Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 44 Hutang Dinda pada Arya


__ADS_3

*“Hehe.. aku belum punya pacar, kok.”, jawab Dinda. *


“Ehem…ehem, jadi Rick, nanti laporan yang soal PT A, dibikin grafik proyeksinya, bandingkan dengan kompetitor dia. Setelah itu boleh kirim ke saya. Sorry, di divisi kamu lagi develop smart report, kan? Kira - kira kapan rilis?”, tak heran semua orang di meja tadi langsung pada kembali ke layar laptop atau monitor mereka begitu suara yang sangat mereka kenal mendekat.


Sosok Pak Arya muncul bersama dengan Erick. Dengan suara lantang miliknya yang khas, Arya berjalan ke arah meja Erick.


“Iya, gue bisa menunjukkan demonya sekarang. Hem.. okee mungkin, Dinda boleh buka video live demo smart report yang dua minggu lalu sudah kita compile?”, Dinda merutuki pak Erick yang memilih dirinya dari sekian banyak orang disana.


Mungkin karena Dinda yang memiliki posisi paling rendah dan dianggap tidak sibuk, maka dia yang harus dipilih. Erick dan Arya mendekat ke meja Dinda.


“Baik, pak.”, Dinda dengan sigap mencari berkas yang dimaksud dan memutarnya.


“Boleh di fullscreen.”, kata Arya.


Arya mengamati video tersebut sesuai durasinya hingga 5 menit. Untuk beberapa spot, dia meminta Dinda untuk mengulang video tersebut.


“Kayanya oke. Mungkin next meeting kita bisa tunjukkan ke semua pegawai, nanti kalau misalnya ada masukkan, bisa langsung ditulis. Kalau minor atau bahkan tidak ada lagi yang perlu divisi, langsung diroll-out saja ke semuanya. Ohiya, mungkin bisa tunjuk satu orang untuk melakukan pelatihan.”


“Hem.. Oke. Dinda aja mungkin, ya. Rini lagi ada proyek sama regional, Suci akan ada proyek baru, Andra juga akan masuk tim Suci. Din, kalau ditambah pelatihan smart report ini ke jadwal kamu, bisa kan ya?”, Erick mendata kesibukan karyawannya satu per satu dan pilihannya turun pada Dinda.


Dinda masih seorang intern, pekerjaannya masih mengikuti BAU (Business as Usual) dan tidak terlibat project. Jadi, Erick berpikir dia saja sudah cukup untuk memberikan pelatihan kepada semua karyawan di divisi partners.


“Oke bagus. Dinda, kamu ke ruangan saya sebentar. Kita lihat jadwal saya dan atur jadwal pelatihan untuk semua karyawan. Instalasinya bagaimana Rick?”, Arya menaruh tangannya di bahu Dinda. Dinda terkejut tapi mencoba untuk tetap kalem.


“Gampang, nanti kita bisa minta IT yang persiapkan, ini pake tools berbayar. Kita hanya perlu extend saja subscription dan sebagainya. Nanti bisa kita bicarakan lebih lanjut.”, kata Erick. Dia terlihat melirik tangan Arya yang sedang ada di bahu Dinda.


Erick memberikan lirikan pada Arya untuk sekedar memberikan kode agar Arya bisa melepaskan tangan tersebut.  Hal seperti itu biasa, tapi Erick hanya khawatir kalau Dinda tidak terbiasa dengan perlakuan seperti itu dan malah membuatnya takut.


“Oh sorry.”, Arya melepaskan tangannya dari bahu Dinda.


“Ok. Kamu ikut saya sekarang, ya.”, kata Arya pada Dinda.


*****


“Tanggal 26, kamu bisa set 3 jam di ruang meeting. Terserah kamu mau pilih ruang meeting mana. Yang jelas, cukup untuk 30 orang.”, jelas Arya.

__ADS_1


“Baik, Pak.”, Dinda mencatat waktu yang disebutkan di dalam catatan kecilnya.


“Lalu, tanggal 10 kayanya bisa, kamu set dari pagi selama 3 jam juga. Saya rasa 6 jam cukup, ya. Pertemuan pertama penjelasan, kamu bisa kasih use case. Sampel testing di tim kamu juga boleh. Lalu, tanggal 10 tinggal Q&A, kalau karyawan ada pertanyaan.”, Dinda mengangguk mengiringi setiap kalimat yang keluar dari mulut Arya.


“Oke. Sudah jelas?”, tanya Arya.


“Iya, sudah Pak.”, jawab Dinda.


“Oke, kalau begitu.”, balas Arya dan memberikan kode pada Dinda untuk mempersilahkannya keluar.


Meski mereka adalah suami istri, di kantor tidak ada yang mengetahui hubungan mereka.


Dinda berpikir, Arya bersikap sangat profesional di kantor. Bahkan, meski mereka hanya berada berdua saja, Arya tetap bersikap seperti bos dan bawahan.


“Din..”, panggil Arya sesaat setelah Dinda berbalik dan baru saja akan berjalan menuju pintu ruangan.


“Iya, Pak?”, Dinda kembali berbalik. Mungkin Arya ada informasi yang lupa ia sampaikan. Begitu pikir Dinda.


“Kamu masih punya hutang 3 ciuman. Mau melunasinya kapan?”, tanya Arya santai sambil serius menatap laptopnya.


Sebelum bertanya, Dinda bisa melihat dengan jelas kalau Arya tersenyum simpul sebentar.


Sesaat yang lalu, Dinda seperti kembali ke masa - masa sebelumnya ketika mereka tidak saling kenal dan belum menikah. Dinda menarik kembali pemikirannya yang mengatakan pria ini menjaga profesionalitasnya di kantor.


“Saya tidak membicarakan yang di kantor. Tapi di Maldives.”, kata Arya sambil berdiri.


Tok tok. Tiba - tiba ada yang mengetuk pintu Arya.


“Baik, Pak. Kalau tidak ada lagi. Saya izin kembali ke meja saya.”, kata Dinda segera.


Dinda membuka pintu dan ternyata yang di luar adalah Pak Erick.


“Ya.. kenapa Rick?”, kata Arya dari dalam. Dia sudah duduk sekarang.


“Engga.. Gue jemput bawahan, takut diapa - apain sama lo.”

__ADS_1


“Heh… ya udah.”, kata Arya singkat sambil tertawa simpul.


Dinda menutup pintu dan berjalan kembali ke mejanya. Pak Erick mengikuti di samping.


“Kamu gak ditanya macam - macam kan sama Arya?”, kata Erick.


“Nggak kok, Pak. Tadi Pak Arya hanya melihat kalender dia saja untuk cari waktu yang available. Dia minta saya untuk set jadwal meeting bersama seluruh karyawan divisi Business and Partners untuk memulai training.”


“Aah.. oke. Kamu perlu bantuan saya?”


“Mungkin kalau bapak lowong, boleh Pak untuk ikut hadir. Saya takut ada fitur yang saya miss dan lupa.”


“Oke. Ga masalah. Tapi yang menjelaskan dan memberikan training, tetap kamu ya? Saya hanya memantau. Hitung - hitung ini bisa menjadi nilai plus supaya tahun depan kamu bisa diangkat menjadi karyawan tetap.”


“Iya, terima kasih, Pak. Ohiya, Pak. Maaf kalau boleh bertanya, kepala divisi kita yang baru masih belum ada ya, pak?”, Dinda merasa bodoh menanyakan ini.


Pak Erick menciptakan suasana yang terlalu nyaman meskipun dia atasan tertinggi di divisi Dinda. Dinda jadi keceplosan mengutarakan hal yang paling dia ingin tahu.


“Kenapa? Kamu ga suka sama Pak Arya?”


“Oh.. bukan - bukan Pak. Saya hanya penasaran saja, karena Pak Arya sibuk sekali. Apa gak berat menangani dua divisi sekaligus.”, Dinda merutuki dirinya sendiri yang justru menanyakan hal yang semakin aneh.


Siapa dia harus mengkhawatirkan bos. Pak Arya kan sibuk dibayar dengan gaji tinggi.


“Ngapain mengkhawatirkan Arya? Dia terima gaji dobel kok.”, jawaban pak Erick sukses membuat Dinda malu. Sesuai perkiraannya, pak Erick menganggap pertanyaan Dinda super aneh.


“Udah, selama dia tidak menimbulkan kesulitan untuk divisi Digital and Development. Kita santai aja.”, sambung Erick lagi.


‘Bodoh. Bodoh. Bodoh. Kenapa gak tanya mas Arya aja langsung di rumah nanti. Kenapa harus keceplosan tanya pak Erick. Dia pasti menganggap kamu aneh Din.’, bathin Dinda dalam hati.


‘Pak Erick, yang saya khawatirkan bukan Pak Arya. Tapi saya sendiri. Saya senang bekerja disini. Tapi kalau pak Arya terus bosnya, bagaimana saya bisa jadi karyawan tetap.’, bathin Dinda merengek dalam hati.


Sebagai karyawan intern, proses screening di kantor Dinda hanya akan sekedar menanyakan bahwa Dinda tidak memiliki hubungan keluarga dengan salah satu karyawan yang menjadi atasan atau bawahannya secara langsung. Dan hal tersebut hanya ditanyakan sekali saja.


Saat pertama kali diterima sebagai intern di kantor ini, Dinda belum berstatus sebagai istri Arya. Dan pihak kantor juga tidak akan menanyakan lagi statusnya kecuali dari pihak karyawan yang memberikan update kepada perusahaan.

__ADS_1


Tapi, berbeda dengan karyawan tetap. Setiap tahun, struktur kepegawaian akan diperiksa dan itu harus menyertakan surat. Berhubung perusahaan ini bergerak dibidang konsultasi, hal yang menimbulkan keberpihakan harus diperhatikan dengan baik. Hal ini untuk menghindari dugaan KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotismo) serta penyuapan.


Jika sampai tahun depan Arya masih menjabat sebagai kepala divisi pengganti untuk divisi Dinda, maka Dinda tidak akan bisa menjadi karyawan tetap. Kecuali, Dinda pindah ke divisi lain yang tidak dibawahi langsung oleh Arya. Dan ini juga jelas tidak mungkin.


__ADS_2