Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 165 Penawaran dari HRD


__ADS_3

Kembali pada suasana kantor yang riweh dan sibuk seperti biasa. Divisi Business and Partners sedang mengadakan meeting di ruang meeting Amerika, tempat biasanya dulu divisi DD juga melakukan meeting bersama di bawah kepemimpinan Arya.


Susan yang sudah kembali ke kantor mendapatkan banyak ucapan hangat dari rekan - rekannya. Beruntung tidak ada hal serius yang terjadi dan dia juga bisa pulih dengan cepat. Arya sempat memarahinya di ruangan tadi.


Bukan karena Susan tidak bisa menyelesaikan projectnya dengan benar dan harus membuat Arya ada perjalanan business mendadak, tetapi karena Susan yang masuk rumah sakit karena diet. Arya mendengarnya dari Siska.


Selain berperan sebagai sekretaris, Siska juga berperan sebagai agen ganda dan mata - mata untuk Arya. Bagaimana setiap orang di divisinya, Arya tahu semuanya.


Arya memulai meeting dengan presentasi singkat perbandingkan antara target dan apa yang sudah mereka capai sekarang. Sekitar 20 menit presentaasi itu berlangsung termasuk dengan tanya jawab dari para manager tim.


Arya menyukai pertanyaan - pertanyaan itu. Hal ini terlihat dari betapa antusiasnya dia menjawab semuanya. Selanjutnya adalah presentasi dari para manager. Masing - masing dari mereka harus memberikan update terkait yang project yang sedang mereka kerjakan.


Disisi lain, divisi DD juga tak kalah sibuk. Pagi hari, Erick, Rini, Dika, dan Suci sudah mengadakan meeting.


“Untuk project yang satu ini, saya ingin mengusulkan untuk melibatkan intern kita di dalamnya. Saya yakin ada banyak hal yang bisa disupport intern untuk project ini. Bagaimana pendapat yang lain?’, ujar Dika menyampaikan pendapatnya.


Beberapa waktu yang lalu, Dika memang menjanjikan project ini untuk Dinda karena dia melihat kemampuan gadis itu. Mungkin ini juga bisa menjadi tiket masuk Dinda untuk menjadi karyawan permanen.


Awalnya Dika sempat berpikir dua kali setelah dia merasa curiga kalau Dinda adalah istri baru Arya. Namun, dia berpikir kembali bahwa ini adalah keputusan profesionalnya. Apapun yang dia ketahui tentang gadis itu tidak bisa mempengaruhi keputusannya.


“Dinda, maksud Pak Dika?”, ujar Suci.


“Hm.. ada banyak hal yang dia bisa pelajari dalam project ini. Kamu juga bisa fokus mengerjakan bagian - bagian yang penting dan Dinda bisa membantu kamu untuk hal - hal yang bersifat operasional.”, ujar Dika.


Sebenarnya Suci kurang menyetujuinya, tapi mau bagaimana lagi. Dia tidak punya banyak pilihan. Seperti yang Dika katakan. Mungkin Dinda bisa membantunya untuk melakukan pekerjaan yang sifatnya printilan. Jadi, dia tidak perlu terlalu sibuk mengerjakan hal - hal yang tidak begitu signifikan.


“Okay.. karena project ini sebelumnya sempat di goalkan oleh Pak Arya selaku kepala divisi sementara, mungkin kita perlu kick-off meeting sementara dengannya. Hanya Kick off saja sekitar 1 jam agar kita bisa mendapatkan informasi lebih lengkap.”, ujar Dika.


“Baik, Pak.”, jawab semua yang hadir di ruang meeting secara serempak.


“Din, tolong atur meeting dengan Pak Arya, ya. Sejam aja. Kalau bisa dalam minggu ini. Kamu tanya Siska saja. Jadwal Pak Arya tidak di share ke banyak orang soalnya secara sistem. Jadi memang harus tanya Siska.”, perintah Erick begitu dia keluar dari ruang meeting.


“Oh iya, baik Pak.”, ucap Dinda menerima perintah.


Tatapan Suci sempat bertemu dengan Dinda saat Erick mengatakan hal itu.


‘Ah.. mas Arya.. karena dia mengatakannya pada mba Suci, aku jadi bingung sekarang kalau berinteraksi dengan mba Suci.’, ujar Dinda dalam hati.


‘Sebelumnya, saat aku tidak tahu tentang itu, aku akan bersikap biasa saja. Tapi sekarang, aku jadi merasa tidak enak.’, lanjutnya dalam hati.


“Kenapa kamu?”, tanya Suci yang menyadari tatapan aneh dari Dinda.


“Oh enggak, mba. Gapapa.”, jawab Dinda.


Dinda segera berjalan menuju divisi business and partners. Dia tak bisa menemukan siapapun disana.


“Cari siapa?”, ujar seorang intern yang baru masuk dan ada sedang ada disana.


“Mau cari mba Siska. Divisi Business and Partners pada kemana?”, tanya Dinda heran.


“Ah.. semua sedang meeting di ruang Amerika. Sudah dari jam 9 tadi. Sepertinya baru saat jam makan siang.”, jawab intern tersebut.


“Ooh.. baiklah. Aku akan kembali lagi setelah jam makan siang. Terima kasih, infonya.”


“Baik, sama - sama.”


Dinda kembali ke kursinya dengan tangan kosong. Siska tak ada di tempatnya.


“Sudah ketemu?”, tanya Suci.


“Semua tim Business and Partners sedang meeting, termasuk mba Siska. Nanti aku akan tanya setelah mereka kembali.”, ujar Dinda.


“Hm.. padahal dia pasti bisa tanyakan saat di rumah saja.”, lanjut Suci dengan suara yang pelan.


“Eh?”, Dinda samar - samar mendengarnya.


“Ah.. tidak. Tidak apa - apa.”, jawab Suci.


“Yang namanya Dinda, ada?”, ujar seseorang yang mereka tidak terlalu kenal.


“Ini Dinda.”, ujar Erick menjawab pertanyaan tersebut.


“Boleh ikut saya sebentar?”, ujar orang tersebut. Erick mengangguk saat bertatap mata dengan orang itu.


Dinda dengan ragu - ragu berdiri dari mejanya. Dia melihat sebentar ke arah Erick. Erick memberikan kode yang mempersilahkan Dinda untuk mengikuti orang itu.


“Perkenalkan, saya Doni, salah satu staff HRD. Atasan saya meminta saya untuk memanggil kamu.”, jelasnya.


“Oh.. perkenalkan saya Dinda Lestari.”, ujar Dinda kembali memperkenalkan diri walau dia yakin kalau staff HRD itu pasti sudah mengenalnya.


“Salam kenal. Kamu sudah 8 bulan ya, intern disini?”, ujarnya basa - basi.


“Iya.. sudah hampir 9 bulan.”, jawab Dinda.


“Hm.. sepertinya akan ada penawaran bagus untuk kamu dari HRD.”, ujar Doni memberikan clue, karena Dinda terlihat sangat gugup.


“Penawaran?”, tanya Dinda memastikan apa yang dia dengar.


“Iya.. saya kurang tahu detailnya. Bukan hal negatif. Jadi, kamu tidak perlu gugup.”, ujar Doni kembali menenangkan Dinda.

__ADS_1


“Haha.. baiklah. Apakah ketara sekali kalau saya gugup.”, ucap Dinda.


“Uhm.. hal yang wajar. Tidak usah khawatir. Semua orang yang dipanggil HRD secara tiba - tiba memang biasanya gugup.”, ujar nya tersenyum.


Dinda mengikuti orang itu menuju ruangan HRD. Ternyata Dinda akan memasuki salah satu ruangan Manager HRD. Dinda sempat membaca posisinya di bagian pintu.


“Silahkan.”, ujar Doni mempersilahkan Dinda untuk masuk ke dalam.


“Silahkan duduk.”, ujar Manager tersebut pada Dinda.


“Kalau begitu saya permisi ya, pak.”, lanjut Doni kemudian keluar dari ruangan.


“Selamat siang, mba Dinda. Saya Alex, tapi bukan Headnya Finance, ya.”, ujarnya bercanda.


Sebenarnya, Dinda tidak terlalu menangkap candaan tersebut. Tapi, supaya aman, dia ikut tersenyum mendengarnya.


“Ada dua orang yang namanya Alex di kantor ini. Saya sebagai salah satu Manager HRD dan satu lagi adalah head Finance. Jadi, kamu jangan tertukar, ya.”, ujar beliau.


“A-ah.. saya mengerti sekarang.”, ujar Dinda keceplosan.


Artinya, Dinda mengakui kalau dia tidak paham dengan jokes yang tadi disampaikan oleh Pak Alex. Menyadari hal itu, Dinda langsung salah tingkah.


“Okay, kenapa saya memanggil kamu. Kalau kamu sangat menyukai divisi DD, bisa jadi kamu tidak terlalu tertarik dengan penawaran ini. Tapi, who knows. Makanya saya panggil kamu kesini.”, ucap Alex menjelaskan.


“Berdasarkan laporan tengah semester semua intern yang ada di perusahaan ini, saya lihat laporan kamu sangat menarik. Kalau di ranking, mungkin kamu berada di peringkat 5 diantara 15 intern yang ada.”


“Sudah menjadi  tradisi kalau intern yang memiliki performance lima besar akan ditawarkan posisi permanen di perusahaan lebih dulu. Setelah itu, baru dibuka untuk umum. Berhubung kamu masuk ke posisi 5 besar, saya ingin menawarkan dua posisi menarik. Pertama adalah staff permanen di salah satu tim di divisi Business and Partners.”, lanjut Pak Alex.


“Satu lagi adalah posisi staff permanen di divisi IT. Dua divisi ini adalah divisi yang paling cocok dengan performance kamu.”, ujar Alex.


Dinda mengangguk - angguk mendengarkan penjelasan dari Alex.


“Di divisi DD memang tidak ada lowongan yang dibuka, ya Pak?”, tanya Dinda dengan hati - hati.


“Ya. sayangnya di divisi DD sedang tidak ada lowongan permanen yang dibuka. Posisi kamu itu memang selalu menjadi posisi yang terbuka untuk intern. Sehingga kita tidak membuka untuk permanen. Jika kamu ingin posisi permanen, kamu harus menunggu salah satu karyawan dengan level junior keluar dari divisi DD. Baru kamu bisa masuk.”, jelas Alex.


“Saya kira kamu akan lebih tertarik dengan divisi Business and Partners. Kamu tidak tahu kalau divisi itu adalah divisi paling elit di kantor kita? Bahkan jarang sekali ada intern yang ditawarkan untuk posisi ini. Posisi ini terbuka juga karena dua intern yang magang di divisi Business and Partners tidak memenuhi persayaratan. Satu juga kabur hanya karena dipanggil ke ruangan Pak Arya.”, ujar Alex kembali menjelaskan.


Dinda hanya tersenyum canggung. Bukannya dia tidak mau dengan penawaran di divisi Business and Partners, tapi bagaimana mungkin dia bisa masuk ke situ kalau Pak Arya sendiri adalah suaminya.


“Jangan bilang kamu takut dengan Pak Arya? Hm.. walaupun dia galak begitu, dia termasuk leader terbaik loh di kantor kita. Kamu bisa belajar banyak darinya.”, kata Alex.


“Untuk divisi IT, apakah di kantor ini atau ?”, tanya Dinda ragu.


“Oh.. kamu tahu juga tentang divisi IT ya?”, tanya Alex.


“Awalnya saya sempat melamar di divisi IT, tapi saya dengar divisi IT juga bekerja di tempat klien jika ada permintaan tertentu dari divisi Business and Partners.”, ujar Dinda.


“Ehm.. saya tidak takut dengan Pak Arya.. ehm.. Maksud saya dia menakutkan tapi… setelah beberapa kali berinteraksi dengan beliau melalui project yang saya kerjakan, saya banyak belajar dari beliau.”, jawab Dinda.


“A-ah.. bagus kalau begitu. Kamu bisa pikirkan dua penawaran ini sampai akhir bulan depan. Setelah itu, jika kamu tidak ada jawaban, saya terpaksa harus membukanya kepada umum.”, ujar Alex menutup pertemuannya karena sebentar lagi dia juga ada meeting.


“Baik Pak Alex, saya mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan. Hem.. saya ada satu pertanyaan lagi. Kalau boleh.”, Dinda bisa menyadari kalau Pak Alex sepertinya ada janji lain. Karena itu dia bertanya hati - hati.


“Hum.. apakah dua posisi tadi masih diperbolehkan jika karyawannya hamil?”, tanya Dinda.


“Oh? Kamu sedang hamil? Saya kira kamu masih single. Ya, berdasarkan catatan awal kamu masuk sih kamu masih single. Apa kamu sudah menikah?”, tanya Alex kaget dengan pertanyaan itu.


Dinda jadi menyesal menanyakan hal itu, karena dia jadi seperti membuka kotak pandora yang berusaha ia tutup.


“Ah.. su-sudah Pak.”, ujar Dinda ragu.


“Oh? Saya tidak tahu. Tapi It’s okay, menikah bukan pelanggaran, bukan? Hm.. menurut saya tidak terlalu masalah. Hanya saja kemungkinan kamu tidak akan mendapatkan gaji penuh saat kamu cuti hamil. Karena hitungannya kamu belum satu tahun di kantor. Bisa diatur, lah menurut saya. Nanti kita bisa diskusikan lagi kalau kamu sudah memilih. Saya juga harus cek peraturannya.”, terang Alex.


“Oh baik, pak Alex. Sekali lagi terima kasih atas kesempatannya. Kalau begitu, saya permisi.”, kata Dinda pamit dan keluar dari ruangan.


‘Wah.. kesempatan yang bagus. Tapi sepertinya aku benar - benar tidak ada harapan masuk ke divisi Business and Partners. Karena Pak Arya adalah kepala divisinya. Untuk IT, mungkin aku coba diskusikan dengan Pak Arya.’, pikir Dinda sambil menekan tombol lift.


Begitu lift terbuka, Dinda melihat Arya dan beberapa bawahannya sedang bercanda. Terlihat dari Arya yang tertawa. Awalnya dia tidak menyadari kalau orang yang ada di depan lift adalah Dinda.


Kemudian, saat dia menyadarinya, Arya langsung tersenyum. Dinda masuk ke dalam lift. Sudah lama sejak dia bertemu atau bersinggungan dengan Arya di kantor. Biasanya dia bahkan tidak pernah melihat pria itu sama sekali.


“Kalau begitu saya turun disini dulu, ya.”, ujar beberapa orang bawahan Arya yang turun di lantai yang Dinda tidak tahu itu divisi apa.


Sekarang tinggal Dinda, Siska dan Arya di dalam lift. Siska berpura - pura berdehem untuk melancarkan tenggorokannya. Padahal menurutnya, dia sedang berada di posisi yang kurang enak.


Arya, sesuai dengan permintaan Dinda, pria itu akan bersikap se-professional mungkin di kantor. Dia tidak menyapa Dinda, meskipun di dalamnya hanya ada Siska yang notabene sudah mengetahui hubungan mereka.


Begitu pintu lift terbuka, Arya langsung keluar menuju ruangannya. Siska mengikutinya dengan tatapan bingung. Jelas - jelas dia tadi menantikan adanya adegan - adegan seperti di televisi. Adegan seperti dating diam - diam di kantor, atau semacamnya.


Siska langsung kecewa karena tidak ada yang terjadi.


“Ehm.. mba Siska!”, panggil Dinda.


Langkah kaki Siska terhenti, sementara bosnya sudah berjalan lebih dulu dengan langkah yang luar biasa cepat. Padahal kalau sedang berjalan dengan Dinda, Arya tidak pernah berjalan secepat itu.


“Ehm.. Iya?”, jawab Siska.


“Mba, aku mau tanya jadwal Pak Arya. Divisi DD mau mengajak pak Arya meeting terkait dengan project Alpha. Durasinya sekitar 1 jam. Kira - kira apakah ada jadwal yang available di minggu ini?”, tanya Dinda.

__ADS_1


“Hm…”, gumam Siska sambil membuka ponselnya dan juga buka buku catatannya.


“Tunggu, bukankah hal seperti ini kamu bisa tanya langsung ke Pak Arya? Kenapa sibuk - sibuk bertanya padaku.”, tanya Siska heran.


“Eh?”, Dinda lebih heran lagi mendengar pertanyaan Siska.


“Dia kan suami kamu. Tinggal tanya aja.”, ujar Siska dengan nada menggoda.


Dinda langsung salah tingkah sambil melihat ke kiri dan ke kanan padahal tidak ada yang keluar dari lift selain mereka dari tadi.


“Kenapa?”, tanya Siska.


“Maaf mba, kalau di kantor, beliau atasan, hm.. Maksud saya kepala Divisi Business and Partners. Tidak ada hubungannya dengan aku.”, ujar Dinda gugup.


“Hum? Aneh sekali. Kalau aku jadi istrinya Pak Arya, mungkin aku sudah pakai nametag yang tulisannya. Arya’s Wife.”, katanya tersenyum.


“Eh?”


“Hahaha.. Bercanda. Hum.. Pak Arya bisa meeting di hari Kamis, jam 5, gimana? Terlalu sore ga? Selain itu, tidak ada waktu kosong lagi. Beliau luar biasa sibuk. Seperti yang kamu tahu.”, ujarnya tersenyum.


“Hum.. boleh mba. Saya sudah catat jadwal Pak Dika, Pak Erick, dan Mba Suci. Mereka tidak ada jadwal di tanggal segitu. Jadi, harusnya oke. Nanti kita kirimkan undangan meetingnya ya mba. Mohon untuk tidak di blok untuk yang lain dulu jadwal itu.”, ujar Dinda.


“Oke. aku catat. Siska mencatatnya di bukunya. Untuk jadwal yang sudah confirm, itu sudah bisa Siska lihat melalui aplikasi email di ponselnya. Namun, untuk yang belum ada undangan, belum confirm seperti yang diajukan Dinda, Siska akan mencatatnya di bukunya.


“Kalau begitu, terima kasih mba Siska.”, ujar Dinda bermaksud untuk pamit kembali ke tempatnya.


“Ehm. Din. Boleh dong kasih bocoran sedikit tentang Pak Arya. Dia kalau di rumah bagaimana? Galak juga ga? Six packs ga? Hum.. suka nonton ga? Picky juga ga? Ah.. enggak, gimana ceritanya kalian bisa ketemu? Pacaran? Gimana Pak Arya pacarannya?”, Siska mulai antusias dan bersemangat bertanya.


Bukan karena Siska menyukainya sama seperti Suci atau wanita - wanita lain di sekitar Arya, tapi agar Siska bisa menjadikan informasi itu sebagai kelemahan Arya. Jadi, kalau nanti Arya membully Siska, dia punya amunisi. Selama ini dia yang selalu dijajah oleh Arya (dalam maksud yang positif).


“Oh? Ha-ha.. Sepertinya kalau itu bisa langsung tanya ke Pak Arya ya, mba. Kalau di kantor, hubungan saya hanya sebatas hubungan profesional. Intern dan Kepala divisi.”, jawab Dinda yang sudah ingin segera kabur dari sini.


“Hem.. berarti kalau kita ketemuan weekend buat aku tanya - tanya, bisa dong. Kan kalo weekend statusnya istri.”, ujar Siska.


Setelah itu, ponselnya langsung berbunyi.


“Siapa sih?”, ujar Siska langsung melihat ponselnya.


Tulisan ‘Grim Reaper’ terpampang di ponselnya.


“A-ahh.. Pak Arya lagi. Oke, kalau begitu, bye, Din.”, kata Siska segera pamit dan berlari menuju ruangan Pak Arya.


********


Suasana rumah Inggit ramai karena ada Tante Indah dan Tante Meri datang ke rumah beserta anak - anaknya. Ada Fams, Gita, Reza, Bianca dan Dito. Kali ini minus Edo karena dia masih memiliki banyak pekerjaan.


Memang sudah menjadi rutinitas mereka untuk mengunjungi rumah saudara yang paling tua. Kadang - kadang Inggit dan Kuswan juga bersilahturami ke rumah adik - adik Kuswan. Beberapa bulan belakangan hal itu jarang terjadi karena memang banyak acara yang sudah mempertemukan mereka terlebih dahulu.


“Mana Arya dan Dinda? Sepi sekali, mas?”, ujar Tante Meri yang sedang mengunyah beberapa manisan yang dihidangkan oleh Bi Rumi.


“Masih di kantor. Sebentar lagi juga pulang. Biasanya jam 5 atau 6 Dinda sudah pulang. Kalau Arya, kadang bisa jam 8 dan 9.”, jawab Inggit.


Padahal pertanyaan itu untuk Kuswan, tetapi Inggit yang bersemangat menjawabnya.


“Loh loh loh… kok bisa begitu. Bukannya Dinda sedang hamil mbak yu. Harusnya Arya menemani. Masa masih sibuk juga.”, ujar Tante Indah.


“Iya, Arya sedang mengusahakannya. Mau bagaimana mbak. Arya mau dulu dan sekarang, sibuknya luar biasa.”, ucap Inggit.


“Nah loh.. Gak bisa sekedar usaha. Nanti kalau kasusnya seperti mantannya itu bagaimana? Saya tahu Dinda mah wanita baik - baik, ya. Beda sama mantannya. Tapi dia juga pasti punya perasaan, kalau ditinggal terus dia juga lelah pasti. Apalagi kalau hamil itu kan butuh dukungan dari suaminya.”, Tante Meri mulai dengan mulutnya serba blak - blak-an.


“Arya itu, mau dulu mau sekarang sibuknya luar biasa. Istrinya harus mengerti. Dan menurut mas, Dinda itu luar biasa loh dewasanya. Mas yakin tidak akan ada masalah. Justru mulut kamu itu, yang bisa - bisa mentrigger masalah.”, ujar Kuswan pada adiknya.


Meski mereka sudah tua dan sudah memiliki keluarga masing - masing, tetapi tetap saja, kadang bayangan masa kecil tetap terlihat dari interaksi mereka.


“Mama memang begitu om. Kalau ga keluar yang fantastis dari mulutnya, bukan mama namanya.”, ujar Dito.


“Tante, mba Dinda masih lama pulangnya?”, tanya Fams.


“Sebentar lagi juga kayanya pulang. Tante lihat Pak Cecep gak siap - siap jemput, sepertinya Arya juga pulang tepat waktu hari ini.”, kata Inggit.


“Bi, kamu kapan nyusul Dinda. Belum isi juga?”, tanya tante Meri yang sudah mengubah target sasarannya.


“Mereka kan baru dua bulanan ini, Mbak yu.”, ujar Tante Indah.


“Iya, kamu lama - lama sudah seperti tukang tagih. Edo mana? Kapan bawa istri?”, kata Kuswan, sekarang giliran dia yang menagih.


Anak - anak mereka hanya bisa geleng - geleng kepala mendengar obrolan para orang tuanya.


‘Kenapa hidup orang sudahh di kasih timeline, sih’, ujar Bianca kesal dalam hati. Namun masih tetap berusaha tersenyum.


Reza, suaminya itu malah sudah melesat ke kamar Ibas.


“Reza mana?”, tanya Inggit pada Bianca.


Belum lagi Bianca menjawab, Fams sudah membuka suaranya.


“Kemana lagi tan kalau bukan ke kamar Ibas. Begitu sampai, dua bersaudara itu langsung ke kamar untuk membicarakan game terbaru. Kadang aku bingung, yang kakaknya Ibas itu Reza atau Mas Arya, sih. Bisa berbeda begitu.”


Yang lain langsung tertawa mendengar celetukan Fams.

__ADS_1


Reza memang sangat extrovert dan gampang bergaul. Dia tidak hanya bisa akrab dengan Ibas, tetapi bisa nyambung dengan Kuswan, bisa bicara serius dengan Arya, dan anggota keluarga lainnya.


Bianca juga hanya bisa geleng - geleng kepala ditinggal sendiri. Dilihat dari interaksinya dengan Fams, sepertinya hubungan mereka sudah mulai membaik.


__ADS_2