Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 65 Pillow Talk


__ADS_3

Sore itu di kediaman Inggit, nampak Kuswan sedang menikmati minum teh sorenya. Pagi hari, ia telah bermain golf bersama dengan teman - temannya yang juga sudah pensiun. Siang dia pulang dan bebersih. Sekarang, dia sudah setia dengan tempat duduk di teras depan rumahnya memperhatikan beberapa peliharaan burung miliknya.


Saat itu dia melihat seseorang membuka pintu pagar. Kuswan mengangkat gagang kacamatanya sedikit untuk memastikan siapa yang masuk. Dan ternyata, dia adalah Dinda. Gadis itu terlihat mengenakan pakaian santai seperti outer dan sepatu kets.


“Kamu ga ke kantor hari ini?”, tanya Kuswan begitu Dinda sudah dekat.


“Enggak, Pa.”, jawab Dinda tersenyum. Siapapun yang melihat, bisa mengetahui dengan jelas aura Dinda. Begitu pula dengan Kuswan. Dia bisa mengetahui ada yang tidak beres dengan kondisi Dinda saat itu. Raut wajahnya lesu.


“Hm.. ya sudah. Kamu masuk dulu.”, perintah Kuswan.


Meskipun dia menyadari ada yang tidak beres, dia bersikap seolah biasa saja dan berpura - pura tidak tahu. Dia tahu benar bahwa menanyakannya saat ini bukanlah waktu yang tepat.


Dinda masuk ke dalam rumah. Dia segera menaiki tangga menuju lantai dua dan masuk ke kamar. Dia mengunci kamar itu dan merebahkan tubuhnya. Matanya jelas sembab, tapi Dinda tak menyadarinya.


Dia begitu lelah untuk memikirkan itu semua. Keputusannya untuk kembali ke kediaman Arya sudah menjadi keputusan paling berat untuknya. Jika dia mengikuti egonya saat ini, dia ingin pulang ke rumah bundanya dan menangis di pangkuannya. Tapi, dia tahu benar bahwa dirinya sudah menjadi istri orang dan menjadi bagian dari keluarga barunya.


Mau tidak mau, suka atau tidak suka, itulah tempatnya kembali saat ini. Jika dia memiliki masalah dengan Arya, bukan bundanya sebagai tempat bercerita, tetapi Inggit. Namun, hingga kini dia tak menjadikan itu sebagai opsi terbaik.


Jam masih menunjukkan pukul 4 sore. Arya sudah pasti belum pulang. Dinda masuk ke kamar mandi dan membersihkan badannya, lalu berganti pakaian. Dia mencoba untuk menenangkan pikirannya di sofa.


Setidaknya satu jam berlalu sejak itu.


Tok tok tok


Dinda mendengar ada suara ketukan di kamarnya. Dia berpikir bahwa itu pasti Inggit. Dinda memperbaiki ekspresi wajahnya dan bersiap untuk membuka pintu.


“Iyaa… mba…”, ujar Dinda namun terhenti karena di depan pintu bukan Inggit melainkan Arya.


Dinda terkejut bukan main karena dia sama sekali tidak berpikir bahwa di depan pintu adalah Arya. Biasanya pria itu pulang jam 7 atau jam 8 malam.


Arya masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu. Dia ingin berbicara serius dengan Dinda dan tak ingin ada yang masuk. Dinda baru akan pergi meninggalkannya sebelum Arya menarik lembut lengannya.


“Plis, dengarkan aku.”, kata Arya dengan lembut pada Dinda sambil menatap lamat - lamat gadis itu.


Arya bisa melihat mata Dinda merah dan bagian pelupuk bawahnya sedikit bengkak.


“Dinda, plis. Kita duduk di sofa dan bicarakan semuanya. Saya mohon. Kita memiliki banyak persoalan yang belum terselesaikan dan semakin lama semakin menumpuk.”

__ADS_1


Dinda menatap tajam pada Arya. Bulir air matanya jatuh meski hanya setetes dua tetes.


“Jangan menangis lagi. Mau berapa kali kamu menangis hari ini? Semburat mata kamu sudah merah dan pelupuk kamu juga sudah bengkak.”, kata Arya sambil mengusap air mata Dinda. Dia menarik lengan Dinda pelan dan mengarahkannya untuk duduk di kursi.


Arya pun ikut duduk. Alih - alih memilih tempat duduk yang berseberangan, Arya memilih untuk duduk di kursi panjang yang sama dengan Dinda agar bisa berhadapan.


“Pertama, soal saya yang berada di kamar yang sama dengan Sarah tempo hari. Saya minta maaf, saya tidak jujur. Tidak ada yang terjadi, saat itu juga ada orang lain di kamar itu yang mungkin tidak sempat kamu lihat. Saat itu, saya masih memiliki hal yang belum terselesaikan dengannya. Saya tidak berpikir bahwa kamu juga ada disitu. Saya tidak pernah tidur dengan siapapun selama saya sendiri, bahkan setelah saya menikah dengan kamu.”, Arya memegang tangan Dinda.


Tatapannya lurus dan terlihat tulus ke arah Dinda. Dia mengusap - usap sedikit telapak tangan Dinda untuk menenangkan suasana.


“Soal kemarin, saya akui saya mabuk berat. Saya kehilangan kendali. Begitu saya melihat kamu…”, Arya masih ingin meneruskan kalimatnya tapi Dinda memilih untuk berdiri. Dia tidak ingin mendengarnya lagi.


“Din.”


“Terserah mas Arya mau menganggap saya apa. Orang asing, istri, atau wanita yang bisa mas Arya tiduri saat mas Arya ingin.”


“Dinda, come on. Kamu tidak perlu mengeluarkan kalimat seperti itu.”


“Saya menyusul mas Arya karena khawatir. Saya tidak pernah tahu mas Arya suka minum. Saya kaget, bingung, dan takut kalau - kalau papa sama mama tahu. Tapi apa yang mas Arya lakukan. Mas Arya memaksa sesuatu yang saya belum siap seperti..”, kata Dinda berteriak.


“Saya tahu.. Saya salah. Seandainya waktu bisa diulang, Din. Saya sudah minta maaf berkali - kali. Dan haruskah saya meminta maaf atas hak yang sebenarnya saya punya terhadap kamu? Tapi, saya tetap minta maaf, kan.”, tegas Arya.


“Mas Arya belum sepenuhnya sadar. Malam itu, mas Arya minum karena mas Arya kecewa kan sama Sarah? Mas Arya yang bilang sendiri. Mas Arya kecewa dengan orang yang mas Arya cintai lalu melampiaskannya ke saya. Mas Arya tahu rasanya? Sakit mas.”, Dinda kembali menghadap Arya.


“Saya gak peduli mas Arya mau jalan dengan siapa, jika saya bukan istri, mas. Saya gak peduli mas Arya meniduri saya, jika memang mas Arya melakukannya dengan cinta bukan karena mas Arya ingin melampiaskan sakit hati mas pada perempuan lain ke orang yang sekarang jadi istri mas.”


“Saya mungkin tidak seperti Sarah yang mas cintai. Tapi, bisakah mas Arya menghargai keberadaan saya? Saya sudah mempersilahkan mas untuk menceraikan saya, tapi mas Arya tidak melakukannya. Saya bodoh berharap apa yang mas katakan di Maldives benar.”


Arya terdiam. Dia sadar bahwa selama ini apa yang sudah dilakukannya memang egois. Dia hanya memikirkan sakit hatinya, rasa kecewanya, lukanya, dan masa lalunya dengan wanita yang sudah mengkhianatinya mentah - mentah.


Padahal di depannya, ada seorang gadis polos yang menyerahkan momen masa mudanya, waktunya tumbuh dan berkarir dengan pria seperti Arya.


*****


Malam sudah semakin larut. Tapi tak satupun diantara mereka yang tidur, meski keduanya sudah berbaring di atas kasur. Pertengkaran tadi mereka akhiri karena Inggit sudah mengetuk pintu untuk makan malam.


2 jam yang lalu di meja makan.

__ADS_1


Dinda segera mencuci wajahnya dan izin untuk makan malam di kamar saja. Dia hanya beralasan bahwa hari ini dia begitu lelah dan kurang enak badan. Alhasil Arya turun dan meminta Bi Rumi mengantarkan makanan ke kamar. Sementara Arya turun untuk makan malam bersama dengan Kuswan dan Inggit. 


“Apa yang kamu lakukan pada Dinda? Kalian tidak pulang semalam dan tadi sore papa lihat dia tidak ke kantor.”, tadinya Kuswan ingin mengubur kecurigaannya. Tetapi melihat suasana, dia memilih untuk menanyakannya pada Arya. 


“Hah? Kenapa, pa? Dinda kenapa?”, kata Inggit sedikit khawatir. Dia tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. 


“Arya bisa menyelesaikan masalah rumah tangga Arya sendiri, Pa.” 


“Yakin kamu? Kalau dalam seminggu semua tidak membaik. Papa akan meminta penjelasan dari kamu, Arya.”, kata Kuswan tegas. Ia kemudian meninggalkan meja makan tanpa berkata apa - apa lagi. 


Inggit yang khawatir hanya bisa diam dan tak bertanya lagi. Wajah Arya dan Kuswan sama - sama menegang. Biarlah Inggit tak ikut campur dulu.


Arya berinisiatif memutar tubuhnya menghadap Dinda yang tidur membelakanginya. Arya bergeser untuk mendekatkan tubuhnya pada Dinda lalu memeluknya pelan. Sebelum mengucapkan kalimat pertamanya, Arya mengecupkan bibirnya di bahu Dinda.


“Bisakah kamu memaafkanku sekali ini saja? I know I was being immature. I press all my hurtful feelings toward you. Hm?”, Arya mengecup kembali bahu Dinda.


Melihat belum ada pergerakan dari Dinda, Arya berinisiatif untuk membalikkan tubuh gadis itu dengan pelan. Dinda masih tertunduk. Arya mengangkat wajah Dinda yang tertunduk dan mendapati gadis itu dengan air matanya. Perlahan terisak.


Arya memeluk Dinda erat. Memasukkan gadis itu dalam lebar tubuhnya agar Dinda lebih tenang dan mengalirkan permintaan maafnya dengan begitu tulus pada gadis itu.


“Aku minta maaf, Din. Maaf karena memperlakukanmu dengan tidak baik. Maaf karena melibatkanmu dalam drama masa laluku yang seharusnya sudah aku selesaikan tiga tahun yang lalu.”


Dinda masih terisak bahkan semakin keras dalam pelukan Arya. Selanjutnya, Arya membiarkan Dinda tenang dalam pelukannya. Setidaknya ada 10 menit Dinda menangis seperti itu. Dia masih sangat muda. Tak mudah baginya hidup di rumah dengan orang - orang yang baru.


Saat Arya merasa Dinda sudah lebih tenang, dia mengangkat wajah Dinda untuk menatapnya.


“Mulai sekarang, hanya ada kamu dan aku. Hm?”, meski belum ada cinta diantara mereka, tapi Arya yakin kenyamanan yang ia dapat setiap berada disamping gadis ini bukanlah hal yang biasa. Dia hanya perlu membangun rasa itu.


Bahkan orang yang sudah bersama menjalin cinta bertahun - tahun seperti dirinya saja, belum tentu bisa menghadirkan rumah tangga yang hangat. Mungkin pernikahan itu, bukan tentang cinta saja. Begitu pikir Arya saat ini.


Dinda menatap mata Arya mencari kebohongan di dalamnya. Nihil. Dia tak menemukannya.


“Hm?”, Arya kembali meminta jawaban Dinda.


Dinda menutup matanya sekali lalu membukanya lagi. Seolah memberikan persetujuan tersirat pada Arya. Arya tersenyum dan mencium kening gadis itu untuk kemudian memeluknya kembali.


Walau masih sedikit terisak karena efek tangisannya, tapi Dinda sudah bisa lebih tenang. Komitmen yang selama ini dinantinya dari seorang Arya akhirnya ia dengar malam itu. Semoga Arya sungguh - sungguh dengan perkataannya. Setidaknya itu yang Dinda harapkan.

__ADS_1


__ADS_2