Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 249 Obrolan Ringan edisi Bucin Bagian 1


__ADS_3

“Apa hubungannya?”


.


.


.


“Aku ingin kamu lebih percaya diri untuk menunjukkan presensimu di depan siapapun. Din, istri saya sekarang adalah kamu. Bukan orang lain. Mereka tidak berhak menilai kamu. Saya yang berhak karena saya suami kamu. I valued you more than anyone else in my life.”


Mendengar perkataan itu, Ibas langsung meliukkan badannya geli.


‘Cringe’, pikirannya.


Sebucin - bucinnya mas Arya, dia ga pernah dengar kakaknya itu mengatakan hal - hal seperti itu. Ibas juga mengutuk jiwa refleksnya yang langsung bereaksi dan membuat kehadirannya diketahui oleh Arya. Terkadang dia harus mengontrol sifat ingin tahunya ini.


“Ibasssssssss.”, teriak Arya yang level emosinya langsung naik ke puncak.


Sifat manja Arya memang manis, tetapi kesabaran dan kemarahannya untuk hal yang seperti ini setipis tissue. Kalau bisa dibuat animasi, mungkin wajah Arya sudah memerah seperti tomat karena menahan marahnya sekarang.


Ibas yang panik langsung berbalik arah ke belakang dan berlari sekencang - kencangnya. Beberapa kali dia hampir terpeleset karena menggunakan sendal rumah dengan motif berbulu. Sudah berkali - kali mamanya mengatakan jangan menggunakan tipe sendal seperti itu karena bisa dengan mudah membuatnya terjatuh.


Sekarang Ibas baru tahu apa yang dimaksud mamanya.


Arya bahkan tak segan - segan mengejarnya sampai keluar kamar dan memburunya sampai ke kamar Ibas.


"Hah - hah - hah.", deru nafas Ibas karena takut tertangkap membuat nafasnya memburu.


Ibas yang panik menjatuhkan sekantong pop cornnya malam itu.Padahal, dia rela memasak pop corn tanpa bantuan Bi Rumi malam - malam karena takut menggangunya yang sudah beristirahat.


Takut akan serangan Arya, Ibas merelakan pop cornnya dan lanjut berlari kencang ke kamarnya. Tepat saat Ibas masuk kamar dan menguncinya, Arya langsung sampai di depan pintu. Pria itu langsung menggedor - gedor pintu kamar Ibas.


“Ibas.. keluar kamu. Wah.. Ibas... sini... kamu berani nguping, tapi gak berani buka pintunya sekarang? Ayo, mas kasih kesempatan kedua untuk kamu nguping.”, kata Arya emosi.


Arya menyisir rambutnya ke belakang dengan tangan. Tubuhnya gerah setelah berlari mengejar tercintanya ini. Bahkan, dia harus melepas sendal rumahnya agar kecepatan larinya lebih kencang.


Dia bahkan harus membersihkan beberapa buah pop corn yang menempel dikakinya akibat ulah Ibas. Entah siapa yang akan membersihkan kekacauan itu sekarang. Ibas sudah menjatuhkan sekantong besar pop corn cokelat dan mentega keju penuh di lantai depan kamar Dinda dan Arya.


Tempat itu juga baru saja dipasang karpet baru oleh mamanya karena dinilai terlampau kosong disana. Entah bagaimana nasib adiknya itu sekarang.


“Ampun mas Arya. Aku minta maaf. Aku ga denger apa - apa kok, mas. Beneran. Mas Arya gak percaya sekali sama aku. Aku hanya mendengar samar - samar, itu juga tidak jelas kalimatnya. Aku tidak mendengar full jadi tidak mengerti apa yang mas Arya ucapkan.”, ujar Ibas panik.


“Ga dengar apa - apa, tetapi kamu bisa menyahut. Itu dimana bagian gak dengarnya? Coba jelaskan ke mas. Makanya sekarang, kamu buka pintu dan jelaskan pada mas. Apa benar kamu tidak dengar apa - apa?”, aura gelap Arya bahkan bisa menembus pintu.


Dia sudah berbicara dengan nada pelan sekarang dengan tempo yang membuat Ibas bukannya semakin tenang tetapi malah semakin merasa ketakutan.


“Fuh… dia kakak aku apa bukan sih. Kenapa masih bikin merinding begini. Gak heran aja orang kantor pada takut sama dia semua. Si Dinda bisa meluluhkan model kulkas 9 pintu macam begini hebat juga. Salut, Din.”, ujar Ibas yang melihat bulu romanya berdiri.


"Wah... lihat ini, bulu romaku bahkan juga ikut berdiri.", kata Ibas sambil mengangkat tangannya.


Padahal dia sudah mengunci pintu tapi tetap saja takut kalau - kalau kakaknya itu berhasil mendobraknya.


"Dia tidak mungkin nekat mendobraknya, kan? Pintu ini kan mahal, mama pasti marah kalau sampai rusak lagi.", kata Ibas.


Mamanya pernah mendobrak pintu ini karena Ibas tidak keluar - keluar kamar dua hari. Ternyata dia sibuk dengan gamenya, tidur, dan kemudian menggunakan headset. Mamanya sudah panik kalau - kalau terjadi apa - apa pada puternya.


Ibas bahkan sudah mempersiapkan makanan di kamarnya. Dia punya kulkas dan dispenser pribadi sendiri di dalam kamarnya. Hanya saja, sejak kejadian itu, mamanya tidak memperbolehkan lagi barang - barang itu ada disana. Karena Ibas jadi tidak keluar kamar dan membuat seisi rumah khawatir.


“Ampun mas. Safa sama Samawa lagi tidur, loh. Nanti mba Andin ngamuk.”, ujar Ibas mencoba mencari alasan lain.


“Keluar ga. Mas sudah panggil kamu baik - baik, ya. Tapi kamu tidak mau keluar juga. ”, kata Arya masih memanggil adiknya yang mengunci pintu dari dalam.


“Ampun mas. Aku beneran gak sengaja. Mas Arya ga percayaan banget deh.”, ujar Ibas masih merinding karena kakaknya masih berada di depan pintu dan tidak menyerah.


‘Popcorn nya juga sudah tumpah semua lagi.’, sesal Ibas saat melihat video game yang dia mainkan sudah dimulai.


Semua member sudah join dalam game tersebut dan memanggil - manggil dirinya. Lebih tepatnya ID milik Ibas. Namun, Ibas terlalu takut untuk meninggalkan pintu kamarnya tanpa penjagaan.


“Keluar ga! Satu. Dua. Kalau sampai 10 mas Arya hitung dan kamu belum keluar juga, mas Arya akan membatalkan perjanjian transaksi game console kita waktu di rumah sakit.”, ujar Arya mencari - cari topik untuk bisa membujuk adiknya segera keluar dari kamar dan berbicara dengannya.


Arya kemudian teringat pada transaksi mereka di rumah sakit tempo hari. Ibas main dan menginap di apartemennya, saat itu adiknya menginginkan game console yang dia simpan disana.


‘Oh? Bukannya itu memang sudah batal, ya. Apa dia lupa ingatan? Atau dia sengaja sedang mengerjai dan memancingku untuk keluar?’, Ibas berpikir dalam hati.


'Jangan, mas Arya kan licik. Dia juga sangat amat teliti. Baju dan barang branded milik dia hilang satu aja dia ingat. Apalagi cuma perkara game console yang cuma ada satu di apartemennya. Barang unlimited pula.', Ibas terus menganalisa sikap dan perkataan Arya dalam hati.


“Benar kamu tidak tertarik? Enam. Tujuh. Kamu benar - benar tidak tertarik dengan game console itu? Kemarin Dito juga menanyakannya pada mas dan dia nampak sangat tertarik dengan game itu.”, Arya memberikan pancingan selanjutnya, sambil berharap adiknya memakan pancingan itu.


“Mas Arya bilang deal itu sudah cancel alias di-BATAL-kan karena aku tidak bisa menjaga rahasia ke mama. Kenapa sekarang tiba - tiba mengungkitnya lagi. Mas Arya sedang menjebak aku, ya?”, Ibas mencoba mengingatkan Arya tentang deal - deal-an mereka berdua.


“Ah.. mas baru ingat.”, ujar Arya berpura - pura lupa ingatan kemudian tiba - tiba mengingatnya kembali. Bahkan untuk bisa membuat Ibas percaya dengan aktingnya, dia menambahkan beberapa nada agar itu tampak real.


Sayangnya, belum ada pergerakan dari dalam.

__ADS_1


‘Kenapa bocah itu tidak terkena pancingannya, sih.’, pikir Arya dalam hati.


Arya mengepalkan tangannya berusaha untuk berpikir taktik yang lain.


'Apa aku harus mengiming - iminginya outfit milikku? Ah tidak.. disini kan dia yang salah, kenapa aku malah menghadiahkannya barang?', Arya hampir saja salah langkah.


“Baiklah. Sembilan. Mas tidak akan mengulangi hitungan. Sekalinya hitungan sampai sepuluh, mas tidak bisa menjamin game console itu bisa jatuh ke tangan kamu.”, ujar Arya sengaja memperlambat hitungannya.


“Tu-tu-tu-tunggu, Mas Arya. Tunggu dulu. Buru - buru sekali. Memangnya mau mengejar apa sih?”, Ibas berteriak menghentikan hitungan kakaknya.


Disatu sisi dia takut diberi pelajaran oleh kakaknya, disisi yang lain dia juga tidak ingin kesempatan untuk mendapatkan game console unlimited melayang begitu saja. Apalagi saingannya Dito. Ah... dia tidak bisa membayangkan jika sepupunya itu yang mendapatkan, bagaimana rencana pamernya nanti pada Ibas.


'Huh, mengesalkan. Setiap kali dia pamer, itu bisa membuatku gila.', ujar Ibas.


“Mas Arya benar mau membuka deal itu lagi?”, tanya Ibas memastikan.


Walau bagaimanapun, lawan dealnya adalah Arya Pradana, pria yang bisa menanjak naik ke posisi senior management hanya dalam waktu singkat.


“Hm.. asal kamu mau membuka pintu.”, ujar Arya kembali mengingatkan Ibas pada perjanjian mereka yang sebenarnya.


Ibas nampak berpikir sebentar. Dia melakukan berbagai jenis kalkulasi di kepalanya.


‘Heh.. apa yang harus aku lakukan. Menyerahkan diriku kemudian dapat game console edisi terbatas yang sudah tidak ada lagi atau membiarkan game console itu berlumut di apartemen mas Arya? Ah.. kemarin waktu main sepertinya sangat seru dan UX nya juga bagus.’, Ibas berpikir keras.


Sekarang dia masuk dalam dilema. Di satu sisi game console + kemarahan mas Arya, dan di sisi lain tidak dapat game console dan besok kalau bertemu mas Arya, dia pasti akan tetap dimarahi. Kakaknya itu tidak mudah lupa.


“Sepu—----”, Arya terdengar seperti akan mengakhiri hitungannya.


“O-o-oke.”, Ibas kemudian membuka pintu dengan cepat. Bahkan hanya dalam hitungan detik saja, dia sudah berada di hadapan Arya. Sekarang tanpa pembatas apapun. Ibas memejamkan matanya menanti apa yang akan dilakukan Arya padanya dengan takut - takut.


“Sini, kamu. Usil luar biasa ya kamu Ibas. Kenapa masuk ke kamar orang diam - diam? Memangnya mas ajarkan untuk masuk diam - diam.”, kata Arya yang dengan cepat langsung menarik telinga adiknya.


“Aa.. aaa.aaa…ma-ma-mas Arya…aaa…aaa..aa sa-sa-kit, mas. Ma-mas…”, Ibas langsung berjinjit karena selain telinga, Arya juga menarik sebagian rambut Ibas yang berada di dekat telinganya.


‘Hah… harga game console itu sepertinya sangat mahal, sampai - sampai aku harus berkorban banyak seperti ini.’, ujar Ibas sudah tidak bisa menahan sakitnya.


“Di dalam juga ada Dinda. Kalau cuma mas sendiri gapapa. Tapi ada istri mas, loh. Kalau dia gak nyaman gimana? Gak sopan, bas seperti itu.”, Arya masih lanjut memarahinya.


“Ma-maaf mas Arya… aku kira tadi ada maling. Soalnya di dalam remang - remang. Sudah malam, pintunya juga ga ditutup. Balkon juga masih kebuka. Beneran mas, serius. Lagian, makanya kalau mau ngapa - ngapain, pintu ditutup napa? Memang gak bosen apa, ke-gap aku terus.”, papar Ibas.


“Masih menjawab kamu, ya.”, Arya kembali menarik sebagian rambut milik Ibas sampai dia berteriak lagi.


“Ya… mas Arya bertanya, masa gak dijawab.”, Ibas masih menjawab satu per satu komentar kakaknya.


“Game consolenya jadi kan, mas? Aku sudah rela diperlakukan begini, loh.”, lanjut Ibas yang memang keluar hanya demi game console.


“Masih ga sadar juga?”, tanya Arya tidak percaya pada adiknya. Disaat seperti inipun dia belum mengerti ucapan kakaknya dan malah menanyakan game console lagi.


Arya masih menatap Ibas untuk memastikan apakah adiknya itu paham maksudnya.


“Iya.. iya.. Besok - besok aku gak akan nyelonong ke kamar mas Arya lagi. Tapi beneran, tadi aku kira ada maling.”, Ibas masih berusaha menjelaskan situasinya. Bagian ini tidak salah, sih. Awalnya memang begitu.


“Trus, kenapa gak langsung pergi setelah tahu gak ada maling? Tapi kamu malah nguping?”, tanya Arya masih tidak percaya.


“Ya.. mau bagaimana.. Aku kan paling gak bisa kepo. Ngomong - ngomong, bisa aja mas Arya..”, kata Ibas kemudian malah mulai mengagumi perkataan kakaknya tadi. Padahal tangan Arya masih ada di rambutnya dan siap menariknya lagi.


Ibas mulai membahas perkataan Arya tadi pada Dinda.


“Sudah.. Mas mau tidur. Awas, ya. Mas lihat kamu nguping lagi.”, kata Arya memperingatkan adiknya.- Dia tidak mau membahasnya karena ada sedikit rasa malu disana. Biasanya Arya kan selalu terlihat cool dan dingin. Jarang sekali terlihat lembut dan hangat.


“Iya.. iya.. Eh tapi mas, ajarin dong gimana caranya bisa bicara seperti tadi.”, lanjut Ibas setelah kakaknya sudah menarik tangannya dari rambutnya.


“Masih ngeledekin mas, kamu ya.”, kata Arya yang tangannya sudah berencana untuk kembali menjewer adiknya.


“Ah.. tu-tunggu.. Mas.. Aku ga ngeledekin. Aku bertanya beneran.”, balas Ibas sambil menggerakkan telapak tangannya di depan Arya untuk menyangkal plus agar kakaknya tidak lagi menarik rambutnya.


Arya memandang adiknya penuh telisik. Seolah mencari apakah dia berkata benar atau tidak.


“Benaran.. Gak percaya banget. Aku mau belajar gimana caranya bisa ngomong seperti itu kepada seorang wanita.”, ujar Ibas. Mimik wajahnya serius dan tidak ada kebohongan disana. Sepertinya dia benar - benar serius, pikir Arya.


“Heh.. Ibas. Kamu bicara seolah mas merayu Dinda dengan mengeluarkan kata - kata manis seperti tadi.”, Arya tak terima jika perkataannya tadi dianggap rayuan.


“Hn. Bukannya itu tujuan mas? Merayu. Biar Dinda luluh. Dan mas mendapatkannnya. Dinda terlihat luluh tadi meski aku hanya melihatnya dari belakang. ”, kata Ibas.


Sekarang pembicaraan mereka malah lebih terlihat seperti orang yang sedang berdiskusi serius persoalan CINTA. Arya tak percaya dia harus menjelaskan hal ini pada adiknya.


“Hal inilah yang menjadi alasan kenapa kamu selalu gagal mendekati seorang wanita. Gak heran juga kalau setiap kali pacaran, kamu yang selalu diputusin.”, kata Arya.


“Kenapa? Karena aku tidak bisa mengeluarkan kata - kata yang bisa meluluhkan hati wanita seperti mas Arya?”, tanya Ibas yang masih belum mendapatkan poin dari kata - kata Arya sebelumnya.


Arya hanya menggeleng - gelengkan kepalanya.


“Say something you mean it. Perlu kamu tahu, Mas gak pernah bicara serius hanya untuk merayu terutama untuk orang seperti Dinda, istri mas. I mean it.”, kata Arya dengan tegas.

__ADS_1


Ibas nampak seperti orang yang sedang mencerna perkataan seseorang. Dia mengulangi kata - kata yang diucapkan oleh Arya barusan.


'I mean it. Tulus? Apa itu yang dimaksud mas Arya. Bukan merayu, tapi tulus.', kata Ibas di dalam pikirannya mencoba menjabarkan penjelasan dari kakaknya.


“Udah…ah.. Mas mau tidur. Game console nya mas potong harga 50%”, lanjut Arya sebelum berlalu dari sana.


“Lah? Kok dijual? Bukan dikasih cuma - cuma?”, teriak Ibas.


Arya tidak menghiraukannya. Langkahnya sudah hampir hilang dari koridor kamar Ibas.


“Heh… Ibas… bisa diam ga sih? Udah jam berapa ini.”, tiba - tiba Andin keluar dari kamarnya.


Dia hanya mendapati Ibas disana dan langsung memarahi adiknya. Sayup - sayup mendengar itu, Arya langsung mempercepat langkahnya. Dia tidak mau berurusan dengan kakaknya.


“Maaf mba.”, kata Ibas menunduk.


‘Malam ini kenapa sih? Mau nge-game kayanya susah banget. Udah diomelin barusan. Sekarang diomelin lagi. Kenapa aura dingin dan seramnya papa harus mengalir ke dua orang ini sih? (ngomongin Andin dan Arya). Kaya aku dong, manis, supel, cute, kaya mama. Mana popcorn nya jatuh lagi.’, Ibas mendadak lesu melihat pop-cornnya sudah tersebar di lantai.


“He-eeeh.. Kamu ini. Itu pop-corn kamu jatuhin di lantai ga dibersihin? Banyak semut nanti mama ngamuk, loh. Bersihin cepat.”, kata Andin dengan nada super galak.


“Iyaaaaa… galak amat. Yang satu pelit, yang satu galak.”, Ibas ngomel - ngomel sendirian.


Di kamar Arya


Arya masuk kembali ke kamarnya dan sekarang dia langsung menguncinya. Dia tak melihat lagi Dinda di kasur. Pintu balkon juga sudah tertutup karena sudah larut malam. Sepertinya Dinda sudah menutupnya, pikir Arya.


Sayup - sayup terdengar suara dari kamar mandi.


“Kamu ngapain?”, tanya Arya.


“Oh,,, bikin kaget aja.”, ujar Arya yang mendapati Dinda dengan maskernya keluar dari dalam kamar.


Arya langsung terkejut melihatnya. Dia bukan tipe penakut, tapi yang barusan seperti jumpscare.


“Memangnya aku menakutkan?”, kata Dinda.


“Engga - engga.. Cantik. Hm.. cantik, kok. Sayang, kamu belum mau tidur?”, tanya Arya gantian masuk ke kamar mandi.


“Iya, habis melepaskan masker ini, aku langsung tidur. Mas Arya apain Ibas?”, balas Dinda. Dia sedikit khawatir pada adik iparnya.


“Kasih sedikit pelajaran. Hah.. dia main nguping - nguping aja.”, ujar Arya tidak jelas karena dia sudah mulai menyikat giginya.


“Ibas suka sama Delina.”, kata Dinda menjatuhkan dirinya di atas sofa sembari menunggu Arya selesai bersih - bersih di kamar mandi.


“Delina siapa?”, tanya Arya berbicara sesekali sambil menyikat giginya.


“Delina, teman sekantor aku yang duduk di sebelah kiri aku.”, jelas Dinda yang berbicaranya harus tertahan - tahan karena sedang mengenakan masker di wajah.


“Hn.”, dari nada suaranya, dia nampak tak tertarik.


Dia tidak tertarik dengan pembicaraan ini jadi hanya berdehem saja.


“Hm.. mas Arya, tentang senam hamil itu..”, Dinda mengganti topiknya karena Arya nampak tak bersemangat membahas tentang drama percintaan Ibas. Padahal Dinda kira dia tertarik.


“Aku akan mendaftarkannya sekarang.”, ujar Arya kemudian berkumur dan mencuci wajahnya sebentar. Dia lalu menyeka air di wajahnya dengan handuk. Mematikan lampu dan menutup pintu kamar mandi.


“Mas Arya tidak keberatan? Kalau keberatan gapapa, kok. Nanti aku daftar sendiri saja.”, ujar Dinda ikut berjalan saat Arya memberinya kode untuk naik ke kasur.


“Siapa yang keberatan? Aku belum registrasi karena belum sempat, bukan karena keberatan. Jangan salah paham.”, ujar Arya berbicara dengan manis bahkan menyentil hidung Dinda dengan jarinya.


“Maskernya belum selesai?”


“Sudah.”, ujar Dinda melepaskan masker, menepuk - nepuk wajah sebentar dan membuang maskernya ke tong sampah yang tersedia di samping nakas.


“Sini.”, kata Arya menepuk - nepuk dadanya.


“Mau ngapain?”, Dinda nampak waspada.


“Mau senam.”, jawab Arya kesal.


“Galak banget.”, balas Dinda yang kemudian mengikuti perintah Arya.


“Mau obrolan berat dulu atau ringan dulu?”, tanya Arya.


Dinda bangun untuk memperlihatkan ekspresi herannya pada Arya.


“Sini.”, kata Arya menepuk - nepuk dadanya agar Dinda bersender disana.


“Mau yang mana?”, tanya Arya lagi.


Suaranya baritonnya datar. Seksi kalau di dengar di dalam kamar. Tapi mengerikan kalau di dengar di kantor.


“Hm.. berat dulu.”, ujar Dinda.

__ADS_1


Arya nampak mengangguk - angguk.


__ADS_2