Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 22 Umpan Bagian 2


__ADS_3

“Selamat istirahat, ya pak. Saya pamit pulang dulu.”, kata supir mereka. Bapak ini memang tidak tinggal di rumah keluarga Kuswan. Rumahnya hanya berbeda beberapa blok saja.


Jadi dia biasanya datang pagi sekitar pukul 7 dan pulang malam hari. Ia pergi dan pulang mengendarai motor. Hanya Bi Rumi dan Pak Satpam saja yang menginap.


“Iyo Pak. Hatur Nuhun, ya. Jangan lupa makanan yang dibungkus diberikan ke anak dan istri. Semoga suka.”, Kuswan tidak lupa membungkuskan beberapa menu dalam jumlah banyak untuk pak supir dan keluarganya.


“Pa, Ma, Maaf sekali. Dinda langsung naik ke atas, ya. Dinda kebelet mau ke kamar mandi.”, kata Dinda berharap bisa melesat cepat ke dalam kamar untuk memusnahkan lingerie - lingerie itu dari ranjang yang mulia, Pak Arya.


“Pake kamar mandi di bawah aja, Din. Jangan lupa harus minum jus dulu untuk menetralkan seafood - seafood tadi. Dari pada dua kali naik turun.”, kata Inggit menarik lengan Dinda menuju dapur.


“Eh?... tapi ma, Dinda harus…”, tangan Dinda terus ditarik oleh Inggit. Dia tidak bisa melawan.


“Pa, Ma. Aku taruh koper di atas dulu ya sambil menaruh laptop juga. Takut kelupaan.”, kata Arya menyusul di belakangnya.


“Ma.. itu.. Itu kok boleh ke atas, aku kok engga, ma.. Aku juga harus… ma.”, Inggit seolah tidak mengindahkan ucapan Dinda. Dia menarik gadis itu ke dapur.


Sesampainya di dapur, Inggit langsung berkata sambil tersenyum, “Din, lingerie nya gak kamu pindahin, kan? Ada di sana kan?  Biar Arya lihat. Arya kebetulan besok libur cuti.”


‘Bukan di lemari lagi ma, tapi udah di kasur. Tamat riwayat aku kalo begini.’, bathin Dinda pasrah.


“Ma, jadi ambil jus ga?”, kata Dinda lemas.


“Ga usah, besok aja. Lagian perut mama masih kenyang. Udah sana ke atas, mandi yang bersih, pake parfum yang banyak. Jangan lupa lingerienya dipakai ya, sayang.”, Inggit langsung melenong ke arah kamarnya.


“Mama… mau bunuh aku pelan - pelan ato gimana. Ngapain di tarik kesini kalo gak jadi minum jus. Mampus.. Gimana nih…”, kata Dinda setengah menggumam. Tidak ada yang bisa mendengarnya karena semua orang sudah melesat ke kamarnya masing - masing.


Dinda berjalan ke atas penuh was - was. Langkahnya pelan, saat membuka pintu pun dia juga berhati - hati sambil mengintip.


“Ngapain Din, masuk kamar kok kaya maling?”, entah dari arah mata angin mana, Ibas sudah tiba saja memergokinya masuk kamar diam - diam.


“Haha.. nggak kok. Lagi iseng praktekin adegan di drakor tadi.”, beberapa hari ini, Dinda dan Ibas sudah lumayan dekat. Ibas sangat supel, hanya butuh beberapa hari untuknya akrab. Bahkan dia sudah hapal kalau Dinda suka menonton drama korea.

__ADS_1


“Jangan lupa, adegan ML nya juga dipraktekin, ya.”, ledek Ibas.


“Sorry, tontonanku tu tontonan bocah gak kaya kamu. Mana ada adegan ML nya. Udah aku mau tidur.”, Dinda langsung masuk dan menutup pintu.


“Saya kira kamu itu anak kelinci lo, Din. Ternyata saya salah.”, pak Arya tiba - tiba sudah ada di belakangnya. Shirtless. Dia memegang salah satu dari beberapa lingerie yang lupa ditaruh Dinda di lemari.


Dia mengangkat lingerie itu dengan satu tangannya lalu memutarnya di udara.


“Engga Pak, itu … itu… apa ya.. Aduh.. hm.. Saya bisa jelasin kok, Pak. Jadi, kemarin.. Kemarin itu…”, belum lagi Dinda menyelesaikan kalimatnya, Arya langsung menyesap bibir itu dalam.


Tidak terbayang lagi betapa terkejutnya Dinda. Badannya yang memang sudah lelah dan mengantuk tidak sanggup melawan serangan tiba - tiba itu.


Perlakuan pak Arya seperti chapter buku pelajaran yang tingkat kesulitan dan variasinya semakin bertambah.


Ciuman pertama mereka di acara pernikahan. Kali itu hanya sekedar ‘cup’ beberapa detik saja. Bahkan lebih terasa seperti dua kulit yang menempel.


Ciuman kedua, Dinda merasakan hal yang aneh. Meski antara sadar dan tidak, bibir itu memagutnya. Meski hanya luarnya saja, tapi Dinda bisa merasakan ranum manis dan kelembutannya. Itu pula yang membuat Dinda begitu kaget dan berusaha untuk melepaskannya.


Tanpa sadar, dia mengikutinya. Saat nafas Dinda habis, barulah dia sadar apa yang sudah Arya lakukan padanya. Perlakukan yang membuat Dinda bimbang. Sebenarnya dia menerima itu atau menolaknya. Meski otak Dinda mengatakan tidak, tapi tubuhnya seolah tak ingin menolak.


“Kamu sudah pasang umpan, tapi gak mau bertanggung jawab? Lantas kenapa tempo hari kamu menolak saya?”, kata Arya sambil menggoyangkan lingerie di tangannya.


Belum ada jawaban dari Dinda. Dia masih sibuk mengatur nafas. Dia juga masih malu atas apa yang sudah terjadi.


“Mama yang minta beli itu, Pak. Saya lupa taruh di lemari.”, Dinda langsung berjalan melewati Arya.


Dinda ingin segera bebersih dan tidur. Ciuman tadi membuatnya bingung, sebenarnya siapa dia di mata Arya. Apa benar dia hanya dianggap wanita penghibur seperti perkataannya malam itu? Wanita yang ketika Arya ingin akan dia pakai. Lalu, dengan gampangnya diabaikan.


Apa pak Arya hanya akan menidurinya saja. Lalu saat dia bosan, dia akan meninggalkannya? Dinda tidak masalah jika nanti dia diceraikan. Dia juga tidak munafik dengan berharap lebih dari pernikahan ini.


Sejak awal dia tahu, dimana posisinya. Dia tidak selevel dengan Pak Arya. Tapi, jika dia dibuang setelah pak Arya puas menggunakannya, itu akan menjadi penghinaan paling buruk dalam hidup Dinda.

__ADS_1


Sebaliknya, Dinda juga tak segan menyerahkan seluruhnya pada laki - laki ini asalkan dia serius dengan pernikahan mereka. Namun hingga kini, Dinda belum melihat itu. Hal inilah yang membuat Dinda merasa tidak nyaman mendapat perlakuan - perlakuan seperti tadi dari Arya.


“Kamu yakin?”, Arya berbalik dan menarik lengan Dinda untuk kembali berhadapan dengannya.


“Jangan - jangan kamu sudah memutuskan untuk mendedikasikan tubuh kamu untuk saya?”, kata pak Arya.


“Pak saya mohon, jangan rendahkan saya seperti itu.”


“Saya tidak merendahkan kamu. Saya hanya menagih yang menjadi hak saya. Tubuh kamu. Begitu ijab kabul selesai saya bacakan, bukannya itu yang pertama kali harus saya dapatkan? Saya sudah berkali - kali bilang ke kamu kalau saya sudah pernah menikah. Cinta saya sudah terpakai untuk mantan istri saya. Kalaupun saya menikah lagi, saya hanya mengincar tubuh kamu. Tapi kamu tetap melanjutkan pernikahan ini. Sekarang saya tanya, kenapa sih kamu mau menikah dengan saya?”


Dinda kembali bermaksud untuk mengelak, ia mengambil beberapa lingerie yang masih tersisa di atas kasur dan bergerak menuju lemari. Tetapi Arya dengan cepat menarik lengannya lagi dan menjatuhkannya diatas kasur.


“Pak, saya mohon, berikan saya waktu untuk mencerna ini semua.”, kata Dinda sambil menangis. Dia sudah tidak tahan dengan perlakuan Pak Arya yang seperti melampiaskan sesuatu padanya.


Tangisan Dinda yang tercekat sukses membuat Arya sedikit kaget. Masih dalam mode mencengkeram, dia berusaha mencari kebohongan di mata gadis itu. Tidak, dia tidak menemukan kebohongan. Dia hanya menemukan ketakutan.


“Arya… Ini mama sayang. Boleh mama masuk?”, Tiba - tiba terdengar suara Inggit dari luar pintu kamar. Inggit langsung membuka pintu secara refleks karena tidak dikunci. Ia sudah sering begitu sebelumnya. Seketika dia lupa kalau Arya sudah beristri lagi. Pemandangan yang ada di depannya, sukses membuat Inggit terkejut. Ia merasa menyesal telah mengganggu mereka.


“Ups, sorry! Ya udah dilanjut saja sayang, mama minta maaf ya. Lagian pintunya jangan lupa dikunci kalo mau begituan.”, kata Inggit menutup pintu kembali sambil mengusap - usap dadanya. Berharap dengan begitu rasa kagetnya hilang.


Disisi lain, Dinda berusaha memalingkan wajahnya agar Inggit tak melihat tangisnya. Arya yang mendominasi tubuhnya dengan dada bidangnya yang kekar sukses membuat Inggit tak bisa melihat wajah Dinda. Dari arah Inggit berdiri, Ia hanya bisa melihat rambut Dinda, karena kepalanya tertutup oleh lengan kekar milik Arya.


Inggit segera turun tangga menuju kamarnya. Tadinya dia hanya ingin mengantarkan ponsel Arya yang tertinggal di dalam mobil. Bi Rumi yang menemukannya saat mencari - cari tas milik Inggit.


“Pa, papa tahu nggak yang mama lihat? Papa pasti gak percaya.”, kata Inggit bersemangat saat sudah berada di dalam kamarnya. Kuswan masih tampak membaca buku. Hal yang biasa dia lakukan jika kesulitan tidur.


“Arya mau mmm sama Dinda, Pa.”


“Mama ini, namanya suami istri ya begitu.”


“Ih papa gak asik. Ya udah mama mau tidur, mama mau cerita besok ke Dayu. Mama mau berterima kasih, karena saran dia. Arya mau gol-in malam ini, Pa. Mama udah gak sabar mau nimang cucu.”, kata Inggit sambil memeluk gulingnya. Matanya ia pejamkan sambil masih sesekali tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2