
“Hah… Sarah.. Kenapa semua jadi seperti benang kusut diantara kita? Aku bahkan tak bisa menjawab kata - kata Arya. Karena semua memang salah kita.”, Dimas menghentikan mobilnya di parkiran.
Ponselnya terus berbunyi. Telepon dari dr. Rima. Pria itu beberapa jam yang lalu masih bersamanya. Lalu, pergi begitu saja tanpa penjelasan. Wanita itu mungkin khawatir.
“Apakah disaat kamu seperti ini aku berhak untuk pergi pada perempuan lain?”, ujar Dimas teringat kembali pada rasa bersalahnya.
Dia tidak menyangka, kesalahan mereka berdua malam itu memberikan resiko yang luar biasa besar bagi kehidupan mereka. Kesalahan yang seharusnya tidak pernah terjadi mengubah segalanya dalam hubungan mereka.
Jika saja saat itu Sarah tidak menemuinya. Jika saja saat itu Dimas tidak sedang terpuruk dan menanggapi permintaan Sarah. Jika saja saat itu dia bertemu dengan wanita lain seperti dr. Rima lebih cepat. Jika saja pertemuan hari itu tidak pernah ada.
Mungkin saat ini Sarah masih menjadi istri Arya. Mungkin saat ini Sarah tidak menghancurkan hidupnya. Mungkin saat ini, Sarah masih tetap menjadi Sarah yang dulu.
Dimas, pria itu baru mendengar tentang depresi yang diderita oleh Sarah dari dokternya di Rumah Sakit. Dia tidak menyangka jika peristiwa sekitar 3 tahun lalu bisa mengubah kepribadian Sarah begitu besar.
Dimas kira, kehamilan itu bukan apa - apa baginya. Toh itu adalah sebuah kecelakaan. Mereka bertemu disaat yang tidak tepat dan perasaan mengendalikan mereka. Dimas melakukannya atas dasar cinta, tapi bukan halnya dengan Sarah. Bukan tidak mungkin saat melakukannya, Sarah mengira Dimas adalah Arya.
Dia kira, kehamilan itu tidak berarti bagi Sarah. Justru bukankah wanita itu menginginkan kehilangan bayinya? Agar dia bisa kembali pada Arya. Tapi, kenapa dia tidak mengatakan jika dia kecewa. Kenapa dia tidak bilang kalau dia sedih kehilangan bayinya. Kenapa dia merasa begitu bersalah dan berubah sampai sejauh ini karena dia tak bisa menjaga bayinya sampai akhir?
“Sar, Sarah. Sar?”, Dimas membangunkan Sarah tapi wanita itu tetap terlelap.
Dimas mencari - cari kartu akses apartemennya di dashboard mobil. Namun, tidak ketemu. Dia melihat tas sandang Sarah yang terjatuh di pijakan kakinya. Dimas mencoba mengambilnya dan mencari kartu akses itu disana.
‘Ketemu’, ujarnya dalam hati dan mengantonginya.
Selanjutnya, dia harus menggendong Sarah sampai ke apartemennya. Wanita itu tidak bisa bangun. Atau mungkin memilih tidak bangun. Dimas tahu Sarah tidak benar - benar tertidur. Dia bisa melihat sedikit tetesan air mata di pipinya.
Tit. Tit.
Dimas mengunci mobil dan berjalan ke pintu akses apartemen. Sulit baginya untuk menggendong Sarah sambil harus membawa kunci mobil sekaligus kartu akses apartemen. Namun, ini sudah kesekian kalinya Dimas melakukannya. Dia menggendong Sarah di belakangnya dan itu jauh lebih mudah untuknya.
Sesampainya di kamar, Dimas langsung menurunkannya. Pria itu mematikan lampu dan hanya menghidupkan lampu nakas saja. Dia menaikan selimut dan tidak lupa menyalakan AC untuknya.
Setelah semua ceklis dilakukan, Dimas hendak beranjak keluar. Tapi tangannya ditahan oleh Sarah.
“Terima kasih.”, ujar wanita itu lirih lalu menaikkan selimutnya.
“Hn.”, jawab Dimas singkat.
Hubungan yang aneh di antara keduanya. Dimas pernah sangat mencintai Sarah. Dia mulai dengan menyukainya bahkan jauh sebelum Sarah bertemu dengan Arya. Dia tetap mencintainya bahkan sampai mereka berdua menikah. Tak mudah baginya melupakan Sarah. Perjalanan itu mengungkapkan segalanya.
Pertemuannya dengan Dinda mungkin di luar dugaan. Rasa tertariknya pada gadis itu jelas tak direncanakan. Tapi karma itu ada. Bagaimana mungkin saat dia ingin melupakan Sarah dengan menyukai wanita lain. Wanita itu malah sudah menjadi istri Arya.
Apa takdirnya selalu seperti itu? Menyukai wanita sahabatnya sendiri.
Kini, ada wanita lain yang masuk dan tak ada kaitannya dengan Arya. Kecuali fakta dimana dr. RIma adalah dokter kandungan istri Arya. Tapi satu hal lagi menghalanginya. Mengetahui bagaimana keadaan mental Sarah saat ini membuatnya berpikir kembali. Apa dia berhak melalui perjalanan itu sementara Sarah semakin terjerat dalam akibat dari kesalahan yang mereka berdua lakukan.
Tidak. Jelas tidak.
***********
Arya tiba - tiba memeluk Dinda erat. Terkejut? Jelas. Tapi Dinda tak mempertahankan rasa terkejut itu lama. Dia menerima pelukan Arya meski tak mengerti apa yang dirasakan oleh pria itu saat ini.
Dinda mengangkat tangannya dan membalas pelukan Arya. Dia mengelus - elus punggung itu lembut.
‘Kenapa gak bilang?’, ingin rasanya Dinda menanyakan itu pada Arya.
__ADS_1
Tapi, dia mengurungkannya. Bukan. Bukan pertanyaan itu yang seharusnya dia tanyakan sekarang, pikirnya.
“Mas Arya baik - baik saja?”, tanya Dinda pelan.
Semoga Arya bisa mendengarnya. Jarak antara mereka saat ini membuat kepala Dinda hanya bisa meraih dada Arya.
“Jika yang kamu maksud adalah tamparan papa. Ya, aku baik - baik saja. Jika yang kamu maksud adalah alasan kenapa papa menamparku. Tidak, aku belum bisa baik - baik saja. Apa kamu benar - benar mempercayaiku seperti yang kamu katakan tadi?”, tanya Arya.
Dia sudah mendengarnya tadi, tapi dia masih takut istrinya salah paham.
Mengapa Arya setakut ini. Biasanya dia bahkan tak menggunakan waktunya untuk menjelaskan.
“Hn. Aku percaya. Mas Arya pasti memutuskan melakukan itu setelah mempertimbangkannya dalam waktu sesingkat itu. Bayangkan, ada banyak tamu mama di dalam. Mba Sarah mencoba menemui mas di gerbang depan dan papa belum pulang. Entah karena aku sudah pernah mengobrol dengan mbak Sarah, aku seperti bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika percakapan itu tetap dilakukan di depan tanpa membawanya jauh dari rumah.”, kata Dinda, masih dalam mode berpelukan.
“Meski konteksnya berbeda, saat berhubungan dengan perasaan, terkadang aku juga tidak akan menghiraukan sekitar.”, lanjut Dinda lagi.
“Dan, wajar bagi papa untuk salah paham jika beliau hanya melihatnya dari kejauhan. Hanya saja, aku sangat terkejut dia sampai menampar mas Arya karena itu.”, Dinda melepaskan pelukannya, menatap Arya, dan menempelkan telapak tangannya di pipi pria itu.
“Kamu terdengar lebih dewasa malam ini.”, kata Arya.
Entah mengapa, Dinda mendengarnya sebagai kalimat godaan.
“Mas Arya sudah beberapa kali menjelaskan kalau hubungan mas dan mbak Sarah sudah berakhir. Aku mempercayai itu. Mas Arya tidak perlu khawatir.”, jelas Dinda.
Muach.
Arya mencium lembut bibir istrinya.
“Ih.. “, respon Dinda menyertakan ekspresinya.
“Kok ‘ih’?”, tanya Arya heran.
Arya masih memegang kedua pipinya gemas karena wanitanya itu mengatakan ‘ih’ sebagai respon dari ciumannya.
“Harus ya? Memangnya kita masih pacaran?”, tanya Arya masih tidak menerimanya.
Dinda mengangguk.
“Saya mungkin sudah ratusan kali mencium kamu dan masih harus minta approval?”, tanya Arya bingung.
“Karna tiba - tiba.”, kata Dinda.
“Berarti kalau gak tiba - tiba, boleh?”
“Hn.”, jawab Dinda tapi ada nada keraguan di dalamnya.
“Yang tidak tiba - tiba memangnya seperti apa?”, tanya Arya menantang penjelasan dari istrinya.
“Hm… kalau suasananya mendukung dan perasaan keduanya mengarah kesana…”, Dinda sebetulnya tidak yakin tentang yang dia jelaskan. Dia seperti mengeluarkan apa saja kata - kata yang bisa dia keluarkan.
“Suasana tadi memangnya kurang mendukung? Bukankah kita merasakan romansa yang sama tadi?”, tanya Arya.
Perbedaan tinggi diantara keduanya membuat Dinda harus sedikit mendongak ke atas. Menyadari hal itu, Arya langsung mengangkat istrinya ke atas kursi di ujung ranjang mereka. Lebih baik dirinya yang mendongak ke atas.
“Hm… “, kata Dinda masih ragu tapi berusaha yakin dengan jawabannya.
__ADS_1
Menurutnya suasana tadi bukanlah suasana yang tepat untuk berciuman. Bukankah mereka senang membicarakan hal yang serius tadi? Mas Arya bahkan kena tamparan papanya. Apa dia sudah melupakannya.
“Baiklah.”, kata Arya kemudian menggendong Dinda dan menidurkannya pelan di atas kasur.
Jika dia tidak sedang hamil, mungkin Arya akan melemparnya ke ranjang agar membuat suasana semakin menggoda. Tapi, istrinya sedang hamil, lebih baik menahan diri untuk melakukannya.
“Mas Arya mau apa?”, tanya Dinda saat Arya ikut naik dan mendekatkan tubuhnya pada istrinya.
Arya menatap Dinda lekat. Matanya berbinar - binar. Tangan kirinya dia gunakan untuk berpangku sementara tangan kanannya dia arahkan untuk menyeka rambut istrinya.
“Membuat suasana menjadi romantis. Bukankah itu yang tadi kamu inginkan?”, kata Arya.
“Tunggu.. Tunggu.. Siapa yang menginginkannya? Aku cuma bilang, kalau mas Arya mau kita ‘Mmm.. ‘, tidak bisa tiba - tiba saja. Suasana harus mendukung.”, kata Dinda.
Gadis itu bahkan masih malu untuk kembali mengatakan kata ‘Ciuman’ pada suaminya sendiri.
“Lalu, sekarang aku membuat suasana itu.”, kata Arya.
“Untuk?”
Muach…
“Eeee… mas Arya…”, protes Dinda saat Arya langsung menempelkan bibirnya. Kali ini dia melakukannya sedikit lebih lama.
“Terlalu lama kalau saya harus mengikuti teori - teori panjang kamu. Romantis atau tidak, saat ini saya ingin mencium kamu. Tunggu, bukankah seharusnya kamu memang masih punya hutang pada saya? Kamu memberikan semuanya untuk saya demi sebuah es krim kan?”, kata Arya kembali mengingat perjanjian mereka.
“Periode. Bukannya ada periodenya?”, kata Dinda.
“1 Minggu. Belum satu minggu, kan? Lagipula, sebegitu tidak sukanya kamu saya cium? Baiklah.. Saya mencari yang lain saja yang bisa saya cium.”, kata Arya.
Disini, maksud Arya dengan kata ‘yang lain’ bukanlah wanita tetapi yang lain seperti hewan, boneka, atau mungkin foto. Foto istrinya tentunya.
“Oh-oh? Mas Arya serius dengan kata - kata mas Arya? Mas Arya mau cium perempuan lain?”, tanya Dinda membulatkan matanya.
“Tuh kan… cemburu.. Tapi kalau suaminya cium malah ditolak.”, protes Arya.
“Bukan berarti mas Arya dengan mudah mau cari perempuan lain.”, balas Dinda dengan wajah betenya.
“Siapa yang mengatakan akan mencium perempuan lain?”, tanya Arya.
“Tadi, mas Arya bilang mau cari yang lain.”, ujar Dinda.
“Yang lain, boneka, kucing, atau foto kamu.”, kata Arya.
“Sudah sini.”, kata Dinda menarik kerah baju Arya dan mendekatkan bibirnya.
Kali ini, dia yang menempelkan bibir lebih dulu ke bibir Arya. Dinda hanya mengambil langkah awal, selanjutnya, Arya yang memegang kendali penuh.
2 menit….
“Hah…hah…hah…”, respon Dinda karena kesulitan bernafas.
“Benar - benar momen yang tidak romantis untuk berciuman. Bertolak belakang dengan teori yang kamu jelaskan.”, ujar Arya tertawa ringan.
“Habis kasihan kalau mas Arya harus cium kucing.”, kata Dinda tersenyum.
__ADS_1
Tok tok tok tok
Arya baru saja akan mendaratkan bibirnya kembali sebelum suara pintu kamar mereka berbunyi.