Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 130 Misi Pertama Tim Building - Wisata Pantai


__ADS_3

Asap rokok mengepul di smoking area yang lokasinya tidak begitu jauh dengan restoran. Dari area itu, pengunjung hotel bisa melihat kolam renang yang berada di lantai dasar. Suci sedang memantik rokok pertamanya hari ini.


Suci masih sangat kesal dengan apa yang dia lihat tadi malam. Kekesalannya tidak hanya karean dia mengetahui hubungan dan interaksi mereka tetapi kenyataan bahwa dia juga tak bisa melakukan apa - apa tentang itu.


Berbeda dengan pria - pria yang dia sukai atau yang saat ini tengah memacarinya, Arya tentu saja berada di level yang berbeda. Pria itu memiliki posisinya sendiri dan bukan orang sembarangan yang bisa Suci kendalikan.


“Brengsek… padahal dulu aku suka berteman dengan Dinda. Heh.. aku kira di polos dan kolot. Ternyata dia licik juga. Siapa dia? Hanya seorang intern tetapi berani menggoda Pak Arya. Kalau bukan dengan tubuhnya, bagaimana mungkin?”, Suci mengambil hisapan pertama rokoknya dan menghembuskannya ke udara.


Kepulan asap rokok itu menyamarkan kedatangan Bryan yang menghampiri Suci.


“Kenapa kamu? Dari kemarin sepertinya mood kamu tidak bagus. Sejak aku lihat kamu di lobi tadi malam.”, tanya Bryan yang juga mengambil bungkus rokoknya dan menyusul Suci dalam rutinitas pagi yang baru saja digelutinya.


“Apa pedulimu?”, jawab Suci sinis.


“Kamu, ada masalah apa dengan Dinda? Aku lihat kamu terus memandangnya dengan tatapan tidak enak.”, alih - alih menjawab pertanyaan Suci, Bryan justru membuka topik yang paling sensitif untuk Suci saat ini.


“Kenapa? Kamu tidak suka? Kamu juga mulai tertarik dengannya? Kenapa sih? Apa dia juga memberikan tubuhnya padamu?”, kata Suci dengan nada menantang.


“Hush.. apa - apaan kamu?”, Bryan segera melihat ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada yang mendengarkan racauan Suci.


“Asal kamu tahu, Dinda itu tidak sebaik yang kamu kira. Dia itu MURAHAN.”, kata Suci sambil memainkan jarinya yang sedang memegang rokok ke depan wajah Bryan karena kesal.


“Hei, pelankan suaramu. Kamu kenapa?”, kata Bryan mencoba menenangkan Suci.


Untung saja saat itu sedang tidak ada orang - orang dari kantor mereka disana. Jikapun ada, mereka merokok di posisi yang masih jauh dari tempat Suci dan Bryan saat ini.


“Kamu tanyakan, ada apa denganku kemarin? Aku lihat Dinda keluar dari kamar Pak Arya tadi malam.”, jawab Suci.


Bryan tidak memberikan reaksi berarti. Hal ini tentu membuat Suci curiga. Dia adalah gadis yang cerdas yang cukup bisa memahami ekspresi seseorang.


“Ada apa ini? Sepertinya kamu tidak terkejut dengan pernyataanku barusan.”


“Lalu kenapa?”, kata Bryan akhirnya memberikan tanggapan.


“Lalu kenapa, kamu bilang? Jangan - jangan kamu tahu kalau mereka punya hubungan? Dinda keluar dari kamar Pak Arya jam 1 malam, mereka pasti sudah tidur bersama. Dan malam tadi sudah pasti bukan yang pertama.”, kata Suci dengan suara yang pelan karena sebelumnya Bryan memperingatkannya. Namun, meski nadanya pelan, Suci masih memberikan penekanan - penekanan pada setiap kata karena emosinya.


“Mungkin dia hanya perlu membicarakan sesuatu.”


“What? Aku gak bodoh. Membicarakan sesuatu sampai harus di kamar Pak Arya sampai jam 1 malam? He kissed her, Bryan!.”


“Pak Arya dan Dinda berpacaran.”, Bryan akhirnya memberitahu Suci apa yang sudah dia ketahui sebelumnya.


“Hah!.. Gak mungkin. Pak Arya? Setidaknya Pak Arya yang aku kenal logis, cerdas, dan berkelas pacaran dengan anak kemaren sore kaya Dinda? Hah.. sulit dipercaya.”


“Kamu tanya saja sendiri kalau kamu tidak percaya.”


“Ask Who?”


“Pak Arya.”, jawab Bryan.


Suci menghisap kembali rokoknya dan membalikkan tubuhnya membelakangi Bryan sambil menatap ke arah kolam renang. Ia berpikir sejenak. Tak berapa lama dia kembali membalikkan tubuhnya ke Bryan.

__ADS_1


“Sejak kapan kamu tahu mereka pacaran?”


“Beberapa waktu lalu. Aku tidak sengaja melihat mereka berdua.”


“Di?”


“Aku rasa aku tidak perlu menjelaskan itu.”, kata Bryan.


“Kamu masih membela gadis murahan itu?”, kata Suci kemudian.


“Dia tidak murahan.”


“Hah? Apa namanya kalau bukan murahan. Dia tidur Bry sama Pak Arya. Dan kalau Dinda sampai berani tidur bersama bahkan di saat tim Building begini, aku yakin itu bukan pertama kalinya. Oh ****! Aku tidak mau mengakui ini tapi Dinda pasti sudah pernah tidur dengan Pak Arya sebelumnya. Wah.. dan who knows, mungkin sebelum Pak Arya dia juga tidur dengan pria lain. Very kind and humble outside but ***** inside.”, Suci tak henti - hentinya mengeluarkan kata - kata kasarnya untuk Dinda.


Padahal, jika memutar waktu ke belakang saat Dinda baru pertama masuk dan Suci masih ditempatkan di divisi Arya, mereka sangat akrab. Suci yang notabene memiliki posisi lebih tinggi ketimbang Dinda memilih berteman dengan gadis itu.


“Kamu berkata seolah - olah kamu tidak seperti itu. Setidaknya kalau kamu menganggap Dinda sebagai teman, kamu meragukan Pak Arya yang mungkin hanya memanfaatkan Dinda. Aku begitu saat pertama kali tahu kalau mereka menjalin hubungan. Kamu lupa bagaimana awalnya kita kenal dan berteman dengan Dinda? Apa kamu bersikap seperti itu pada orang - orang terdekat kamu?”, kata Bryan.


“Oke, kamu memang kagum dan suka dengan Pak Arya, tapi kamu tahukan bagaimana gosip tentang dia? Beberapa bulan lalu aku masih sering melihatnya di bar bersama wanita. Dan sekarang kamu melihat mereka berdua, kamu langsung mengagungkan Pak Arya dan malah menganggap Dinda rendah padahal kapan sih Dinda pernah bersikap tidak baik?”, lanjut Bryan.


******


“Pagi semuanya.. Pagi Pak Arya, Bapak/Ibu Tim Leader, Manager Business Partners dan Pak Erick dari Digital and Developments, Teman - teman semua. Semoga semuanya sudah sarapan.”, kata Siska mewakili panitia membuka acara Tim Building hari ini.


“Mungkin sebelum saya memulai agenda tim building kita hari ini, saya mempersilahkan Pak Arya untuk menyampaikan sepatah dua patah kata dulu.”, Siska mempersilahkan Arya untuk maju.


Saat ini, semua karyawan baik di divisi Business and Partners maupun Digital and Development sudah berkumpul di area sekitar hotel yang cukup luas. Beberapa bus, mobil, dan motor serta sepeda sudah terparkir di sekitar hotel. Para karyawan sudah bertanya - tanya dari tadi sambil berbisik. Mereka bingung kenapa ada kendaraan - kendaraan berbeda di sekitar mereka saat ini.


“Thanks buat partisipasinya yang hampir mencapai 100% di acara tim Building tahun ini. I hope you can get that percentage for every project as well. Just kidding, anyway. Saya hanya ingin menyampaikan thanks buat panitia yang sudah bersusah payah mengadakan tim building ini. I know kalian akan benci banget sama saya karena ada beberapa aktivitas yang saya hapus dari proposal yang kalian berikan.”


“Saya cuma mau bilang saya mempertimbangkan health and safety semua karyawan, bukan hanya karyawan yang muda - muda saja. So, that’s why ada beberapa activity yang tidak saya setujui. Dan buat semua karyawan, saya harap kalian semua enjoy menjalani rangkaian acara tim building kita.”, lanjut Arya lagi dan kemudian bergeser kembali ke posisinya semula.


“Okay, Terima kasih Pak Arya. Untuk menghemat waktu, saya langsung menjelaskan agenda tim bilding kita hari ini. Jadi, tema hari ini adalah ‘Beach’ atau ‘Pantai’, teman - teman akan mengunjungi 3-4 pantai di Lombok. Masing - masing pantai ada misinya sendiri. Teman - teman akan berangkat bersama tim yang sudah di bagi kemarin. Setiap tim baru bisa berangkat ke pantai selanjutnya setelah berhasil menyelesaikan misi. Tim yang bisa mengunjungi pantai terbanyak akan menang.”, terang Siska mulai menjelaskan aturan permainan hari ini.


“Tentu saja, teman - teman akan mendapatkan transportasi yang berbeda untuk pergi ke masing - masing pantai. Sekarang, saya minta ketua tim untuk maju ke depan.”, lanjut Siska.


Semua ketua tim maju ke depan. Untuk tim Dinda, James yang merupakan leader tim 4 maju. Untuk Tim Arya, Susan yang menjadi ketua. Kemudian, terlihat Erick dan Rini maju sebagai ketua di tim mereka masing - masing bersama dengan dua orang ketua lainnya.


Arya melirik ke arah Dinda sebentar. Gadis itu terlihat sangat antusias namun sedikit canggung karena sepertinya tidak banyak karyawan yang dia kenal di timnya. Ingin sekali dia menggunakan kekuasaannya untuk memindahkan gadis itu ke dalam tim nya.


Walau begitu, setidaknya Arya bisa sedikit lega karena dia sudah mencoret beberapa aktivitas atau ketentuan yang diatur panitia. Dia tahu Siska dan tim panitia sudah sangat kesal dengannya karena dia melakukan perubahan last minute, tetapi Arya tidak peduli.


******


“Oh.. kamu Dinda, ya. Iya.. iya.. Saya dengar dari Wawan sebelumnya kalau kamu yang sudah membantu dia memperbaiki reportnya. Intern ya? Dulu kuliah dimana?”, seorang karyawan yang sudah lumayan berumur bertanya pada Dinda.


Singkat cerita, tim Dinda sangat beruntung di langkah awal. Ketua mereka berhasil mendapatkan ‘Bus’ sebagai transportasi mereka pada undian tadi. Ya, pemilihan mode transportasi yang digunakan ditentukan lewat undian. Setiap ketua tim tinggal mengambil kertas di dalam botol dengan mata tertutup. Langkah pertama ditentukan dari keberuntungan masing - masing.


“Iya, Pak. Sudah 6 bulan internnya. Dulu kuliah di Universitas X. Baru lulus….bla bla bla.”, Dinda menjawab pertanyaan - pertanyaan yang ditujukan padanya. Di tim yang terdiri dari 15 orang ini, hanya ada 3 orang wanita. Satu orang sudah berumur, dan satu lagi sebaya dengan Dinda namun sedikit tomboy.


Perhatian lebih banyak tertuju padanya karena karyawan yang lain kebanyakan dari Business and Partners dan sudah saling mengenal satu sama lain.

__ADS_1


“Keren Babe aku ini, gak kebayang gimana marahnya Pak Arya karena ketua tim dia malah dapat sepeda.”, celetuk Wawan yang masih sesekali tertawa membayangkan Pak Arya dan timnya harus menaiki sepeda menuju pantai.


“Bisa - bisa mereka sampai besok pagi.”


“Untung saja yang cabut undiannya bukan Pak Arya. Bos kita itu kan lucky banget. Kalo dia yang cabut tadi, pasti deh, bus ini sudah melayang ke timnya dia.”


Di sisi lain…..


“Wah… kamu sudah menggunakan semua keberuntungan kamu ya? Sampai dapat sepeda.”, celetuk seseorang di tim Business and Partners pada ketua mereka.


“Gila… gak cuma awkward, tapi juga bikin panas dingin. Gak kebayang serius satu tim dengan Pak Arya.”, kata Andra berbisik pada Delina dan yang lain.


“Tapi, Pak Arya kalau dilihat dari dekat ganteng banget, ya. Aseli, aku ga ngata - ngatain Suci lagi deh. Dia punya alasan untuk suka sama Pak Arya. Bodi atletis, perawakan tinggi, cerdas pula, wuahhh paket lengkap.”, ungkap Delina yang memang jarang sekali berada di jarak yang dekat seperti ini.


Bahkan Delina belum pernah berinteraksi sama sekali dengan Pak Arya karena pekerjaannya lebih banyak menuntut dia duduk dan menulis laporan.


“Ya ampun, lain dikata lain dijawab ya. Sudah kena sihir juga kamu, Del. Lihat tuh Suci, nempellll mulu sama Pak Arya. Sudah kaya lem, tahu gak.”, celetuk Andra. Tentu saja masih dengan nada yang pelan karena dia merasa insecure kalau ucapannya sampai terdengar Arya.


“Tapi kayanya dari tadi Pak Arya jaga jarak terus deh. Kasihan Suci.”


“Itu konsekuensi buat cewek yang ga sadar - sadar udah ditolak. Suci, mentalnya baja memang.”


“Guys, kalau kita menggunakan sepeda, yang ada kita bakal sampai besok pagi. Sis, saya bisa sewa bus pakai kartu kredit saya, kan?”, kata Arya bertanya pada Siska sebagai panitia.


“Tentu saja, Pak Arya. Tapi sesuai peraturan, proses arrangement dilakukan oleh tim sendiri.”, kata Siska sambil menyembunyikan senyumnya. Dia benar - benar merasa telah membalaskan dendamnya pada Arya yang sudah mengacaukan rentetan acara tim building hari ini dengan menghapus beberapa aktivitas seru.


“Ci, tolong di arrange sewa busnya ya.”, kata Arya langsung memerintah Suci.


Hanya tim Arya yang tersisa di pekarangan hotel karena menunggu bus sewaan mereka datang. Tim yang menggunakan bus, mobil dan motor sudah berangkat lebih dahulu.


EPILOGUE 


“Halo, Siska? Kamu bisa kumpulkan panitia tim Building? Kita diskusi sebentar. Saya tunggu di lobi bawah, ya.”, kata Arya pukul 4 shubuh pada sekretarisnya yang juga menjadi panitia tim Building.


“Eh? Halo..”, Siska masih setengah sadar saat Arya menghubunginya barusan.


Siska bahkan harus mengirimkan pesan pada Pak Arya karena dia sama sekali tidak bisa konek dengan perintah pak Arya.


‘Apa dia gila? Kenapa ke Lombok pun dia harus mempersulit hidupku. Arghghhh Pak Arya, kalau bukan karena tampan sudah aku goreng kamu…..’, kata Siska kesal mengacak - acak rambutnya.


“Sis, kamu gila? Diskusi jam 4? Tuyul aja ketawa Sis, jam segini disuruh meeting.”, kata panitia yang lain pada Siska saat mereka berjalan menuju lobi, tempat yang dijanjikan Arya.


“Pak Arya yang gila, bukan aku.”, kata Siska tanpa tenaga.


Saat mereka sudah berkumpul, Arya langsung membuka dokumen yang berisi rangkaian agenda tim building mereka. Ia memfokuskan perhatiannya pada games.


“Saya mau ini ditiadakan saja dari kompetisi. Silahkan kalau ada yang mau melakukan activity ini, tapi saya mau ini sifatnya pilihan. Ini juga, ini juga. Sama saya minta kamu menekankan di setiap tim tidak boleh memaksa anggota melakukan aktivitas tertentu. Saya mau keselamatan karyawan juga diutamakan dan tidak boleh ada yang cedera. Sama tolong ya, diperhatikan untuk yang tidak bisa berenang. Jangan sampai saya dengar ada insiden.”, kata Arya sambil mencoret beberapa bagian.


Arya baru saja mengetahui kalau Dinda hamil. Dia baru sadar jika ada beberapa aktivitas tim building yang mungkin bisa membahayakan istrinya karena yang lain tidak tahu kalau Dinda hamil. Arya menghapus semua aktivitas itu dari bagian kompetisi tim dan menjadikannya aktivitas bebas. Dalam arti siapapun boleh ikut tapi bukan bagian dari kompetisi.


Tentu saja, Siska dan tim mendengarkan perintah itu dengan baik. Setidaknya dari luar mereka terlihat mengangguk sambil memaksakan senyum, padahal dalam hati mereka sudah mengutuk bos mereka yang walaupun tampan ini tapi selalu bikin darah tinggi.

__ADS_1


__ADS_2