Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 187 Ada apa dengan Dinda? Bagian 2


__ADS_3

Flashback seminggu yang lalu saat pertama kali Dinda mendengar gosip tentang Arya dari Andra. Dinda merasa cemburu dan marah saat melihat foto melalui ponsel Andra. Dinda tahu ini bukan pertama kalinya dia menghadapi situasi seperti ini. 


Tapi, Dinda berpikir Arya sudah benar - benar tulus mencintainya dan tidak akan ada hal - hal seperti ini lagi dalam hubungan mereka. Dinda juga percaya bahwa memang hanya ada dirinya di hati Arya saat ini dan Arya juga sering mengatakan hal itu padanya. 


Arya juga sudah pernah menjelaskan bahwa saat dia bertemu dengan klien, atau harus pergi ke klub dulu, dia tidak pernah sama sekali menanggapi wanita - wanita yang mendekatinya dengan serius. 


Tapi, ada apa dengan foto ini? Kenapa mas Arya mencium seorang wanita disini? Siapa lagi ini? Mba Sarah? Atau wanita lain yang Dinda tidak tahu keberadaannya? Sebenarnya dari mana sampai mana perkataan mas Arya yang benar dan bisa dia percaya?


Dinda merasa ada yang runtuh dalam dirinya dan dia membutuhkan tempat yang sunyi sekarang. Tempat dimana dia bisa menangis tanpa ada orang lain disana. Saat itulah dia memilih toilet karena itu adalah tempat satu - satunya dimana dia bisa menangis dalam diam. 


Bryan mengikutinya dan mencoba untuk mengajaknya berbicara, tapi kepala Dinda sudah penuh karena membayangkan foto tadi. 


“Seharusnya, sejak awal kamu memilih berkencan dengan pria itu. Kamu sudah tahu dia bagaimana. Kamu benar - benar tidak memikirkan kalau suatu saat dia akan seperti ini?”, kata Bryan. 


“Aku sudah pernah mengatakan padamu kalau aku sering melihatnya bersama wanita di klub. Tidak hanya satu atau dua wanita saja. Setiap malam. Tapi kamu tetap berkencan dengannya?” 


“Lepasin. Aku mau sendiri. Dan Bryan. Terima kasih untuk perhatian kamu tapi ini urusanku. Kamu tidak perlu ikut campur.”, kata Dinda melepaskan pegangan tangan Bryan. 


Beruntung di lorong saat itu tidak ada orang lain selain mereka berdua. Bryan juga berbicara dengan nada pelan untuk memastikan tidak ada yang bisa mendengar mereka. 


Dinda segera melanjutkan langkahnya memasuki toilet. Dia masuk ke toilet paling ujung dan menutup pintunya. Air matanya pecah disana. Saat dia masuk, tidak ada orang lain disana. Hanya dirinya dan keheningan. 


‘Apa lagi ini?’, kata Dinda dalam hati. 


‘Bagaimana aku harus bersikap tentang ini. Bertanya padanya? Apa dia akan menjawabnya dengan jujur? Sebenarnya yang mana darinya yang jujur? Aku benar - benar mempercayainya, lalu ini apa?’, bathin Dinda menjerit dalam hati. 


Tak lama, beberapa wanita masuk ke dalam toilet. Dinda tidak tahu berapa orang. Mereka membicarakan tentang urusan kantor dan satu per satu masuk ke dalam toilet. Dinda bisa mendengar suara flash dan pintu terbuka setelah mereka menyelesaikan urusan mereka. 


Mereka lantas tidak langsung pergi. Beberapa mungkin sibuk berkaca. Dinda tidak mempedulikannya sampai seseorang mulai membicarakan tentang foto dan gosip itu lagi. 


“Eh, aku dengan pembicaraan para Team Leader, katanya itu Pak Arya dengan Siska ya? Wah, mereka punya hubungan seperti itu?”


“Iya, katanya bahkan mungkin sejak Pak Arya masih bersama istrinya.”


“Bisa saja hubungan mereka itu yang membuat Pak Arya bercerai.” 


“Hei hei.. Mungkin itu wanita yang sering bersamanya di klub. Itu loh, yang berambut panjang dengan pakaian ketat dan lipstik merah. Wanita itu kan sangat sering menggoda Pak Arya setiap kali dia di klub, kabarnya.”


“Wah.. itu dimana ya? Aku benar - benar penasaran. Pemandangan sekitarnya sangat gelap sih. Bagian wajah wanitanya juga tidak terlihat.” 


“Iya, yang terlihat hanya bagian belakangnya saja. Itupun tertutup hoodie oversize. Wah tapi Pak Arya benar - benar terlihat tampan ya, saat berciuman. Seperti di film - film.” 


“Yang terlihat hanya sebagian saja, kamu sudah mengatakan tampan.” 


“Siluetnya itu loh. Seperti pengambilan angle di film - film.”


“Siapa ya.. Wanita itu.” 


“Aku lebih penasaran dengan siapa yang memotret itu. Bukankah menyeramkan kalau ternyata ada yang membuntuti keseharian Pak Arya dan memotretnya lalu menyebarkannya seperti itu?” 


“Mungkin istrinya? Sorry, maksudku mantan istrinya?” 


“Aku rasa tidak, sepertinya dia adalah salah satu karyawan disini. Terlebih lagi, mungkin salah satu karyawan Business and Partners.” 


Suara mereka perlahan menghilang. Sepertinya mereka sudah keluar dari toilet. 

__ADS_1


***********


“Din, saya tahu kamu belum tidur.”, kata Arya menyalakan lampu dan membuat kamar itu menjadi lebih terang.


Dinda tidak bergeming. Dia masih menyelimuti tubuhnya, bahkan setengah kepalanya juga ia tutup seolah tak ingin terlihat.


“Kamu kenapa sih, Din? Sejak di apartemen sikap kamu aneh. Kamu sering menghindari saya tanpa sebab. Saya bahkan lupa kapan terakhir kali kita berbicara intens. Saya itu bukan dukun atau peramal yang bisa tahu semua tentang kamu. Kalau kamu tidak memberitahunya dari mana saya bisa tahu?”, Arya sedikit meninggikan suaranya.


Sontak Dinda langsung kaget dan semakin meninggikan selimutnya. Arya menarik selimut itu, berjongkok dan meminta Dinda untuk menatapnya.


“Bisa kita bicara sebentar? Saya tidak bisa membiarkan ini menggantung terlalu lama. Din?”, Arya menurunkan nada bicaranya dan memegang lengan Dinda agar gadis itu mau bangun dan berbicara padanya.


Dinda langsung duduk dan mengambil ponselnya.


“Ini.”, kata Dinda dengan nada dingin.


Dinda meletakkan ponsel yang berisi foto yang ditunjukkan oleh Andra seminggu yang lalu di kasur agar Arya melihatnya.


Saat selimut menutupi wajah Dinda, Arya tidak tahu kalau Dinda sedang menangis. Saat Arya menarik selimutnya, Dinda juga menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Saat Dinda bangun, Arya baru sadar kalau istrinya menangis.


Arya tidak langsung melihat isi ponsel yang Dinda berikan. Dia fokus pada wajah sembab dan tangis di pipi Dinda. Melihatnya, Arya langsung khawatir dan merasa bersalah sudah meninggikan suaranya.


“Sayang, kamu nangis? Kenapa sih? Mood kamu lagi gak bagus?”, Arya masih belum punya ide kenapa istrinya bersikap begini.


Dinda mengambil kembali ponsel yang sudah di letakkan tadi dan memberikan pada Arya.


“Kenapa?”, masih dengan ekspresi bingung, Arya menerima ponsel yang diberikan Dinda dan melihatnya.


Dahinya mengkerut.


Sejauh ini, belum ada project di kantor yang membuatnya bingung hingga tak memiliki ide atau gambaran sama sekali. Tapi, Dinda. Setidaknya sudah melebihi hitungan jari, istrinya ini membuatnya bingung.


“Apa Din, kenapa dengan ponselnya? Kamu mau ganti baru?”, tanya Arya.


Huwaaa….hiks hiks hiks…. Tangis Dinda sekarang pecah mendengar jawaban Arya. Dia persis seperti anak kecil yang meminta sesuatu pada orang tuanya tetapi orang tuanya tidak mengerti apa yang sebenarnya dia minta.


“Sayang, sayang.. Kamu kenapa malah tambah nangis? Aku harus lihat apa?”, tanya Arya lagi, dia mulai frustasi.


“Selama ini mas Arya bohong sama aku? Mas Arya sebenarnya gak cinta kan sama aku? Sampai foto mas Arya dengan selingkuhan mas Arya tersebar pun, mas Arya bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa - apa.”, Dinda menangis terisak - isak. Dia sulit mengatur nafasnya sambil berbicara.


“Wait… wait… selingkuh? Aku? Aku selingkuh? Sama siapa, Din?”, tanya Arya bingung. Dia benar - benar sudah kehilangan kata.


“Mana aku tahu! Mas Arya jahat. Mas Arya jahat.”, teriak Dinda menangis dan memukul - mukul bahu Arya yang memang sedang berjongkok untuk berbicara dengannya.


“Aku harus tahu dong, aku selingkuh dengan siapa? Aku bingung. Kamu lihat aku dengan perempuan lain? Siapa? Dinda, sayang.. Tarik nafas dulu pelan - pelan. Hey hey, sayang.. Lihat aku. Sayang, aku selingkuh dengan siapa? Siapa yang bilang ke kamu kalau aku selingkuh? Hm?”, Arya melembutkan suaranya agar Dinda bisa lebih tenang.


Arya beberapa kali berusaha menyeka tangis Dinda, tapi istrinya itu menepisnya.


“Ini! Mas Arya berciuman mesra dengan wanita di foto ini dan masih bisa bertanya ke aku mas Arya selingkuh dengan siapa?”, kata Dinda dengan tangis yang masih tersedu - sedu.


“Okay.. jadi.. Kamu bilang, aku selingkuh dengan wanita di foto ini. Betul?”, tanya Arya pelan berusaha mengerti situasinya.


“Apaan sih mas Arya masih bisa bertanya ke aku. Apa maksudnya?”


“Jawab aja dulu.”, kata Arya lembut.

__ADS_1


“Iya, mas Arya selingkuh dan ketahuan lewat foto ini. Aku gak mau tahu siapa wanita ini. Yang jelas aku…”, Dinda tak bisa melanjutkan kata - katanya.


“Hehm….”, Arya memijat pelipisnya.


Dia berusaha menutup mulutnya yang sekarang sudah benar - benar tidak bisa menahan tawa. Bahkan dia sekarang berusaha keras menahan senyum tipis yang mulai tak terkendali disudut bibirnya.


Arya berusaha mengendalikan dirinya untuk tidak tertawa lebar di depan Dinda sekarang. Beberapa saat dia masih terlihat memijat pelipisnya sambil berusaha menutupi ekspresinya sebelum kemudian mulai berbicara lagi dengan Dinda.


“Sayang. Wanita di foto ini? Iya? Menurut kamu, wanita di foto ini adalah selingkuhan aku? Hm.. apa yaa istilah untuk suami yang selingkuh dengan istrinya sendiri?”, Arya menutup mulutnya, dia kesulitan untuk menahan tawanya.


Arya tertawa karena dia tidak menyangka kalau Dinda lupa bahwa wanita yang ada di foto itu adalah dirinya sendiri.


“Jadi wanita itu adalah mba Sarah?”, tanya Dinda.


Arya terkejut mendengar itu dari Dinda. Dia bermaksud untuk bercanda dengan pertanyaannya yang sebelumnya. Arya tidak menyangka jika Dinda masih merasa Sarah adalah istrinya.


“Sayang. Plis, dengarkan aku. Sarah adalah masa lalu. Aku ingin mulai sekarang, kamu tidak menyebut namanya lagi. Bukan karena aku masih menyimpan perasaan padanya. Tapi, karena aku tidak ingin kamu terus berada dalam bayang orang lain. Kamu adalah istri aku. Satu - satunya istri aku. Now and forever.”, Arya mengatakannya dengan sangat lembut agar pesan itu bisa sampai pada Dinda.


“Satu lagi. Wanita di foto itu adalah kamu. Aku tidak mempermasalahkan foto itu tersebar karena aku memang sedang bersama istri aku. So what? Ha-ha… aku hanya tidak menyangka kalau kamu lupa dan berpikir itu orang lain. Kamu sedang cemburu sama diri kamu sendiri?”, tanya Arya yang kali ini tak bisa menghentikan senyum dan tawa renyah.


“Hn?”, Dinda bingung.


Muachhh… Arya mencium bibir Dinda singkat.


“Makasih ya, sudah cemburu. Tapi aku harap ini terakhir kalinya aku melihat kamu menangis seperti ini. Aku ga tega lihat mata kamu sembab begitu. Aku sayang Din sama kamu. Kalau aku mau selingkuh, aku tidak akan pernah menyetujui permintaan mama untuk menikahi kamu. Satu lagi. I’ll never kiss anyone except YOU.”, kata Arya sambil menyeka tangis Dinda.


“Aku mandi dulu ya. Sepertinya ada yang memerlukan pelukan hangat malam ini. Aku ga boleh bau asem.”, kata Arya berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


Tinggallah Dinda yang hanya bisa bengong sambil berkali - kali melihat ke arah foto yang ada di ponselnya.


‘Aku senang sih mas Arya tidak selingkuh. Tapi, bagaimana mungkin aku bisa lupa kalau wanita di foto ini adalah diriku sendiri? Arghhhhh’, Dinda hanya bisa memukul dan meremas seprainya karena sekarang dia sudah benar - benar malu.


‘Apa yang sudah aku lakukan? Aku marah tidak jelas dengan mas Arya selama seminggu. Menangis seperti ini hanya karena aku cemburu pada wanita yang jelas - jelas adalah diriku sendiri? Dindaaaaaa…. Ke laut aja.. Ke laut…. Mas Arya pasti akan meledekku. Huwaaaaaaaaaaa….’, kata Dinda sambil menutup wajahnya dengan selimut.


********


**Flashback saat masih di apartemen **


Malam itu saat mereka menginap di apartemen hingga akhir pekan, Dinda tiba - tiba ingin sekali memakan kacang rebus. Biasanya di jam - jam malam setelah mall mulai tutup, banyak pedagang kaki lima yang sudah mangkal di area depan apartemen. 


Sekitar 200 meter dari pintu masuk. Disana kebetulan ada jalanan menyerupai gang senggol yang biasanya digunakan orang - orang untuk menghindari macet dan terhubung ke area dekat dengan jalan tol. 


Mulai dari pedagang nasi goreng, bubur ayam, bakso, hingga makanan - makanan khas lainnya ada disana. Maklum penghuni apartemen dan petugas mall juga sangat banyak. Jadi, mereka menjadi pundi - pundi rezeki bagi pedagang kaki lima. 


Saat turun ke bawah untuk membeli kacang, Dinda hanya mengenakan atasan tipis. Arya baru menyadari Dinda kedinginan saat mereka sudah sampai di dalam lift dan sudah menuju area bawah. 


Akhirnya Arya menekan tombol basement untuk mengambil jaket hoodienya di dalam mobil. Lebih dekat untuk mengambilnya di parkiran ketimbang harus kembali lagi ke lantai atas. Mungkin karena itu Dinda lupa kalau malam itu dia mengenakan hoodie milik Arya yang terbuat dari parasut dan berwarna gelap. 


Sejak beberapa hari yang lalu, Arya sudah merasa ada orang yang mengikutinya. Tapi, karena orang itu tidak melakukan tindakan yang membahayakan, Arya membiarkannya saja. Namun, malam itu, Arya mulai terganggu. 


Setelah berbelanja kacang rebus, Arya berusaha membawa Dinda melewati area masuk gedung melalui jalur parkiran. Disana, dia sengaja mencium Dinda agar Arya bisa mengintip siapa sebenarnya orang yang mengikutinya tanpa terlihat jelas. 


Karena itulah, angle foto yang diambil menampilkan bagian belakang Dinda dan wajah Arya terlihat jelas. Karena itu juga, Arya tidak terlalu terkejut saat Siska memberikan foto itu padanya. Dia tidak peduli jika orang kantor melihatnya. Toh, dia berciuman dengan istrinya sendiri. 


Justru, Arya jadi semakin mudah mengetahui siapa sebenarnya yang sedang mencari gara - gara dengannya. 

__ADS_1


Satu - satunya hal yang berada di luar dugaan Arya adalah fakta kalau Dinda justru lupa bahwa wanita yang ada di foto itu adalah dirinya sendiri. 


__ADS_2