Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 269 Farewell Dinda di Kantor Bagian 2


__ADS_3

“Pak Arya, Bapak jadi bertemu dengan Pak Kevin? Tadi beliau bertanya ke saya. Katanya sudah janjian dan sudah kirim email juga ke Bapak.”, tanya Siska saat masuk ke ruangan Arya.


Pria itu sedang duduk memandangi layar laptopnya. Serius sekali. Entah sedang memandang apa. Mungkin hasil meeting kemarin, laporan dari kepala tim, atau daftar project terbaru yang harus dia fokuskan? Arya seperti tidak menyadari keberadaan Siska.


“Pak Arya?”, Siska memberanikan diri untuk kembali bertanya karena pria itu tak bergeming sedikitpun setelah mengatakan ‘masuk’ saat dirinya mengetuk pintu ruangannya.


“Saya belum menyetujui jika laporan yang kemarin diserahkan oleh Kevin tidak diperbaiki sesuai dengan arahan saat diskusi. Saya tidak mau membuang waktu saya hanya untuk melakukan review pada laporan yang sama.”, respon Arya pada Siska.


Sorot matanya tajam. Siska kira dia tidak memperhatikan perkataan Siska sama sekali. Dia masih tak bergeming. Arya hanya mengarahkan tatapan matanya pada Siska sebentar, lalu kembali fokus pada layar di laptopnya.


“Ah.. baik Pak. Saya akan menyampaikan ke Pak Kevin. Pak Arya masih ada jadwal yang available dari jam 4 ini hingga jam 6 sore nanti kan, Pak? Bapak pulang jam berapa hari ini? Jam 5 teng seperti biasa, atau? Kalau ada yang blok meeting di jam 5, apakah masih diperbolehkan?”, Siska membuka catatannya sambil menunggu aba - aba dari Arya.


“Saya ada jadwal jam 5-6, jadi jangan ada yang minta meeting dengan saya di jam segitu. Jam 4-5 saya sudah ada agenda.”, ujar Arya setelahnya.


Mendengar hal tersebut, Siska yang tadinya sudah mempersiapkan pulpen untuk menulis sesuatu hanya bisa terdiam. Ya, tak ada informasi penting yang bisa dia tulis. Dia ingin segera keluar dari ruangan ini secepatnya karena suasananya sangat dingin.


“Bapak ada jadwal apa di jam 5? Apa ada aktivitas di luar, Pak? Apakah ada yang perlu saya siapkan?”, tanya Siska memastikan.


“Tidak. Terima kasih. Kamu bisa kembali ke meja kamu.”, perintah Arya.


Siska lumayan terkejut.


“Baik, Pak.”, respon Siska dan langsung kembali ke mejanya.


‘Pak Arya lagi dapet? Kenapa lebih dingin dari biasanya? Atau istrinya yang lagi dapet? Perasaan tadi aku lihat Dinda happy - happy aja, kenapa Pak Aryanya jutek sekali?’, Siska bertanya - tanya dalam hati.


Siska bertanya - tanya sepanjang jalan. Tidak hanya nada bicara Arya yang terdengar dingin, tetapi juga gestur dan tatapannya.


“Eh, Dinda, anak Digital and Development mengadakan farewell party, tuh?”, sahut seseorang dari arah belakang.


“Jangan keras - keras suaranya. Nanti terdengar oleh pawangnya baru tahu rasa kamu.”


“Pawang?”.


“Pak Arya.”, bisik seorang lagi yang ada disana.


“Aah.. benar juga. Bahaya kalau nanti terdengar oleh Pak Arya. Kamu diundang ga?”


“Sepertinya dia hanya mengundang divisi Digital and Development saja. Maklum, intern sih ya.. Biasanya memang undang satu divisi saja.”


“Tapi kan doi sudah bikin geger dua divisi, seharusnya undang kita juga, dong.”


“Hush hush.. Pak Arya.”, bisik salah satu dari mereka saat melihat ada suara pintu terbuka dari ruangan Pak Arya.


Dan benar saja, pria tinggi tegap itu langsung keluar dari sana. Setelan jas dan kemeja polos membuat aura kepemimpinannya sangat terasa.


Semua orang yang tadi berkumpul langsung sigap kembali ke kursi mereka masing - masing dan berpura - pura melihat ke layar komputer.


Padahal, Arya tidak pernah mempermasalahkan kalau ada yang sedang bersantai, asalkan semua pekerjaan mereka bisa dilakukan dengan benar. Dia juga tidak begitu peduli jika ada yang datang terlambat, asalkan tidak terlambat saat ada meeting yang sedang berlangsung.


“Sore Pak.”, sapa beberapa orang karyawan wanita yang kebetulan berada di bangku paling depan dekat area Arya berjalan.

__ADS_1


Arya hanya membalas dengan anggukan ringan atau lambaian tangan. Sesekali, jika kebetulan yang menyapanya adalah bawahan dari Kepala Tim yang sedang dia cari, Arya akan menanyakan keberadaan mereka. Di luar itu, dia hanya akan berjalan terus.


Arya berjalan ke arah ruangan dimana banyak mesin kopi. Hari ini, dia ingin membuat kopi dari mesin ini saja. Hal yang langka untuk Arya Pradana atau ada hal lain yang sedang ingin dia cari tahu.


‘Aduh… laporan yang tadi lupa lagi di serahkan ke Pak Arya. Hm.. apa menunggu beliau kembali dari ruangan, ya.’, Siska galau.


Meski dia bisa melihat Arya berjalan, namun siluet pria itu hilang di koridor. Sehingga, dia tidak tahu kemana tujuan pria itu. Mungkin memang ke pantry atau mesin kopi. Tapi, mungkin juga ke arah lift dan turun ke bawah. Soalnya Arya juga bukan tipikal yang suka minum kopi dari mesin kopi otomatis di pantry. Begitu pikir Siska.


‘Aku taruh di mejanya saja. Biasanya kan kalau beliau ada pertanyaan dan sebagainya, dia pasti akan menghubungiku. Yang penting, dokumen ini aku taruh saja dahulu di atas mejanya.’, setelah memutuskan, Siska berjalan menuju ruangan Pak Arya.


“Eh, Sis, mau kemana? Mau antar dokumen ke Pak Arya, ya? Aku titip dong.”, tanya seseorang padanya.


Siska menaikkan sedikit alisnya sebelum memulai kalimatnya.


“Hasil revisi?”, tanya Siska memastikan dulu.


“Tidak. Baru pertama, kok. Dan kami juga sudah menyesuaikan dengan komentar beliau di meeting minggu lalu. Bu Farah yang meminta untuk disubmit ke Pak Arya hari ini.”, ujarnya langsung menggunakan nama Bu Farah, Kepala Tim 2 agar Siska tidak banyak bertanya lagi.


“Baiklah, sini.”, Siska akhirnya menerimanya.


Siska melangkah masuk ke ruangan Arya. Seperti biasa, Siska pasti akan menaruhnya rapi di meja Arya, tepat di tengah di depan layar laptop atau monitornya. Dia juga memberikan beberapa catatan memo di setiap dokumen yang perlu di tanda tangan untuk mempermudah bosnya itu.


Saat akan menaruh laporan, Siska tak sengaja menyentuh mouse milik Arya dan layar monitornya kembali terbuka. Disana terlihat apa yang tadi Arya tatap dengan intens.


Siska bingung, heran, dan speechless melihat apa yang ada di layar tersebut. Siska kira, Arya sedang mempertimbangkan atau mengevaluasi sebuah project besar. Atau dia sedang melihat performa yang buruk meskipun ini kecil kemungkinannya.


Ternyata bukan itu. Layar Arya menampilkan undangan Farewell Party milik Dinda yang dikirimkan oleh Erick padanya. Disana jelas - jelas tidak tertera nama Arya. Kalau dari analisa singkat dari Siska, sepertinya, Erick sedang mengolok - olok Arya karena istrinya itu tidak mengundangnya dalam acara Farewell Party.


‘Hah… kalau wanita - wanita fans Pak Arya di luar sana mengetahui apa yang aku lihat, mereka pasti akan berteriak sejadi - jadinya.’, batin Siska.


‘Pak Arya Pak Arya, pria lemari es itu bisa begini juga ternyata. Hebat juga Dinda bisa membolak - balikkan perasaan seorang Arya seperti saat ini.’, lanjut Siska dalam hati sambil berjalan keluar ruangan.


Sementara itu di sisi lain.


Dinda tengah sibuk merapikan pantry yang digunakan untuk acara farewell nya. Dia sudah memesan bakso dan meminta pihak vendor itu untuk stand by sambil mempersiapkan mangkok - mangkoknya yang sudah all-in dari mereka.


Dinda sedang menunggu sisa pesanannya berupa kudapan ringan yang ia pesan secara online. Ruang pantry yang digunakan oleh Dinda berseberangan dengan pantry tempat mesin kopi berada. Sehingga, baik Arya maupun Dinda belum mengetahui keberadaan masing - masing.


Jam masih menunjukkan pukul 4 sore. Artinya, masih ada waktu 1 jam untuk para timnya datang kesini. Dinda sudah membooking satu ruangan meeting juga. Awalnya, Dinda hanya ingin mengundang mereka untuk menikmati hidangan yang dia persiapkan. Namun, Erick mengatakan berdasarkan tradisi, mereka harus memberikan sepatah dua patah kata perpisahan.


Akhirnya, Dinda membooking satu ruang meeting lagi khusus untuk itu. Dinda kira tradisi itu hanya berlaku untuk para staff saja, tetapi ternyata itu juga berlaku untuk dirinya yang bahkan tidak menyelesaikan masa intern sampai selesai.


Arya sudah selesai dengan kopinya. Dia segera kembali menuju ruangannya. Sebelum Arya keluar dari ruang pantry, Dinda sudah lebih dulu menerima pesan bahwa kudapan yang tadi dia pesan sudah berada di lobby.


Dinda segera keluar dan meminta bantuan satu orang office boy untuk membawanya ke atas. Hanya berselisih sekitar 1 menit saja sebelum Arya keluar dari pantry dan melihat pada ke arah pantry di seberangnya.


‘Apa Dinda menggunakan pantry yang ini? Aaah… aku menyesal tidak tanya - tanya. Lagipula, kenapa dia tidak mengatakannya dengan detail. Padahal biasanya, tanpa ditanya pun, dia akan segera memberitahu.’, geram Arya dalam hati.


********


“Yah… ga ada Dinda jadi gak seru dong kantornya.”, celetuk Andra.

__ADS_1


“Ga seru kenapa ndra?”, tanya Rini menimpali dari belakang.


“Ga ada yang bening, haha.”, dia tertawa lebar.


“Eh… eh… ada Pak Arya…”.


Andra yang barusan melemparkan jokes receh langsung membeku begitu nama itu disebut. DIa mematung dengan wajah yang pucat.


“Ehem…”, Arya berdehem ringan sangat melewati area ruang meeting.


Dinda tentu saja terkejut melihat kedatangan pria itu. Bukankah tadi malam Arya akhirnya tidak jadi ikut. Arya ngambek karena dia tidak diundang. Dinda sudah mengatakan alasannya dan akhirnya mengundangnya untuk datang. Tapi, Arya malah langsung berbaring tidur. Dia pikir, pria itu memutuskan untuk tidak jadi datang.


“Oh.. ada Pak Arya.. silahkan masuk Pak. Sebentar lagi juga pada berkumpul.”, Erick langsung memanggil Arya untuk masuk dan duduk di bangku paling depan. Ada kerilingan senyum jahil di sudut bibirnya.


“Sore, Pak Arya.”, Dinda yang mau tidak mau harus menyapa suaminya yang hanya berjarak beberapa cm saja, menyapa dengan sangat formal. Seperti saat pertama kali mereka bertemu di kantor.


“Din, kan suami kamu. Kenapa masih bersikap formal, sih?”, goda Erick pada Dinda.


Rekan - rekan yang lain sebenarnya ingin mengeluarkan candaan serupa, namun mereka tak berani, karena objek candaan adalah Arya Pradana. Tapi, saat candaan itu keluar dari mulut Erick, keinginan mereka untuk menggoda seolah terwakilkan. Mereka ikut tertawa kecil.


“Ha-ha.. Kan masih di kantor, Pak.”, Dinda menjawab dengan sopan.


“Kan sudah mau lulus.”, balas Erick.


Dinda hanya tersenyum tipis. Dia bingung harus bersikap seperti apa.


Arya yang masih berdiri langsung mengambil posisi di samping Dinda. Tangannya langsung bergeser pada bagian pinggang belakang istrinya. Jarak tinggi diantara mereka membuat Arya harus menunduk sedikit untuk berbisik di telinga istrinya.


“Sudah siap semua? Mulai jam berapa? ~Sayang”, ucap Arya tersenyum simpul di samping istrinya.


Dia memastikan ucapan di belakang memiliki volume yang kecil hanya untuk menggertak Dinda. Dan benar saja, Dinda langsung terkejut lalu melihat ke samping. Tidak hanya dari kata ~sayang yang dikeluarkan oleh Arya tetapi juga tangan pria itu yang sudah menggamit pinggangnya.


Hampir semua mata yang ada disana langsung mengarahkan pandangan mereka pada Arya. Satu frame. Mereka akhirnya berada di satu frame.


Cekrek. Seseorang yang memang selalu menjadi sesi dokumentasi di berbagai acara apapun di divisi Digital and Development, langsung mengambil gambar keduanya.


“Wah… baru lihat Pak Arya yang seperti ini.”


“Haduh… excited tapi ga bisa excited. Pengen teriak heboh tapi gak bisa teriak heboh.”, curhat salah seorang di divisi itu sambil berbisik pada rekannya.


Kata - kata godaan sudah berada di ujung bibir mereka, tetapi melihat aura Arya, semua seperti tertahan. Hari ini adalah Farewell Dinda. Mereka tak ingin kalau hari ini juga menjadi farewell mereka.


“Okee… baik.. Semuanya sudah berkumpul?”, tanya Rini yang baru saja masuk ke ruang meeting. Mereka butuh sekitar 10 menit untuk bisa mengumpulkan semua orang. Padahal ini adalah acara yang singkat.


“Sepertinya sudah.”, jawab Erick.


“Oh?”, Rini yang baru menyadari keberadaan Arya langsung mengekspresikan keterkejutannya.


“Pak Arya, kalau begitu kita duduk dahulu.”, kata Erick kemudian mempersilahkan Arya untuk duduk di kursi paling depan.


Karyawan yang tadinya masih berdiri di luar langsung perlahan masuk. Para Manager, VP, AVP mengisi kursi yang tersedia sedangkan yang lain berdiri mengisi area manapun yang masih ada.

__ADS_1


__ADS_2