
Arya berada di antara para Kepala Divisi lainnya dalam Dinner’s Party yang biasanya memang rutin diadakan. Initially, pertemuan ini diawali dengan meeting singkat kemudian berlanjut menjadi Dinner’s Party.
Arya baru saja menyampaikan sambutannya dan kemudian semua orang melakukan cheers untuk memberikan semangat. Arya mengangkat gelasnya, namun dia tak meminumnya. Beberapa Kepala Divisi lain yang tidak berada satu lantai dengan Arya menangkap momen itu.
“Not drinking?”, tanya seseorang yang kebetulan berada di sebelahnya.
Arya tersenyum tipis dan menggeleng pelan. Mata pria itu membulat karena sepengetahuannya Arya minum. Namun, dia tak melanjutkan pertanyaannya dan hanya ikut mengangguk pelan seolah paham.
20 menit berlalu.
Arya sudah mengobrol dengan lebih dari 5 orang dan merasa sepertinya sudah cukup untuk malam ini. Dia melihat jam di tangannya, sudah hampir jam 10 malam. Mall mungkin sudah akan tutup.
“Okay, maaf jika saya tidak bisa join sampai akhir. Sepertinya saya harus permisi sekarang.”, ujar Arya.
Sebelumnya, Arya sudah memerintahkan Siska untuk memberitahukan bahwa Arya memang tak bisa join hingga akhir. Sehingga, Kepala Divisi yang lain sudah tidak kaget lagi jika Arya selesai lebih awal.
Masing - masing dari mereka mengucapkan thank you. Sebagian tulus, sedangkan sebagian lagi hanya formalitas. Tak sedikit Kepala Divisi yang iri dengan pencapaian Arya. Hanya saja, mereka tak menunjukkannya secara terang - terangan.
Arya mengambil jasnya dan bergerak menuju satu lantai di bawahnya. Untuk event ini karena privat, mereka menyewa lantai atas. Sedangkan lantai bawah, tetap untuk pengunjung umum. Arya sudah akan menuju pintu keluar, namun pandangannya tak sengaja tertuju pada seseorang yang mungkin saja dia kenal.
“Reza? Ngapain dia di tempat seperti ini?”, tanya Arya heran.
Dia tak bisa menahan dirinya untuk tidak berceletuk karena Reza adalah orang yang paling tidak mungkin ada di tempat seperti ini. Diantara semua sepupunya, hanya Arya yang bermasalah dengan pergaulannya. Dia minum dan juga tak jarang dulu terlihat bersama wanita, meski bukan dirinya yang mendekati mereka.
Edo, pria itu meskipun agak bermasalah, dia hanya sesekali ke klub. Tante Meri mungkin akan menggorengnya jika ketahuan masuk ke tempat ini.
“Za? Kamu ngapain disini?”, tanya Arya langsung menghampirinya.
Reza sudah tidak sepenuhnya dirinya. Dia sudah mabuk. Arya langsung mengambil ponselnya dan menghubungi istrinya, Dinda.
“Sayang, kamu dimana?”, tanya Arya.
“Di mall.”, Dinda menjawab singkat.
Arya menghela nafasnya, tentu saja dia tahu kalau Dinda sekarang sedang di mall. Maksudnya, sedang dibagian mana.
“Kamu bisa ke klub?”, tanya Arya.
“Hah?”, tentu saja Dinda terheran - heran.
Kenapa mas Arya malah memintanya ke klub. Dia serius?
“Oke, kamu dimana, aku samperin kesana.”, ujar Arya.
__ADS_1
“Di lantai 3 depan food court.”, jawab Dinda pelan.
“Oke, aku turun sekarang. Kamu tunggu disana, ya.”, perintahnya.
Dinda mengiyakan dan lanjut segera menghabiskan es krimnya. Bisa berabe kalau misalnya mas Arya tahu sekarang dia sedang makan es krim. Dinda juga harus segera berpindah ke kursi merchant lain agar Arya mengira dia makan disana, dan bukan makan es krim.
Tak perlu menunggu lama, 15 menit kemudian, Arya sudah berada di lantai yang Dinda maksud. Klub berada di rooftop dan dia mengambil lift yang langsung turun ke bawah.
“Din…”, panggil Arya pelan sambil memegang bahunya dari belakang.
“Mas Arya sudah selesai?”, tanyanya.
“Hn. Sudah. Tapi ada satu masalah.”
“Masalah apa, mas?”
“Di atas aku ketemu Reza.”, jawab Arya masih berdiri.
“Hah? Mas Reza? Mas Reza, kita?”, Dinda tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dia bahkan merespon sambil berteriak.
Arya mengangguk. Dia agak heran kenapa Dinda se-terkejut itu. Tapi dia tak bertanya.
“Ternyata… tadi Bianca telpon aku, katanya mereka lagi berantem dan mas Reza gak tahu kemana. Terus mas Reza sekarang dimana? Masih di atas? Ditinggal?”, tanya Dinda.
Dinda mengangguk. Itu adalah pilihan yang paling tepat saat ini.
************
“Mas Arya, kok lewat sini. Bukannya kita mau antar mas Reza dulu?”, tanya Dinda bingung karena Arya memotong jalan dan tidak menuju ke rumah Reza dan Bianca.
“Kita bawa Reza ke apartemen dulu. Besok, Bianca bisa datang pagi - pagi kesini.”
“Hm… benar juga, kalau Bianca lihat mas Reza dalam kondisi mabuk begini pasti runyam urusannya.”, ujar Dinda.
‘Seperti saat aku pertama kali melihat mas Arya mabuk. Shock, bingung, gak nyangka sampai tidak bisa berkata - kata.’, bathin Dinda dalam hati.
Arya memapah Reza yang benar - benar sudah hilang kesadaran. Berat. Beruntung Arya punya otot yang kekar dan tubuh yang besar untuk memapahnya. Sesekali Reza terdengar bergumam. Namun, tak ada yang tahu apa arti gumamannya itu.
“Hah… Rezaa… Reza.. apa sih masalahnya?”, keluh Arya begitu selesai melemparkan sepupunya itu ke atas kasur dan segera keluar dari kamar itu.
“Mereka berantem terus Bianca bilang ‘cerai’.”, tutur Dinda menjelaskan apa yang dia dengar tadi.
“Hm.. Ya sudah. Kamu hubungi Bianca besok pagi.”, ujar Arya.
__ADS_1
Sepertinya dia sudah sangat lelah, sehingga tak ingin banyak bicara. Tempat yang ingin dia tuju saat ini adalah kamar mandi.
“Jadi inget waktu kita berantem disini.”, celetuk Dinda tersenyum memikirkan saat - saat itu.
Saat - saat pertama masuk ke keluarga Kuswan. Tinggal dengan pria sedingin es yang tidak dia kenal yang tidak menghiraukannya tapi demanding.
“Iya, saat - saat kamu masih labil - labilnya.”, ujar Arya melepaskan bajunya.
“Kok aku yang labil. Mas Arya tuh. Waktu mas Arya narik aku ke apartemen terus marah - marah. Serem banget. Lebih serem dibandingkan dengan saat dimarahi oleh Pak Arya - Kepala Divisi Business and Partners.”, tegas Dinda.
“Tapi setidaknya aku menyelesaikannya dengan dewasa. Bukan seperti Reza, kabur dan mabuk.”
“Oh? Siapa yang sudah lupa. Mas Arya bukannya juga begitu.”
“O? Sudah lupa.”, ujarnya menutup pintu.
**************
Suasana kantor hari ini sedikit tegang. Setidaknya menurut Dinda. Arya tidak masuk bersamanya hari ini. Mereka memang berangkat bersama, tapi Arya hanya menurunkan Dinda di kantor untuk kemudian lanjut ke sebuah acara dimana dia akan menjadi pembicara. Semacam acara Business Conference, dimana para senior level berdiskusi.
Sebelumnya, dia juga sudah melakukan diskusi panjang dengan Reza pagi ini. Pria itu ternyata sudah bangun shubuh hari. Saat Arya dan Dinda sudah bersiap, Reza juga sudah duduk di ruang tamu.
Dia sepertinya sadar apa yang sudah terjadi. Melihat dirinya tak terkejut, Dinda paham kalau Reza sudah pernah ke apartemen ini sebelumnya.
Arya meminta Dinda menghubungi Bianca dan memberikan alamat apartemen mereka dimana Bianca sebenarnya juga sudah tahu. Sementara itu, Arya berbicara empat mata dengan Reza.
Flashback tadi pagi
“Makasih mas Arya.”, kalimat pertama yang muncul di bibir Reza saat Arya baru saja mengambil duduk.
“Kamu gak pernah minum sama sekali. Kalau bukan aku yang menemukan kamu di Bar itu, bisa saja sekarang kamu berakhir di kamar hotel bersama wanita lain yang malah akan memperumit masalah kalian.”, Arya benar - benar to the point saat ini.
Dirinya tahu benar seberapa gelap dunia itu. Perubahan ekspresi Reza terlihat jelas. Dia kaget dan tidak memikirkan hingga sejauh itu saat dia pertama kali menginjakkan kaki di bar.
“Maaf mas. Aku hampir saja membuat kesalahan besar. Aku hanya emosi. Kenapa kata itu begitu mudah keluar dari mulut Bianca padahal aku sedang mencoba untuk memahaminya.”, tutur Reza.
“Aku tidak tahu apa masalah kalian. You know this is my second marriage. I correct everything I did wrong in the past. Saat ada masalah, jangan kabur. Hadapi dan bicarakan baik - baik. Kamu leader disini. Tarik dia, dengarkan dia. Tidak meninggalkan masalah, tapi tidak juga berpikir bahwa kamu yang benar dan dia yang salah. Who knows, maybe we’re wrong or maybe we just don't understand them.”, papar Arya dengan tegas.
“Gak bisa bicara hari ini, bisa agendakan besok. Tapi, kalian gak boleh kabur - kaburan begini. Setiap kali ada masalah dengan Dinda, aku tidak akan pernah mengizinkannya untuk pergi. Dia harus tetap ada bersamaku. Terlepas dia sudah siap berdiskusi atau tidak. Jika belum, kita bisa bicara besok or the next day. Give her time but don’t lose them.”, lanjut Arya.
Pria itu melihat jamnya. Sudah pukul 7.30 pagi.
“Dinda sudah telpon Bianca. Dia akan kesini. Kalian bicarakan disini, atau kalian mau bicarakan di rumah kalian juga It’s okay. Aku ada acara dua jam lagi dan harus berangkat sekarang.”, Arya sudah berdiri bersama dengan tas laptopnya.
__ADS_1
Saat itu juga, Dinda muncul setelah menelepon Bianca. Melihat ekspresi Arya, Dinda mengangguk seolah memberitahu bahwa dia sudah berhasil menghubungi Bianca dan dia akan datang kesini segera.