
Hari Senin adalah hari paling berat untuk menerima realita dan keluar dari dunia mimpi untuk para warga kantoran. Tak terbayang bangun pagi yang semakin sulit ditambah lagi kalau udara dingin menyeruk ke dalam kamar di tambah rintik hujan sisa semalam yang membuat cuaca bertambah dingin.
Berat memang apalagi untuk mereka yang baru pulang dari berlibur akhir pekan dan harus menghadapi berbagai jenis deadline di kantor, bos yang galak, kolega yang menyebalkan, atau hanya sekedar harus menghadapi kemacetan kota yang bikin pikiran dan mental sesak.
Dan disinilah Dinda, dia sedang berpacu dengan macetnya jalanan bersama Pak Cecep. Dinda sudah meminta izin untuk menggunakan jasa ojek online saja tetapi Inggit tidak memberikannya. Selama Arya tidak di rumah, pak Ceceplah yang harus mengantar Dinda ke kantor.
Kalaupun Kuswan atau Inggit ada janji, mereka pasti menggesernnya agak siangan agar pak Cecep bisa mengantar Dinda ke kantor terlebih dahulu. Jika tidak bisa digeser, masih ada Ibas yang bisa menjadi supir sementara Dinda. Seperti itulah kira - kira ucapan Inggit pagi ini.
“Non… Non Dinda.. Bangun Non. Sudah sampai.”, panggil Pak Cecep dengan nada lembut pada Dinda yang duduk di kursi tengah.
“Hm? Udah sampai ya, pak? Maaf ya Pak, Dinda ketiduran. Makasih Pak.”, ucap Dinda keluar dari mobil.
Di depan lift, Dinda bertemu dengan Delina dan Suci yang baru saja datang dari arah masuk lift basement atau parkiran.
“Pagi Dinda.”, sapa keduanya.
“Pagi mba.”, balas Dinda sambil masuk ke dalam lift.
“Kemaren kamu kemana? Liburan ya? Soalnya ambil waktunya hari Jum’at? Liburan kemana?”, tanya Delina antusias.
“Oh.. istirahat di rumah aja kok, mba. Ga kemana - mana.”
“Maafin ya, hari Kamis kemaren entah kenapa kakak aku yang super duper nyebelin itu bikin masalah dengan mobilnya. Alhasil dia harus menggunakan mobilku. Bahkan sampai sekarang.”, terang Delina sambil memanyunkan bibirnya.
“Oh? Jadi dipake sampai sekarang?”, tanya Dinda memastikan.
“Iya, dia nebeng sama aku, Din sekarang.”, akhirnya Suci berbicara.
“Hihi.. untuk ada Suci yang mau ditebengin. Oh udah sampai..”, ucap Delina yang memang berdiri paling depan.
“Pagi Pak Erick, pagi Ndra, hai hai..”, semuanya saling menyapa satu sama lain. Hal yang memang biasa dilakukan di pagi hari terutama di hari Senin.
Sebelum deadline menerjang dan mood ditendang habis - habisan, lebih baik antusias di awal.
“Kalian sudah pada tahu kan kalau Pak Arya ke Bangkok hari ini sampai Jum’at minggu ini, jadi semua approval ditunda dulu sampai beliau kembali. Semisal ada yang urgent, langsung info ke saya supaya saya bisa nego untuk diberikan approval via online.”, ucap Erick saat melihat anggota timnya sudah banyak yang hadir.
“Baik pak Erick.”, ucap semuanya kompak.
“Eh.. mau tahu gosip terbaru ga?”, ujar Andra yang belum sampai 10 menit mulai bekerja sudah mengeluarkan mulut embernya.
Andra yang saat itu menghampiri meja Suci berbisik padanya.
“Apa sih ndra, gosip mulu. Udah ga laku. Aku mau fokus hari ini karena banyak deadline.”, ujar Suci tegas.
“Gosip soal pak Arya. Masih mau bilang sibuk?”, goda Andra sambil berbisik.
Sayangnya, bisikan itu terdengar seperti pengumuman karena Dinda dan Delina bisa mendengarnya dengan sangat jelas.
“Gosip apa lagi sih, Andra.. Udah..laporan yang kemarin saya minta sudah dikerjakan belum? Kamu jangan tunda lagi ya, pokoknya jam 1 siang ini harus ada di meja saya.”, ucap Rini yang menghampiri meja Suci karena suara Andra.
Sementara Erick sudah berlalu untuk menghadiri meeting yang lain setelah memberikan pengumuman tentang Arya tadi.
‘Gosip apa lagi sih? Kenapa belakangan ini si Andra intens banget soal gosip - gossip. Sebenarnya dia dapat informasi dari mana?’, tanya Dinda dalam hati.
“Din? Aku minta tolong kamu cari informasi tentang email yang kemarin ya? Kalau perlu nanti kita samperin orangnya.”, kata Delina membangunkan lamunan Dinda.
“Oh baik mba. Emailnya yang pas aku ga masuk ya, mba?”
“Hm.. Iya.. kayanya orangnya mau kita selesaikan hari ini. Setidaknya dia tahu masalahnya ada di mana karena minggu depan dia harus sudah present ke pak Arya.”
“Oh baik mba.”, Dinda segera sigap membuka emailnya dan mencari subject yang dimaksud oleh Delina.
“Wawan? Bawahannya siapa mba?”, tanya Dinda.
“Bawahannya Pak Gilbert. Yang galak itu.”, kata Delina sambil berbisik.
__ADS_1
“Aahh kenapa harus bawahannya dia sih?”, tanya Dinda.
“Yah mau gimana. Eh tapi gosipnya, pak Gilbert ga masuk kantor sejak hari Kamis.”, jelas Delina.
“Hm? Cuti, mba?”, tanya Dinda santai.
Berhubung Dinda tidak di kantor hari Jum’at, jadi dia tidak tahu kabar terbaru di kantor. Apalagi kabar yang berkaitan dengan divisi Business and Partners. Dinda juga tidak pernah menyinggung urusan kantor dengan Arya.
“Mending cuti. Kalo dari kabar burung yang aku dengar, katanya dia ambil cuti setengah hari, tapi Pak Arya ga tahu masa. Trus Jum’atnya dia juga ga masuk.”, jelas Delina.
“Pak Gilbert itu under pak Arya juga ya?”, Dinda tidak ingat kalau pak Arya juga menghandle divisi Pak Gilbert. Meski dia tidak tahu banyak detailnya, tapi informasi seperti itu Dinda dan karyawan intern lainnya juga pasti tahu.
“Oh.. kamu belum baca email dari HR ya? Hm.. coba deh buka email official dari HR.”, kata Delina menghampiri Dinda dan membantu mencari email official yang dia maksud.
“Ini Din, per minggu kemarin, Pak Arya resmi naik jabatan jadi Senior Head untuk Business and Partners dan memegang semua tim di divisi itu. Jadi, yang sebelumnya under Pak Gilbert dan satu orang Senior VP yang sudah resign berada di bawah pak Arya. Setiap tim sekarang dipimpin oleh yang namanya Head Manager, yaa manager juga sih.”, Delina menjelaskan dengan penuh semangat.
‘Mas Arya ga cerita apa - apa tentang ini? Hm.. tapi kita juga jarang membicarakan tentang pekerjaan sih. Urusan pribadi aja sepertinya sudah rumit.’
“Intinya, Pak Gilbert itu turun tahta, secara Pak Arya dulu kan pernah jadi bawahan dia, dan sekarang roda berbalik. Mungkin dia ngambek makanya ga masuk - masuk.”, Suci menerobos pembicaraan secara tiba - tiba sambil membawa dokumen yang harus di review oleh Rini ke meja wanita itu.
“Terus, head divisi kita jadi siapa dong?”, tanya Dinda lagi.
“Sejauh ini tetap Pak Arya. Coba deh kamu lihat disana, belum ada keterangannya. Jadi, Pak Arya tetap jadi Head sementara divisi kita juga. Hm.. kalau dipikir - pikir Pak Arya itu keren juga ya. Umurnya masih muda, tapi jabatannya sudah tinggi. Dia juga bukan bos yang kaleng - kaleng asal marah - marah doang. Ga kebayang gimana dia bagi waktu untuk semua itu.”, kata Delina dengan gaya seperti orang berpikir dengan meletakkan jari di dagunya.
“Baru sadar sekarang Pak Arya sekeren itu? Jangan sampai suka juga loh ya, kamu.”, potong Suci lagi sambil kembali ke tempat duduknya.
“Gimana dong, Ci. Kalo dipikir - pikir siapa sih yang bisa jadi pacarnya pak Arya. Pasti spek dia tinggi deh. Cerdas, berwibawa, tegas, hot, membahana gitu. Semakin aku pikir semakin aku paham kenapa kamu jadi suka.”, kata Delina.
“Hush.. ngomongin Pak Arya terus. Kamu belum pernah kena omel Pak Arya, kan? Mungkin kalo sudah pernah kena omel, baru kamu berubah pikiran.”, kata Rini sambil melewati meja mereka karena dia ingin ke pantry membuat kopi.
“Hihi.. mba Rini kan termasuk langganan ya mba diomelin Pak Arya.”, kata Delina saat orangnya sudah hilang dari pandangan mereka.
“Untungnya kita ada Pak Erick, jadi kalau pak Arya mulai marah - marah, kasih aja ke Pak Erick. Konon katanya Pak Erick itu penangkal petirnya Pak Arya, hahahaha..”, kata Delina lagi.
“Kalau ga karena Pak Arya ganteng dan hot, Siska pasti sudah kabur kali.”, kata Suci ikut nimbrung pembicaraan mereka.
Dinda sudah tidak menggubris lagi obrolan mereka dan lanjut kembali membaca email yang tadi ditugaskan oleh Delina padanya.
“Oh.. sepertinya issuenya di parameter yang dia set deh mba. Dia setupnya salah, makanya data yang dihasilkan jadi kurang tepat.”, kata Dinda setelah memeriksa laporan dari Wawan, salah seorang staf under Pak Gilber di divisi Business and Partners.
“Halo…”, Delina menerima telepon dan mengisyaratkan pada Dinda untuk diam sebentar.
“Oh.. kebetulan sekali mas, Mau kita samperin kesana, nanti biar intern dari divisi kita jelasin issuenya ke meja mas.”, kata Delina menawarkan.
“Ok.. sip.. Boleh sekarang, ya.. Siapp thanks mas Wawan.”, setidaknya itulah kata - kata yang bisa didengar oleh Dinda.
“Din, kebetulan tuh mas Wawannya telepon. Kamu bisa samperin ke mejanya ga? Dia harus selesain laporannya hari ini juga. Jadi, kamu lebih baik langsung tandemin dia aja untuk issue yang dia report kemarin.”, kata Delina pada Dinda.
“Hm.. oke mba.. Tapi aku ga tahu yang mana orangnya. Kamu tahu mejanya mba Siska kan? Nah kamu ke kanan ada kubikel warna hijau. Nah disana yang paling putih, paling tinggi, dan kacamata, itu dia orangnya. Dia dulunya seperti Suci juga kok. Seniornya dia, baik kok orangnya.”, kata Delina menjelaskan.
“Hm.. oke mba.”, Dinda menuruti instruksi dari Delina dan bergerak menuju area Divisi Business and Partners.
Sebelumnya, Dinda tidak pernah memperhatikan divisi ini begitu seksama karena dia selalu memperhatikan ruangan bos mereka, Arya. Ternyata kalau diperhatikan, divisi ini memang menjadi divisi paling dan super sibuk di perusahaan mereka. Tak heran jika divisi ini dijuluki dengan divisi elit di kantor mereka.
“Oh itu dia.”, Dinda langsung bisa mengenali orang yang dimaksud dari deskripsi Delina.
Dia memang orang yang paling putih dan tinggi di divisi ini. Dinda juga bisa melihat papan namanya yang bertuliskan ‘Wawan’.
“Haloo siang mas.. Kenalin saya Dinda, intern di divisi Digital and Development. Kemarin mas kirim email terkait issue di smart report ya mas?”, tanya Dinda dengan sopan.
“Ohiya… sini sini.. Sebentar saya ambilin kursi dulu ya. Si Egi meeting kan ya? Aku pinjam kursinya.”, tanya pria ini pada teman wanita di sebelahnya.
Setelah mendapatkan konfirmasi, ia menarik kursi orang yang kemungkinan bernama Egi itu dan menawarkan Dinda duduk disana.
“Silahkan - silahkan. Iya, jadi aku coba buat reportnya kemarin. Mostly sudah benar sih, tapi ada satu bagian yang dicoret oleh Pak Arya. Aku sudah coba otak atik tetap saja hasilnya sama. Ini kamu bisa coba lihat disini.”, katanya menjelaskan.
__ADS_1
“Ooh.. ini ada yang kurang tepat di parameternya mas. Jadi, mas harusnya masukkan parameter ini dulu, baru setelah itu yang ini, supaya setupnya tepat, dan…. Bla bla bla.”, Dinda menjelaskan dengan panjang lebar sambil sesekali mengambil alih kendali mouse dan keyboard pria bernama Wawan itu.
“Ooh… I see I see.. Kayanya hasilnya sudah sesuai deh dengan yang kemarin diinstruksikan Pak Arya. Hm.. Oke.. thanks banget ya, Dinda. Oh.. jadi kamu itu intern ya? Beberapa kali lihat nama kamu sewaktu kasih training Smart Report, ternyata kamu toh.. Biasanya dengar suaranya aja. Ternyata orangnya cantik, ya. Baru tahu kalo kamu yang namanya Dinda, ya.”, kata pria itu pada Dinda begitu memastikan issue yang dia infokan sudah terselesaikan.
“Ye… mulai deh gombalnya. Hati - hati ya, Din. Dia ini suka gombalin orang. Gak bisa lihat yang cantik.”, kata Erina, karyawan satu tim Wawan dan pria bernama Egi yang kursinya diambil tadi.
Dinda hanya tersenyum canggung menimpali berusaha untuk tetap sopan karena mereka adalah seniornya.
“Moga - moga nanti satu tim, ya saat Tim Building. Kan ngacak tuh timnya… bla bla - bla..”, pria ini masih belum membiarkan Dinda pergi meski diskusi mereka sudah selesai.
“Gengs.. Pada tahu gak? Dapat bocoran nih, kalo Pak Arya reunian sama mantan istrinya di Bangkok.”, tiba - tiba seseorang dari arah pantry datang ke kubikel yang berada di sebelah tempat Dinda duduk saat ini.
Dinda tidak terlalu mengenal orang itu. Tapi sepertinya dia bukan dari divisi Business and Partners karena Dinda tidak pernah melihatnya saat Town Hall.
“Wei… yang benar kamu kalau ngomong, bos kita lagi ga ada loh. Nanti ada sebaran gosip - gosip aneh, kita lagi yang kena. Kamu tahu sendiri kan emosi Pak Arya bisa naik turun kaya roller coaster. Mau dibanting kamu ke lantai 5?”, kata seorang wanita yang Dinda tidak kenal namanya. Terlalu jauh untuk melihat papan namanya dari tempat Dinda duduk.
“Eh.. beneran. Sumber tervalid yang anonim pastinya. Karena gak mungkin di kasih tahu hahaha.. Client kita yang di Bangkok itu juga hire perusahaan lain untuk PR mereka, dan dia itu istrinya, eh salah mantan istrinya Pak Arya. Bu Sarah itu loh… yang dulu pernah ikut nyamperin sekali pas Tim Building?”
“Hoook… beneran kamu? Yang badannya kaya model itu? Yang seksi banget itu? Dia bukannya ke luar negeri ya?”
“Hm.. gosip lama deh… udah di Indonesia lagi tahu. Beberapa malah ada yang lihat Pak Arya ketemuan loh sama mantan istrinya. Aroma - aroma mau baikan kayanya guys… kabar baik gak sih buat kalian?”, kata pria yang menjadi penyebar gosip pertama tadi.
“Hmm.. mood pak Arya pas baru - baru nikah waktu itu, yang orang lama pasti tahu, bagus sih… tapi ahh pak Arya kan orangnya profesional banget, mana mungkin urusan personalnya bisa ngefek ke urusan kantor. Mau dia balikan sama mantan istrinya, mau enggak, mau dia nikah lagi juga kalo performance kita jelek mah dokumen juga dibanting - banting sama dia.”
“Ya.. siapa tahu kan. Kabarnya dia juga baru naik jabatan kan? Megang 10 tim sekaligus. Yuhuuuu mood nya pasti lagi bagus banget tuh, makanya mau balikan lagi sama mantan istrinya.”, kompor - kompor yang ada ada disana mulai saling sahut menyahut. Kesempatan emas untuk mereka bergosip mumpung Arya tidak ada.
Sementara mereka - mereka yang tidak begitu peduli terus melanjutkan pekerjaannya. Termasuk mba Erina tadi.
“Ihhh siapa tahu kan.. Di Bangkok mereka satu kamar hotel… Wahhh… Duh.. kenapa gosip ini jadi semakin membuatku excited… Aku kembali ke habitat ku dulu ya guys.”, kata pria yang melambai tadi.
Setelah dia menjatuhkan racun gosip, dia lantas pergi begitu saja membiarkan para pecinta gosip di divisi ini saling merangkai berbagai spekulasi seolah kehidupan Arya adalah cerita menarik untuk mereka mengalahkan gosip artis.
Wawan, pria itu masih berbicara dari tadi meski saat ini Dinda sudah tidak mendengarkan apa - apa lagi. Pikirannya tertuju pada apa yang orang tadi sebutkan, dan bahkan pembicaraan yang semakin liar dan masih berlangsung bagi sebagian kecil orang di kubikel sebelah.
“Iya.. kan ga tahu ya.. Namanya Pak Arya..”
“Mungkin aja mereka balikannya di kasur dulu yaa.. Baru abis itu di KUA”
“Eh.. mulai ngaco deh ngomongnya.. Ada orangnya aja pada mingkem… giliran ga ada gosipnya mengalahkan lambe.. Pada ga punya kerjaan ya?”, akhirnya ada seseorang yang sepertinya sudah senior disana yang mulai menutup mulut mereka - mereka yang sangat antusias untuk bergosip.
“Din? Dinda?”, panggil Wawan karena dia melihat Dinda terdiam.
“Oh? Oh? Eh? Iya mas? Udah kan ya? Kalau begitu saya permisi dulu ya mas. Thank you.”, ucap Dinda segera pamit dari sana.
Pikirannya masih kabur. Saat keluar dari area kubikel Business and Partners, Dinda mendadak bingung harus bergerak kemana. Kembali ke tempat duduknya dan menganggap dia tidak mendengar apapun? Ke pantry untuk membuat minuman dan menjernihkan pikirannya? Atu ke toilet untuk berpikir sejenak?
‘Din, gosip seperti itu bukan sekali dua kali. Bukankah gossip mas Arya sering ke klub bersama wanita juga pernah bermunculan. Tapi hal seperti itu tidak terjadi kan? Itu hanya gosip, tidak perlu di dengarkan.’, kata Dinda dalam hati.
‘Iya, lebih baik aku tidak memikirkan itu dan kembali bekerja.’, baru saja Dinda hendak berbalik menuju kursinya, Bryan tiba - tiba muncul.
“Mau ke pantry?”, tanya nya, karena Dinda masih belum beranjak dari tempatnya berdiri.
“Hm? Engga, aku mau kembali ke kursi dan melanjutkan pekerjaanku.”, kata Dinda bergerak melewati Bryan.
Namun Bryan terlanjur menarik tangan Dinda agar gadis itu berhenti. Tentu saja Dinda segera melepaskan tangan Bryan.
“Bryan!”, tegur Dinda pelan.
“Kamu sudah dengar gossip tentang pacar kamu itu?”, tanya Bryan blak - blak-an.
“Aku mau lanjut kerja. Jum’at kemarin aku ga masuk. Masih banyak yang harus aku kerjakan.”, kata Dinda tegas.
“Lebih baik kamu tidak meneruskan hubungan kamu.”, kata Bryan.
“Maaf, tapi itu sama sekali bukan urusan kamu.”, kata Dinda dengan mantap berlalu meninggalkan Bryan disana.
__ADS_1