Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 67 Kissmark


__ADS_3

“Din, kamu mau ngopi bareng di bawah ga?”, ajak Delina pada Dinda.


“Engga mba. Aku disini aja. Masih ada beberapa pekerjaan yang belum selesai”, Dinda menolak halus ajakan itu.


Sore hari sekitar jam 3, adalah waktu yang tepat bagi beberapa konco - konco seperti Suci, Andra, dan Bryan untuk ngopi bareng. Apalagi sekarang mereka mendapatkan surga baru di kantor. Sehingga, tidak perlu jauh - jauh ke mall hanya untuk ngopi.


Dinda juga sering ikut mereka jika diajak. Tetapi, sekarang dia tidak mood untuk bersosialisasi. Dinda hanya ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan pulang ke rumah. Berhubung besok adalah hari libur, Dinda tak ingin menumpuk pekerjaan yang hanya akan membuat dirinya di hubungi saat akhir pekan.


Sementara itu di Cafe…


“Gue ada yang mau diomongin, tapi kalian jangan judge gue, ya.”, kata Suci pada rekan kantornya yang sudah berkumpul di Cafe.


Disana ada Bryan, Delina, Andra, dan dua orang MA baru yang menjadi junior Suci.


“Kenapa lo? Mau gosipin Dinda lagi?”, tanya Andra langsung to the point pada Suci.


“Ih.. kok lo bisa tahu?”, Suci kaget bukan main, Andra seperti sudah membaca pikirannya.


“Siapa lagi beberapa hari ini yang kamu gosipkan kalau bukan Dinda.”, kata Andra.


“Ga baik tahu Din. Dia kan se-geng sama kita. Masa kamu gosipin, di depan dua MA baru lagi.”, Bryan masih saja bersikap netral.


“Yaelah, kalau ke orangnya langsung mah namanya bukan gosip. Labrak.”, kata Suci lagi.


“Nggak ah, gue ga mau ikutan. Gue balik aja.”, kata Bryan berdiri sambil mengambil kopinya. Sebenarnya pesanan mereka sudah selesai, namun mereka masih ingin nongkrong sekitar 10-15 menit lagi. Suci juga baru saja menambah pesanannya.


“Eh eh eh.. Tunggu dulu. Kamu akan berubah pikiran setelah mendengar ini. Percaya, deh. Ada Delina juga sebagai saksinya.”, kata Suci menarik tangan Bryan yang sudah mau ngacir.


Meskipun penampilannya urakan dan seperti cowok brengsek, tapi Bryan adalah tipe yang setia kawan. Dia paling anti membicarakan orang lain apalagi itu teman nongkrongnya. Jika ada unek - unek, dia adalah tipikal yang akan berbicara langsung.


“Intinya tetap ngomongin Dinda kan? Heh, Andra, lo gimana sih, katanya naksir sama Dinda. Tapi, dengar Suci mau gosipin, lo iya iya aja.”


“Ya.. kan gosipnya berguna buat langkah gue selanjutnya. Lagian ini tuh bukan gosip. Kan ada Delina saksinya.”, kata Andra.


“Gue balik aja.”, Bryan tetap bersikukuh dengan pendiriannya. Ia mengambil kopinya yang sudah siap dan pergi meninggalkan yang lain.


“Kalian tahu Dinda ga?”, kata Suci pada kedua junior MA yang dibawanya. Satu orang ditempatkan di salah satu divisi team Business and Partners. Sedangkan satu lagi akan menjadi MA di divisi IT.


Keduanya menggeleng.

__ADS_1


“Ya udah kalau gitu dengerin aja.”, kata Suci.


“Jadi, tadi waktu di Musholla, gue …”


“Hah.. emang lo shalat, Ci? Bukannya lo Islam KTP ya?”, belum lagi Suci menyelesaikan kata - katanya, Andra sudah memotong.


“Gue lagi cuci kaki, kaki gue lecet kena sepatu baru. Adanya kan toilet kering, jadi gue cuci kaki di Musholla. Lagian, bisa gak sih ga motong? Merusak suasana aja.”, ujar Suci dengan nada marah pada Andra.


“Ya.. kan gue mau memvalidasi berita dari lo. Ga biasanya lo ke Musholla. Kalo Delina mah gue percaya.”, kata Andra to the point.


“Trus, di Musholla, gue ketemu Dinda lagi wudhu. Dia kan lepas hijab tuh…”


“Gimana? Lebih cantik ga, Ci kalo Dinda lepas hijab? Rambutnya panjang ato pendek, kulitnya?”


“Ih apa - apaan sih lo. Cowo - cowo kaya gini nih yang gak perlu dilestarikan. Malu Andra sama dua bocil MA di sebelah kamu. Lemes banget mulutnya. Lagian tuh liat Suci, ngamuk lagi dia kamu potong.”, ujar Delina yang kesal dengan reaksi Andra.


“Lo tanya ama semua cowok. Kita mah pasti lihat yang kaya gitu juga.”


“Lo doang. Cowok gue nggak.”, ujar Delina yang semakin kesal.


“Bisa diam gak berdua? Ini kapan gue ceritanya?”, kata Suci dengan nada jutek.


“Hahaha.. Iya lanjut - lanjut.”, kata Delina.


“Yang bener kamu ci? Digigit nyamuk kali.”, balas Andra. Dua junior MA Suci tidak bisa menyembunyikan ketertarikannya untuk mendengarkan gosip hangat ini.


“Gue tahulah bedanya kissmark ama digigit nyamuk. Lagian pas gue perhatiin lehernya Dinda, dia langsung kaya nutupin pake hijabnya dia. Tanya aja Delina. Dia juga ada disana.”


Pandangan Andra dan kedua junior MA langsung mengarah ke Delina. Seolah mencari konfirmasi atas apa yang sudah dikatakan Suci.


Delina menjawab dengan anggukan.


“Berarti benar dua hari yang lalu, dia ngamar sama cowok di hotel. Tuh, makan cewek munafik yang mau kamu deketin, Andra. Ngakunya sok polos gak punya pacar, gak ngerti ngamar, sok sok kaget pas gue sama mbak Rini mo liburan sama cowok gue. Lah dia sendiri mainnya lebih parah. Lagian ya, gue sama mba Rini liburan bareng cowok, kamarnya juga pisah kok.”, kata Suci semakin menggebu - gebu.


“Lagian nih ya. Gak sekali itu kok gue melihat Dinda. Inget ga, gue pernah bilang, gue ketemu dia di Mall yang notabene jauh sama rumahnya. Itu Mall menyatu dengan apartemen. Dia bikin alasan kalau dia lagi staycation bareng teman - temannya. Tapi gue ga lihat tuh ada teman - temannya.”, lanjut Suci lagi.


“Makanya Andra, jangan ketipu sama cewek kaya Dinda.”, Suci masih tidak berhenti berbicara.


Seorang pria mendekati meja mereka mengantarkan satu lagi tambahan pesanan Suci.

__ADS_1


“Gak baik loh, ngomongin orang di belakangnya.”, ujar pria itu sambil tersenyum. Dia ada Dimas. Kemarin, dia juga tanpa sengaja mendengar gerombolan ini bergosip di Cafenya. Tak disangka, hari ini mereka masih membicarakan topik yang sama.


“Bukan gosip ini.. Fakta. Thanks, ya.”, kata Suci sambil tersenyum pada pria itu.


“Wah.. gue gak tahu kalau pemilik Cafe akan mengantarkan pesanan juga.”, kata Andra.


“Memang dia pemilik Cafe?”, tanya Suci terkejut.


“Kan gue pernah liatin waktu itu IG nya? Lo ga ada ya?”, jawab Andra. Ia kemudian membuka kembali hapenya dan menunjukkannya pada Suci.


“Pantesan auranya beda banget.”, Suci mencuri - curi lirik pada Dimas yang tadi mengantarkan pesanannya.


“Gue masih gak percaya kalau Dinda seperti itu.”


“Kalo masih penasaran, lo tanya aja sendiri. Tapi jangan bilang infonya dari gue, ya.”, kata Suci pada Andra.


*****


To: Wife 


Din, kamu balik jam berapa?


To: Abang Ojol (Nama kontak Arya di ponsel Dinda) 


Jam 5.


To: Wife


Saya masih lama. Gapapa kamu pulang sendiri? Saya telpon pak Cecep ya.


To: Abang Ojol


Ga usah mas, saya order ojek online aja, lebih cepat.


To: Wife 


Ya udah. Sampai ketemu di rumah.


To: Abang Ojol 

__ADS_1


Iya


Meskipun Pillow Talk kemarin berhasil menyelesaikan permasalahan mereka, tetapi komunikasi Arya dan Dinda masih sulit untuk melebur seperti sebelumnya. Arya sadar bahwa satu hari adalah waktu yang singkat. Mungkin dia perlu memberikan ruang gerak pada Dinda agar dia bisa kembali nyaman bersamanya.


__ADS_2