Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 108 Peringatan dari Arya


__ADS_3

Dinda masih berusaha mengumpulkan semua pikirannya. Menyatukan satu persatu perlakuan Arya dan mengartikan maksudnya. Tapi nihil, dia tetap tidak mengerti. Tidak ada premis yang bisa menjelaskan sikap Arya padanya.


Setelah menarik nafasnya dalam - dalam, Dinda bangun dari tidurnya dan mengambil ponsel miliknya di atas nakas. Dia bisa menduga siapa orang yang tadi menghubunginya, tapi dia masih tidak yakin.


Dinda menutup mulutnya dengan satu telapak tangannya saat melihat orang yang tadi menghubunginya adalah Dimas. Dia bisa merasakan suara seseorang saat Arya menghujaninya dengan ciuman tapi saat itu Dinda tidak bisa fokus sepenuhnya.


“Apa yang dilakukan mas Arya? Kenapa dia mengangkat telepon Dimas lalu? Ah..”, keluh Dinda semakin tidak mengerti dengan tindakan Arya.


Dinda segera turun dari atas ranjang. Sambil memegang ponselnya, dia berjalan keluar mencari keberadaan Arya. Tapi, Dinda tidak bisa menemukannya dimanapun. Dinda mencoba mencarinya di kamar yang satu lagi tetapi Dinda juga tak melihat Arya disana.


‘Kemana mas Arya?’, tanyanya dalam hati.


Sejak dia pergi begitu saja setelah mencium Dinda, tak ada lebih dari 20 menit. Dinda kira, Arya masih ada disana. Duduk di meja kerjanya mungkin. Tapi nihil, Dinda tak melihatnya dimanapun.


Dinda mencoba menghubungi ponsel Arya tetapi pria itu tidak mengangkatnya. Dinda melihat laptop, tas kerja, jas, dan ponsel kantornya masih ada di meja. Kemungkinan Arya hanya membawa ponsel pribadinya saja.


‘Tapi kemana?’, tanya Dinda lagi di dalam hati.


Dinda ingin keluar, tapi dia mengurungkan niatnya. Dia hanya membuka pintu apartemen, namun menutupnya kembali. Dia sadar, harus kemana dia mencari. Arya juga sudah dewasa, dia pasti akan pulang.


‘Tapi, bagaimana kalau dia ternyata ke klub? Atau minum lagi? Ah tidak.. Untuk alasan apa dia kesana?’


“Tapi, sorot mata mas Arya seperti marah. Apa dia benar - benar marah kalau aku dekat dengan Dimas? Tapi kami tidak melakukan apapun. Mas Arya juga tidak menyukaiku, kan? Ah.. aku bingung.”, Dinda frustasi memikirkan ini semua sendiri.


‘Apa aku telepon Bianca? Tapi kalau dia jadi cerita ke mas Reza, lalu nanti sampai ke telinga tante Indah dan ke mama Inggit bagaimana?’


‘Hm.. atau aku cerita ke Sekar saja? Ah.. tidak, dia ember. Hm.. atau ke Dian? Hah, tapi dia sedang Koas. Coba dulu saja.’


Dinda akhirnya mencari nomor ponsel Dian dan mencoba menghubunginya. Tak disangka, jam segini, Dian masih mengangkat teleponnya.


“Halo Din? Tumben kamu telpon malam - malam begini? Kamu belum tidur?”, tanya Dian dari seberang telepon. Suaranya sangat segar untuk ukuran orang yang koas di rumah sakit tengah malam.


“Kamu masih ditempatkan di UGD kan?”, tanya Dinda sedikit heran. Biasanya, setiap kali Dinda menghubungi Dian, pasti gadis itu terdengar mengantuk, habis menangis karena dimarahi dokter senior, atau sedang kelelahan. Tapi dia terdengar sangat fit malam ini, untuk ukuran menjelang tengah malam.


“Masih. Kenapa?”


“Hm.. engga. Aku mau tanya, barusan teman… hm… teman SMA.. iya.. Teman SMA aku yang sudah menikah curhat dan aku bingung harus jawab apa. Kamu tahu kan, aku paling tidak enak jika tidak memberikan solusi pada orang yang sudah curhat padaku.”, tutur Dinda berbohong.


Gaya Dinda berbohong tentang cerita temannya padahal cerita dia sendiri mirip saat Dinda bercerita pada Bianca.


“Hah? Teman SMA? Memangnya kamu punya teman dekat saat SMA? Bukannya kamu introvert kelas kakap?”, tutur Dian.


‘Bingo!’, Dinda memang tidak pernah punya teman saat SMA karena dia selalu pulang sekolah tepat waktu dan berbicara hanya seperlunya saja. Bahkan, Dinda juga pernah beberapa kali dibully karena dia dianggap pencitraan oleh kakak kelasnya.


“A-ada kok. Cuma jarang cerita aja. Hm.. aku lanjutin ya. Soalnya kasihan dia.. Iya.. kasihan. Dia butuh solusi secepatnya.”, Dinda semakin lancar berbohong setidaknya untuk hal - hal seperti ini.


“Ya sudah ya sudah. Aku percaya. Lagipula gak mungkin ini cerita tentang kamu. Kamu kan belum menikah.”, balas Dian.


“Ehem.. hahahaha.. Iya betul. Hm.. jadi teman aku ini dijodohkan dengan seorang pria yang lebih tua dari dia.”

__ADS_1


“Hm.. terus? Memang masih jaman ya jodoh - jodohan? Ya udah lanjut”


“Hihi… Iya.. aneh memang. Jadi.. pria itu sudah menikah sebelumnya?”


“What? Teman kamu jadi istri kedua begitu?”, Dian langsung semangat 45 menanggapi cerita Dinda padahal ini belum masuk ke inti ceritanya.


“Hm… bener sih istri kedua, tapi dia sudah bercerai dari istri pertamanya.”, jawab Dinda meluruskan.


“Ahh.. kasihan sekali. Pasti suaminya masih terbayang - bayang mantannya. Benar kan?”


“Oh?”, Dinda terkejut sekaligus kecewa, bahkan Dianpun juga berpikir begitu.


“Ya sudah lanjut. Lalu apa masalahnya? Apa teman kamu tidak bahagia? Apa suaminya jahat? Main pukul, atau diteror istri pertamanya?”, balas Dian mengatakan berbagai kemungkinan yang ada di pikirannya.


“Ah tidak..tidak..hm.. Suaminya baik kok. Dia memperlakukan istrinya dengan baik.”


“Apa mereka sudah melakukannya?”, tanya Dian tiba - tiba.


“Oh? Apa? Melakukan apa?”, tanya Dinda bingung.


“Itu.. berciuman, hubungan suami istri dan.. Ya begitu.”, tanya Dian.


“Ahh… katanya sih sudah hahaha iyaa katanya sudah. Dia juga memperlakukannya dengan baik.”


“Hm.. lalu apa masalahnya?”, tanya Dian lagi.


“Eh? Memangnya suaminya tidak pernah mengatakan cinta?”


“Belum. Tapi, saat aku.. Ah maksudku saat istrinya dekat dengan pria lain, dia bisa dibilang marah. Apa menurutmu dia cemburu? Ga mungkin kan? Haha.”, Dinda bertanya ragu - ragu. Dia menantikan jawaban dari Dian.


“Hm.. dia marah ketika teman kamu dekat dengan pria lain, tapi dia juga tidak pernah mengatakan bahwa dia mencintai istrinya yang sekarang? Tapi, dia berciuman dan melakukan ‘itu’? Brengsek dong, pria itu?”


“Eh? Engga, dia gak brengsek kok, dia … hmm… hahaha.”, Dinda merasa tak terima Arya dikatakan brengsek, tapi saat dia tersadar seperti sedang membela Arya, Dinda langsung menghentikan kalimatnya dan memberikan tawa yang canggung.


“Hm? Kenapa kamu malam membela pria itu? Nih, dia tidak pernah mengatakan cinta, tapi dia juga tetap berciuman dan sebagainya. Apa menurutmu dia tidak brengsek. Berarti dia hanya memanfaatkan temanmu saja sebagai teman tidur. Bukankah begitu?”


Dinda langsung kecewa mendengar pendapat dari Dian. Meski dalam hati dia juga berpikir begitu. Bahkan Dinda sudah mengatakannya ke wajah Arya pagi ini.


“Tapi Dian, menurutmu kenapa dia marah saat pria lain mendekatinya?”, tanya Dinda.


“Hm…. satu - satunya alasan yang bisa menjelaskan kenapa pria marah saat wanita di dekati pria lain adalah karena dia cemburu. Dia tidak ingin ada orang yang mengganggu miliknya. Hm.. menarik! Selain ada kemungkinan dia adalah pria brengsek, kemungkinan lain adalah sebenarnya dia sudah jatuh cinta pada istrinya (teman kamu), tapi dia belum mengakuinya? Dan begitu ada yang mendekati istrinya, dia marah. Aku rasa dia juga bingung sekarang, kenapa dia marah.”, tutur Dian emncoba menganalisa berdasarkan cerita Dinda.


“Apa kamu yakin begitu?”, Dinda sedikit berharap skenario kedua adalah yang sebenarnya.


“Ya.. kalau dia pria brengsek. Aku tidak mengerti kenapa dia harus marah saat melihat istrinya yang sekarang dekat dengan pria lain. Ah.. rumit sekali cerita teman kamu. Lalu bagaimana temanmu itu sekarang?”, tanya Dian.


“Mereka bertengkar dan sekarang suaminya pergi dari rumah.”, ucap Dinda dengan nada lesu.


“Hah? Pergi dari rumah?”

__ADS_1


“Hm.. tidak - tidak.. Laptopnya masih ada, jasnya juga, ponsel kantornya masih, dia juga tadi masih mengenakan kaos dan piyaman saja.”, terang Dinda dengan sangat detail.


“Hm? Kamu menjawab seolah - olah dia adalah suami kamu Dinda. Kenapa kamu bisa hafal barang - barangnya. Apa temanmu menceritakannya satu per satu? Hebat sekali kamu bisa hapal sampai serinci itu.”


“Eh? Hahahahaha…. Iyaaa… tumben yaa.. Aku bisa menghapalnya. Ya sudah.. Aku hanya bertanya itu saja. Aku minta maaf ya Dian, sudah mengganggumu. Kamu pasti sibuk. Sudah sana lanjut kerjanya.”, Dinda langsung menutup ponselnya sebelum lebih banyak lagi rahasia yang keluar dari mulutnya.


Meski Dinda sebenarnya berencana untuk menceritakan semuanya pada temannya yang lain. Tapi tidak sekarang dan tidak dengan cara seperti ini.


“Apa aku pantas berharap bahwa skenario kedualah yang sebenarnya terjadi? Tapi, apa mungkin mas Arya menyukai gadis sepertiku? Tapi, kenapa dia seperti tidak bisa lepas dari wanita bernama Sarah itu? Jika dia benar - benar menyukaiku, kenapa dia tidak mengatakannya? Dia tidak mengatakannya mungkin karena memang bukan itu perasaan yang dia rasakan. Lalu kenapa selama ini dia bersikap manis padaku? Kenapa dia malah meniduriku? Aku pusing.”, semakin dipikirkan, Dinda semakin frustasi.


Dia ingin bertanya, tapi si pemilik apartemen ini malah tidak ada disini sekarang.


‘Kemana sih mas Arya sebenarnya? Kenapa dia meninggalkanku disini dan pergi?’, setidaknya pertanyaan - pertanyaan inilah yang muncul dan terus dipikirkan Dinda hingga 1 jam kedepan. Hingga dia lelah dan tetap tidak mendapatkan jawabannya.


Dinda tertidur di sofa ruang tengah sambil memegang ponselnya sambil berharap Arya pulang atau menghubunginya.


******


“Apa kamu harus sekasar itu pada Dinda?”


“Bukan urusanmu.”, kata Arya menjawab pertanyaan pria di depannya.


Arya keluar dari unit apartemennya menuju parkiran, menyalakan mobilnya dan segera melaju. Di perjalanan ia menghubungi Dimas untuk bertanya dimana pria itu sekarang. Akhirnya disinilah mereka, di sebuah klub yang menjadi salah satu langganan Dimas.


Pemilik klub ini adalah teman Dimas yang juga memberikan beberapa koneksi untuknya membangun bisnis coffee shop saat ini.


Brughhh


Arya memberikan pukulan ke arah bibir Dimas. Pria itu terpental beberapa senti dan hampir tumbang dari posisinya berdiri. Mereka saat ini berada di koridor klub yang jarang dilewati orang.


“Heh…”, Dimas berdecih pelan sebelum memutuskan untuk memukul Arya di tempat yang sama.


“Jika kamu memukulku karena perbuatanku di masa lalu, aku menerimanya. Tapi kamu memukulku karena kejadian tadi, kan? Aku sama sekali tidak merasa bersalah.”, ucap Dimas dengan lantang.


Arya memegang sudut bibirnya yang sepertinya berdarah.


“Kau memang brengsek. Berapa kalipun aku berpikir untuk memaafkanmu, tidak akan pernah bisa karena di dalam dirimu tidak ada penyesalan sama sekali. Aku sudah tidak pedulu apapun yang kau lakukan, tapi jika kamu mendekati Dinda dengan maksud tertentu lagi, aku tidak hanya akan memberikan satu pukulan untukmu.”, kata Arya tak kalah tegas.


“Kenapa? Kamu takut Dinda akan tergoda denganku? Bukankah dia istrimu? Bukankah tadi kamu berusaha menunjukkan padaku bahwa dia milikmu? Lalu apa yang kamu takutkan? Atau jika kamu setakut itu, kenapa tidak kamu beritahukan saja pada semua orang di kantor bahwa kalian sudah menikah. Haruskah kamu membuat Dinda terlihat sebagai wanita simpanan?”, kali ini Dimas tidak menyaring kata - katanya.


Sebelum Arya datang kesini, dia sudah minum beberapa gelas. Sehingga, pikirannya sudah setengah sadar sekarang.


“Berkali - kali aku katakan jangan sok tahu dengan hidupku. Urus saja hidupmu dan jangan ganggu Dinda.”, Arya sudah menarik kerah baju Dimas dan mengatakan itu tepat diwajahnya.


“Heh… lucu sekali. Kamu masih menghubungi Sarah dan sekarang bersikap seolah - seolah kamu mencintai istrimu.”


“Simpan semua khayalan itu di pikiranmu. Hubunganku dengan Sarah sudah berakhir. Terserah kalian mau melakukan apa. Aku tidak peduli. Satu saran untukmu, jangan menjadi rendah dengan menginginkan milik orang lain. Aku bodoh sudah pernah menganggapmu sebagai sahabat ketika kau menusukku dari belakang berkali - kali.”


“Ini terakhir kali aku berbicara denganmu. Dinda, jangan pernah bermimpi untuk mendekatinya. Aku memang diam saat kamu berhubungan dengan Sarah di belakangku. Tapi, tidak dengan Dinda. Camkan itu baik - baik.”, kata Arya sebelum berlalu dari tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2