Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 149 Kepala Divisi yang Baru


__ADS_3

Bagi para pekerja kantoran, perusahaan tempat mereka mencari cuan menjadi rumah kedua. Hampir setengah dari 24 jam waktu mereka dihabiskan di kantor selama 5 hari dalam seminggu. Bahkan, untuk posisi - posisi tertentu, tak jarang mereka juga mengorbankan lebih banyak waktu malam dan weekend mereka untuk urusan pekerjaan.


Tak terkecuali Arya yang kembali disibukkan dengan berbagai meeting seperti biasanya. Meski dia sudah berusaha untuk mengurangi jam lembur dan frekuensi meeting di luar kantor, tetapi untuk posisinya, tentu saja hal itu menjadi sangat sulit.


Beberapa kali Arya pulang ke rumah saat istrinya sudah tertidur lelap. Bisa mencium gadis itu sesaat sebelum dia memulai tidurnya juga menjadi rutinitas berharga untuknya. Selain itu, Arya juga sebisa mungkin menghindari meeting pagi atau meeting di tempat yang mengharuskannya berangkat pagi - pagi.


Meski dia tak bisa mengobrol dengan Dinda sebanyak yang dia mau sepulang kerja, dia masih bisa menggunakan waktu perjalanan ke kantor bersamanya.


“Mas Arya sekarang sudah jarang lewat area divisi aku. Biasanya sehari setidaknya ada satu kali mas Arya menemui Pak Erick. Sekarang, sejak mas Arya sudah tidak pegang divisi aku lagi, hampir tidak pernah lihat wajah mas Arya selama di kantor.”, curhat Dinda.


Awalnya, dia kira akan bisa terbiasa dengan rutinitas kantor yang baru sejak Arya melepaskan tanggung jawabnya untuk divisi Digital and Development. Namun, baru sekitar 2 minggu berlalu, Dinda sudah merasakan perubahan yang luar biasa. Dia kira, melihat Arya di rumah dan selama perjalanan kantor saja sudah cukup. Tapi, nyatanya tidak.


“Jadi, sekarang kamu berubah pikiran? Mau publikasi hubungan kita ke orang - orang kantor?”, Arya menawarkan.


Kira - kira semingguan yang lalu, selang beberapa hari Arya resmi tidak memegang divisi Digital and Development lagi.


“Din, sebenarnya aku menunggu kamu yang bertanya. Tapi, aku tak mendengar apa - apa dari kamu.”, kata Arya heran. 


“Bertanya tentang apa, mas?”, tanya Dinda. 


“Kepala divisi DD sudah ada dan sekarang aku sama sekali tidak memegang divisi itu lagi. Artinya, aku sudah tidak ada hubungan dengan pengambilan keputusan di divisi kamu lagi.”, kata Arya. 


“Terus?” 


“Hm? Berarti hubungan kamu dan aku sebagai suami istri sudah tidak perlu disembunyikan lagi.”, jelas Arya. 


Dinda masih terdiam. Tadinya, Dinda sedang duduk di kasur menonton drakor kesayangannya sedangkan Arya sedang membaca laporan yang perlu dia tanda tangani. Keduanya duduk manis di atas kasur meski malam telah larut karena ‘toh’ besok adalah hari Sabtu.


“Din?”, Arya memanggil istrinya lagi memastikan kalau gadis itu mendengarnya. Dia bisa melihat Dinda sudah melepaskan earbud di telinganya, tapi dia masih belum memberikan respon apa - apa. 


“Mas Arya.”, panggil Dinda pelan dan hati - hati. 


“Hm?”, Arya menoleh untuk bersitatap dengan gadis itu. 


“Boleh tidak, kalau kita sembunyikan status pernikahan kita sampai aku selesai intern?”, lagi - lagi Dinda menggunakan intonasi yang pelan dan terdengar hati - hati. 


Dia tak ingin Arya salah paham dengan permintaannya. 


“Hm? Maksud kamu?”, tanya Arya masih belum mengerti dengan maksud Dinda meski bahasa gadis itu sudah jelas. Dia hanya tidak mengerti, kenapa harus menyembunyikannya. 


Meski dia belum bisa menerima Kepala Divisi DD yang baru yang jelas - jelas pernah dia tangkap basah berada di kamar mantan istrinya, tapi Arya lega karena sekarang dia sudah tidak perlu menyembunyikan status mereka. 


Dia pikir, Dinda juga berpikiran yang sama. Tapi, apa yang dimaksud gadis itu untuk tetap menyembunyikan status pernikahan mereka. 


“Awalnya, aku juga senang, akhirnya ga harus pura - pura lagi di kantor. Ga harus bingung lagi jawab kalau ada hal - hal aneh menurut mereka tentang aku. Tapi mas, setelah aku pikir - pikir lagi, meskipun mas Arya sudah tidak memegang divisi DD lagi, pasti mereka akan mempertanyakan kredibilitasku selama bekerja sebagai intern.” 


“Tapi aku tidak pernah memberikan perlakuan istimewa sama sekali.”, balas Arya. 


“Iya, benar. Tapi, mas Arya tahu sendiri kan orang di kantor bagaimana. Pasti ada satu dua yang bertanya - tanya dan mencurigai kalau mungkin saja selama ini aku mendapatkan perhatian yang berbeda dengan karyawan lain.”, kali ini Dinda menoleh menghadap ke arah Arya. 


Dia ingin Arya tidak salah paham dengan maksdunya. 


“Berapa lama lagi masa intern kamu?”, tanya Arya. 


“4 bulan.”, jawab Dinda. 


“Lalu, bagaimana kamu menyembunyikan perut kamu? Bukankah usia 6 bulan, kehamilan kamu sudah mulai kelihatan?”, tanya Arya. 


Sebagai suami, Arya bisa saja langsung menolak permintaan Dinda yang ingin tetap menyembunyikan status mereka. Tapi, Arya tak ingin seperti itu. Dia ingin mencoba mendengarkan alasan dan mencoba memahami pemikiran istrinya. 


“Aku rasa perutku masih belum terlalu besar hingga usia 5 bulan. Aku bisa mengenakan pakaian yang longgar. Di usia 6 bulan, jika ada yang menyadarinya, aku akan katakan kalau aku memang sudah menikah dan sedang hamil. Tapi, aku belum akan mengatakan kalau suamiku adalah mas Arya.”, Dinda memegang tangan Arya sambil menjelaskan pemikirannya. 


“Memangnya kamu tidak berniat lanjut di perusahaan ini sebagai staff permanen?”, terang Arya. 


“Tentu saja aku ingin lanjut jika Pak Erick merekomendasikan aku. Tapi bagaimana kalau tidak? Aku hanya akan pusing menerima gosip orang - orang tentang bagaimana aku bisa masuk perusahaan sebagai intern meski aku masuk dengan jalur yang benar dan sebelum menikah dengan mas Arya. Tapi, apa aku bisa menjelaskan itu semua?”, kata Dinda. 


“Kalau kamu gak bisa. Saya yang jelaskan.”, kata Arya dengan tegas. 


“Engga. Justru, seperti itu akan membuat semuanya jadi makin aneh buat mereka yang hanya ingin mempercayai apa yang mereka mau percayai.”, balas Dinda. 


Arya menghela nafasnya panjang. 

__ADS_1


“Sejak pertama kali menikah dengan mas Arya, sebenarnya saya tidak yakin kalau pernikahan kita bisa sampai di titik ini.”, kata Dinda sambil terkekeh menutup mulutnya karena begitu dia mengatakan itu, Arya langsung membulatkan matanya dan memberikan ekspresi seolah meminta penjelasan. 


“Coba Pak Arya pikirkan lagi. Siapa yang menyuruh saya membatalkan pernikahan ini? Siapa yang memberikan respon sangaattt dingin tentang pernikahan ini? Saya kira Pak Arya tidak benar - benar serius dengan pernikahan ini.”, kata Dinda dengan suara yang lembut. 


“Dinnn.”, kata Arya merasa tersentil dengan perkataan istrinya dan memohon agar tak mengungkit hal itu lagi. 


“Ya? Gapapa ya? Tinggal 4 bulan lagi. Aku ingin masa internku sama seperti yang lain. Selesai tanpa masalah. Ya? Mas Arya? Ya?”, kata Dinda mencoba untuk membujuk Arya agar menyetujui permintaannya. 


“Hah…”, lagi - lagi Arya menghela nafas. 


“Aku gak mau kalau pencapaian intern aku dibilang karena merayu Pak Arya, karena Pak Arya dulu jadi kepala divisi aku, karena aku istrinya pak Arya, karena pak Arya kasih treatment yang berbeda, bla bla bla bla. Aku bahkan sudah bisa tahu siapa yang pertama kali akan mengatakannya kalau tahu aku adalah istri Pak Arya.”


“Ya sudah, terserah kamu.”, Arya langsung meletakkan laporan yang dikerjakannya diatas nakas, mematikan lampu dan masuk ke dalam selimut. 


“Em? Mas Arya marah?”, tanya Dinda yang kaget dengan respon pria ini. 


Dinda menggaruk - garuk rambutnya yang tidak gatal karena bingung. Sepertinya, baru pertama kali dia mendapatkan respon unik dan unyu seperti ini dari Arya. 


“Mas Arya? Mas Arya beneran marah? Kenapa?”, kata Dinda mencoba menoel - noel lengan kekar Arya. 


“Mas? Halo… sudah tidur?”, kata Dinda tertawa kecil. 


“Kamu itu, 4 bulan, ya. Awas kalau kamu dekat - dekat dengan siapa itu namanya cowo yang ada di divisi kamu. Awas aja kalau kamu melakukan yang aneh - aneh di luar pengawasan saya. Saya gak mau lagi kejadian seperti di Lombok waktu itu terulang.” 


“Memangnya aku mau ngapain. Kan di kantor kerja, bukan berenang.”, jawab Dinda sekenanya. 


“Ya.. karena sekarang divisi kamu sudah saya lepas artinya kamu sudah di luar pengawasan saya. Ada apa - apa, lapor. Bilang dulu, setidaknya WhatsApp. Kalau meeting kemalaman, bilang. Biar saya tungguin.”, kata Arya yang sudah membuka selimut dan kembali menghadap Dinda. 


“Kayanya mas Arya yang lebih banyak meeting. Saya intern, jam 5 juga sudah pulang.” 


“Ya.. pokoknya, kalau ada hal - hal seperti itu. Bilang. Jangan lupa, kamu itu hamil.”, kata Arya lagi. 


“Berarti mas Arya mengizinkan eh maksudnya setuju kalau status kita di rahasiakan dulu sampai masa intern aku selesai?”, tanya Dinda memastikan. 


“Kamu aja yang menyembunyikan. Saya enggak. Kalau saya keceplosan, jangan salahin saya. Sudah saya mau tidur.”, kata Arya kembali masuk ke dalam selimut. 


Lampu merah menyala. Arya yang sedang menyetir kembali menoleh ke arah Dinda.


“Jadi, kamu mau berubah pikiran untuk tidak menyembunyikan lagi status kita?”, tanya Arya.


“Kamu? Apa kamu..”, pertanyaan Arya tidak selesai.


“Hem… aku tahu kok. Walaupun ada kemungkinan aku diangkat jadi staff permanen, pasti HRD tidak akan meloloskan aku karena aku sudah hamil 6 bulan. Mereka pasti memutuskan untuk tidak mempekerjakan karyawan yang jelas - jelas 3 bulan lagi akan cuti hamil.”, kata Dinda memotong pertanyaan Arya.


“Kamu sudah tahu itu?”


“Mas Arya pikir aku anak intern mana, hal seperti itu saja tidak tahu. Di perusahaan kita, biasanya tidak pernah > 50% lolos menjadi staff permanen. Ditambah dengan kenyataan kalau aku sedang hamil, kemungkinan aku diangkat jadi staff sangat kecil.”, lanjut Dinda.


Mendengar perkataan Dinda barusan, Arya merasa bersalah. Dia sudah sejauh ini menjaga agar orang kantor tidak ada yang mengetahui status mereka. Tapi pada akhirnya, dia juga lupa tentang poin penting seperti ini.


HRD mungkin akan lebih konservatif untuk mempekerjakan karyawan yang akan cuti hamil. Beda cerita kalau karyawan itu adalah karyawan tetap. Tapi ini intern. Jika Dinda diangkat jadi staff permanen, itu sama saja Dinda menjadi karyawan baru dengan tanggung jawab baru yang tentunya lebih dari sekedar tanggung jawab seorang intern.


“Gapapa kok. Mas Arya gak perlu merasa bersalah. Lagipula, justru bagus kalau aku menyelesaikan masa intern dan nanti apply lagi di perusahaan yang baru. Bisa perusahaan yang ini juga. Dengan begitu, gak akan ada yang mencurigai kalau aku dapat treatment khusus dari mas Arya, Murni karena kemampuan aku.”, jelas Dinda dengan penuh percaya diri.


“Siapa yang merasa bersalah.”, sebaliknya, Arya malah jadi salah tingkah.


“Hm? Ekspresi apa seperti itu kalau bukan merasa bersalah?”, kata Dinda lagi - lagi menoel lengan Arya sambil tersenyum.


“Siapa yang merasa bersalah. Kamu jangan ngomong begitu, nanti anak kita salah paham, loh.”, balas Arya.


“Oh… oh iyaa… aduh lupa.. sayang … gak gitu kok. Papa kamu sayang kok… papa kamu gak menyesal, kok.”, kata Dinda panik sambil mengelus - elus perutnya.


Arya hanya bisa tersenyum melihat tingkah lucu istrinya.


“Oke, kalau begitu, see you nanti sore. Aku ada meeting sampai sore di luar.”, kata Arya dari balik kaca mobilnya.


“Hm.. hati - hati di jalan.”, ujar Dinda sambil berlalu menuju kantor.


*******


“Din, kamu masa internnya tinggal berapa lama lagi?”, tanya Delina yang menyeruput kopi paginya.

__ADS_1


“Hm.. sekitar 4 bulan lagi.”, jawab Dinda yang sudah menghidupkan komputernya.


“Kamu gak coba tanya sama Pak Erick tentang lowongan staff permanen? Siapa tahu dia bisa mengusahakan agar kamu bisa di seleksi untuk jadi staff permanen.”, lanjut Delina.


“Hm.. aku ga berani tanya, mba. Nanti kalo ada lowongannya dan menurut Pak Erick aku memang cocok, dia pasti akan info ke aku.”, ucap Dinda.


“Huu.. kamu. Harus gercep dong. Kalo tunggu Pak Erick info, mau sampai kapan. Dia aja mungkin ga ingat. Atau kamu coba tanya mba Rini aja. Nanti dia kan bisa rekomendasiin kamu. Memangnya kamu gak mau jadi karyawan tetap disini?”, tanya Delina.


“Eh? Hm.. “, Dinda masih berpikir.


“Kamu terima penawaran dari kantor lain?”


“Haha, engga kok. Belum ada, mba.”, jawab Dinda.


“Eh - Eh, Pak Erick sama Pak Dika datang.”, bisik Delina langsung fokus pada layar komputernya.


Hari memang masih pagi, tetapi jam kerja sudah dimulai sejak 20 menit yang lalu. Pak Dika dan Pak Erick mungkin baru saja meeting pagi di luar, atau ada urusan yang membuat mereka terlambat. Belum ada banyak perubahan yang berarti sejak kedatangan kepala divisi mereka yang baru. Selain dari ruangan kepala divisi yang sekarang ada isinya.


“Oiya Pak Dika. Untuk smart report, dari awal launch sampai training ke tim Business and Partners, intern divisi kita, Dinda yang menanganinya. Dinda, sini.”, panggil Erick.


Erick memang selalu memberikan ruang bagi karyawannya terutama mereka yang levelnya masih di bawah untuk bisa show-off. Tentu saja dibarengi dengan performanya yang memang baik. Meski Dinda masih intern dan belum memiliki pengalaman bekerja, Erick dan Rini memutuskan untuk memberikan satu project yang membuat kontribusinya bisa dengan mudah diingat oleh internal divisi, maupun karyawan level senior seperti Dika.


Sebelum ini, Erick juga tidak segan melibatkan Dinda untuk pelatihan bahkan memberikan ruang untuknya menunjukkan kemampuan di depan Arya yang notabene memiliki posisi yang jauh lebih tinggi. Tentu saja, hal itu dimulai sebelum Erick tahu hubungan Arya dan Dinda.


“Oh.. ternyata ini yang menjalankan project smart report. Berarti kalau ada pertanyaan terkait project ini, saya bisa langsung tanya ke kamu ya, Dinda.”, ujar Dika dengan nada yang bersahabat.


Meskipun Dika Sadewa mengenal Sarah dan pernah tanpa sengaja bertemu Arya sebelumnya, Dika sama sekali tidak tahu jika istri baru dari mantan suami Sarah adalah Dinda yang ada di divisinya saat ini. Dika juga tidak memberitahu Sarah tentang tempat kerjanya yang baru.


“I-iya Pak. Silahkan jika Bapak ada pertanyaan. Sebisa mungkin akan saya jawab.”, balas Dinda pelan. Dia sedikit deg-deg-an karena tidak pernah berinteraksi secara langsung dengan Dika.


Selama dua minggu terakhir, Dika lebih banyak menghabiskan waktu di ruangannya. Hanya Erick dan Rini yang sering bolak - balik ruangannya. Suci juga beberapa kali karena posisinya sebagai Management Assosiate. Interaksinya dengan kepala divisi pasti lebih banyak dibandingkan dengan yang lain.


Erick memberikan kode pada Dinda untuk kembali duduk di kursinya.


“Pak Dika, untuk meeting dengan Pak Arya, kira - kira perlu saya blok sekarang? Kebetulan Siska, sekretarisnya sedang ada di tempat. Dua minggu kedepan sepertinya jadwal beliau akan sangat padat.”, ujar Erick.


“Ohiya boleh - boleh. Meeting itu harus dilaksanakan dengan cepat sebelum Pak Arya terlanjur sibuk. Saya harus percepat project itu sebelum Divisi Business and Partners semakin sibuk. Untuk project kali ini, siapa yang bertanggung jawab?”, tanya Dika.


“Oh, itu akan ditangan oleh Suci, Bryan, dan Andra.”, jawab Erick.


“Hm.. ngomong - ngomong, kemana Suci? Saya tidak lihat dari tadi. Belum datang?”, tanya Dika.


“Hm.. dia sedang ada meeting dengan HRD, pak.”


“Hm? Dengan HRD? Bukankah review dengan HRD untuk management assosiate masih 4 bulan lagi, ya. Kenapa dia bertemu HRD?”, tanya Erick. Lebih tepatnya dia bertanya pada dirinya sendiri namun dengan bersuara.


“Bryan dan Andra?”, Dika nampak bertanya.


“Oh… Bryan yang duduk disana dan Andra yang duduk disana. Kebetulan mereka satu geng makan dengan Delina dan Dinda.”, tunjuk Erick.


“Pak Dika, maaf. Rick, meeting dengan Finance 10 menit lagi, ya.”, ucap Rini yang turun dari tempat duduknya dan menghampiri Erick.


“Oh kalian mau ada meeting?”, tanya Dika.


“Haha.. iya Pak. Kebulan ada meeting jam 10.”


“Oh oke.. Del, begitu Suci datang, suruh ke ruangan saya bersama dengan Andra dan Bryan, ya. Din, saya boleh ketemu kamu sebentar? Ada beberapa yang ingin saya tanyakan tentang smart report.”, ucap Dika tiba - tiba.


‘Eh? Aku? Sendiri? Hah… kenapa harus di ruangannya. Aduh…’, Dinda tampak berpikir namun sudah mengangguk menerima perintah Dika.


“Hm.. atau kamu bawa Bryan dan Andra sekalian. Del, begitu Suci datang, langsung suruh ke ruangan ya.”, ucap Dika dan berlalu segera ke dalam ruangannya.


Dinda langsung memanggil Andra dan Bryan untuk masuk bersamanya sesuai dengan perintah Dika.


Lama mereka di dalam sampai akhirnya Suci datang. Selama itu, Dika telah memberikan briefing pada Andra dan Bryan terlebih dahulu. Sebelum akhirnya mendengar beberapa penjelasan dari Dinda.


“Oke, kamu boleh keluar.”, kata Dika pada Dinda setelah urusannya selesai.


Tepat waktu, Suci datang dan masuk ke ruangannya.


“Gimana - gimana?”, tanya Delina di luar yang sudah penasaran dengan bagaimana cara kepala divisi mereka yang baru bekerja.

__ADS_1


“Hm.. biasa saja. Entah kenapa dia punya aura yang membuat kita tidak nyaman. Tidak seperti Pak Erick.”


“Hm? Aura apa? Tapi memang iya sih. Bryan juga pernah komen seperti itu. Katanya, meski Pak Arya menyeramkan, tapi kayanya lebih nyaman meeting dengan dia dibandingkan dengan Pak Dika ini.


__ADS_2