Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 135 Kartu Arya di Gilbert


__ADS_3

Beberapa minggu lalu sebelum Tim Building.


Gedung perkantoran di sekitar daerah XY terlihat sangat sibuk seiring dengan bergulirnya waktu. Semakin malam, daerahnya ini malah mejadi semakin ramai karena menjadi salah satu jantung bisnis.


Mirip dengan gedung perkantoran tempat perusahaan Arya dan Dinda, gedung ini juga dikelilingi oleh beberapa pusat perbelanjaan, namun lebih banyak spot - spot cafe dan tempat makan serta nongkrong hits.


“Gilbert!”, seseorang memanggil Gilbert dari kejauhan.


Pria itu menoleh ke arah datangnya suara dan menemukan wanita yang ingin dia temui sudah duduk manis disana.


“Tumben kamu datang lebih dulu. Biasanya setiap kali aku mengajakmu keluar, kamu tidak bersedia. Kalaupun kamu bersedia, kamu pasti akan membuatku menunggu lama.”, kata Gilbert begitu dia menghampiri meja Sarah.


Wanita yang ingin dia temui hari ini adalah Sarah Adelina, mantan istri Arya dan juga bosnya dulu saat awal - awal meniti karir. Sebelum bekerja di perusahaan Arya sebagai Managernya, Gilbert sudah lebih dulu bertemu dengan Sarah, istri Arya pada kesempatan lain.


Dulu, Gilbert tidak mengetahui kalau Sarah sudah menikah dan sempat menyukainya. Namun, saat dia tahu kalau isteri Arya adalah Sarah, Gilbert terkejut. Terlebih lagi, hanya dalam waktu satu tahun saja, Arya sudah berhasil menyamai posisinya dan beberapa bulan kemudian menjadi atasannya. Meski saat itu belum menjadi kepala divisi seperti sekarang.


“Aku sedang tidak banyak meeting belakangan ini, sudah lama juga aku tidak menemuimu.”, kata Sarah. Jarak antara Gilbert dan Arya serta Sarah tidak begitu jauh, tetapi dia lebih senior.


Meski begitu, Sarah sudah tidak memanggil dengan kata Bapak lagi karena Gilbert sudah bukan bosnya dan Gilbert tidak mempermasalahkan itu. Justru menurutnya, mereka bisa lebih akrab.


“Hampir tiga tahun kita tidak bertemu.”, kata Gilbert.


“Betul sekali. Terakhir kita bertemu, aku baru saja bercerai dari Arya dan akan berangkat ke Amerika. Kamu malah mengajakku untuk bertemu.”


“Hm..pacarmu waktu itu adalah pemilik Cafe di kantor kami, kan?”, tanya Gilbert memastikan.


“Heh.. pantas saja aku merasa pernah melihat orang itu. Tapi aku tidak mengingatnya. Saat ingin menghubungimu kembali, aku jadi teringat sepertinya dia adalah orang yang bersamamu saat menemuimu di bandara.”


“Hm.”, respon Sarah singkat.


“Bagaimana hubunganmu dengannya? Aku rela menemuimu karena aku kira ada angin segar saat kamu bercerai dengan Arya. Tetapi, aku cukup kaget, kamu sudah punya gandengan baru. Pantas Arya tidak pernah terlihat di Cafe itu. Apa kamu berselingkuh?”, tanya Gilbert.


“Bukan urusanmu. Kenapa kamu memanggilku?”, respon Sarah yang tadi hangat sedikit berubah karena Gilbert menyinggung terlalu dalam dan Sarah tidak menyukai itu. Dia tidak pernah sedikitpun menganggap Gilbert sebagai kenalan dekat karena meski dia berbeda pemikiran dengan Arya, tetapi dia setuju kalau Gilbert punya kepribadian yang buruk.


“Ah.. tidak.. Sudah lama sejak terakhir kita mengobrol dan kebetulan aku punya waktu luang karena sedang cuti. Aku hanya ingin menyapa.”, jawab Gilbert.


Penjelasan Gilbert tentu saja tidak memuaskan Sarah. Tapi dia juga tidak tertarik untuk bertanya lebih. Dia menerima begitu saja alasan pria itu memanggilnya. Lagi pula dia juga sedang tidak ada kegiatan.


“Mungkin kita bisa memesan makanan terlebih dahulu. Kamu mau pesan apa? Aku yang traktir.”, kata Gilbert.


“Hm. Benarkah? Baiklah aku pesan ini dan ini.”, kata Sarah sambil menunjuk satu menu makanan dan satu menu minuman.


Gilbert memanggil pramusaji dan ikut menambah pesanan miliknya.


“Bagaimana hubunganmu dengan Arya? Apa kalian masih sering kontak - kontakan?”, tanya Gilbert kembali.


“Aku tidak pernah menghubunginya kembali sejak perceraian kamu.”


“Ayolah, jangan berbohong. Aku pernah melihatmu di sekitar kantor. Sepertinya kamu menemuinya.”, balas Gilbert.


“Tidakkah kamu berpikir aku mungkin menemui Dimas, pemilik Cafe yang ada di kantor?”, respon Sarah.


“Ah.. mungkin juga. Tapi aku pernah melihatmu bertemu Arya, jelas - jelas di sekitar kantor. Apa kalian melanjutkan kembali hubungan kalian? Aku juga mendengar gosip tentang kalian di Bangkok.”, kata Gilbert.


“Hm… aku tidak tahu kenapa kamu menanyakan ini padaku. Well, aku juga tidak menemukan alasan untuk menyembunyikannya. Arya sudah menikah lagi.”, kata Sarah sambil tersenyum.


Dia berpikir sudah sulit untuk mendekati Arya apalagi setelah beberapa kali menerima penolakan dari pria itu.

__ADS_1


‘Bagaimana kalau aku lempar saja bom kepada Arya.’, pikir Sarah dalam hati.


“Hah? Aku memang curiga dia punya mainan baru dan sekarang kamu bilang dia sudah menikah? Yang benar kamu Sarah?”, tanya Gilbert terkejut mendengarnya.


“Hm.. kamu akan terkejut lagi kalau tahu siapa istri barunya.”


“Aku tidak akan memberitahumu. Tapi mungkin aku bisa memperlihatkanmu fotonya.”, kata Sarah kembali sambil tersenyum.


Dia masih belum mendapatkan ide kenapa Gilbert tiba - tiba menemuinya. Tapi disaat yang bersamaan, dia yang masih kesal dengan perlakukan Arya dan konfrontasi Dinda tempo hari ingin memberikan pelajaran.


Mungkin membuat orang kantor mengetahui hubungan mereka akan menjadi drama terbaik untuknya. Arya paling tidak suka profesionalitasnya dalam bekerja terganggu. Mungkin dia bisa sedikit menghancurkan mood Arya dengan hal ini.


“Ini…”, kata Sarah menunjukkan foto Dinda yang dia peroleh dari Edo.


“Hm.. wajahnya tidak asing. Sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi dimana ya.”, kata Gilbert bertanya - tanya.


Sarah tersenyum mendengar komen yang dilontarkan oleh Gilbert.


*******


“Pak Gilbert. Bisa kita berbicara sebentar?”, kata Arya menghampiri Gilbert yang berhasil dia kejar setelah tanpa sengaja melihatnya keluar dari pintu selatan.


Gilbert terkejut dan menoleh ke belakang saat menemukan Arya sudah berada di samping parkiran mobilnya.


“Menarik sekali. Aku tidak pernah menyangka kamu akan memanggilku dengan sebutan ‘Pak’ lagi.”


“Apakah Bapak bersikap seperti ini hanya karena aku tidak memanggil Bapak dengan sebutan itu?”, tanya Arya.


Gilbert menutup pintu mobilnya.


“Heh.. kamu tidak benar - benar melihat payungan besarnya.”, respon Gilbert sinis.


“Saya berharap penilaian saya terhadap Pak Gilbert salah. Tapi semua tindakan Bapak seperti mengkonfirmasi penilaian saya pada Bapak.”, lanjut Arya lagi.


“Kamu, kamu merasa pantas jadi kepala divisi untuk semua tim di Business and Partners? Haruskah kamu mengambil semua bagiannya? Apa jangan - jangan kamu yang mengajukan restrukturisasi itu kepada manajemen. Hanya karena kamu selalu berhasil memenangkan project dengan klien, bukan berarti kamu bisa mengambil alih semuanya.”, balas Gilbert.


“Pak Gilbert tahu kalau di dunia kerja, tidak ada namanya senior atau junior. Siapa yang lebih kompeten, dia yang akan mendapatkan tanggung jawab lebih. Haruskah hal itu keluar dari mulut saya?”, kata Arya dengan tegas. Dia merasa tidak bisa menerima kalau selama ini alasan Gilbert hanya sebatas restrukturisasi itu saja.


“Kamu mencuri posisi yang sudah dijanjikan pada saya dan kamu merasa kamu masih yang paling benar, Pak Arya Pradana?”, balas Gilbert sambil mendorong Arya dengan kedua tangannya.


“Seharusnya Anda bersikap profesional dengan tidak mengakui pekerjaan bawahan Anda sebagai pekerjaan Anda. Saya tidak menemui hal seperti ini sekali, dua kali, tetapi beberapa kali. Anda hanya memberikan tugas tanpa bertanggung jawab pada project. Dan setiap laporan, Anda mengakui semuanya sebagai pekerjaan Anda sendiri. Apa saya juga harus kembali menerangkan itu pada Anda? Free Rider tak bisa diterima di perusahaan manapun, tapi saya masih memberikan Bapak kesempatan sebagai tim leader.”, jelas Arya melepas dorongan tangan Gilbert padanya.


“Jika Anda mengira saya yang mengajukan restrukturisasi, it’s fine. Saya tidak bisa mengubah hal yang sudah dipercayai seseorang. Tapi setidaknya Bapak mempertanyakan profesionalitas Bapak dalam bekerja. Dan ini tidak hanya terjadi sekarang. Sewaktu saya bekerja di bawah Pak Gilbert, pun. Project di Kalimantan juga Bapak akui sebagai hasil kerja Bapak, kan? Padahal saya yang membuat semua datanya. Dan saya tidak pernah mengungkit hal itu sampai sekarang.”, jelas Arya lagi pada Gilbert. Dia menumpahkan semua fakta agar pria di depannya ini sadar.


“Heh.. kamu berbicara tentang profesionalitas sekarang. Baik. Apa menikah dengan intern di bawah kepemimpinan kamu juga merupakan profesionalitas, Pak Arya Ardana?”, Gilbert seolah tidak punya kartu lagi, dia mencoba mengkonfrontasi Arya dengan hal ini.


Arya memberikan ekspresi tidak percaya pada Gilbert. Bagaimana bisa?


“Apa maksud Anda?”


“Hm.. seharusnya Pak Arya yang lebih mengetahui maksud saya. Sepertinya Pak Arya bersenang - senang dengan isteri baru Bapak sampai - sampai membawanya ke kamar saat Tim Building seperti ini. Apa karyawan lain tahu? Apa Pak Arya akan memberikan posisi khusus untuknya di divisi yang sedang bapak pegang? Apa manajemen sudah mengetahuinya? Hm… bagaimana ya respon mereka.”


‘Tadinya aku ingin sedikit bermain - main dengan istrinya, tapi waktu kesempatan tidak berpihak padaku. Sarah tidak berhasil aku dapatkan, mungkin aku bisa menggunakan istrinya.  Sudahlah, mungkin lain waktu.’


“Tenang saja, tidak perlu panik. Aku belum memberitahu yang lain kalau kepala divisi yang mereka sanjung ini justru memberikan privilege lebih dengan memanfaatkan posisinya. Gosipnya pasti akan sangat seru. Tenang, Pak Arya, minggu depan saya masuk kantor, kok. Mau lihat dramanya.”, ujar Gilbert dengan nada sarkas.


Ia lalu masuk kembali ke mobilnya dan melaju pergi.

__ADS_1


“Kamu pernah sadar kalau aku pernah menyukaimu dulu?”, kata Gilbert pada Sarah. 


“Iya. Karena itu aku tidak memberitahu kamu bahwa aku sudah menikah.”, balas Sarah. 


“Arya, apa dia pernah tahu tentang hubungan singkat kita dulu?”, tanya Gilber kemudian. 


“Hm.. kenapa kamu tiba - tiba membahasnya?”


“Tidak.. Aku hanya penasaran apakah di sempat mengetahuinya.” 


Sarah memberikan ekspresi yang meragukan begitu juga sebaliknya dengan Gilbert. 


“Apa Arya benar - benar tidak tahu tentang restrukturisasi ini? Jelas - jelas salah satu manager HRD memberitahuku kalau aku akan naik posisi memegang dua buah tim di Business and Partners. Semuanya langsung berubah kurang dari seminggu.”


“Tapi, saat aku katakan itu, dia malah menyinggung masalahku yang mengakui hasil pekerjaannya. Tidak, tempo hari Sarah juga terlihat ragu menjawab apakah Arya mengetahui hubungan kami. Mungkin saja dugaanku selama ini benar kalau pria itu, meskipun diluarnya dingin dan datar, dia diam - diam balas dendam karena aku sudah berhubungan dengan istrinya.”, Gilbert terus berpikir sambil mengemudikan mobilnya menuju ke sebuah tempat.


“Lihat saja, kalau ternyata benar itu yang menjadi alasannya mengambil semua kendali team leader, aku tidak segan untuk memberitahukan semua orang di kantor kalau Dinda, intern itu adalah isterinya. Cukup aku gertak saja dia malam ini. Siapa tahu dia bisa memberikanku respon yang memuaskan minggu depan.”


*******


“Brengsek, siapa yang sudah memberitahu dia?”, Arya mengacak - acak rambutnya.


‘Aku bersusah payah menyembunyikannya karena Dinda harus menyelesaikan internnya. Tinggal beberapa bulan lagi saja. Gilbert, aku sudah membiarkan singa di dalam kandangku sendiri. Asal kamu tahu Gilbert, aku menjadi orang paling pertama yang ingin memberitahu semua orang tentang pernikahanku. Tapi aku tidak ingin mengacaukan karir Dinda. Arghhh..”


“Guys… Pak Arya..”, kata Andra berbisik pada Delina, Bryan, dan Suci yang sedang mabuk.


“Kenapa dia bisa ada di parkiran?”, tanya Bryan.


“Mana aku tahu. Hah.. untung saja aku melihatnya. Kalau tidak kita akan ketahuan…”


“Tapi, kita kan bukan murid yang sedang darmawisata. Apa salahnya kalau kita ke klub?”


“Kamu lupa yang dikatakan Siska? Kita boleh punya acara bebas, tapi sesuai dengan waktu yang ditentukan panitia. Karena ketika kita sedang Tim Building, semua tanggung jawab ada pada Pak Arya.”, terang Delina.


“Tapi kan kita juga melihat tim Business dan Partners di klub. Ada Bu Susan, juga.”


“Ah.. pusing.. Yang penting, jangan sampai ketahuan Pak Arya.”, kata Delina.


“Tenang guys.. Pak Arya juga sering ke klub kok… dulu… dulu… dia…”, Suci meracau dalam keadaan setengah sadar.


“Pak Arya ngapain ya, di parkiran? Hukkk… apa dia bertemu wanita? Atau menunggu wanita?”, ujar Andra.


Si biang gosip satu ini memang lebih mempercayai rumor yang beredar tentang Arya ketimbang berusaha melihat dari sisi lain atau berusaha memverifikasi rumornya.


“Hah? Ga boleh… Pak Arya kan sudah punya isteri, dia gak boleh menunggu wanita? Ohh…. apa jangan - jangan dia sedang menunggu istrinya?”, lagi - lagi Suci meracau seenaknya.


“Hah.. selama bergaul dengan Suci, baru pertama kali ini aku melihat dia mabuk sampai seperti ini. Dia kira kita di Amerika atau dimana sih? Bisa - bisanya dia minum banyak saat tim building.”, protes Andra.


‘Apa Suci langsung face to face dengan Pak Arya, ya. Apa Pak Arya mengatakan hal yang membuatnya sakit hati sampai dia mabuk begini?’, tanya Bryan.


“Istri? Pak Arya udah cerai. Isteri, isteri. Itu mah kamu yang ingin jadi isterinya.”, balas Andra.


“Dinda mana? Dinda mana? Dia pasti sedang tidur bersama… Huaaaa huaaaa.”, racau Suci lagi.


“Wah.. sekarang sampai Dinda di seret - seret. Jangan - jangan, kalau kita dengar lebih lama, kita bisa tahu rahasia Suci.”, kata Andra bercanda.


“Hush… kamu memang tukang gosip. Selalu saja cari - cari bahan gosip seperti paparazzi.

__ADS_1


“Del, kamu bisa bawa Suci ke kamarnya, gak?”, tanya Andra.


“Ya.. mana bisa. Lagian dia juga berat banget. Eh.. Pak Arya sudah pergi tuh. Yuk kita turun.”, kata Delina.


__ADS_2