Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 212 Intern, Boleh disuruh apa aja?


__ADS_3

Arya datang dan muncul pertama kali melalui pintu yang langsung terhubung ke divisi Digital and Development. Beberapa karyawan curi - curi pandang pada Arya yang jarang - jarang sekali melewati area mereka sejak tidak lagi menjabat sebagai Head of Digital and Development.


Entah mengapa, menurut mereka setiap kali Arya lewat, bulu kuduk mereka jadi berdiri. Auranya benar - benar kuat dan bisa membuat merinding.


Saat masih menjabat sebagai Kepala Divisi Digital and Development, dalam seminggu, Arya pasti akan datang ke area mereka untuk bertemu Erick atau sekedar melakukan pengecekan.


Arya akan berjalan di belakang mereka melihat - lihat apa yang sedang dikerjakan, memeriksa, dan kadang yang membuat mereka gugup adalah kalau Arya mulai bertanya.


Kalau yang bertanya adalah Erick, mereka bisa menjawabnya dengan mudah. Tetapi, kalau Arya yang bertanya, mereka bisa saja tiba - tiba lupa ingatan.


Bagaimana bisa seseorang seperti Arya bisa punya aura seperti itu. Mereka tidak hanya merinding tetapi juga terkesan.


Sulit memiliki aura seperti itu. Arya tidak otoriter, galak, senang marah - marah atau memaki tanpa alasan agar orang takut padanya. Tetapi dia selalu punya kata - kata paling efisien yang bisa menjelaskan maksudnya dan membuat orang tidak bisa berkata - kata lagi.


“Guys, ada Pak Arya… itu Pak Arya.”, beberapa orang berbisik - bisik pelan sekali.


Ada juga yang menyenggol teman sebelahnya karena Arya lewat di dekat divisi mereka. Ada yang sedang bekerja dan tidak percaya dengan ucapan rekannya bahwa Pak Arya sedang berada di sana, namun kemudian kaget ketika memastikannya.


Arya seperti sedang mengedarkan pandangan ke segala arah.


Beberapa berpura - pura tidak menyadari keberadaan pak Arya dan lanjut bekerja. Tahu kan, hal paling mudah untuk menghindari pertanyaan di kelas adalah pura - pura tidak melihat, dan fokus mencatat.


Itulah yang mereka lakukan sekarang. Sebagian lagi ada yang mencuri - curi pandang sedikit karena penasaran, apa yang membawa Arya kesini saat Erick tidak ada.


Hal yang menarik perhatian adalah Arya membawa kantong plastik besar dengan merk toko roti yang ada di lobi bawah. Toko roti yang barusan mereka minta Dinda untuk membelikan mereka roti dari sana.


'Mengapa Pak Arya bawa bungkus roti kesini?'


Seharusnya kalaupun Pak Arya membawa bungkus roti, dia pasti akan membawanya melalui pintu sebelah sana yang lebih dekat.


'Kecuali Pak Arya ingin membawa roti untuk divisi Digital and Development.'


'Eh, buat apa Pak Arya membawa roti untuk divisi Digital and Development. Kan, beliau sudah tidak menjabat sebagai kepala divisi disini lagi.'


Perhatian langsung mengarah secara terang - terangan ke arah Arya saat dia mendatangi sebuah meja bundar yang terletak di bagian tengah - tengah divisi Digital and Development dan meletakkan satu kantong berisi roti.


Saat dia berdiri di depan area divisi saja, sudah membuat orang bertanya - tanya. Apalagi dia berjalan masuk ke dalam area tengah yang sudah pasti masuk ke teritorial D&D.


Wajahnya serius. Ketegangan terasa.


Beberapa karyawan hanya bisa menelan ludah saking deg - deg-an nya dan berusaha mengetahui apa sebenarnya yang sedang Arya lakukan.


‘Ada angin apa Pak Arya datang ke meja di divisi mereka. Padahal saat ini tidak ada pak Erick sama sekali disana?’, kira - kira beginilah pertanyaan yang keluar dari mata - mata karyawan yang diam - diam memperhatikan Arya.


Sebagian kecil karyawan yang merupakan karyawan wanita ada yang memuji penampilan Arya hari itu. Jarang - jarang mereka bisa melihat Pak Arya di area mereka.


'Aura eksekutif muda seperti Arya memang beda.'


Hampir semua kepala berpikiran yang sama.


Tak lama setelah itu, perhatian juga beralih ke arah Dimas yang menyusul Arya di belakang dan meletakkan sekantung kopi di atas meja.


Setelah Arya, sekarang ada Owner Cafe di bawah yang datang.


‘Hm? Sekarang ada owner Cafe di bawah? Ada apa ini?', itulah kira - kira pertanyaan yang muncul di benak mereka.


'Mereka sedang fashion show?'


Namun uniknya, tidak ada yang berani menyuarakan pertanyaan itu. Semua hanya berkata, bertanya, dan berteriak dalam hati.


Situasi ini mencekam sekaligus menantang untuk siapapun bahkan bawahan yang langsung berada di divisi yang sama dengan Arya.


"Pak Arya sedang apa? Bawa roti sama kopi?", seseorang berani berbisik sedikit berusaha agar suaranya tidak terdengar. Hanya angin yang keluar dari mulut mereka tapi lawan bicara tetap bisa mengerti.


Rekannya mengangkat bahu.


"Entahlah. Dia sedang traktir? Hah tidak salah alamat?"


"Pak Arya makin kesini auranya makin ganteng ya?" (spesies yang OOT (Out of Topic).


Apalagi divisi Digital and Development sempat dikepalai oleh Arya. Mereka sudah melihat bagaimana seramnya Arya saat meeting.


Jadi, kalau Arya tiba - tiba datang dan melakukan hal yang tidak biasanya mereka pasti akan bergidik ngeri.


Setelah Arya meletakkan roti di atas meja dan lanjut Dimas meletakkan kopi, Arya tidak berkata apa - apa.


Arya hanya tersenyum simpul dan kemudian pergi begitu saja. Senyuman penuh arti.

__ADS_1


Bukan, kalau dipikir - pikir lagi, itu mungkin saja bukan senyuman. Kenapa senyuman bisa sedingin itu. Kenapa senyuman bisa membuat orang merinding.


Seolah saat Arya senyum, ada hembusan angin dingin yang berhembus. DINGIN. ANEH.


Semua langsung terdiam tanpa bahasa. Bingung dan heran. Mereka saling pandang satu sama lain. Mencoba mencari jawaban dan menemukan hanya ketidaktahuan.


"Apa?"


"Mana aku tahu?"


"Sudah pergi?"


"Hm.. "


Mereka melirik ke arah tumpukan roti dan minuman di atas meja bunda kemudian kembali melirik satu sama lain.


Semua yang ada disana hampir melakukan hal yang sama persis.


“Selamat menikmati, sepertinya traktiran dari Pak Arya.”, sepeninggal Arya, Dimas tersenyum sebentar dan mengatakan satu kalimat itu sebelum ikut pergi meninggalkan area itu.


Dimas cukup cerdas untuk bisa membaca suasana disana, kebingungan para karyawan, dan wajah penuh tanya.


Meski dengan senyuman Dimas sekalipun, kesan kental yang ditinggalkan Pak Arya tadi tetap tidak bisa hilang.


Dimas juga bisa merasakannya. Namun, tidak seperti yang lain, Dimas justru tersenyum simpul memikirkan tindakan Arya barusan.


Dia sudah bisa menduga apa yang sedang terjadi. Tapi, dia juga tertarik untuk menanyakan pada petugas kasir di kafe miliknya untuk memastikan.


Dimas tidak bisa berlama - lama disana karena dia bukan merupakan karyawan.


Tunggu. Dimana Dinda?


Dinda kemudian baru muncul perlahan dari belakang dan berpapasan dengan Dimas yang menyunggingkan senyum simpul padanya.


“Selamat menjelaskan.”, kata Dimas tersenyum simpul sambil menepuk bahunya.


‘Sekarang aku sadar. Arya sudah melupakan Sarah sepenuhnya dan mencintai wanita yang saat ini bersamanya. Rasa cinta yang berbeda dengan yang dia berikan pada Sarah. That girl has changed him completely.’, pikir Dimas sembari masuk ke dalam lift turun menuju ke lobi bawah.


Life is weird.


Mengapa Sarah harus jatuh cinta pada Arya meski akhirnya hubungan mereka akan berakhir.


Mengapa cintanya pada Sarah yang tulus justru tersaingi oleh Arya dan semuanya malah jadi berantakan seperti sekarang.


Meski Sarah sudah bercerai dari Arya, dia tetap tidak bisa memiliki Sarah sepenuhnya. Dan rasa itu juga perlahan menghilang.


Mengapa Arya tidak bertemu saja lebih dulu dengan Dinda. Sehingga Dimas bisa merajut yang dia punya dengan Sarah.


Again. Life has its different way.


Sepeninggal keduanya, tinggal Dinda yang baru saja berjalan menuju kursinya. Semua orang yang ada disana langsung menatap Dinda mencari jawaban disana.


Bagaimana mungkin Pak Arya datang membawa se-kantung roti plus minuman kopi.


Lalu, dia hanya tersenyum simpul dan pergi.


Dinda celingak - celinguk mencari keberadaan Arya. Nihil. Dia sudah menghilang dan tidak ada dimana - mana.


“Din, kamu datang bareng pak Arya? Kok bisa? Trus, ini pesanan kita atau?”, tanya Rini bingung tapi juga tidak bisa menemukan pertanyaan yang tepat.


“Itu…..traktiran dari Pak Arya. Tadi tidak sengaja bertemu di bawah dan kebetulan beliau mau mentraktir anak - anak Digital and Development.”, Dinda langsung mengarang bebas.


Tidak ada yang bisa dia lakukan selain mengarang bebas disini. ‘Entahlah, apapun yang terjadi, pikirkan nanti saja.’, begitu pikir Dinda.


‘Apa - apaan mas Arya sudah membeli dan membawa semua ini lalu hanya pergi begitu saja tanpa menjelaskan? Kenapa wajah semua orang bingung begitu? Apa aneh? Hah.. tentu saja aneh, seorang Arya Pradana, Bos Divisi Business and Partners membawa kantong roti dan kopi.’, Dinda menelan ludahnya karena khawatir.


“Aaah… wahh bisa pas begitu ya.”, ucap salah seorang karyawan pria yang ada disana.


Dengan santainya dia langsung mengambil satu bungkus roti dan minumannya.


“Aaah.. luar biasa, bisa pas banget waktu kita mau pesan. Jadi kamu udah jadi pesan duluan atau gimana, Din?”, tanya Rini masih terlihat bingung. Puzzle. Wajahnya persis seperti orang yang sedang mengerjakan puzzle.


“Ini minumannya sama semua loh dengan yang kita pesan. Iya kan?”, Delina juga ikut berkomentar.


Delina tidak bisa menemani Dinda karena dia juga sedang ada pekerjaan lain dengan divisi lain. Dia mengira pesanan tadi hanya dari Rini dan dirinya saja. Setelah memberitahu pesanannya, dia langsung pergi. Dia sama sekali tidak tahu kalau Dinda harus ke bawah dengan semua pesanan itu.


Andra juga sedang meeting bersama dengan Erick dan Bryan.

__ADS_1


“Ha-ha.. Bisa pas begitu ya Din.”, ucap Suci dengan memberikan tatapan penuh arti pada Dinda.


Dia tahu benar bahwa semua yang dikatakan Dinda adalah bohong. Suci sudah bekerja sama dengan Arya selama hampir 1 tahun, dia tahu benar bagaimana kebiasaan pria itu. Suci bisa tahu kapan Arya marah besar hanya dengan melihat ekspresi wajahnya meski kadang - kadang Suci tak selalu bisa membaca pikirannya.


“Woah.. berarti kita tidak perlu bayar dong, Din. Sudah di bayar Pak Arya, kan?”


“Iya, tidak perlu.”, jawab Dinda tersenyum dan duduk kembali di tempatnya.


‘Hah.. syukurlah yang lain tidak berpikir yang aneh - aneh. Lagipula apa sih yang bisa mereka pikirkan, siapa yang bisa menyangka Kepala Divisi Business and Partners itu adalah suaminya. Mba Suci saja sudah berkali - kali menyangkalnya sampai mendengar langsung dari mas Arya.’, kata Dinda mengelus dadanya.


Pikirannya lebih mengarah pada pengalamannya satu lift dengan Arya dan Dimas. Suasana lift saat itu benar - benar dingin. Dia bisa melihat Arya mengepalkan tangannya. Mungkin dia sedang menahan emosinya.


Sementara itu, Arya yang tadi sudah pergi dari divisi Digital and Development dan sedang melewati area divisinya.


Arya melihat sekelompok orang yang merupakan bawahannya (anak - anak divisi Business and Partners) sedang berkumpul. Salah satunya sedang mencatat - catat sesuatu yang dari jauh terdengar seperti pesanan.


“Halo… guys.. Sedang apa?”, tanya Arya memukul - mukul pinggiran pembatas area kerja untuk menarik perhatian.


“Hm.. mau pesan minuman, Pak.”, ujar salah seorang disana.


“Kamu? Intern?”, tanya Arya pada seseorang yang sedang menulis - nulis pesanan.


“Em.. I-iya Pak. Saya intern, baru masuk 2 bulan. Nama saya…..”, intern itu baru saja ingin memperkenalkan namanya sebelum dipotong oleh Arya.


“Memangnya kalian tidak bisa beli sendiri? Kenapa malah meminta intern untuk membeli kopi kalian? Memangnya kalian kira dia di hire untuk membelikan kalian kopi setiap sore? Kalian mau meminta dia membawa satu kantong roti? Satu kantong kopi? Kalian kira dia tukang angkat barang? Intern di hire untuk bekerja dan belajar sesuai dengan penempatannya. Bukan untuk beli kopi. Ingat!”, kata Arya langsung menaikkan nada bicaranya.


“Guys… divisi sebelah ditraktir Pak Arya!!.”, teriak seorang karyawan pria dari arah divisi Digital and Development.


Dia tidak tahu kalau sedang ada pak Arya di radius hanya sekitar 3 meter darinya. Semua mata sekelompok orang tadi langsung melihatnya dengan pandangan prihatin. Saat menyadari pandangan rekan - rekan kerjanya dan mengikuti arah pandangan itu, dia langsung menutup mulutnya. Dia baru sadar keberadaan Arya.


“Kamu mau saya traktir juga?”, kata Arya dengan nada dan tatapan mematikan.


“Aaa.. enggak - enggak, Pak.. Makasih.”, jawab pria itu dengan wajah pucat.


“Saya bisa traktir kamu sekarang. Tapi setelah itu, ke ruangan saya. Kita diskusi project kamu yang kacau itu SAMPAI SELESAI.”, ujar Arya lagi.


Ekspresi pria itu langsung seperti orang yang melambaikan bendera menyerah. Arya langsung pergi menuju ruangannya dengan wajah kesal.


“Pak Arya kenapa, lagi dapet ya?”


“Wah.. bulu kudukku berdiri. Hampir saja aku pipis di celana.”


“Lebay kamu.”


“Kenapa dia sensi banget kita menyuruh - nyuruh intern. Padahal biasanya dia juga tidak peduli.”


“Baru putus sama ceweknya mungkin.”


“Cerai apa ya.”


“Itu mah udah lama.”


Para karyawan yang berkumpul dan berencana untuk memesan kopi langsung berbisik - bisik kembali. Pelan sekali suara mereka.


Brakkkk.. Brak Prak


Tak berapa lama, mereka mendengar suara pintu di banting, suara kursi di tentang, suara pulpen di banting, suara dokumen digebrak di atas meja dan suara - suara lainnya.


Semua karyawan yang berkumpul langsung kembali ke kursi mereka segera tanpa ba-bi-bu. Bahkan intern tersebut sampai terkejut dan bingung.


“Fuh… si bos lagi pencak silat kayanya, sampe banting - banting.”


“Hush.. sudah lanjut kerja sana. Gosip mulu.”


“Guys, mangat ya. Mau meeting sejam lagi sama beliau kan?”


“Ah.. apa aku pura - pura dapet aja ya?”


“Kan udah pakai alasan itu minggu lalu.”


“Ya.. kan bisa aja masih dapet.”


“Doi juga tahu kali, sakit kalo lagi dapet datangnya awal - awal doang.”


Rekannya yang akan meeting dengan Arya langsung mengacak - acak rambut frustasi. Ketakutan menghadapi Arya sudah menghantuinya bahwa satu jam sebelum meeting dimulai.


********

__ADS_1


__ADS_2