
“Halo.. mas Edo? Mas sudah keterlaluan. Orang yang cerita tentang pernikahan aku dan Dinda ke Sarah adalah mas, kan? Jawab, mas!”, Arya berteriak keras.
Dinda yang baru saja kembali dari spa terdiam di depan pintu kamar hotel. Pintu itu tidak terkunci sehingga Dinda bisa mendengarkan percakapan Arya yang sepertinya sedang menelepon seseorang. Ini pertama kalinya Dinda mendengar Arya semarah itu.
Bahkan, dia tidak pernah se-emosi itu di kantor. Saat bertengkar dengan Dindapun, Arya tidak pernah mengeluarkan nada tinggi, meski nadanya tegas dan kalimatnya menusuk.
“Apa sih maksud mas sebenarnya? Saya gak pernah merasa punya masalah sama mas. Tapi, kenapa mas malah cerita ke Sarah?”, Arya masih berteriak.
“Saya akan cerita ke dia. Dinda ga ada hubungannya sama masalah saya dan Sarah. Jadi, mas gak usah sok ikut campur urusan rumah tangga saya.”
“Yakin hanya itu informasi yang mas katakan ke Sarah? Aku gak akan tinggal diam kalau mas sampai berbuat lebih dari ini. Dinda adalah istri aku, aku yang tahu bagaimana menjaga dia.”
“Sarah? Terserah aku mas, urusan Sarah dan aku bukan urusan mas, atau Dinda. Ingat itu!”
Dinda masih diam mematung. Dia sudah kedinginan karena semilir angin masuk langsung ke tubuhnya. Dia takut untuk masuk. Melihat Arya berteriak membuat dia bergidik ngeri meski bukan dia yang menjadi sasaran kemarahan itu.
‘Siapa yang sedang berbicara dengan mas Arya? Keluarga? Ibas? Tapi dia bilang mas, berarti sepupu yang lebih tua. Mas Edo? Hanya dia yang dipanggil mas oleh mas Arya. Atau suami dari salah satu sepupunya?’, Dinda hanya bisa berspekulasi sendiri.
Dinda bisa melihat Arya mengacak - acak rambutnya dengan tangan.
‘Sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan? Kenapa bawa - bawa nama Sarah dan aku?’
Kreeeek
Dinda sudah tidak tahan dengan semilir angin yang masuk dari balik pintu. Akhirnya dia memutuskan untuk menutupnya. Tindakannya sukses membuat suara yang seolah memberikan tanda kehadirannya pada Arya.
Arya menoleh ke arah sumber suara dan terkejut saat melihat Dinda. Dia menutup teleponnya dan melemparnya ke atas kasur.
“Sudah lama kamu disitu?”, tanya Arya.
“Engga, mas. Baru aja. Siapa yang telpon?”
“Bukan siapa - siapa.”
“Kenapa mas Arya gak pernah mau cerita ke saya?”
“Soal apa?”
__ADS_1
“Ya.. siapa yang telpon, kenapa mas Arya sampai teriak - teriak begitu.
“Bukan urusan kamu.”
“Terus saya siapa buat mas? Mas Arya gak pernah anggap saya ada. Sebentar - sebentar mas Arya cuek, lalu tiba - tiba mesra. Mas Arya kira saya patung? Boneka?”
“Din, plis. Sekarang bukan waktunya berdebat.”
“Kalo gak sekarang, kapan? Sudah tiga bulan kita menikah, tapi saya gak tahu satupun tentang mas Arya selain yang mama Inggit ceritakan.”, Dinda tak ingin bertengkar.
Akhir - akhir ini hubungan mereka membaik. Komunikasi lancar dan tak jarang Arya bercanda dengannya, menciumnya, dan bersikap lembut padanya. Tapi, setiap nama Sarah muncul, Dinda merasa selalu ada dinding diantara mereka.
“Tadi aku ketemu mba Angel di spa. Boleh aku tahu, apa yang terjadi antara mas Arya dan teman yang bernama Anton itu?”, tanya Dinda hati - hati.
“Angel bilang apa ke kamu?”
“Nggak. Dia gak bilang apa - apa.”
“Lalu, kenapa kamu tanya apa yang terjadi antara saya dan Anton?”
“Mba Angel cerita tentang mas Anton yang bilang kalau saya itu bukan tipe mas Arya. Dan itu menyebabkan kesalahpahaman antara mas Arya dan Anton.”
“Mas Arya gak suka Anton merendahkan saya, atau mas Arya gak suka karena Anton membahas tentang mba Sarah?”
“Din, jangan mulai lagi.”
“Kenapa mas Arya gak pernah cerita apapun ke saya dan selalu buat saya berspekulasi sendiri. Mas Arya tahu ga, gimana rasanya? Sekarang, boleh saya tahu, kenapa mas Arya bisa cerai dengan mba Sarah?”
Sadar bahwa Arya sudah melayangkan tatapan tajam padanya, Dinda tak gentar. Arya yang tadinya berdiri di depan sofa, mendekat ke arah Dinda.
“Sejak awal pernikahan, mas Arya sama sekali gak pernah cerita apa - apa tentang diri mas Arya. Termasuk alasan perceraian mas Arya dan mba Sarah. Saya rasa itu adalah hak saya untuk tahu.”
“Hak kamu untuk tahu?”, Arya membulatkan matanya dan berkata dengan tajam.
Dinda hanya bisa menelan ludahnya. Dia takut, tapi dia juga marah, kesal, sakit hati, dan kecewa.
“Kenapa?”, tanya Arya.
__ADS_1
“Karena saya harus tahu, apakah saya harus meneruskan pernikahan ini sebagaimana mestinya atau mundur.”
“Mundur? Kenapa waktu saya peringatkan kamu untuk membatalkan pernikahan ini, kamu gak mau?”
“Apa harus saya yang membatalkan? Kalau mas Arya yang mau membatalkan, kenapa tidak dibatalkan saja dari sisi mas Arya.”
“Kita sudah bicara ini berkali - kali bahkan sebelum pernikahan terjadi. Tetapi, saya juga masih belum tahu, apa alasan kamu menerima perjodohan ini.”
“Bagaimana dengan mas Arya?”
“Saya berbaik hati memperingatkan kamu untuk tidak menghabiskan waktu kamu dengan saya. Saya sudah mengatakan berkali - kali, kamu tidak akan bahagia menikah dengan saya. Tapi, kamu tetap pada keputusan kamu. Sekarang, kamu mau saya bagaimana?”
“Hak? Kamu bertanya hak? Apa kamu sudah memberikan yang menjadi hak saya? Saya tanya sekarang, mau kamu tidur sama saya?”, Arya terus memojokkan Dinda.
“Enggak kan? Bahkan menyentuh kamu saja, saya belum Din. Tapi kamu berkata seolah telah memberikan segalanya.”, lanjut Arya lagi.
Entah bagaimana, pertengkaran itu pasti membawanya pada topik ini lagi.
“Apa jika saya memberikan tubuh saya, mas Arya akan menceritakan semuanya?”, tak terasa air mata sudah mengalir di pelupuk mata Dinda. Ada getaran di setiap kata yang Dinda ucapkan.
“Huh! Kenapa? Kamu mau melakukannya?”
“Apa hanya itu arti saya buat mas Arya? Apa mas Arya menikahi saya hanya untuk tidur dengan….”, Dinda tak sanggup melanjutkan kata - katanya.
Arya mengacak - acak lagi rambutnya. Dia diam dan berpikir sejenak.
“Din, tolong dengarkan saya.”, Arya mendekat dan memegang kedua bahu Dinda.
“Jujur, awalnya iya. Saya tidak bisa membatalkan pernikahan ini, karena saya sudah mengacaukan seisi rumah. Saya sudah membuat papa masuk rumah sakit. Perceraian saya dengan Sarah, meninggalkan sesuatu yang besar disini.”, Arya mengarahkan telapak tangannya ke dadanya.
“Jadi, yang saya pikirkan saat menikah dengan kamu adalah sebatas hubungan diatas ranjang. Saya memperingatkan kamu untuk membatalkannya karena saya nggak mau pertengkaran seperti ini dan perlakuan saya ke kamu hanya akan menyakiti kamu. Saya minta maaf kalau tindakan dan ucapan saya membuat kamu berpikir bahwa kamu hanya sebatas teman tidur untuk saya.”, lanjut Arya lagi.
“Saya akui, ciuman, pelukan, dan berbagai kontak fisik yang saya lakukan sebelum kita ke Maldives hanyalah pelampiasan. Tapi Din, semua yang saya lakukan di Maldives, ciuman saat kita selesai menyelam, pelukan di kamar ini, semuanya tulus. Saya rasa kita masih bisa membangun pernikahan ini dari awal, asalkan kamu dan saya sama - sama memberikan waktu ke diri kita masing - masing.”, Arya mengarahkan telapak tangannya pada wajah Dinda.
Dia mengusap air mata yang masih ada di pipi itu dan meletakkan tangannya di pipi Dinda untuk menenangkan gadis itu. Arya mengecup kening Dinda dan melayangkan pelukannya. Dinda tenggelam dalam dada bidang Arya dengan masih sesekali menangis.
Meski tak seluruhnya, Dinda lega Arya mau membicarakan ini dengannya. Saat ini, Dinda tidak mengharapkan cinta dari Arya. Dia sadar bahwa dia juga belum tahu bagaimana perasaannya pada Arya.
__ADS_1
Tetapi setidaknya, mereka tahu apa yang harus mereka lakukan dengan pernikahan ini. Sama - sama memberikan waktu pada diri masing - masing untuk berusaha untuk membangun hubungan dalam pernikahan ini.
****