu dimana keberadaannya sore - sore begini.
Aji mumpung Erick sedang meeting. Dika juga berada di dalam ruangan dan sedang serius meeting online.Jadi, kecil kemungkinan dia akan keluar dari ruangannya.
“Din, aku juga dong. Ngantuk nih, butuh doping kopi.”, selanjutnya seseorang di level Manager juga meminta bantuan pada Dinda setelah mendengar Rini menitip kopi padanya.
Dinda mau tidak mau mengiyakan. Dia hanya intern. Tidak ada pilihan lain. Kalau dia menolak, pasti nanti akan menimbulkan kesan tidak enak.
Dinda tidak seperti Suci yang bisa dengan mudahnya menolak. Lalu, masih bisa bergaul dengan yang lain seolah tidak terjadi apa - apa.
“Aku juga dong.”, kemudian berlanjut pada orang lain yang juga menanyakan orang lain lagi.
Bahkan Suci juga memanfaatkan kesempatan itu. Meski semua hal yang berhubungan dengan Arya sudah dia lupakan sepenuhnya, tetapi kadang dia masih saja merasa tidak suka pada Dinda. Memikirkan seorang Dinda bisa mendapatkan pria seperti Arya membuat dia merasa iri dan tidak suka.
“Hm.. haha banyak juga yah pesanannya.", ujar Dinda.
Sebenarnya Dinda sudah memberikan kode secara halus agar mereka tidak lagi menambah pesanannya.
Atau setidaknya utus orang satu lagi untuk membantunya. Tapi, entah mereka sudah menutup rapat telinga mereka atau tidak peka, pesanan terus datang.
Ada juga yang tidak segan memesan beberapa tambahan seperti donat dan croissant.
‘Hah.. mengapa makin lama jadi makin bertambah.’, ujar Dinda hanya bisa protes di dalam hati.
"Banyak juga yah.. mungkin butuh waktu lama. Kalau ada satu orang lagi bisa lebih mudah.", kata Dinda memberikan kode keras.
"Ada yang bisa ke bawah lagi gak menemani Dinda?", tanya Rini.
"Wah.. lagi banyak deadline mba. Kalau bukan karena kerjaan, aku sudah ke bawah darj tadi. Haha", ujar salah seorang pegawai level Manager.
Rini menunjuk beberapa orang, tetapi jawaban mereka kurang lebih sama. Sedang banyak kerjaan.
Dinda akhirnya membawa kertas berisi pesanan yang jumlahnya hampir mencapai 10 kopi dan beberapa makanan tambahan.
Dinda hanya bisa dengan lesu berjalan menuju lift dan turun ke bawah. Kemana lagi kalau bukan Cafe milik Dimas.
Tidak hanya itu, dia juga harus pergi ke toko kue yang berada di sekitar lobi itu juga.
“Mas, saya pesan ini ya. Detail pesanannya sudah ada di sana semua. Pakai sedotan. Untuk yang pakai boba minta sendoknya ya mas. Oiya, saya boleh minta tempat yang memudahkan untuk bawa semuanya, ya.”, ujar Dinda menyerahkan pesanan itu ke petugas di Cafe.
"Khusus untuk pesanan yang satu ini, orangnya agak ribet, jadi jangan sampai salah ya mas ", pinta Dinda untuk lebih berhati - hati pada pesanan mba Rini.
“Nanti saya kembali lagi untuk ambil ya mas. Saya mau ke toko roti yang di depan dulu.”, lanjut Dinda sebelum berjalan menuju toko roti.
Letaknya memang masih di lantai lobi, tetapi Dinda harus berjalan sedikit ke depan. Letaknya agak ke sebelah kiri di dekat sebuah bank.
"Oiya, oke mba. Kira - kira pesanannya akan selesai sekitar 20 menitan.", ujar pegawai Cafe.
Dimas sedang tidak terlihat di sekitar sana.
'Syukurlah. Aku tidak perlu menyapanya.', ujar Dinda dalam hati.
Sesampainya disana, Dinda membuka ponselnya dan melihat pesanan yang sudah dituliskan di notes ponselnya.
Dinda mengambil satu per satu roti pesanan mereka dan memasukkannya ke dalam keranjang.
Ada beberapa pesanan yang Dinda masih bingung untuk mencarinya. Petugas toko juga masih sibuk melayani beberapa pesanan skala besar entah dari perusahaan mana.
Mereka terlihat sedang membungkus sejumlah roti dan memasukkannya ke dalam kotak.
Dinda tak enak untuk meminta bantuannya mengambilkan semua pesanan roti miliknya. Belum lagi wajah mereka juga terlihat stress dan judes.
Nama beberapa roti juga sulit. Ada beberapa yang Dinda akhirnya harus bertanya pada petugas karena dia tak kunjung menemukannya.
Akhirnya Dinda harus menghubungi si pemesan dan menanyakan alternatif yang mereka inginkan.
Proses ini setidaknya memakan lebih banyak waktu. Saat Dinda masih sibuk dengan pesanan di toko roti, tiba - tiba Arya dengan beberapa anggota timnya baru saja masuk ke gedung. Mungkin dia baru selesai meeting di luar.
Letak toko roti sangat strategis. Yakni berada di sebelah kanan area masuk lobi. Sehingga setiap kali orang masuk melalui lobi pejalan kaki, sudah pasti bisa melihat toko roti ini.
Dinda tidak menyadari keberadaan Arya yang baru saja masuk dan melewati toko roti itu.
“Pak Arya, kenapa berhenti? Mau beli roti dulu?”, tanya Susan saat melihat Arya yang berhenti sementara anggota yang lain jalan lebih dulu.
Arya juga melihat ke arah toko roti. Lumrah jika dia mengira Arya ingin membeli roti.
__ADS_1
“Hm?”, Arya menolehkan pandangannya dari melihat ke arah toko roti menjadi ke arah Susan yang sedang bertanya.
“Pak Arya mau beli roti?”, tanya Susan lagi sambil menunjuk toko roti di sampingnya. Kali ini dia mencoba memperjelas pertanyaannya.
Rupanya Arya menghentikan langkahnya saat melihat Dinda yang sibuk memilih roti di toko itu.
Arya hapal benar pakaian yang dikenakan oleh Dinda hari ini. Dia juga sudah hapal postur tubuh istrinya. Apalagi dengan jaket yang belakangan dikenakan Dinda yang sebagian kadang ada jaket olahraga milik Arya.
Sementara anggota tim yang bersamanya terus berjalan. Susan menyadari kalau Arya tiba - tiba berhenti dan memilih bertanya.
Tim yang lain yang sudah berjalan lebih dulu juga ikut berhenti. Mereka menyadari Pak Arya sudah tidak bersama mereka dan menoleh ke belakang.
Alih - alih langsung bertanya pada Arya, mereka memilih untuk berbalas pandang dengan Susan.
“Kalian jalan duluan saja ke atas.”, ucap Arya akhirnya memilih menyuruh timnya untuk naik lebih dulu.
Tanpa pikir panjang, tim yang lain langsung mengangguk dan segera melanjutkan langkah mereka.
"Baik Pak Arya, Terima kasih, Pak.", ujar semuanya.
Mereka berterima kasih dengan meeting dan diskusi hari ini.
“Kalau begitu saya temani saja. Nanti kita naik bersama.”, ujar Susan menawarkan diri.
Pertama, dia tidak enak kalau Arya jalan sendiri sementara dia duluan. Kedua, waktu yang tepat juga mungkin untuk mulai lebih akrab dengan Arya.
“Tidak, saya sendiri saja. Susan, kamu siapkan detail ringkasan proyek selama kuartal ini yang diminta untuk pertemuan dengan management di hotel malam ini, ya. Taruh di meja saya. Ingatkan juga ke team leader yang lain kalau mereka ada di meja.”, ucap Arya.
Selain memang Arya membutuhkan ringkasan itu, ini juga menjadi cara terbaik untuk mengusir Susan dan para anggota timnya.
“Oh.. baik Pak. Benar tidak perlu saya temani?", tanya Susan sekali lagi.
"Hn. Memangnya saya anak - anak perlu kamu temani. Lebih baik kamu siapkan laporan.", ujar Arya.
Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi ke atas duluan bersama yang lain, ya.”, ujar Susan.
Tanpa sengaja, Susan memiliki feeling yang berbeda saat melihat pandangan Arya yang sepersekian detik memandang seseorang yang tengah sibuk mencari roti di toko itu.
Susan ingat perempuan itu. Dia pernah melihatnya beberapa kali tapi tak tahu namanya. Karena memang Susan tak pernah menandai keberadaannya. Hanya intern.
'Tunggu, bukankah dia yang waktu itu hampir tenggelam, ya? Semua orang menunjuk - nunjuk perempuan itu. Tidak mungkin. Paling hanya perasaanku saja.', ujar Susan menggeleng - gelengkan kepalanya.
Susan melirik ke Arya sebentar yang sudah memintanya untuk naik lebih dulu. Akhirnya Susan segera pamit.
Arya memastikan anggota timnya sudah tidak berada di jangkauan penglihatan dan lenyap pergi ke arah lift sebelum akhirnya menuju toko roti dan menyapa Dinda, istrinya.
“Sedang apa kamu?”, tanya Arya dengan gaya formalnya sambil memilih - milih roti.
Dia muncul tiba - tiba di belakang Dinda tanpa ada intro terlebih dahulu.
“Hm..”, Dinda bingung harus menjawab apa.
Dia tidak mau merasa kepedean, tapi apa mungkin Arya akan marah kalau tahu dia harus membeli pesanan kopi dan roti dari para staff di divisinya.
“Beli roti.”, akhirnya karena sudah tidak ada waktu dan Arya terus menatapnya dan menunggu jawaban darinya, Dinda memilih jawaban yang general.
“Untuk siapa? Ada meeting?”, tanya Arya.
“Iya, ada meeting.”, kata Dinda mendapatkan ide untuk berbohong dari pertanyaan Arya barusan.
“Dengan?”, tanya Arya.
“Pak Erick…”, dari nada Dinda menjawab, jawaban itu lebih terdengar seperti pertanyaan yang tidak yakin.
“Erick? Terus kamu disuruh beli roti?”, tanya Arya masih menatap lurus.
‘Kenapa kalau di kantor mas Arya jadi terlihat seram, sih.’, ujar Dinda dalam hati.
“Hm..Iya Pak.. “, Dinda bingung menjawab pertanyaannya.
Kemudian di saat seperti ini, seseorang malah menghubunginya.
“Sebentar ya Pak, terima telepon dulu.”, jawab Dinda menghindar dari Arya.
“Iya mas? Oh.. iya ada kalau roti itu. Oh mau diganti jadi itu? Baik siap mas.”, kata Dinda langsung menutup ponselnya.
Saat berbalik, ternyata Arya sedari tadi sudah menguping di sampingnya.
Pria itu dengan santai meletakkan kedua tangannya di dalam saku celana dan membungkukkan badannya.
Sehingga, telinganya bisa berada dekat di samping Dinda dan bisa menguping pembicaraannya ditelepon.
“Mas, Eh.. Pak Arya.. bikin kaget saja.”, kata Dinda terkejut.
Dua orang petugas yang tadinya sibuk memasukkan kue - kue ke dalam kotak jadi ikut memperhatikan keduanya, karena memang hanya mereka berdua yang ada di toko itu.
Interaksi mereka juga lumayan menarik perhatian.
“Roti untuk meeting tetapi bisa custom mau pesan apa? Kalau tidak ada, terus bisa minta kamu carikan yang tersedia dan dia suka? Begitu? ”, Arya langsung menangkap basah Dinda yang berbohong.
Dinda menelan ludahnya, dia sudah skak-mat ketahuan oleh Arya.
“Mereka yang mau makan, kenapa kamu yang disuruh beli? Memangnya mereka tidak punya kaki?”, ucap Arya tegas.
Nadanya tidak tinggi, tapi bisa terdengar jelas oleh petugas toko roti itu. Mereka ikut bergidik ngeri mendengarnya.
Sekarang tidak hanya Dinda yang bergidik ngeri, para petugas itu juga merasakan aura Arya yang seram. Dinda tak punya pilihan selain diam. Tak ada penjelasan yang bisa dia berikan untuk ini.
__ADS_1
Di satu sisi dia bisa memahami maksud Arya bahwa tugas anak magang bukan membelikan makanan yang sifatnya pembelian pribadi seperti ini. Kecuali untuk meeting, seharusnya jika mereka mau jajan, bisa jajan sendiri.
Di sisi lain, sebagai anak magang, Dinda juga tidak enak kalau membantah. Dia sekarang berada di posisi serba salah.
“Huh… berapa orang?”, tanya Arya tiba - tiba.
“?”, Dinda bingung dengan pertanyaan Arya mengarah kemana.
“Berapa orang yang pesan?”, Arya mengulangi pertanyaannya.
“12, Pak.”, jawab Dinda menunduk.
“Di keranjang sudah berapa?”, tanya Arya lagi.
Dinda segera menghitung yang ada di keranjang sebelum menjawabnya.
“8, Pak”, jawab Dinda.
“Mba, tolong diambilkan yang ini 5, ini 5. Langsung hitung, ya.”, kata Arya segera menunjuk dua jenis roti dan mengeluarkan kartu kredit nya.
Dinda hanya bisa diam.
“Totalnya jadi 275.000, Pak.”, ujar kasir mengambil kartu kredit yang sudah disodorkan oleh Arya.
Petugas yang satunya memasukkan roti - roti tersebut ke dalam kantong dan memberikannya pada Dinda. Namun, Arya segera mengambilnya.
“Terima kasih, pak.”, jawab kasir setelah transaksi selesai.
“Ayok.”, kata Arya melangkah keluar toko roti menuju ke arah lift.
“Pak Arya, biar saya saja.”, kata Dinda.
Arya tidak menghiraukannya.
“Pak, ada pesanan lagi di Cafe itu.”, Dinda tidak mungkin tidak mengambil pesanan yang tadi dan ikut naik ke atas.
Tapi, dengan begitu dia juga membuat Arya tahu bahwa pesanannya tidak hanya roti tetapi juga kopi.
“Hah… mereka juga menyuruh kamu membeli kopi? 12?”, Arya sudah akan meluapkan emosinya namun dia masih berusaha menahannya.
“Jangan bilang Erick juga..”, tanya Arya selanjutnya namun Dinda langsung memotongnya.
“E-enggak kok Pak, Pak Erick lagi ga di atas. Dia lagi meeting.”, jawab Dinda sesegera mungkin sebelum singa yang satu ini mengamuk.
“Baguslah, kalau tidak habis dia sama saya.”, ujar Arya.
"Kamu sore ini saya yang antar pulang. Setelah itu baru saya meeting manajemen.", perintah Arya.
"Jangan Pak, nanti Pak Arya malah jadi terlambat kalau harus antar saya pulang dulu.", jawab Dinda.
"Saya mau berbicara serius dengan kamu.", kata Arya langsung membungkam mulut Dinda.
Dari nadanya barusan, dia sudah tak ingin di bantah. Dinda paham itu.
'Siap - siap disidang lagi kamu Din.', ujar Dinda dalam hati seolah sudah bisa membayangkan kemarahan Arya.
Arya kemudian berjalan menuju Cafe milik Dimas. Dinda mengikutinya dengan patuh di belakang.
“Mas, pesanan yang tadi sudah selesai.”, ucap Dinda pelan - pelan.
"Iya mba, sudah selesai. Totalnya jadi 450ribu ya, mba.", ujar kasir tersebut.
“Mereka suruh kamu bawa ini sendirian? Yang benar saja, jangan bilang selama ini kamu sering disuruh begini?”, Arya langsung menginterogasi Dinda di tempat.
Jangankan Dinda, kasir juga terkejut.
Saat itu, Dimas baru saja keluar dari gudang dan melihat mereka di meja kasir.
“Enggak kok Pak, ga sering.”, jawab Dinda.
“Ga sering berarti sudah lebih dari sekali. Lihat saja. Mas bayar pakai ini.”, ujar Arya langsung memberikan kartu kreditnya.
“Pak Arya, biar saya yang bawa.”, kata Dinda berencana mengambil pesanan kopi yang mungkin beratnya bisa mencapai 1 kg lebih karena ada 12 botol.
Arya langsung memberikan tatapan laser pada Dinda pertanda dia tidak membolehkannya.
“Kalau begitu, saya bawa rotinya.”, kata Dinda menawarkan diri membawa roti karena Arya tak mengizinkannya membawa minuman.
“Kamu itu sedang ham…”, baru saja Arya mau mengatakannya.
Dimas segera menghampiri mereka.
“Biar saya yang bawa. Kebetulan ada beberapa pesanan yang juga harus mereka antar ke atas.”, ucap Dimas.
Petugas kasir bingung maksud Dimas padahal mereka tidak menerima pesanan apapun.
Kebetulan ada sebungkus pesanan di atas meja kasir selain pesanan Dinda. Dimas langsung mengambilnya dan melangkah maju.
Bahkan Arya belum mempersilahkannya pria itu.
“Pak, itu kan..”, Dimas langsung memberikan kode pada petugasnya untuk diam sebelum meninggalkan cafe menuju lift.
Alhasil di dalam lift, Arya membawa sekantong roti. Di sebelahnya ada Dimas membawa sekantong pesanan kopi dan sekantong lagi pesanan yang alibinya adalah pesanan perusahaan lain. Mereka berdiri samping - sampingan.
Sementara Dinda berdiri di belakang mereka. Hanya ada mereka bertiga di dalam lift. Dinda merasa suasana lift langsung dingin seperti kutub utara. Terutama aura yang keluar dari Arya.
Bahkan bernafas pun sulit. Dinda takut kalau - kalau tiba - tiba mereka malah baku hantam.
__ADS_1