
“Dindaaaa…. Apa kabar? Ya ampuunnnn kangen banget aku, sudah lama gak ketemu sama kamu.”, seperti biasanya dengan segala kehebohannya, Bianca menyapa Dinda pagi hari di kediaman Kuswan.
“Perasaan baru beberapa minggu saja, kenapa kamu sudah cepat kangen?”, kata Dinda dengan nada datar.
“Kamu kenapa? Lagi bete, ya? Sama siapa? Sama mas Arya?”, oceh Bianca di kursi ruang tamu disamping kamar Arya dan Dinda.
“Bete sama kamu. Masa janjian mau olahraga 3 jam sebelumnya. Yang ada itu, kamu buat janji seminggu, atau paling tidak satu hari sebelumnya. Kenapa dini hari telpon mengajak olahraga pagi.”, omel Dinda sambil meminum air teh yang sudah disiapkan oleh Bi Rumi.
“Jutek banget sih, istrinya mas Arya. Lama - lama kamu jadi mirip dia tahu, gak?”
“Terus, sejak kapan kamu jadi rajin berolahraga? Bukannya tiap weekend kamu kerjaannya nonton, ya? Terus bangunnya telat sampai siang.”
“Syuttt… ada mas Reza di bawah nanti dia dengar.”
“Hello, kita sedang di lantai 2, Bi. Mana mungkin dia dengar. Lagian kamu, pasti pengen olahraga karena baru tahu mas Reza suka olahraga, ya. Ya kan?”, Dinda memukul - mukul bahu Bianca untuk mengaku.
“Memangnya kamu engga gitu? Mas Arya kan juga suka ke tempat gym.”
“Engga. Aku ga pernah mengakui apa yang tidak aku suka tiba - tiba jadi suka hanya karena mas Arya suka.”
“Terus, kalo weekend dia pergi nge-gym, kamu gak ikutan?”, tanya Bianca heran.
“Engga, ngapain aku ikutan. Mending aku sama mama Inggit mengurusi tanaman di belakang atau masak - masak bareng Bi Rumi. Aku gak pernah minta ikut mas Arya karena aku gak suka nge-gym. Lagian aku berhijab, Bi. Kalaupun cari tempat nge gym, mungkin aku lebih suka yang khusus wanita.”, terang Dinda.
“Kamu gak takut, ya suami kamu digodain? Di tempat gym kan banyak wanita cantik dan seksi. Kalau mas Arya tergoda bagaimana?”, tanya Bianca dengan nada serius.
“Hm… Hm… ga usah di tempat gym. Dimana - mana juga ada wanita cantik di sekitar mas Arya. Terus aku harus mengikuti semuanya, begitu? Ga mungkin kan!.”, jawab Dinda.
“Hm.. dari nada bicara kamu, kamu juga khawatir kan kalau ada yang menggoda suami kamu.”
“Tentu saja aku khawatir. Mana ada istri yang tidak khawatir kalau suaminya digoda wanita lain. Tapi, yaa gak harus ngikutin dia juga, Bi.”
“Lihat saja nanti. Kamu pasti akan berterima kasih denganku.”
“Apa jangan - jangan kamu mengajakku untuk olahraga hanya agar aku bisa menemani kamu mengawasi mas Reza?”
“Syutt..”, kata Bianca segera mengunci mulut Dinda dengan telapak tangannya.
“Kalian kan baru menikah. Masa sudah main mau membuntuti mas Reza segala. Kalau dia tahu kamu meragukannya, apa dia tidak marah?”
“Sudah - sudah. Kalau dia marah, berarti ada yang dia sembunyikan.”
“Fuh…kamu ini.”
“Din…”, seseorang sepertinya sedang mencari Dinda.
Dari suaranya, Dinda sudah tahu kalau itu adalah Ibas, adik laki - laki Arya.
“Iyaa…aku disini. Kenapa?”, teriak Dinda karena dia malas untuk berdiri dan menghampiri panggilan itu.
Ruang tamu berada tepat disamping kamar Arya dan Dinda. Sehingga kalau Ibas keluar dari arah kamarnya, dia tidak akan bisa melihat sepenuhnya siapa yang ada di ruang tamu itu. Ruangan itu adalah ruang menonton, jika rumah Inggit sedang penuh dan keluarganya ingin menonton siaran yang berbeda.
“Oh disini rupanya. Eh.. “, respon Ibas begitu melihat Bianca ada disana.
Ibas sepertinya baru saja bangun tidur karena rambut dan bajunya masih acak - acakkan. Dulu, saat pertama kali Dinda hadir di rumah ini, Ibas tidak akan berani menunjukkan sisi ini di depannya. Tetapi, seiring berjalannya waktu, dia sudah mulai terbiasa dengan keberadaan Dinda dan perasaan sebagai satu keluarga sudah mulai masuk di dalam dirinya.
Jadi, dia tidak merasa ada masalah yang berarti dan malu jika berpenampilan seperti ini di depan Ibas.
“Hai… “, sapa Bianca.
Meskipun saat ini mereka bisa dianggap sebagai satu keluarga besar, tetapi Bianca belum sempat untuk mengakrabkan diri dengan keluarga yang lain. Termasuk Ibas. Dia saja masih sangat kesulitan untuk mengakrabkan diri dengan Fam, adik Reza. Bagaimana dengan Ibas yang notabene jarang sekali bertemu.
“Oh hai..”, sapa Ibas kembali.
“Sini..”, Ibas memanggil Dinda agar berdiri dan berjalan ke arahnya.
“Kenapa?”
“Sini.”, panggil Ibas lagi.
__ADS_1
“Kamu ini.”, kata Dinda berdiri dengan malas.
“Tumben dia kesini, mas Reza juga?”, tanya Ibas sambil memelankan suaranya.
“Hm. Kamu ada perlu apa?”, tanya Dinda.
“T-Shirt ku sepertinya nyangkut di kamar kamu. Mungkin Bi Rumi salah masukin. Aku harus memakainya hari ini.”
“Hm? Gak mungkin. Kan baju kamu dan mas Arya berbeda.”
“Memang kamu hapal semuanya? Pokoknya ada yang beda. Mas Arya mana?”
“Dia sedang mandi. Kami mau olahraga pagi.”, kata Dinda.
“Nah kebetulan. Aku permisi masuk kamar dong. Biar aku cari bajunya di lemari pakaian mas Arya.”
“Tunggu dia selesai mandi saja.”
“Dia mandinya lama. Kaya gak tahu mas Arya saja. Aku masuk, ya.. Aku kan sudah izin.”, Ibas langsung berlalu membuka pintu kamar.
“Hah.. dia itu.”, kata Dinda menghela nafas.
“Bi, sebentar ya.”, kata Dinda pada Bianca.
“Iya, gapapa. Aku ke bawah dulu saja, tadi belum banyak mengobrol dengan tante Inggit. Kamu nanti langsung ke bawah aja ya, kalau mas Arya sudah siap.”
“Baiklah.”, jawab Dinda.
“Kamu yakin, T-Shirtnya ada disini?”, tanya Dinda.
“Yakiin. Sudah sebentar saja. Kamu duduk saja disitu. Tidak perlu masuk.”, ujar Ibas pada Dinda.
Dinda hanya bisa geleng - geleng kepala melihat kelakuan Ibas. Dia sudah meminta izin untuk masuk ke dalam kamar, tetapi tidak meminta izin untuk masuk ke dalam ruang pakaian.
“Kalau mas Arya sampai tahu kamu masuk - masuk begini, bisa ngamuk dia.”, ujar Dinda sebelum berlalu.
“Makanya kamu jagain supaya mas Arya ga tahu aku disini.”, sahut Ibas dari dalam yang masih mencari di deretan baju Arya. Dia tidak seperti mencari sesuatu yang ia duga ada disana.
Dia melirik ke arah semua tipe baju yang Arya punya mulai dari lemari bawah yang berisi t-shirt miliknya, lemari atas yang banyak gantungan kemejanya, kemudian bagian kanan yang berbatasan dengan baju baju Dinda. Disana adalah sweater, jacket, hoodie, dan baju olahraga Arya yang digantung dengan rapi.
Ibas juga melirik ke arah deretan jeans dan celana milik Arya, kemudian deretan beberapa jam branded miliknya. Ibas kemudian mengambil sebuah t-shirt, hoodie, dan sebuah kemeja elegan. Ibas sengaja menyelipkan hoodie dan kemeja ke dalam t-shirt yang dia ambil.
“Sudah?”, tanya Dinda yang melihat Ibas keluar dari ruang ganti pakaian.
Dinda melirik sebentar ke arah tangan Ibas yang sedang membawa t-shirt tetapi seperti ada gundukan di dalamnya.
“Hm.”, jawab Ibas singkat kemudian tergesa - gesa berlalu.
“Memangnya berapa buah t-shirt yang nyasar ke lemari baju mas Arya?”, tanya Dinda penasaran karena jika hanya satu t-shirt, tidak mungkin ada gundukan seperti itu.
“Dua.”, jawab Ibas sembarangan.
“Ya sudah, aku mau pergi. Daaa.”, lanjut Ibas segera berlalu dari ruangan.
“Aneh banget, masa dua t-shirt bisa menimbulkan gundukan seperti itu. Apa ada yang lain selain t-shirt yang nyasar juga? Tapi kan badan mas Arya lumayan kekar, sizenya pasti berbeda dari Ibas. Bi Rumi pasti gak mungkin salah taruh.”, kata Dinda dengan gaya berpikirnya.
“Ah… ya sudahlah.”, ujar Dinda sambil mengambil outernya dan bersiap mengambil hijabnya.
“Kamu ikutan juga?”, tanya Arya yang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk kimononya.
“Hm. Mas Arya tumben mau ikutan, biasanya kan nge-gym.”, tanya Dinda.
“Kamu lagi hamil. Masa mau olahraga. Nanti kalau kenapa - kenapa gimana?”, kata Arya masuk ke dalam ruang ganti dan mengambil satu set baju olahraganya.
Sebuah celana sport dengan t-shirt biru muda favoritnya. Di depannya ada tulisan klub basket yang dia suka. Arya membelinya saat dia masih berkuliah di Amerika.
“Aku cuma jalan aja kok, mas. Gak lari - lari. Sudah lama gak hang-out keluar.”, kata Dinda merapikan hijabnya. Dia juga memasang sedikit lipstick di bibirnya.
“Awas ya kalau ga hati - hati lagi. Saya gak akan semudah itu luluh.”
__ADS_1
Dinda tersenyum melihat Arya dengan suara bariton tegasnya. Dia teringat pada kejadian kemarin yang akhirnya membuat kemarahan Arya dan lemari esnya meleleh.
Dinda sedang menyeruput teh hijaunya sambil menunggu download-an drama koreanya. Dinda mengintip sebentar ke arah ruang kerja Arya yang seperti tidak memiliki tanda - tanda kehidupan sejak pria itu masuk kesana selepas makan malam. Kira - kira sudah 1.5 jam tetapi tidak ada pergerakan apapun.
Dinda meletakkan teh hijaunya di meja. Kemudian, dia membuka satu lagi jendela browser. Dinda mengetik kata pencarian di broswer Google ‘Cara menghilangkan kemarahan suami’. Begitu kata pencarian yang dimasukkan Dinda.
Berbagai jenis tips muncul satu persatu di halaman hasil pencarian. Dinda membaca beberapa judul lini dan mengklik salah satu yang membuatnya tertarik.
“Tips meluluhkan suami yang sedang marah. Pertama, beri respon yang lembut. Bagaimana caranya? Hem.. ternyata sikap mas Arya itu disebut dengan Silent Treatment.”, ujar Dinda mengangguk - angguk sambil terus membaca keterangan yang ada di laptopnya.
“Tidak heran. Setiap marah, pasti dia akan meledak lalu diam. Ya.. walaupun makin kesini mayoritas adalah kesalahanku. Tapi, kenapa dia bisa berubah menjadi menyeramkan secepat itu? Dasar, om om Ice Walls. Dingin dan dindingnya tebal, sulit ditembus.”, ucap Dinda sambil mengomel.
“Bagaimana aku bisa memberikan dia sikap yang lembut, yang ada aku malah diomeli lagi. Hm.. tapi tidak apa, mungkin aku bisa coba. Disini katanya harus memberinya waktu untuk sendiri dulu sebelum mencoba bersikap manis. Sepertinya dia sudah punya banyak waktu sendiri.”
“Huukk… Oooh…”, respon Dinda sambil berbisik sendiri saat ia dengar pintu ruang kerja Arya sudah terbuka.
Arya mengambil sebuah buku dari dalam lemari di dekat ruang tamu kamar, kemudian mengambil duduk di kursi. Arya mengambil sebuah bantal dan menaruhnya diujung kursi dan dia menyandarkan kepalanya disana.
‘Hm.. apa ini saat yang tepat? Aduh aku takut sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi. Dinda… coba bersikap manis? Apa aku perlu menciumnya? Ah tidak - tidak, kenapa kamu jadi e arah skinship begitu? Apa aku memeluknya? Lalu minta maaf? Mungkin dia akan luluh. Ah tidak, pasti akan terlihat aneh.”, Dinda sibuk sendiri dengan pemikiran dan imaginasinya.
“Sedang apa kamu disana?”, kata Arya dengan nada suara yang datar dan dingin dari tempat duduknya. Dari sana dia bisa melihat dengan jelas Dinda yang gelisah, meski dia juga kembali memfokuskan dirinya membaca.
Dinda memejamkan matanya sebentar, melihat ke arah luar balkon dan menarik nafas kemudian berbalik berjalan mendekatii kursi dimana Arya membaringkan tubuhnya.
Arya kembali fokus pada bacaannya. Buku yang dia baca menutupi arah penglihatannya ke Dinda yang saat ini mendekat.
Dinda mengepalkan tangannya seolah mencari keberanian dan kepercayaan diri. Kemudian, dia dengan tenang dan polosnya mengambil posisi di kursi dan berbaring menelungkup di atas tubuh Arya.
Postur dan tinggi tubuh Dinda yang lebih kecil dari Arya membuat kepalanya hanya mampu mencapai bagian dada Arya. Ujung kepalanya setidaknya berhasil mencapai dagu Arya. Sontak pria itu tentu saja bingung dan kaget, namun tidak dengan tubuhnya yang sudah terbiasa dengan Dinda.
“Mas Arya, aku benar - benar minta maaf. Aku janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Aku juga akan menjaga bayi ini dengan baik. Aku gak akan melalukan hal - hal aneh lagi. Plis, mas Arya jangan marah - marah lagi, ya.”, kata Dinda sambil mengangkat kepalanya menunggu respon Arya. Sebelum itu, tentu saja dia mencium dada pria itu. Itulah sikap ‘lembut’ yang seolah dia coba demonstrasikan sesuai dengan penjelasan yang dia baca di internet.
“Dengan memanjat ke atas tubuh saya dan membuat perut kamu tertekan begitu?”, kata Arya yang menggeser buku di hadapannya agar bisa melihat wajah yang Dinda tunjukkan padanya.
Karna tiba - tiba dan mendengar ucapan Arya barusan, Dinda panik dan hendak bangun dari posisinya.
Arya melepas bukunya, dan menggiring Dinda dengan pelan ke sampingnya. Sangat pelan dan hati - hati. Perlakuan ini membuat Dinda tersipu malu. Apalagi melihat Arya sedekat ini. Padahal mungkin ini adalah ke sekian kalinya dia melihat Arya. Tapi semua seperti saat pertama kali.
“Oh?”, reaksi Dinda yang terkejut membuatnya hanya mampu mengeluarkan reaksi singkat.
Arya sedikit memperbaiki posisinya untuk menghadap ke arah Dinda dan memundurkan tubuhnya ke belakang. Saat ini posisi Dinda berada di bagian yang dekat dengan dinding kursi, sedangkan Arya yang berada di ujung kursi yang dekat ke lantai.
Dengan posisi seperti ini, tentu saja ruang gerak Dinda langsung terblokade.
“Saat memikirkan kejadian itu, jantung saya masih berdetak kencang Din. Kamu…”, kata Arya dengan suara yang kini lembut dan tidak terlalu datar.
Dinda dengan refleks meletakkan tangannya di dada Arya. Dia langsung terkejut dan melihat ke arah wajah pria itu tatkala merasakan detak jantung Arya yang memang lebih cepat.
Dinda terdiam sejenak sebelum akhirnya mencoba mencium bibir pria itu tetapi gagal karena jarak bibirnya dan bibir Arya lumayan jauh. Dinda merasa malu dengan tindakannya.
Arya tentu saja tertawa simpul melihat tingkah istrinya. Arya kemudian menarik Dinda dengan hati - hati sedikit lebih ke atas dan menciumnya. Ciuman itu seperti membuatnya lebih lega dan menenangkannya.
“I’ll not forgive you another time.”, kata Arya begitu melepaskan ciumannya.
“Maafkan aku mas Arya.”, kata Dinda dengan suara yang pelan.
“Mau tebus kesalahan pakai apa?”
“Hem?”, tanya Dinda heran.
Kamu berbuat kesalahankan? Jangan kira bisa langsung selesai dengan minta maaf.”, kata Arya.
“Lalu?”, tanya Dinda bingung.
Lama Dinda menatap Arya sebelum akhirnya mengerti apa yang dimaksud oleh pria itu.
“Gak boleh mas Arya. Harus trimester kedua dulu. Itu juga harus cek dokter.”, terang Dinda.
“Hem… anak ini. Kamu sudah membuat papa cemburu bahkan sebelum kamu lahir. Kamu berhasil merebutnya dari papa. Sambil melihat ke arah perut Dinda dan mengelusnya.
__ADS_1