
“Hah… kenapa harus berkumpulnya malam ini, sih? Padahal sudah susah - susah untuk cari waktu berdua dengan Dinda.”, ucap Arya frustasi di dalam kamar mandi.
Arya dan Dinda sudah pulang dari kantor sejak tadi. Dinda sudah berkumpul di bawah karena dia yang lebih dulu mengambil giliran untuk mandi. Tante Meri dan Tante Indah heboh seperti biasanya. Bahkan mereka sempat karaoke sebentar meski setelah itu Kuswan mematikannya.
Arya kembali mengacak - acak rambutnya.
“Tunggu, mereka tidak menginap, kan? Kalau mereka menginap, pasti Dinda dan Bianca malah tidur bareng. Hah, aku harus bicara dengan Reza tentang ini. Padahal, sudah susah - susah menyelesaikan meeting dengan cepat.”
Tok tok tok tok
“Mas Arya, mas Arya belum selesai mandi?”, panggil Dinda dari luar.
“Kenapa?”, ujar Arya memperlihatkan kepalanya dari balik pintu.
Arya masih mengenakan hantu sepinggang dengan rambut yang juga masih basah.
“Mama mengajak untuk dinner bareng. Semua menunggu mas Arya di bawah. Mas Rza juga baru tiba.”, ujar Dinda.
“Hn.”, ujar Arya singkat dan kembali menutup pintu.
“Eh tunggu.”, ujar Arya kembali membuka pintu. Kali ini dia tidak hanya mengeluarkan kepalanya saja, tetapi membuka lebar pintu.
“Mas Arya…! Kenapa sih selalu pakai handuk sepinggang. Lagian kan juga ada handuk kimono. Sudah ratusan kali kan aku bilang.”, ujar Dinda menutup matanya.
“Hm? Kenapa harus malu. Aku kan suami kamu.”
“Iya… tapi kan..”, ujar Dinda membalikkan badannya.
“Kamu tahu gak, Tante Indah dan Tante Meri menginap atau tidak?”, tanya Arya.
“Enggak tahu, mas. Aku tadi cuma ikut ngobrol yang lain. Memangnya kenapa?”, tanya Dinda.
“Oh? Hm…”, Arya nampak ragu mengatakannya. Tentu saja, pria sok cool seperti dia mana mau mengatakan yang sebenarnya.
“Susu, aku harus buatkan kamu susu nanti malam sebelum tidur. Jadi, kamu tidurnya harus disini, ya. Biar aku ga susah mencari kamu.”, ujar Arya malah lari ke topik yang lain.
“Hm.. oke. Memangnya kalau bukan disini, aku mau tidur dimana lagi.”
“Oke. Saya hanya memastikan kalau saja mereka menginap, kamu gak bawa Bianca kesini dan usir saya untuk tidur di tempat Ibas.”
“Hm? Kok mas Arya tahu? Baru aja aku mau minta izin supaya bisa tidur bareng dengan Bianca malam ini. Gapapa kalau mas Arya mau tidur disini, nanti kita cari kamar tamu aja.”, jawab Dinda dengan tenang.
“Enggak…”, ucap Arya tegas dengan suara baritonnya.
Rambutnya yang masih basah menetes ke bahunya. Tanpa sadar beberapa juga menetes ke lantai.
“Kenapa, mas? Mas Arya ada butuh sesuatu yang harus saya siapkan sebelum tidur? Nanti biar saya siapkan dulu sebelum ke tempat Bianca.”, kata Dinda.
“Enggak. Kamu harus tidur sama saya malam ini karena ada yang mau saya bicarakan. Penting dan memakan waktu. Saya gak mau kamu bolak - balik dari kamar kita ke kamar tamu. Bianca biar sama Reza.”, kata Arya dengan nada yang tidak beraturan.
“Mas Arya mau bahas apa? Mungkin kita bisa bahas nanti sambil makan atau sekarang?”
“Kan sudah saya bilang makan waktu lama, jadi harus dibahas nanti setelah selesai makan dan mengobrol di bawah.”, ujar Arya.
“Tapi aku mau ngobrol hal penting juga sama Bianca.”
“Kamu ngomongnya nanti aja sambil dinner atau setelah itu.”
‘Tapi.. mas.”
“Gak ada, pokoknya yang mau aku bahas lebih penting. Kamu kan masih bisa ketemu Bianca setelah ini.”
Tok tok tok
“Iya?”, sahut Arya.
__ADS_1
“Mas Arya sudah selesai? Mba Dinda mana? Oh…?”, kata Ibas saat berjalan perlahan memasuki kamar Arya.
“Kalian ngapain?”, lanjut Ibas bertanya.
“Oh? Apanya yang ngapain?”, tanya Dinda bingung dengan pertanyaan Ibas.
“Mama panggil makan malam di bawah. Mas Arya, makan dulu. Baru abis itu… lagian Dinda kan lagi hamil..bukannya?”, ucap Ibas polos.
“Hah? Apaan sih kamu Ibas. Sudah sana. Sebentar lagi kita turun.”, balas Dinda.
“Hm.. Turun duluan Bas, bilang sama mama lanjut aja. Kita kayanya agak lama.”, kali ini Arya membalas dengna jawaban yang ambigu.
“Mas Arya! Udah ah, aku turun bareng Ibas. Mas Arya cepat pakai bajunya.”, ujar Dinda berlalu mendorong Ibas segera keluar.
Arya hanya bisa tertawa puas melihat wajah istrinya memerah.
“Haha.. Ibas ada - ada saja. Terkadang dia memang berguna.”, ujar Arya.
Suasana makan malam.
“Arya, kamu rutin menemani istri kamu untuk periksa kehamilan kan?”, tanya tante Meri membuka suara saat semua orang masih sibuk mengunyah.
Baru saja hening sekitar 5 menit. Tante Meri memulai kalimatnya lagi. Bukan tante Meri namanya kalau tidak membuka topik sensitif saat ada semua orang.
“.....”, belum ada jawaban dari Arya.
“Kenapa? Jangan bilang kamu belum menemani karena sibuk?”, tanya tante Meri.
“Mas Arya menemani kok tante.”
Ingin rasanya Dinda menjawab seperti itu meskipun itu berbohong. Tapi, jawaban seperti itu justru akan membuat mas Arya semakin tersudut. Mungkin saja Tante Meri sudah mengetahui kalau Arya belum sempat menemani Dinda untuk periksa kehamilan rutin. Bahkan saat awalpun mas Arya tidak menemani Dinda mengecek tentang kehamilannya.
“Meri, kamu ini. Makan dulu. Kenapa kamu buat meja makan jadi meja persidangan.”, sentil Kuswan.
Tante Meri mengangguk - angguk mendengar jawaban Arya.
“Bianca, jangan malu - malu makannya. Kenapa nasinya sedikit sekali. Lauknya juga bervariasi, kamu coba semuanya, ya.”, ujar Inggit menawarkan sambil mencoba untuk mencairkan suasana.
“Oh iya tante.”, jawab Bianca.
“Jangan diet - diet. Kalau mau cepat hamil, harus banyak makan.”, lagi - lagi tante Meri ikut berkomentar.
Setidaknya sudah dua kali Bianca mendengar pertanyaan dan komentar tentang kehamilan hari ini.
“Kita masih menikmati masa - masa bulan madu, tante. Tidak perlu buru - buru. Kalau nanti sudah waktunya dikasih juga pasti dikasih. Tidak ada hubungannya dengan diet, Bianca memang tidak bisa terlalu banyak makan dalam sekali waktu.”, kali ini Reza yang membalas.
“Ehem..”, sebagai tanggapan, Tante Meri hanya berdehem.
Tante Meri sebenarnya orangnya baik. Dia cenderung blak - blakan di depan dan pada tempatnya. Dia hanya berbicara seperti ini kalau di lingkungan keluarga. Dia tidak pernah mengangkat topik sensitif kalau audiensnya adalah orang luar.
Tapi tetap saja, kadang orang yang dikomentari jadi tersentil. Awalnya Dinda sempat kaget dengan kepribadian tante Meri. Namun, lama - lama dia mulai terbiasa dan mengambil dari sisi baiknya.
******
“Bi, kamu gak perlu masukin ke hati ucapan tante Meri. Aku awalnya juga mendapatkan banyak pertanyaan sama seperti kamu, kok. Apalagi kamu kan tahu aku menikahi mas Arya yang sudah pernah menikah sebelumnya.”, ujar Dinda yang sekarang tengah mengobrol dengan Bianca di kamarnya.
“Hm. Mas Reza juga sudah mewanti - wanti. Sebelumnya aku juga sudah tahu tentang sifat tante Meri. Aku kira aku sudah terbiasa sekarang, tapi tetap saja ternyata tetap saja membuat perasaanku tidak nyaman.”, ujar Bianca sambil meminum tehnya.
“Pernikahan kamu baru sekitar 2 bulan, Bi. Masih baru. Mas Reza juga bilang kan, masih mau berdua dulu.”, ujar Dinda tersenyum.
Dinda paling tidak ahli menghibur seseorang dengan kata - kata. Dia bahkan tidak tahu apakah kata - katanya barusan bisa membuat Bianca merasa lebih baik atau tidak. Tapi, tidak mengatakan apapun juga rasanya salah.
Sementara itu, di ruang tengah, Kuswan, Inggit, Meri, dan Indah sibuk mengobrol satu sama lain tentang keluarga, bisnis, dan sebagainya. Fam dan Dito sudah sibuk di kamar Ibas karna pria itu punya PS baru.
Sedangkan, Arya dan Reza tengah mengobrol di ruang tengah.
__ADS_1
“Aku baru pertama kali lihat mas Arya sedikit bingung saat menjawab pertanyaan tante Meri. Biasanya selalu punya cara untuk membalikkan omongannnya.”, ujar Reza sambil bercanda.
“Yang satu ini menyangkut Dinda, aku mana bisa sembarangan membalikkan omongannya. Lagipula, benar kalau aku belum sempat menemaninya ke rumah sakit sekalipun. Hah… pekerjaan kantor benar - benar membuatku harus berpikir lebih cerdas untuk menyiasatinya.”, jawab Arya.
“Sepertinya Dinda tidak keberatan dengan itu.”, ucap Reza menyampaikan penilaianya.
“Heh? Tidak keberatan? Dia berusaha keras menyelamatkan aku dari amukan tante Meri, mama dan papa. Seminggu ini aku harus tidur terpisah sebagai hukumannya. Hah.. bulan ini, mau apapun yang terjadi aku akan ke rumah sakit. Memikirkannya saja membuatku stress.”, tutur Arya jujur.
Arya memang tipikal yang jauh lebih jujur dengan sepupu - sepupu terdekatnya. Hal yang sangat jarang sekali terjadi. Biasanya orang akan lebih mudah bercerita dengan temannya. Dari dulu keluarga Kuswan dan Inggit sudah biasa berkumpul rutin sehingga mereka sama dekatnya dengan sahabat.
“Wah.. aku tak menyangka mas Arya juga bisa bucin seperti ini.”, ujar Reza.
“Hm? Bucin? Apa itu Bucin?”
“Hah? Mas Arya gak tahu Bucin? Wah.. mas Arya benar - benar memperlihatkan gap usia mas Arya dengan Dinda kalau seperti ini.”, kata Reza dengan ekspresi yang dibuat berlebihan.
“Heh? Kenapa.. Eh kamu kalau menginap disini, aku sarankan kamu ambil kamar berdua dengan Bianca. Jangan biarkan dua perangko itu menempel terus.”, kata Arya.
“Nah… nah… ini Bucin ini namanya. Ya ampun, semalam doang tidurnya gak sama istrinya langsung panik.”
“Seminggu kemarin, tidak, mungkin lebih dari itu, aku tidak tidur dengannya. Masa, sekarang aku juga ….”, kata Arya dengan nada tidak santai.
“Tenang, kami gak ada rencana untuk menginap, kok. Paling sejaman lagi kita balik. Khawatir banget.”, ujar Reza menggoda Arya.
“Bilang dari tadi harusnya. Kan aku jadi tidak perlu mengobrol denganmu disini.”
“Jadi mas Arya menghampiriku untuk mengobrol hanya untuk mengatakan ini? Mana intronya panjang lagi.”
“Sudahlah, kita ke kamar Ibas. Dia baru beli PS baru.”
“Hah, itu kan mahal mas. Dia beli sendiri?”
“Tidak tahu. Aku juga penasaran, jangan - jangan dia menjual bajuku lagi.”, kata Arya.
*******
Mobil Arya sudah melaju menuju kantor. Hari ini sepertinya ada perayaan atau acara tertentu. Jalanan lebih macet dari biasanya.
“Hm.. apa sepertinya ada demo ya? Kenapa mobil tidak bergerak.”, tanya Arya yang melihat sekumpulan bendera di pinggir jalan.
“Uuak…Uuak.”
“Kamu mual lagi?”, tanya Arya saat melihat Dinda menutup mulutnya.
Dinda mengangguk.
“Obatnya? Sudah diminum.”
“Sudah lama tidak mual, aku pikir tidak perlu minum lagi.”
“Tapi kamu bawa obatnya?”
Dinda menggeleng.
“Gapapa kok mas, paling cuma sebentar. Mungkin efek kurang tidur.”, ujar Dinda.
“Yakin gapapa? Atau kamu mau balik aja, istirahat di rumah. Biar nanti aku yang bilang ke Erick.”
“Ga usah mas, gapapa. Aku minum teh ini aja. Harusnya segera baikan.”
“Ya sudah, aku gak nge drop kamu di tempat biasa. Aku ngedrop kamu di kantor aja.”
“Tapi mas…”
“Ga bakal ada yang lihat. Tenang saja.”, ujar Arya.
__ADS_1