
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 9 malam. Arya akhirnya berhasil menyelesaikan semua meetingnya hari ini termasuk dengan Erick dan Rini yang baru saja selesai. Rini sudah langsung undur diri untuk pulang karena dia sudah ada janji dengan kekasihnya beberapa hari ke depan. Besok dia mengambil cuti dan pergi berlibur.
Erick masih betah duduk di ruangan Arya. Dia menunggu pria itu selesai beres - beres agar ada teman ke parkiran. Arya masih belum bisa menutup laptopnya karena ada dua email yang harus dia balas. Setelah itu, dia baru menutup laptopnya dan memasukkannya ke dalam tas.
“Okay, hayok.”, ujar Arya kepada Erick.
“Erick berdiri dan membuka pintu.”, Disampingnya, Arya masih melihat ponselnya.
“Udah jam 9 lewat ya?”, ujar Arya.
“Menurut lo aja, Arya. Tadi lo kesini sudah hampir jam 6, lalu meeting dengan tim Business & Partners dan berikutnya gue dan Rini.”, kata Erick.
Dia sudah tidak heran lagi jika Arya lupa waktu karena memang pekerjaan pria itu sangat banyak hari ini. Dia bahkan lelah menunggu untuk meetingnya tadi.
“Oh god! Gue lupa bilang, lagi.”, ujar Arya spontan.
“Bilang apa? Memang ada yang menunggu lo di rumah? Oh iya, lo sekarang tinggal bareng orang tua. Jangan bilang udah umur segini masih ditanyain orang rumah? Makanya, gue pilih tinggal sendiri…..”, dan bla bla bla. Erick menyerocos sendiri sembari berjalan menuju lift sedangkan Arya sibuk memeriksa ponselnya.
Arya mencari pesan dari Dinda. Mungkin saja gadis itu dari tadi sudah menanyakannya. Dan benar, Arya menerima satu buah pesan.
“Divisi lo ada acara makan - makan, Rick?”, tanya Arya kembali spontan setelah membaca isi pesan dari Dinda.
“Hm.. engga dalam sepengetahuan gue sih. Tadi sore, masih pada kerja. Tidak ada berita mau ada acara makan - makan.”, ujar Erick.
Arya sudah bisa memproses bahwa acara ini mungkin hanya antar bawahan Erick saja.
Begitu pintu lift dibuka, Arya dan Erick masuk dan melaju menuju basement. Erick memarkirkan mobilnya tepat di seberang area parkir Arya. Berhubung Arya adalah kepala divisi, maka area parkirnya pun sudah tersedia.
Suasana parkiran malam itu sudah sangat sepi padahal masih hari Senin. Beruntung Erick mengajak Arya.
“Untung aja, gue mengajak lo, Arya. Suasana parkiran kalau malam - malam suka menyeramkan.”, ujar Erick.
“Berlebihan. Laki - laki tapi penakut. Ya.. sudah. See you tomorrow, ya.”, ujar Arya segera memasuki mobilnya.
Sebelum men-starter mobil, Arya melakukan panggilan telepon terlebih dahulu. Tentu saja, dia ingin memastikan apakah Dinda masih di acara tersebut atau justru sudah di jalan pulang.
“Halo.. Dinda. Maaf, aku ada meeting sampai larut malam dan tidak sempat memberitahu kamu ataupun membalas chat kamu.”
“Iya, gapapa mas Arya. Aku sudah di rumah, kok. Tadi naik ojol.”, jawab Dinda.
“Kamu gak jadi ke acara makan - makan?”, Arya iseng bertanya.
“Ehm..enggak. Aku capek, jadi pulang aja.”, ujar Dinda setengah berbohong.
Tok tok tok tok
Arya terkejut karena kaca mobilnya diketuk oleh seseorang. Ternyata orang itu adalah Erick.
“Ngapain, sih? Bikin kaget saja.”, ujar Arya kemudian menurunkan kaca mobilnya.
Sambungan teleponnya masih terhubung dengan Dinda.
__ADS_1
“Sorry, Arya. Ban mobil gue kayanya kempes, deh. Gue boleh nebeng lo balik, ga?”
“Kempes?”
“Iya, kayanya saat pergi sudah kempes, tapi anehnya masih bisa di bawa. Tapi sekarang gak bisa.”, ujar Erick dengan nada memelas.
“Ya udah, masuk.”, jawab Arya sambil menekan tombol untuk membuka kunci mobilnya.
“Bentar, gue ambil barang - barang gue dulu, ya.”, ujar Erick.
Arya mengangguk pelan. Kemudian, Arya kembali beralih ke sambungan teleponnya dengan Dinda.
“Halo, Din.”, ujar Arya. Erick masih terlihat mengambil beberapa barang di dalam mobilnya.
“Itu Pak Erick ya, mas?”, tanya Dinda penasaran.
“Iya. Ban mobilnya kempes, jadi mau numpang. Kalau begitu, sampai bertemu di rumah, ya.”, ujar Arya sebelum menutup sambungan teleponnya.
Bagai gayung bersambut, selang beberapa detik sebelum Arya memutus sambungan ponselnya, Erick membuka pintu.
“Lagi telponan sama siapa? Ohiya, gue boleh numpang beberapa barang ini di mobil, lo? Besok mau di bawa untuk meeting di luar. Daripada ke kantor dulu buat ambil di mobili, besok bawa nya berat.”, Erick sudah membawa segambreng barang di tangannya.
“Merepotkan saja lo. Ya sudah, masukin aja.”, ujar Arya. Dia tidak benar - benar bermaksud begitu pada Erick. Dia hanya bercanda yang kemudian hanya dibalas gelak tawa oleh Erick.
“Ya.. siapa yang menduga ban gue kempes. Untung saja, masih ada lo, Ar. Kalo engga, gue bingung bagaimana pulangnya.”
“Kan bisa naik ojol, Erick.”, kata Arya.
“Nyalain lampunya dong, biar bisa di tata barangnya.”, ujar Erick.
“Memangnya sebanyak apa sih? Yakin buat meeting? Ini lo belanja online lagi, ya?”, kata Arya melihat beberapa barang yang sudah dibawa naik oleh Erick.
Yang punya barang hanya tersenyum.
“Arya, ini kok ada hijab perempuan? Lo bawa siapa ke mobil?”, tanya Erick saat menemukan sebuah hijab warna hijau kalem di lantai mobil dekat kursi tengah. Dia bahkan mengambilnya dan memperlihatkan pada Arya.
“Oh? Punya mama.”, kata Arya berbohong.
Hijab itu adalah hijab yang dikenakan Dinda kemarin saat pergi bersama Ibas dan makan seafood bersamanya. Karena takut Dinda tidak nyaman, dia melepaskan hijab itu dan menaruhnya di kursi tengah. Mungkin karena terbawa arus laju mobil, hijab itu terjatuh dan Arya tidak sadar.
“Aromanya…”, Erick sudah mau mencium aroma hijab tersebut karena saat dipegangpun, dia mencium aroma parfum wanita yang tidak asing. Meski dia tak tahu parfum apa atau siapa disekitarnya yang mengenakan parfum itu.
Arya dengan cepat menarik hijab dan meletakkannya di sampingnya.
“Enak aja main cium - cium. Udah. Kalo sudah beres. Langsung duduk. Gue harus segera pulang. Capek.”, perintah Arya.
“Iya - iya.. Perkara hijab doang, galak amat sih bro.”, Erick menutup pintu mobil dan kembali ke depan untuk mengambil duduk di bangku penumpang di samping Arya.
“Udah?”, tanya Arya memastikan.
“Berangkaat!”, jawab Erick.
__ADS_1
Semangat Erick memang tidak ada habisnya. Meski sudah meeting hingga malam, baterai di tubuhnya seperti tidak pernah habis. Pantas tempo hari Dinda mengatakan bahwa Erick terlihat sangat santai dengan pekerjaannya.
“Tempo hari di Maldives, apa benar, lo bersama wanita?”, tanya Erick. Sejak kepulangan Arya dari Maldives, mereka selalu saja sibuk dan jarang membicarakan masalah pribadi. Sat bertemu di gym-pun, Erick selalu lupa untuk bertanya. Padahal, hingga perjalanannya ke Surabaya saat itu, dia juga penasaran.
“Kenapa tiba - tiba bertanya?”
“Hanya penasaran saja. Gue pikir, lo pasti tidak berbohong karena siapa yang ke Maldives sendirian. Tapi, siapa wanita itu? Gue penasaran.”, ujar Erick.
“Sudahlah. Urus saja dirimu. Apa lo sudah punya kekasih baru? Terakhir, siapa namanya? Rita?”, Arya malah balik bertanya.
“Rita? Sejak kapan ada wanita bernama Rita dalam hidup gue. Wita, namanya.”
“Ahh.. iya. Apa kabar dia?”
“Sudah putus sebulan yang lalu. Sekarang sedang jomblo.”
“Ada wanita yang diincar?”, tanya Arya lagi. Sebenarnya dia hanya ingin basa - basi.
Di dunia ini, Arya lah yang paling tidak tertarik dengan hubungan percintaan atau urusan orang lain.
“Benar kamu ingin mengetahuinya?”, Erick mendadak formal.
“Siapa? Di kantor, orangnya?”, tanya Arya.
“Hm. Bagaimana dengan Suci? Aku dengar dia menyukai dan mengejarmu. Dia bahkan blak - blakkan sekarang mengatakannya di area divisi kami.”, Erick malah mengalihkan pembicaraan.
“Kenapa tiba - tiba jadi membicarakan Suci. Aku tidak tertarik dengannya. Jika dia wanita yang kau sukai, ambil saja.”, kata Arya. Dia sudah berbalik menuju area gedung apartemen Erick. Tinggal beberapa km lagi, dan dia sampai.
“Bagaimana dengan Dinda? Dia cantik, baik, dan polos….”, Erick masih ingin melanjutkan omongannya, tetapi Arya malah mengerem tiba - tiba.
“Kenapa?”
“Oh? Seperti ada sesuatu di depan.”, ujar Arya berbohong.
“Hah? Masa sih? Jangan menakuti, Arya. Area sini sepi.”, kata Erick malah panik. Area menuju apartemennya memang lebih sepi jika melewati jalur yang dipilih Arya sekarang. Tapi, dari segi waktu malah lebih cepat.
“Gak usah panik. Mungkin salah lihat.”, ujar Arya.
Dia segera melajukan mobilnya memasuki area gedung apartemen Erick.
“Sudah, turun sana. Aku mau pulang.”, ujar Arya mendadak jutek.
“Kenapa semakin malam, lo menjadi semakin galak? Ya.. sudah. Thanks, pak Arya yang baik hati. Hati - hati di jalan.”, ujar Erick pada Arya.
Arya langsung melajukan mobilnya ke luar dari apartemen.
“Ada apa dengan Erick? Apa dia bercanda? Dinda? Kenapa dia malah tiba - tiba menyebut nama internnya? Dasar pria tidak normal.”, ujar Arya marah - marah tidak jelas di dalam mobilnya.
“Kenapa kepala divisi Digital belum juga ketemu, sih? Membuat pekerjaanku makin banyak saja.”, gerutu Arya.
Malam semakin larut. Jam sudah menunjukkan pukul 10 lewat dan dia masih juga belum sampai di rumah. Jalanan sudah mulai lancar. Arya berharap bisa pulang dengan cepat.
__ADS_1