Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 62 Aku ingin Dinda malam ini


__ADS_3

Dinda sudah melaju bersama taksi yang membawanya ke hotel Y, tempat Arya sekarang berada. Sepanjang perjalanan, Dinda merasa was - was karena jarak hotel Y dengan rumahnya sangat jauh. Dia juga tidak pernah ke daerah itu sebelumnya.


Meski sudah memesan taksi dari agen resmi dan memilih yang lebih premium, tetapi Dinda tetap tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.


“Mohon maaf Bu, kalo boleh tanya, Ibu ada keperluan apa ke hotel malam - malam begini?”, sopir yang tadinya hanya diam sepanjang setengah perjalanan akhirnya mengeluarkan pertanyaan pertamanya. Dia sudah ingin bertanya ketika pertama kali menerima orderan. Tapi, dia merasa tidak enak.


“Hm..”, Dinda bingung bagaimana harus menjawabnya.


“Gapapa kalau tidak dijawab, Bu. Maksud saya baik. Saya cuma mau mengingatkan. Sekarang sudah jam 9.30 malam. Meskipun itu hotel bintang 4, tapi daerah sekitar sana sepi. Jadi, harap berhati - hati.”, kata sopir mengingatkan.


“Ah.. iya Pak. Disana nanti ada suami saya kok, Pak.”, kata Dinda.


Setidaknya dia hanya ingin meyakinkan bahwa dia tidak sendiri. Dia tidak melihat ada yang mencurigakan dengan sopir taksi, tetapi Dinda hanya ingin waspada saja. Apalagi, benar kata beliau, malam memang sudah sangat larut dan area sini hanya dilalui mobil dan motor saja. Tidak banyak orang yang berjalan, pedagang kaki lima, atau semacamnya.


“Oh.. saya kira. Baik, Bu. Syukurlah kalau disana ada yang menjaga.”


Dinda akhirnya sampai setelah sekitar 1 jam perjalanan. Waktu tempuh sangat lama dan tanpa macet menandakan Hotel yang dituju memang sangat jauh. Dinda membayar taksi begitu sampai di depan lobi hotel.


“Maaf Pak, Bar ‘Late Night’ di sebelah mana, ya?”, tanya Dinda pada salah seorang petugas hotel saat sudah sampai di dalam.


“Bar-nya sudah tutup, Bu.”, jawab petugas tersebut dengan sopan namun tetap tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya saat melihat Dinda menanyakan bar hotel. Petugas itu bingung, mengapa wanita berhijab datang ke hotel malam - malam dan malah menanyakan Bar.


“Ah.. saya terima telpon dari Manager Bar tersebut kalau suami saya sedang disana, Pak.”, jawab Dinda lagi dengan lebih jelas. Siapa tahu, petugas hotel ini tahu.


“Ahhh… Bapak yang mabuk tadi itu ya? Oh oke… itu suami, Ibu?”, tanya petugas hotel tersebut. Kali ini dia benar - benar tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.


“Hn. Iya, Pak.”, jawab Dinda lagi.


Petugas hotel langsung mengantar Dinda menuju bar. Belum lagi sampai, tetapi dari jarak beberapa meter, Dinda sudah bisa mengenali pria yang tertunduk di atas kursi bar adalah Arya. Hatinya mulai tidak nyaman. Selama beberapa bulan menikah, ini pertama kali Dinda melihat sisi Arya yang seperti ini.


Ketika orang - orang menggosipkannya sering minum di Bar, Dinda hanya menganggapnya sebagai angin lalu saja. Dia berpikir bahwa hal seperti itu biasa di kota besar. Beberapa teman - teman kampusnya juga dulu pernah begitu.


Tapi ketika melihat orang terdekatnya, Arya, suaminya sendiri mabuk sampai seperti ini membuat hati Dinda tidak nyaman. Apa yang membuatnya sampai minum seperti ini? Apakah ada kaitannya dengan perkelahiannya siang ini dengan pria bernama Dimas itu? Apa hubungan mereka?


“Malam, Pak. Maaf ya Pak, jadi membuat masalah seperti ini.”, kata Dinda langsung kepada seorang pria yang sepertinya adalah manajer. Terlihat dari pakaiannya yang lebih rapi dan nametag di bagian kanan kemejanya.


“Iya, gapapa, mba. Tapi benar mba ini istrinya?”, manajer itu memastikan kembali. Karena dia melihat Dinda masih sangat muda. Dari penampilannya, Dinda juga seperti anak baik - baik.


“Em.. Iya Pak. Betul.”, Manajer itu melihat ke Arya sekilas lalu menoleh lagi ke arah Dinda. Mungkin dia bingung mengapa gadis seperti Dinda memiliki suami seperti Arya yang saat ini kondisinya mabuk berat.


“Mbanya bawa mobil, atau?”


“Eee… enggak, Pak. Saya pesan kamar saja sampai besok pagi. Sepertinya juga sudah larut malam. Mungkin kami kembali besok. Suami saya bawa mobil kok kayaknya kesini.”


“Ooh.. sudah dapat kamarnya? Mungkin saya bisa bantu bawa ke atas. Sepertinya Pak Arya sudah mabuk berat. Sulit kalau mba-nya sendiri yang mengangkat.”


“Sudah, Pak. Saya sudah pesan di bawah tadi. Gapapa, Pak. Saya tadi sudah menghubungi petugas hotel. Nah, itu dia.”


Dinda menunjuk ke arah petugas hotel yang baru datang. Dia sudah memesan kamar sebelum naik ke lantai ini dan meminta bantuan pada petugas untuk mengangkat Arya.

__ADS_1


Sudah terlalu malam untuk pulang. Lagipula, Dinda tidak mungkin membawa Arya pulang dalam keadaan mabuk begini. Petugas hotel membantu Dinda memapah Arya menuju kamarnya di lantai 10. Beruntung, dia tidak perlu turun lagi dan tinggal menaiki lift yang juga ada di sekitar situ.


Arya masih bisa berjalan, namun sempoyongan. Saat melihat Dinda, dia tidak mengatakan apa - apa namun malah terkekeh. Petugas hotel membantunya untuk memapah Arya menuju kamar mereka.


“Terima kasih banyak, Pak. Gapapa, sampai sini saja. Saya bisa membawanya ke dalam.”, tutur Dinda pada petugas hotel. Meski sebenarnya dia masih kesulitan menahan tubuh Arya, namun tidak bagus juga jika petugas pria itu masuk ke dalam kamar.


“Iya, kalau perlu bantuan lagi, silahkan untuk menghubungi resepsionis melalui sambungan telepon di dalam ya, Bu.”, kata petugas hotel dengan sopan.


“Baik, Pak.”, jawab Dinda.


Dinda membuka pintu hotel dengan kartu akses dan berusaha sekuat tenaga memapah Arya menuju kasur.


“Ngapain kamu disini?”, Arya yang dari tadi hanya diam dan terlihat pasrah mulai berbicara.


“Pak Arya apa - apaan sih? Sampai mabuk begini, maksudnya apa? Pak Arya gak kasian sama Mama dan Papa?”, kata Dinda setengah berteriak saat berusaha mendudukkan Arya di kasur.


Dinda membuka sepatu Arya dan melepaskan ikat pinggangnya agar pria itu merasa lebih nyaman. Bau alkohol yang tidak pernah sekalipun Dinda cium sebelumnya keluar menyengat dari mulut Arya.


“Aaah”, Dinda berteriak. Arya ikut menarik Dinda saat gadis itu berusaha membaringkannya. Alhasil, Dinda terjatuh di atas tubuh Arya. Saat Dinda ingin bangun, Arya malah menahannya.


“Mau kemana sih kamu? Ingat, kamu itu punya banyak hutang dengan saya.”, kata Arya sambil memeluk Dinda erat.


“Pak Arya, sadar. Lepasin..”, kata Dinda berusaha untuk melepaskan pelukan Arya yang begitu erat padanya.


“Nah, itu kamu panggil saya dengan ‘Pak’ berarti satu ciuman.”, kata Arya dengan suaranya yang terdengar ngawur.


Arya dengan cepat mendaratkan ciumannya di bibir Dinda. Gadis itu tak bisa menjauh karena pelukan Arya membatasi ruang geraknya.


Arya membalikkan badannya dan diam. Sepertinya dia langsung tertidur.


‘Dia kenapa sih? Aneh banget!’, bathin Dinda.


‘Semoga mama gak nyariin aku di rumah. Aku bebersih dulu aja.’, pikir Dinda dalam hati dan bergerak menuju kamar mandi.


Dia melepas outer dan hijabnya. Dinda mengenakan terusan dibalik baju tidurnya yang sudah ia kenakan tadi di rumah sebelum menerima telepon. Karena terburu - buru, Dinda hanya bisa mengambil sebuah baju terusan lengan pendek dan outer.


Dinda menghabiskan waktu yang lama di kamar mandi untuk duduk dan berpikir. Sempat terlintas di otaknya untuk menghubungi pria bernama Dimas dan mencari tahu. Tapi, dia tidak punya kontaknya.


‘Oh.. kalau mas Arya dan Dimas saling kenal, kontaknya pasti ada di ponsel mas Arya.’, pikir Dinda.


Dia langsung keluar kamar mandi dan mencari - cari ponsel Arya.


‘Ah..ketemu.’, Dinda berhasil mengambil ponsel Arya dari sakunya tanpa pria itu sadari.


Dinda mencoba membuka kunci ponselnya yang sebelumnya pernah diberitahu oleh Inggit. Dinda tak pernah sekalipun membuka ponsel Arya meski dia tahu kata sandinya. Tetapi kali ini beda, dia harus menghubungi pria bernama Dimas itu dan mencari tahu. Walau bagaimanapun, Arya adalah suaminya dan dia berhak tahu.


Dinda mengetik nama Dimas, namun hasilnya nihil. Dia tidak menemukan nama pria itu di ponsel Arya.


‘Apa mungkin rekan bisnisnya? Jadi, adanya di ponsel yang satu lagi. Lalu, bagaimana bisa menghubunginya.’

__ADS_1


Tak lama, sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenal masuk ke ponsel Arya.


‘Angkat ga ya. Siapa ini? Tapi kalau ponsel pribadi harusnya orang - orang dekat.’, akhirnya setelah lama mempertimbangkan sampai si penelepon menghubungi sebanyak tiga kali, Dinda mengangkatnya.


Dia tidak mengatakan ‘Halo’ lebih dulu karena ingin mendengar dulu siapa kira - kira yang menelepon.


“Halo.. Arya.. Ar..aku bisa menjelaskan hal tadi. Okay, semua bisa kita bicarakan baik - baik. Ayolah.. Kamu salah paham. Tidak, walaupun…aku… ****..Okay, lebih baik kita bertemu.”, si penelepon berbicara dengan nada panik. Bahkan kata per kata yang dia ucapkan tidak beraturan.


Tiba - tiba, seseorang dari belakang Dinda mengambil dan mematikan ponselnya lalu membuangnya begitu saja ke lantai.


“Ngapain kamu pakai telpon dia segala?”, kata Arya dari belakang pada Dinda. Dinda membulatkan matanya.


“Orang itu yang telpon ke ponsel mas Arya, bukan saya.”


“Kamu mau selingkuh juga sama pria itu? Iya? Kamu itu istri saya, harusnya kamu gak usah tebar pesona sama laki - laki lain.”, kata Arya bergerak menyudutkan Dinda di dinding dengan nadanya yang mengintimidasi.


“Mas Arya bicara apa sih? Ngawur. Pria siapa? Aku juga ga tahu siapa yang telpon barusa. Mas Arya mabuk. Lebih baik mas Arya istirahat.”, Dinda berusaha menenangkan Arya yang mulai tidak terkendalikan. Tatapan matanya tajam. Entah dia sadar atau tidak apa yang sudah ia lakukan sekarang.


“Dimas. Selingkuh kamu sama dia? Iya, Din? Kamu tahu dia itu pria brengsek yang sudah menghancurkan rumah tangga saya. Saya gak akan membiarkan dia menghancurkan rumah tangga saya lagi.”


Dinda bingung dengan apa yang dikatakan Arya. Tapi, sebelum Dinda bisa berpikir atau menjawab perkataan Arya, bibir pria itu sudah lebih dulu menempel di bibirnya. Arya menciumnya dengan kasar.


Arya mengunci tangan Dinda di dinding diatas kepalanya hanya dengan satu tangan. Sementara Arya, berhasil mengeksplorasi apapun yang bisa dijangkaunya. Dinda berusaha keras mengelak. Sulit, sulit sekali karena tenaga Arya jelas lebih kuat darinya.


Saat Arya sedikit melonggarkan pertahanannya, Dinda langsung mengambil kesempatan. Dinda berhasil lepas dan langsung menampar wajah Arya keras. Menurutnya, pria itu sudah keterlaluan. Meski Arya adalah suaminya, tetapi Arya tidak berhak memperlakukannya seperti itu.


Arya meremas rambutnya frustasi.


“Kenapa? Atau.. mungkin benar kamu memang sudah ga perawan ya, Dinda? Setiap kali saya mau menyentuh kamu, kamu selalu menolak. Kalian semua wanita sama saja. Lucu.. yang satu hamil dengan pria lain, yang satu..”, Dinda tidak menunggu Arya menyelesaikan kalimatnya. Dia kembali mendaratkan satu tamparan lagi di pipi Arya.


“Mas Arya gak berhak memperlakukan saya seperti ini.”


“Seperti apa? Saya menikahi kamu atas persetujuan kamu sendiri. Tapi, saya bahkan tidak bisa menyentuhmu. Bukankah aneh?”


“Saya hanya belum yakin apakah mas Arya serius dengan pernikahan ini? Dan, bukan seperti ini caranya. ”


“Saya sangat serius sampai saya tidak akan pernah memberikan kamu pada Dimas. Seperti saya membiarkan mantan istri saya hamil anaknya?”, ujar Arya dengan nada keras. Dia menggenggam tangan Dinda dengan kuat.


“Sakit, mas.”, ujar Dinda sambil meringis.


Dinda membulatkan matanya. Dia sulit mencerna perkataan Arya.


“Apa maksudnya? Apa hubungannya dengan saya?”


“Kamu tanya hubungannya dengan kamu apa? Kamu sekarang adalah istri saya. Saya akan memastikan tidak ada yang bisa memiliki kamu selain saya. Saya tidak akan membiarkan kesalahan terulang.”, kata Arya sebelum kembali melayangkan ciumannya yang terkesan memaksa pada Dinda.


Dinda berusaha mendorong Arya dengan cara memukul - mukul dadanya.


“Hmppphhhmmmhh..”, Dinda mencoba mendorong Arya tetapi gagal.

__ADS_1


Arya menarik Dinda menuju kasur. Pegangan Arya dikepalanya membuat kunciran rambut Dinda terlepas dan rambut gadis itu tergerai. Arya mendorong tubuh Dinda hingga terjatuh ke kasur sebelum melepas kemejanya.


Arya melakukan apa yang menjadi haknya meski Dinda berkali - kali mencoba lepas darinya. Apa yang ditakutkan Dinda terjadi saat dia sama sekali belum siap. Arya tak menghiraukan tangisan Dinda karena efek alkohol yang begitu kuat. Pikirannya kacau dan yang dia inginkan saat itu adalah Dinda.


__ADS_2