Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 134 Kekhawatiran Arya


__ADS_3

Dinda mengintip - intip ke arah ruang tamu kamar hotel Arya untuk memeriksa apakah Erick sudah pergi. Saat dia membuka sekitar 5 cm saja pintu tersebut, Arya tiba - tiba muncul di hadapannya.


“Aduh… kaget mas..”, Dinda mengusap - usap jidatnya karena terbentur sedikit dengan pintu.


“Kamu ngapain ngintip - ngintip.”, tanya Arya dengan wajah datarnya.


“Mas Arya kenapa gak bilang sih kalo Pak Erick kesini. Aku kan ga tahu.”


“Hn.”


“Apanya yang ‘Hn’? Terus apa maksudnya Pak Erick sudah tahu? Jangan - jangan.”


“Hn.”


“Jangan ‘Hn’ terus mas.”, kata Dinda frustasi menghadapi suaminya.


“Erick sudah tahu lama kok tentang pernikahan kita. Jadi ga usah panik.”


“Hah? Sejak kapan?”


“Hm.. sebulan? Mungkin lebih? Dia yang tahu sendiri. Bukan aku yang mengatakannya.”, jelas Arya.


Erick memang mengetahui hubungan Arya dan Dinda sendiri. Dia sama sekali tidak memberitahunya. Mungkin karena mereka sering berinteraksi baik dengan Dinda maupun Arya, sehingga mudah bagi Erick untuk mengetahuinya.


“Apa? Sebulan, lebih? Jadi selama ini Pak Erick di kantor tahu dong kalo aku isterinya mas Arya?”


“Ya terus? Memang bukan?”, kata Arya sudah tak ingin membahas ini karena menurutnya tidak ada yang perlu dipusingkan.


“Ya.. kenapa mas Arya gak bilang ke aku kalau Pak Erick sudah tahu.”


“Ada yang lebih penting dari itu. Kamu udah gapapa? Perutnya ada yang aneh ga? Ada sakit atau pusing? Semua gapapa?”, disamping mempermasalahkan tentang Erick sudah tahu atau tidak, sejak kapan, dan bagaimana, Arya jauh lebih mengkhawatirkan Dinda dan juga kandungannya.


Gadis itu datang dengan ekspresi panik di hadapannya baru sekitar 1.5 jam yang lalu dan gadis itu bahkan pingsan.


“Kita ke rumah sakit aja, yuk. Kita cek dulu apa kamu baik - baik saja.”, ajak Arya.


“Engga kok, mas. Selain memang masih merasa sedikit takut, yang lain baik - baik saja.”, kata Dinda.


‘Kenapa mas Arya tanya tentang perut segala? Memangnya perutku kenapa?’, tanya Dinda heran dalam hati.


“Ga ada siapa - siapa di luar. Mungkin orang itu sudah pergi. Padahal ini hotel bagus loh. Kenapa masih ada orang seperti itu? Aku sudah telpon sekuriti tapi mereka bilang tidak ada orang mencurigakan yang masuk ke dalam hotel. Kalo hotel tempo hari aku masih paham, tapi kali ini hotel bagus.”, pikir Arya.


“Kamu yakin gapapa?”, Arya mendekat ke arah Dinda dan memeriksa tubuh gadis itu mulai dari kepalanya, tangannya, dan sekilas Arya juga mencoba memeriksa perut Dinda. Meski dia tahu tak ada yang bisa dia ketahui hanya dengan memegangnya namun Arya hanya ingin memastikan bayinya aman.


“Hm? Kenapa?”, Dinda sedikit heran karena Arya meletakkan tangannya di perutnya.


“Kamu gendutan.”, jawab Arya ngasal.


“Hah?”, respon Dinda heran.


“Ponsel kamu, plis dicharger. Jadi kalau ada apa - apa kamu bisa telpon saya. Kamu bawa power bank di meja saya supaya gak lowbat lagi baterai hapenya. Kalau lowbat, saya cium kamu.”, ancam Arya. Entah ini adalah ancaman atau hadiah.


“Kalau kamu mau ke kamar, pastikan bareng dengan roomate kamu. Siapa namanya?”, tanya Arya.


“Delina dan Mba Suci juga menginap di kamarku.”, jelas Dinda.


“Suci? Ngapain dia menginap di kamar kamu? Bukankah dia punya kamar sendiri. Jadi yang kemarin mengangkat ponsel kamu, dia?”, tanya Arya.


Dinda mengangguk.


“Ceritanya panjang…”


“Pokoknya, jangan kembali ke kamar kamu sendiri. Pastikan sama Delina itu atau Suci. Kalau mereka gak ada seperti malam ini, kamu ke kamar saya aja. Saya sudah minta satu lagi kartu akses. Tapi.. telpon saya dulu supaya saya bisa antar kamu, atau kamu minta bantuan petugas hotel untuk mengantar kamu. Jangan jalan sendiri. Ingat?”, perintah Arya dengan tegas.


Sosok Arya sekarang seperti sosok Pak Arya, kepala Divisi Business and Partners. Dinda tak sanggup bergeming dan hanya menunduk mengiyakan perintah Arya.


“Kamu bikin saya jantungan saja.”, gumam Arya dengan suara pelan, namun Dinda masih tetap bisa mendengarnya.


“Hm? Pak Arya tadi ngomong apa? Pak Arya khawatir ya sama aku?”, kata Dinda antusias mendekat kepada Arya.


“Hm? Hm?”, Dinda masih terus mendekat sampai Arya justru berbalik mengunci pergerakan Dinda.


Respon cepat Arya dan tatapan pria itu padanya membuat Dinda terdiam. Entah berapa kali Dinda masuk dalam situasi yang intimate seperti ini dengan Arya namun dia masih tetap tak terbiasa. Dan itulah yang membuat Arya tertarik untuk menggoda gadis itu. Kadang, itu juga bukan hanya godaan tetapi memang Arya menginginkannya.


“Iya, saya khawatir sama kamu. Tapi, kamu masih gak mau jujur semua dengan saya.”


“Saya?”, tanya Dinda. Dia mempertanyakan kata ganti orang pertama yang digunakan oleh Arya.

__ADS_1


“Kamu akan mendengarkanku hanya jika aku menggunakan ‘Saya’, kan?”, jawab Arya.


“Hm.. bener juga.”, kata Dinda tersenyum.


Saat itu Arya langsung menangkap bibir gadis itu dan menciumnya lembut.


“Kamu punya hutang dengan saya.”, kata Arya setelah menyelesaikan apa yang tadi dia inginkan.


“Hutang? Hutang apa? Udah ah, aku mau mandi mas.”


‘Sampai kapan kamu mau menyembunyikan kehamilan kamu, Din? Apa yang membuat kamu belum bisa atau bahkan tidak ingin mengatakannya?’, tanya Arya dalam hati.


“Mas Arya?”, Dinda melambai - lambaikan tangannya di hadapan wajah Arya karena pria itu terlihat melamun.


“Aku mau mandi.”, kata Dinda.


“Hm.”, jawab Arya singkat.


Dinda mengeluarkan ekspresi kecewa karena sepertinya bukan respon seperti itu yang dia inginkan.


“Kenapa? Mau mandi bareng?”


“Ih… “, kata Dinda melemparkan kemeja yang tadi dia pegang ke arah Arya, kemudian berlalu ke kamar mandi.


“Kalau kamu merasa gak nyaman, ada yang sakit, atau gimana langsung bilang ya Din.”, kata Arya dengan lembut sebelum bergerak menuju meja kerjanya.


Dinda menatap Arya heran.


‘Belakangan ini mas Arya terlihat mengkhawatirkanku. Apa aku katakan saja sekarang tentang kehamilan ini? Mas Arya akan senang atau tidak, ya?’, Dinda masih ragu dalam hati.


******


“Malam Pak. Maaf - maaf saya agak sempoyongan sedikit. Pak Gilbert jadi kesini? Saya kira hanya bercanda saja.”, kata Egi saat menghampiri Gilbert di sebuah cafe di dalam hotel.


“Abis ngapain kalian?”, tanya Gilbert pada anak buahnya.


“Biasalah Pak kalo sedang tim building. Oiya, Pak Gilbert berarti menginap di kamar berapa, Pak? Jujur saya benar - benar tidak tahu loh kalau Pak Gilbert mau kesini.”, tanya Wawan.


“Bukan, bukan. Saya bukan ke sini karena tim building. Saya mau ketemu orang dan kebetulan tadi saya lihat Arya, jadi saya kira kalian sedang tim building. Jujur saya lupa tanggal dan hotelnya. Jadi, sebuah kebetulan ya.”, kata Gilbert.


Egi dan Wawan salon berpandang - pandangan karena mendengar Gilbert menghapus sapaan pada Arya. Biasanya meskipun Pak Gilbert lebih tua dan pernah menjadi bos Arya sebelumnya, dia tidak pernah memanggil Arya hanya dengan namanya saat ini. Karena Arya notabene sudah menjadi bosnya.


Awalnya dia mengambil cuti namun malah tak pernah masuk lagi. Dia juga meninggalkan beberapa project terbengkalai sehingga Arya harus menyelesaikannya. Hubungan keduanya sudah pasti menegang sejak itu dan anak buahnya seperti Wawan dan Egi cukup cerdas untuk menyadari situasi.


“Jangan melihat saya seperti itu. Kalian mau pesan apa, saya yang traktir.”, kata Gilbert.


“Ah.. enggak - enggak Pak, saya sudah banyak minum tadi di klub.”, Keduanya menolak namun tetap berusaha terdengar sopan.


Beberapa orang terdekat seperti bawahan Gilbert sudah mengetahui kalau pria itu sedang menghadapi kesulitan finansial. Beberapa tagihan kartu kredit, telepon, dan beberapa tagihan lainnya sudah menumpuk di meja Gilbert sejak beberapa pekan lalu.


Berada di depan Gilbert lagi juga sebenarnya membuat Wawan dan Egi merasa canggung.


“Pak, maaf saya boleh ke toilet dulu? Dari tadi mau buang air tapi ditahan terus sama si Wawan.”, ujar Egi.


“Oh iya silahkan. Saya juga ga lama disini. Saya ada janji dengan rekan saya di hotel lain.”, jawab Gilbert.


“Aah..”, begitu respon canggung dari Wawan sementara Egi pergi ke toilet.


Di toilet, Egi tidak buang air kecil melainkan membuka ponselnya dan mencoba menghubungi Arya. Situasi ini tadi sedikit aneh. Menurut yang dia dengar, manajemen kesulitan untuk menghubungi Gilbert dan dia justru muncul tadi di hadapan mereka.


“Halo, Pak Arya. Maaf Pak saya mengganggu. Saya tidak yakin apakah harus memberitahukan informasi ini. Tapi, saya melihat Pak Gilbert di bawah. Dia sedang mengajak kami berbicara di cafe.”, kata Egi menyampaikan dengan nada ragu - ragu.


“Hm… terima kasih informasinya. Saya ke bawah sekarang.”, kata Arya begitu mendengar penuturan dari Egi.


“Agar situasi tidak semakin aneh, kamu kasih kode lewat chat ke saya kalau pembicaraan kalian sudah selesai. Saya akan mendekati Gilbert saat kalian sudah tidak ada disana.”, jelas Arya.


“Oh terima kasih, Pak. Saya baru akan menyampaikan tentang ini.”, kata Egi merasa lega.


Walaubagaimanapun, Gilbert adalah bos mereka selama beberapa dua tahun terakhir dan situasi akan jadi rumit kalau Gilbert tahu Egi yang memberi tahu keberadaannya pada Arya.


‘Tapi Pak Gilbert yang tiba - tiba menghilang muncul di hotel tempat tim building sekarang, maksudnya apa ya. Jika dia tidak ingin diketahui, kenapa justru datang ke tempat yang banyak orang mengenalinya. Dia memilih bertemu tengah malam juga aneh. Kenapa dia seperti tahu aku dan Wawa pulang dari klub?’, pikir Egi heran.


Egi segera kembali ke Cafe segera setelah dia selesai menghubungi Arya. Namun, dia tidak lagi melihat Gilbert disana.


“Mana Pak Gilbert?”, tanya Egi pada Wawan yang masih menunggunya karena memang mereka roommate (satu kamar hotel).


“Dia bilang ada urusan penting. Dia menyampaikan salamnya padamu.”, kata Wawan.

__ADS_1


“Ah.. kenapa kamu tidak menahannya dulu?”


“Memangnya kenapa? Jangan bilang kamu menghubungi Pak Arya?”,


“Bukankah aneh dia ke hotel menemui kita tepat saat kita selesai dari klub. Seperti dia tahu kita akan pulang dari sana pukul segini.”


“Hah.. kamu terlalu overthinking. Kebetulan. Dia juga bilang kebetulan bertemu kan?”


“Ngapain dia disini? Padahal HR sudah beberapa kali menghubunginya dan dia menghindar.”, kata Egi menyesal karena mengatakan informasi yang seharusnya tidak dia katakan.


“Memangnya kenapa? Tahu dari mana kamu? Aku tahu dia memperpanjang cutinya. Ya, walaupun aku sudah mendengar desas desusnya, tapi itu kan rumor. Sudah berapa kali sih rumor lewat di divisi kita. Pak Arya juga yang paling terbanyak rumornya.”, jawab Wawan.


“Ah sudahlah, anggap saja tadi aku tidak mengatakan apa - apa. Pak Arya sedang turun kesini dan Pak Gilbert sudah tidak ada. Habislah aku.”, kata Egi.


“Kan ini di luar kendalimu. Mana kita tahu kalau Pak Gilbert malah langsung buru - buru pergi.”, kata Egi.


Tak lama pesan baru masuk ke ponsel Egi dari Arya.


From: Pak Bos ‘Arya’


Kamu tidak usah menunggu di Cafe. Saya sudah bertemu Pak Gilbert di pintu selatan.


“Pak Arya sudah bertemu Pak Gilbert.”, teriak Egi kemudian menutup mulutnya.


“Dimana? Bukannya katamu dia mau kesini.”


“Mana aku tahu. Sudahlah, pembicaraan para bos. Kita kembali saja. Kepalaku sudah mau pecah.”, kata Egi berlalu menuju lift.


EPILOGUE


Dinda sudah selesai membersihkan tubuhnya dan berjalan mendekati meja Arya. Dia mengenakan kemeja putih oversize milik pria itu. Arya menyadari keberadaan Dinda yang berjalan ke arahnya. Dia menghela nafasnya karena saat ini dia benar - benar tergoda dengan gadis itu.


‘Plis Din, jangan membuatku sulit bertahan seperti ini. Arya.. ga boleh ya.. Istri kamu sedang hamil.’, kata Arya beberapa kali di kepalanya.


“Mas Arya masih kerja, ya?”, kata Dinda melingkarkan lengannya di leher Arya. Seketika itu juga aroma khas gadis itu tercium olehnya. Tidak hanya aroma parfum dari tubuhnya, tetapi juga aroma shampoo dari rambutnya yang tergerai.


“Kamu mau menggoda saya?”, kata Dinda.


“Hm? Tidak. Aku hanya mau melihat mas Arya sedang mengerjakan apa. Seperti apa sih mas Arya kalau lagi serius?”, kata Dinda menjawab pertanyaan Arya.


“Sini…”, Arya meminta Dinda untuk menghadap ke arahnya.


Saat gadis itu menuruti perintah Arya, pria itu langsung menariknya untuk duduk di pangkuannya.


“Kamu yakin tidak apa - apa?”, tanya Arya lagi.


“Mas Arya sudah tanya itu kesekian kalinya. Aku ga papa, kok. Tenang saja.”, kata Dinda menenangkan pria itu.


“Mas Arya…”, panggil Dinda lembut sambil menatapnya.


Sebenarnya Dinda belum sepenuhnya terbiasa dengan situasi ini tapi tatapan lembut Arya membuatnya merasa nyaman.


“Hm?”, kata Arya merespon singkat.


“Aku mau ngomong sesuatu.”, kata Dinda.


“Hm.”, jawab Arya mengangguk mempersilahkan gadis itu untuk berbicara.


“Mas Arya.. sebenarnya.. Sekarang.. Aku… hm.. “, Dinda masih ragu - ragu mengatakannya.


Dinda baru akan menggerakkan tangan Arya menuju perutnya saat ponsel Arya yang terletak di atas meja berbunyi. Menyadarkan suasana romantis ayng tadi baru saja tercipta.


“Siapa sih?”, kata Arya melihat ke arah ponselnya.


Dinda memutuskan untuk turun dari pangkuan Arya karena takut dia mengganggu urusan kantor pria itu, namun Arya masih menahannya.


“Halo, Pak Arya. Maaf Pak saya mengganggu. Saya tidak yakin apakah harus memberitahukan informasi ini. Tapi, saya melihat Pak Gilbert di bawah. Dia sedang mengajak kami berbicara di cafe.”


“Gilbert?”


“Iya Pak.. “  


Dari raut wajah Arya, Dinda tahu kalau pembicaraan yang sedang dilakukan sangat serius. Dinda juga tanpa sengaja mendengar pembicaraan yang menyebut nama Gilbert saat di bus tadi menuju pantai. Dia satu tim dengan Wawan, Egi, dan mayoritas anak Business Partners, jadi dia bisa menduga tentang apa telepon ini.


‘Hah.. kenapa Gilbert harus datang disaat seperti ini, sih. Kenapa belakangan ini situasi tidak mendukungku.’


“Sayang, aku ke bawah sebentar ya. Kamu tunggu disini, jangan keluar. Kalau butuh sesuatu, telepon aku, ya. Yang kamu mau bilang tadi, kita lanjut setelah aku kembali. Oke?”, kata Arya pada Dinda yang dibalas oleh anggukan gadis itu.

__ADS_1


Arya mengecup pipi Dinda sebentar sebelum berlalu keluar.


__ADS_2