Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 162 Couple Time


__ADS_3

“Din, sini ikut saya ke ruang kerja. Saya mau bicara.”, kata Arya saat Dinda sudah kembali ke kamar.


‘Saya’, kalau Arya sudah mengatakan kata ‘Saya’, itu berarti ada hal serius yang ingin dia bicarakan. Sekarang, Dinda jadi deg - deg-an, ada masalah apa? Kenapa tiba - tiba Arya memanggilnya.


“Boleh saya izin minta kamu buka ponsel kamu? Tadi, tanpa sengaja saya lihat chat yang aneh disana.”, ujar Arya.


‘Chat? Chat apa yang dimaksud mas Arya.’, pikir Dinda heran.


Dinda mengambil ponselnya di atas meja Arya dan membukanya. Dia tidak melihat lagi ponselnya dan langsung menyerahkannya pada Arya.


“Ini. Kenapa kamu tidak beritahu saya tentang chat ini?”, tanya Arya.


‘Ooh.. chat itu. Aku kira chat apa.’, kata Dinda dalam hati.


“Hm.. mas Arya melakukan apa yang dikatakan orang itu?”, tanya Dinda pelan.


“Tentu saja tidak.”, jawab Arya datar.


“Ya sudah. Lalu kenapa dengan chat itu kalau mas Arya tidak melakukannya.”, ucap Dinda.


“Kamu tidak terganggu dengan chat ini? Dia juga telepon kamu loh pagi - pagi.”, ujar Arya.


Dinda menggeleng.


“Untuk apa merasa terganggu? Kalau hal seperti itu benar terjadi, pasti dia sudah menemui aku. Tidak mengirimkan pesan seperti itu.”, ujar Dinda terlihat sangat tenang.


“Hm.. “, Arya mengangguk - angguk paham sekaligus bingung dengan reaksi Dinda.


Dalam hati dia merasa sangat tenang jika Dinda bisa berpikiran dewasa seperti itu. Tapi ada rasa tidak nyaman dalam hatinya.


“Kamu… kamu gak takut aku selingkuh?”, Arya tahu pertanyaannya adalah pertanyaan bodoh. Tapi entah kenapa dia ingin sekali mengajukan pertanyaan ini. Jawaban Dinda barusan membuat dia tenang sekaligus takut. ‘Apa Dinda benar - benar mencintaiku?’, terbersit pikiran seperti ini juga saat mendengar jawaban Dinda.


“Mas Arya mau selingkuh?”, kata Dinda sedikit menaikkan nada bicaranya karena mendengar pertanyaan Arya.


“Ya.. enggaklah. Selain kamu…eemm..aku…hm… aku mana punya waktu untuk itu.”, Arya sebenarnya ingin mengatakan kalau ‘selain kamu itu sangat berharga buat aku, aku juga sama sekali tidak tertarik dengan wanita lain’. Tapi, dia gengsi mengatakannya dan malah menyebutkan alasan lain.


“Jadi, mas Arya mau selingkuh tapi gak ada waktunya?”, kata Dinda  berdiri di depan meja Arya.


Arya mengitari mejanya dan mendekat pada Dinda. Dia memainkan rambut gadis itu sebentar. Dinda menggulung rambut pirangnya ke atas, namun beberapa helai rambut terjatuh ke bawah karena aktivitas merawat tanaman tadi.


“Kamu mungkin ga sadar. Tapi tidak semudah itu membuat aku jatuh cinta.”, ujar Arya dengan suara baritonnya.


Dinda melihat ke atas karena perbedaan tingginya dengan Arya. Melihat gadis itu kesulitan, Arya mengangkat Dinda ke sofa di ruang kerjanya agar tinggi mereka kurang lebih terlihat sejajar. Meski akhirnya dia yang sedikit mendongak ke atas karena posisi Dinda jadi sedikit lebih tinggi.


“Terus siapa yang bikin mas Arya jatuh cinta?”, tanya Dinda tersenyum jahil.


“Kamu benar - benar tidak tahu jawabannya atau hanya mengetes saja?”, tanya Arya memeluk istrinya.


“Hem.. siapa tahu jawaban mas Arya berbeda sekarang.”


“Hm, aku jadi rindu Dinda yang dulu. Mana berani kamu menatap aku selama ini dulu.”, ujar Arya.


“Ya sudah.”, Dinda turun dari sofa dan berjalan menuju pintu.


Arya menarik lengan gadis itu masuk ke dalam jangkauannya dan menciumnya. Kali ini lebih lama dari sebelumnya. Dinda menaruh kedua tangannya di pinggang Arya. Arya melepas sebentar ciumannya. Dinda kira sudah selesai, namun baru saja Dinda mengambil tiga sampai 4 kali nafas, Arya kembali menempelkan bibirnya di bibir Dinda.


“Kamu dapat pesan dari siapa?”, tanya Ibas pada Dinda di ruangan terbuka di sebelah kamar Arya dan Dinda. 


“Gak tahu. Orang tidak dikenal. Dia bilang istrinya selingkuh dengan mas Arya dan memintaku untuk menghentikan mas Arya.”, jelas Dinda. 


“Hah.. gila! Jangan bilang kamu percaya.”, ujar Ibas. 


“Anehnya, aku tidak mempercayai orang itu.”, jawab Dinda jujur. 


“Anehnya?”, tanya Ibas memastikan kata - kata yang dia dengar dari Dinda. 


“O-oh? Anehnya? Seharusnya kamu menjawab dengan ‘Tentu saja.’, kenapa kamu malah heran kalau kamu tidak mempercayai hal itu?”


“Pria dan wanita itu berbeda. Kamu mungkin bisa langsung berpikir dengan semua logika yang kamu punya bahwa itu tidak mungkin. Tapi aku wanita. Seharusnya aku merasa curiga karena aku lebih banyak berpikir dengan perasaan.”, jelas Dinda. 


“Lalu, kamu heran karena ternyata malah sebaliknya? Hah.. membuatku pusing saja. Setidaknya kamu tidak percaya. Lagian, mana ada waktu mas Arya untuk selingkuh.” 


“Tapi, siapa ya yang bersusah payah melakukan ini? Aku tidak terlalu penasaran sih, tapi aku hanya ingin memastikan kalau bukan mba Sarah yang melakukannya.” 


“Hah.. dia mana main hal - hal seperti ini. Tapi, kamu ga diganggu sama dia lagi kan?”, tanya Ibas. 


Dinda menggeleng. 


“Aku terakhir bertemu dengannya di bandara. Setelah itu aku sudah tidak pernah melihatnya lagi.”, jawab Dinda. 


“Hem.. semoga saja dia benar - benar melepaskan mas Arya seperti mas Arya sudah melepaskannya.”, kata Ibas. 


‘Hah, bikin khawatir saja. Waktu terakhir mama bertemu di rumah sakit sepertinya mba Sarah berlaku sebaliknya.’, pikir Ibas dalam hati. 


*******


“Kamu yakin sudah memastikan merek susu yang bagus ke dr. Rima?”, tanya Arya pada Dinda yang masih bingung saat melihat deretan susu untuk ibu hamil.


“Sudah, dr. Rima sih tidak spesifik harus merek tertentu, tapi dia merekomendasikan beberapa. Jadi, aku sedang mempertimbangkan antara yang ini, ini dan ini.”, kata Dinda sambil menunjuk merek susu yang dilihatnya.


“Ya sudah, beli saja semua. Nanti kalau tidak cocok, bisa langsung ganti.”

__ADS_1


“Mas, tapi kan harganya mahal masa mau beli semua?”, kata Dinda.


Kehidupan Dinda bisa dibilang meningkat lebih jauh dari segi finansial setelah menikah dengan Arya. Selain dia bekerja, dia juga mendapatkan belanja bulanan yang tidak sedikit dari Arya. Belum lagi, Arya juga memberinya kartu kredit.


Namun, hingga saat ini, Dinda masih menjaga gaya hidupnya sama dengan saat dia belum menikah dengan Arya. Kecuali untuk beberapa hal yang disarankan oleh Bianca dan ibunya. Apalagi kalau bukan skincare dan outfit.


Untuk outfit, bahkan Inggit juga sering membelikannya jika dia kebetulan bertemu dengan temannya yang memiliki butik.


“Ambil saja tiga - tiganya biar gak pusing.”, kata Arya mengambil ketika merek susu yang tadi disebutkan Dinda.


Dinda hanya bisa terdiam. Jika orang yang bayar sudah mengatakan begitu, Dinda tak punya pilihan lain selain mengikutinya.


“Oke, sekarang selanjutnya adalah buah. Aku baca di internet, ada beberapa buah tertentu yang harus kamu makan supaya janinnya tumbuh dengan sehat. Bi Rumi sudah kehabisan stok dan sepertinya dia baru belanja lagi hari Rabu. Jadi, kita beli sekarang. Aku yang nanti akan membuat jusnya.”, kata Arya tiba - tiba.


“E-eh? Mas Arya yang mau buatkan jusnya?”, tanya Dinda memastikan.


“Hn. Sejak kamu hamil, aku belum melakukan apapun. Nanti anak kita bisa marah.”, kata Arya dengan nada yang manis.


“Abis ini mau kemana?”, tanya Arya.


“Hm.. terserah mas Arya.”, jawab Dinda.


Berbelanja ke supermarket bersama saja sudah membuat Dinda senang. Jadi dia tidak tahu hal apa lagi yang seru untuk dilakukan.


“Ya udah. Kita nonton aja, gimana? Oiya, nonton boleh ga?”, tanya Arya ingin memastikan. Dia takut kalau nonton malah tidak dianjurkan untuk wanita hamil.


“Boleh kok. Selama genrenya tidak menegangkan dan suasana juga tidak terlalu ramai. Aku mau nonton. Sudah lama rasanya tidak nonton. Sepertinya aku juga belum pernah nonton bareng mas Arya, deh. Terakhir nonton dengan Ibas.”, ujar Dinda.


“Oh, benarkah? Masa sih?”, tanya Arya tidak percaya. Bagaimana mungkin dia tidak pernah menonton ke bioskop sama sekali.


“Hm. kita seringnya nonton di kamar.”, ujar Dinda.


“Tapi lebih seru di kamar, kan? Cuma berdua.”, kata Arya dengan nada menggoda.


“Ih.. apaan sih mas Arya. Pikirannya.”


“Memangnya aku berpikir kemana? Kamu tuh! Maksud aku kalau nonton di kamar berdua lebih leluasa.”


“Nah leluasa buat apa coba, kan mas Arya pikirannya.”


“Leluasa buat minta ini itu ke Bi Rumi. Pop corn, jus, kentang goreng. Leluasa selonjoran, bisa sambil tiduran. Gak ribut. Kalau mau ke kamar mandi dekat. Kamu sih! Pikirannya.”, ujar Arya sambil mengeluarkan senyum liciknya.


Dinda langsung membalas dengan ekspresi pura - pura kesal.


“Kita masukkan belanjaannya ke mobil dulu. Habis itu beli tiket nontonnya. Kita cari yang agak lama aja mulainya. Biar bisa makan dulu. Aku lapar banget.”


“Oke.”, ujar Dinda mengangguk.


“Mas Arya, ini gak kebanyakan?”, Dinda baru menyadari ada beberapa barang yang Arya masukkan dalam jumlah banyak.


“Kamu suka ngemil, kan? Gapapa.”, ujar Arya.


“Eh? Nanti kalau aku gendut, gimana?”, protes Dinda berbisik sambil menarik kaos Arya agar mba kasir tidak mendengarnya.


Dinda memang suka ngemil. Karena itu, dia jarang sekali menyetok makanan itu di kamar agar dia tidak terus menerus memakannya. Arya malah memberikan kesempatan itu padanya.


“Bagus kalau kamu gendut. Berarti bayi kita sehat. Udah baju aku jangan di tarik terus, nanti kedodoran, loh?”, kata Arya.


“Nanti mau beli es krim ga?”, tanya Arya setengah menggoda.


“Mau!”, jawab Dinda girang.


Arya tersenyum mendengarnya. Dinda menepuk punggung Arya pelan karena sadar pria itu sedang menggodanya. Setelah selesai membayar, Arya mendorong trolley menuju parkiran. Dinda merangkul tangan pria itu di sampingnya. Momen seperti ini masih termasuk jarang mereka lewatkan.


Dinda sesekali melihat ke arah Arya sambil tersenyum. Dia masih tidak percaya bisa melewatkan akhir pekan yang hangat seperti ini. Akhir pekan yang padat. Parkiran juga penuh.


“Oke.. semuanya sudah dimasukkan. Sekarang kita ke bioskop. Atau kamu mau nunggu di restoran dulu. Biar aku yang beli tiket nontonnya. Nanti kamu capek.”


“Gapapa kok. Masih kuat.”, ujar Dinda.


“Mau makan dimana? Kamu lagi pengen apa?”, tanya Arya.


“Hm.. mas Arya?”


“Aku ngikut kamu. Biasanya kan kamu yang selalu ngikut aku. Sekarang giliran aku yang ngikut. Kamu lagi pengen makan apa?”, tanya Arya sambil tangannya membenarkan hijab Dinda sedikit. Ada beberapa helai rambut yang keluar.


“Hm.. ramen?”, kata Dinda.


“Boleh.. Kita makan ramen yang di lantai 4? Disana ramennya enak.”, ujar Arya.


“Oooh.. sudah berapa wanita yang mas Arya ajak ke ramen itu?”, tanya Dinda tiba - tiba.


“Banyak..”


“E-eh?”


“Mama, Mba Andin, Fam, tante Indah? Siapa lagi ya…”, ujar Arya sambil bercanda.


“Dasar mas Arya.. “, balas Dinda sambil mencubit kecil pinggang pria itu.


“Eh..cubit - cubit. Atau mau di rumah aja nih kita nontonnya.”, kata Arya lagi - lagi menggoda.

__ADS_1


“Ih apaan sih.”, jawab Dinda.


“Sayang, kamu tunggu di restoran aja deh, ya. Nanti kamu capek. Bioskopnya ada di lantai 7, escalator nya juga lumayan tinggi. Ga ada lift. Kamu tunggu disini sambil milih - milih menunya. Aku beli ke atas sebentar. Film komedi romantis yang tadi kamu recommend?”, ujar Arya memastikan.


Dinda mengangguk. Dia sebenarnya ingin ikut membeli tiket, tapi Arya memang benar soal dia sudah kelelahan. Berputar di supermarket membuatnya lelah. Jadi, menunggu di restoran sampai Arya kembali adalah ide yang tepat.


*******


Seperti dugaan Arya, suasana bioskop sangat ramai. Maklum karena hari ini memang akhir pekan. Wajar jika bioskop menjadi salah satu tujuan utama pengunjung datang ke mall ini. Ditambah lagi, ternyata ada film horror yang sedang premier. Sehingga, suasana menjadi lebih ramai dari biasanya.


Arya segera menuju ke tempat penjualan tiket. Tadinya, dia ingin membeli langsung via mobile phone, namun ada gangguan sehingga dia harus membeli langsung. Dia kira, peminat film ini sudah mulai berkurang karena tanggal penayangannya sudah hampir berakhir. Ternyata masih banyak juga yang menyaksikan film ini.


“Dua ya mba.”, ujar Arya setelah sampai gilirannnya untuk membeli tiket.


“Duduknya mau disebelah mana, Pak? Tinggal dibagian paling atas dan paling bawah atau ada di tengah tapi di pinggir sekali.


“Di atas saja, bagian tengah ya.”, ujar Arya sambil menyodorkan kartu kreditnya.


“Terima kasih. Masih sejam lagi kan?”, tanya Arya memastikan.


“Iya betul, Pak.”


Arya segera keluar dari bioskop menuju restoran tadi. Tanpa Arya sadari, ternyata Jessica juga ada di bioskop itu bersama teman - temannya. Tadinya, Jessica ingin menyapa Arya. Dia sudah siap - siap berteriak, namun langkahnya terhenti oleh sekumpulan orang - orang yang sedang mengikuti sepasang artis.


Mereka adalah aktris dan aktor utama yang filmnya sedang premier. Alhasil Jessica kehilangan Arya. Bagian depan juga lebih penuh dari biasanya.


“Hah.. bioskopnya ramai sekali.”, ujar Arya segera setelah sampai di restoran.


“Karena akhir pekan, mas.”, balas Dinda.


“Hm.. tapi lebih ramai lagi karena ternyata ada premier film horror.”, kata Arya.


“Oh? Ada artisnya juga dong, mas?”, tanya Dinda langsung antusias.


“Hn.”, Arya mengambil ponselnya dan memeriksa beberapa pesan.


“Siapa artisnya mas Arya? Yah, tahu begitu tadi aku ikut keatas, mas. Mas Arya kenapa gak telepon.”


“Terus membiarkan kamu berdesak - desakkan diantara orang ramai itu. Kamu lagi hamil sayang. Lagian apa bagusnya sih. Yang di hadapan kamu jauh lebih tampan.”, ujar Arya dengan penuh percaya diri.


“Wah.. mas Arya sering kaya gini juga ga sih kalau di kantor? Apa cuma sama aku aja?”, tanya Dinda memastikan. Tidak mungkin Arya juga bersikap begini di kantor.


“Aku tidak perlu mengatakannya. Mereka juga sudah sadar sendiri, kok kalau aku tampan.”, ucap Arya bercanda.


Dia hanya ingin menggoda Dinda. Arya bukan tipikal yang memperhatikan imagenya di kalangan karyawan. Baik bawahan maupun atasan. Yang paling penting untuknya adalah performance dari hasil kerjanya.


“Siapa memangnya? Mba Suci?”, tanya Dinda tidak percaya dengan jawaban Arya. Kemudian dia jadi teringat akan Suci. Apakah Arya menyadari kalau mba Suci menyukainya.


“Din, kamu tahu kalau Suci sudah tahu tentang hubungan kita?”, Arya baru tersadar jika dia belum pernah memberitahukan ini pada Dinda sama sekali.


“Eh? Mba Suci? Mas Arya pasti bohong.”, kata Dinda.


“Buat apa aku berbohong. Tidak ada untungnya.”, jawab Arya.


“Terus, bagaimana mba Suci bisa tahu? Sepertinya aku sangat hati - hati.”


“Sudahlah. Semakin banyak yang tahu kan semakin bagus. Aku tidak perlu lagi sembunyi - sembunyi kalau mau cium kamu. Terus Bryan, Andra, siapa lagi itu bisa jaga jarak sama kamu.”


“Tunggu, jangan - jangan mas Arya ya, yang kasih tahu mba Suci?”, kata Dinda curiga.


“Oh? Aah.. saya cuma mau Suci berhenti mendekati saya. Makanya saya kasih tahu dia.”, jawab Arya.


“Mas Arya… kenapa dikasih tahu. Nanti kalau mba Suci bilang ke yang lain gimana? Kan aku mau lulus intern dengan sempurna tanpa ada gosip aneh.”


“Gosip aneh apa? Suami istri sah kok. Perlu saya bawa - bawa buku nikahnya? Yang gak sah aja pede - pede aja skinship di depan orang lain. Kenapa kita harus sembunyi - sembunyi?”, ini pertama kali Arya protes se-ekstrim ini. Biasanya dia masih bisa tenang.


Sepertinya Arya terpengaruh dengan chat mengganggu yang dikirimkan seseorang pada Dinda.


“Ohiya, yang mengirim chat ke kamu, kalau kirim lagi, bilang ke saya, dan screenshot. Kalau ada yang telpon juga. Biar saya yang ngomong. Awas aja kalau ketahuan siapa.”


*******


Dinda keluar pintu bioskop dengan wajah yang sumringah sekaligus terharu. Komedi romantis yang dikemas dengan efek mellow tipis. Arya puas tertawa namun saat ada adegan sedih, wajahnya datar - datar saja.


Bagian terunik adalah saat ada adegan romantis. Arya selalu menyikut Dinda dan mengatakan “Tuh, harus seperti itu.” Dinda hanya bisa geleng - geleng kepala dibuatnya.


Namun, ada satu hal yang membuat pengalamannya menonton di bioskop kali ini berkesan. Hampir keseluruhan momen pemutaran film, Arya selalu memegang tangannya. Udara bioskop yang dingin jadi hangat berkat pegangan dan sentuhan lengan kekarnya di bahu Dinda.


Saat adegan - adegan sedih, Arya juga selalu mengecek ke arah Dinda dan membuatnya tertawa agar gadis itu tidak menangis.


“Mas Arya, tunggu disini sebentar boleh? Aku mau ke toilet dulu. AC bikin aku jadi kebelet. Sebentar ya.”, ujar Dinda meminta Arya untuk menunggunya di sofa yang ada di sekitar bioskop.


“Perlu aku temenin, ga?”, kata Arya menawarkan.


“Ga usah, mas. Aku tahu kok. Mas tunggu disini aja.”, ujar Dinda melepaskan genggaman tangan Arya dan segera berlalu ke arah toilet.


10 menit berlalu, tapi Dinda belum juga kembali.


‘Hah.. apa karena orang ramai, ya? Jadi antri lama? Tapi harusnya Dinda ngomong kalau dia hamil supaya didahulukan. Ah.. dia pasti tidak enak mengatakannya. Apa aku susul saja, ya?’, pikir Arya dalam hati.


“Pak Arya! Benar Pak Arya, kan? Wah… apa kabar Pak?”, ujar seseorang menyapa Arya.

__ADS_1


__ADS_2