
“Ma, Arya titip Dinda ya. Kalau ada apa - apa, langsung telepon Arya aja.”, ucap Arya sebelum melajukan mobilnya keluar pagar.
Perasaannya tidak enak meninggalkan Dinda sendirian di rumah. Tapi, mau bagaimana lagi. Meeting ini juga lumayan sulit. Untungnya, Dinda tidak memiliki keluhan lain. Semoga saja demamnya segera turun. Begitu pikir Arya.
Padahal, rencananya Arya ingin membuka hubungan mereka hari ini. Dinda sudah setuju dengan itu. Sebelumnya Arya sudah memberikan waktu seminggu untuk Dinda bisa memutuskan. Dan pada akhirnya wanitanya itu menguatkan diri dan mencoba untuk tidak memikirkan segala ketakutan yang dia miliki.
Dinda juga sudah berpikir positif negatifnya saat hubungan ini terbongkar. Meski negatifnya membuatnya khawatir, tapi positifnya juga banyak. Dia bisa terhindar dari segala jenis fitnah yang sudah beberapa waktu ini beredar.
Masalah foto waktu itu belum juga usai meski tidak ada lagi yang nampak membicarakannya. Perut Dinda semakin membesar. Mereka juga menikah secara sah, tanpa ada masalah apapun sebelumnya seperti hamil luar nikah atau apapun itu.
Arya juga sudah membicarakannya dengan HRD beberapa hari yang lalu. Tidak ada masalah berarti karena Dinda diterima di perusahaan sebelum dia menikah dengan Arya. Selama bekerja di bawah kepemimpinan Arya, dia tidak memiliki intervensi keputusan dan lebih banyak berhubungan dengan Erick.
Selain itu, Dinda juga hanya seorang intern. Jadi, tidak ada dampak signifikan secara profesionalitas dalam pekerjaan untuk masalah ini. Hanya satu hal yang dikhawatirkan. Dinda terlibat dalam satu proyek besar Smart Report beberapa waktu lalu. Hasil penilaian dari project ini cukup bagus.
Alasan terbesar yang membuat dia masuk level 5 besar dan ditawarkan lowongan internal di perusahaan juga karena kontribusinya dalam sosialisasi Smart Report. Kemudian, saat ini Dinda juga dilibatkan dalam proyek besar Digital and Development sebagai pendukung operasional oleh Dika.
Keterlibatannya dalam dua project ini yang mungkin bisa menimbulkan pertanyaan di kalangan karyawan. HRD masih mencoba mendiskusikan ini dan akan mengabarkan Arya bagaimana hasilnya.
Biasanya, untuk kasus seperti ini, HRD akan langsung memberikan saran agar Dinda mengundurkan diri dari perusahaan. Namun, karena ini berkaitan dengan Arya dan secara timeline tidak bermasalah, HRD bersedia untuk mempertimbangkannya.
Arya adalah salah satu aset terpenting perusahaan. Meski HRD yakin Arya memiliki profesionalitas yang tinggi, tetap saja, resiko adalah resiko dimata mereka. Selalu ada kemungkinan dimana keputusan tentang Dinda akan mempengaruhi karir Arya ke depan. Dinda adalah istrinya.
*********
“Pak Arya, Bu Susan minta waktu diskusi sore ini sekitar pukul 3.30? Bapak bisa? Saya lihat jadwal Bapak masih kosong di jam segitu.”, Siska datang menghadap Arya yang baru saja selesai meeting di ruangannya.
Dia sudah membereskan laptop dan dokumen miliknya.
“Hem.. tentang apa?”, tanya Arya sambil melihat jam tangannya.
“Saya kurang tahu Pak. Tadi Bu Susan tidak menyebutkan detailnya.”, jawab Siska.
“Besok weekend. Coba kamu tanya dan pastikan lagi urusannya apa. Kalau tidak urgent, kita mundur di Senin. Saya masih ada waktu kosong kan di Senin?”, tanya Arya memastikan.
“Baik Pak.”, balas Siska langsung segera keluar dari ruangan Arya untuk menghubungi Susan.
Arya meletakkan kembali tas kantornya di kursi. Di sela - sela waktu ini, dia menggunakannya untuk menghubungi Bunda Ratna.
“Halo, Bun. Bun, lagi sibuk ga?”, tanya Arya.
“Begini Bun, Dinda lagi sakit. Oh.. engga - engga Bun. Ga parah kok. Hanya demam saja. Arya sudah menghubungi dokter dan mam juga sudah cek rutin suhu badan Dinda. Tadi pagi 38 sekian, tapi siang ini sudah mulai turun, meskipun belum sampai ke suhu normal.”, jelas Arya.
“Iya Bun. Arya di kantor. Arya titip Dinda sama Mama di rumah, jadi Bunda tenang aja. Rencananya Arya mau jemput Bunda biar bisa menginap mungkin di rumah menemani Dinda semalam dua malam. Sejak menikah, ini pertama kalinya dia sakit, jadi Arya pikir Dinda mungkin kangen bunda.”, lanjut Arya lagi.
Pandangannya mengarah pada jalanan luar yang terlihat dari kaca gedung.
“Engga Bun. Tadi dokter yang biasa cek kandungan Dinda sudah menginformasikan, menurutnya tidak apa - apa. Yang penting panasnya tidak lebih dari 38.9- selama lebih dari 24 jam dan terus dipantau rutin.”
“Iyaa.. terakhir cek ke dokter, kandungan Dinda gapapa, sehat semuanya tidak ada keluhan serius. Iya, Arya sendiri yang menemani, Arya lihat USG nya juga, sehat. Maaf Arya belum kabari Bunda.”, Arya seperti sedang diinterogasi karena Bunda Ratna terlihat sangat khawatir.
“Hem.. tadi Arya belum sempat cek lagi. Tapi tadi Mama sudah menyiapkan bubur. Oh.. iya bun. Iya..Oke kalau begitu, Arya jalan sekarang. Mungkin sekitar satu setengah jam lagi Arya sampai rumah Bunda. Iya gapapa, Bun. Arga diajak aja. Di rumah kan ada Ibas yang menemani.”
“Iya makasih Bun.”
Tok tok tok
Segera setelah Arya menutup ponselnya, seseorang mengetuk pintu ruangannya. Arya berbalik dan melihat di samping pintu ruangannya yang terbuka ada Susan. Karena buru - buru, Siska merasa tidak perlu mengunci pintu ruangan Arya.
Arya kira, Siska akan kembali dengan informasi. Sekarang justru Susan sudah ada di depan pintunya.
“Iyah, katanya kamu butuh waktu diskusi? Tentang apa? Kebetulan saya tidak punya banyak waktu. Karena harus…”, Arya terlihat melihat jam di tangannya sambil mengambil tas miliknya dan melangkah maju.
__ADS_1
Namun, belum selesai dia berbicara, Susan langsung memotong pembicaraannya.
“Pak Arya sudah menikah lagi?”, tanya Susan ragu - ragu.
“Hm?”, Arya yang menunggu jawaban terkait topik yang ingin didiskusikan Susan agak terkejut dengan pertanyaan Susan yang menurutnya terkesan tiba - tiba.
“Maaf Pak, sebenarnya saya sudah beberapa menit yang lalu disini dan tidak sengaja mendengar pembicaraan Bapak di telepon.”, kata Susan.
Situasi mendadak canggung tiba - tiba. Tentu saja Arya terlihat santai saja. Ekspresi dan nada bicara Susan yang membuat suasana langsung berubah.
“Hm.. jadi kamu mau mendiskusikan tentang project yang mana? Kalau tidak urgent, saya ingin digeser menjadi Senin. Saya ada beberapa meeting di hari Senin, tetapi akan saya pastikan ada slot untuk kamu.”, lanjut Arya.
Dia tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Susan sebelumnya.
“Proyek Perusahaan AB, Pak.”, jawab Susan.
“Oh…”
“Setelah saya lihat scalenya, ternyata sangat besar. Saya ingin meminta support dari tim lain. Saya tidak masalah jika diskusinya dilakukan di hari Senin. Tetapi, setidaknya hari ini saya bisa mendapatkan keputusan team yang bisa membantu.”, lanjut Susan.
“Hem..Oke.”, Arya nampak berpikir sebentar.
“Kamu bisa coba minta bantuan Susanto. Seingat saya mereka hanya handle 2 proyek untuk kuartal ini. Jadi, menurut saya mereka punya slot. Ditambah mereka juga baru mendapatkan 2 staf baru dan satu orang intern. Sepertinya cocok untuk bisa mendukung proyek yang sedang kamu kerjakan. Kamu bicara dengan mereka. Atur waktu diskusinya Senin dengan Siska. Kalau ada pertanyaan, kamu bisa menghubungi saya.”, ujar Arya langsung menyudahi diskusi singkat saat itu.
“Baik, Pak Arya. Terima kasih.”, ujar Susan.
Dari kata - katanya, dia terdengar sudah menyudahi diskusi mereka hari itu. Namun, Susan masih belum beranjak dari posisinya berdiri. Padahal Arya sudah siap ingin keluar.
“Ada yang ingin kamu bicarakan lagi?”, tanya Arya.
Ekspresi Susan terlihat bingung dan sulit dibaca. Pandangannya kemudian mengarah pada cincin yang terpasang di jari Arya. Biasanya pria itu tidak memasang aksesoris apapun di tangannya.
Arya menyadari arah pandangan Susan dan teringat pada pertanyaannya barusan. Arya bukan tidak ingin menjawab, tapi dia lupa dengan pertanyaan itu karena saat ini sedang banyak hal yang ada di kepalanya.
“Ah.. Iya.. tentang pertanyaan kamu yang tadi, ya. Benar, saya sudah menikah. Maaf saya tidak memberitahukannya pada kalian semua karena alasan tertentu. Tapi dalam waktu dekat saya berencana untuk mengumumkannya. Mungkin sedikit acara makan - makan sebagai ganti saya tidak mengadakan acara besar.”, saya harap kamu mengerti.
“Oke, saya harus pulang. Kebetulan istri saya sedang sakit. Kalau ada pertanyaan langsung hubungi saya saja. Atau kalau saya sulit untuk dihubungi. Kamu bisa hubungi Siska terlebih dahulu. Have a great weekend!”, ucap Arya dengan tersenyum dan perlahan berjalan keluar, diikuti oleh Susan.
Arya menutup pintu ruangannya.
“Guys, saya balik duluan, ya. Ada hal urgent di rumah. Have a great weekend. See you on Monday!”, kata Arya sambil mengangkat satu tangannya
Arya sudah berada di depan lift dan menekan tombol untuk turun ke bawah. Arya sesekali melihat jam di tangannya. Sudah jam 3 lewat, padahal dia berjanji untuk pulang sekitar jam 3.
“Pak Arya, tunggu.”, dari jauh Dika nampak mengejar Arya.
Kebetulan pintu lift sudah terbuka dan kosong. Arya memilih untuk tidak berhenti dan masuk ke dalam lift. Dika mengikuti.
“Hm?”, tanya Arya singkat.
“Bisa kita bicara sebentar?”, ujar Dika.
“Maaf saya tidak punya waktu sekarang. Kita bicara lain kali.”, jawab Arya.
“Ini tentang Sarah.”
“Tentang siapapun itu. Sekarang yang jadi prioritas saya adalah istri saya. Saya rasa Erick sudah memberitahu kamu. Jadi, permisi. Kita bicara lain kali.”, ujar Arya meninggalkan Dika segera setelah pintu lift terbuka.
Dia bergegas untuk mengambil mobilnya di basement dan melesat menuju rumah Bunda sebelum pulang ke rumah.
Satu hal yang paling ingin dilakukan adalah menghubungi mama untuk menanyakan keadaan istrinya.
__ADS_1
*********
EPILOGUE: Pertemuan Arya dengan HRD
“Oh.. ada apa gerangan Pak Arya ke bagian HRD?”, ujar Gerald, Head dari Divisi HRD.
Kemarin malam dia mendapatkan informasi melalui sekretarisnya kalau Arya Pradana - Head Divisi Business and Partner ingin bertemu dengannya. Tentu saja, Gerald menjadi ketar - ketir memikirkan apa gerangan yang membuat Arya ingin bertemu dengannya.
Tidak boleh karena hal yang berkaitan dengan resignation. Arya adalah aset terbaik di perusahaan mereka dan bisa dibilang jantung bisnis. Kalau Arya sampai resign sementara penerusnya belum ada, maka ini akan menjadi kerugian bagi perusahaan.
“Bukan karena mau resign, kan?”, tanya Gerald lagi pada Arya yang baru saja ia persilahkan untuk duduk.
“Ha - ha. Tidak, tenang saja. Saya masih mencintai pekerjaan dan perusahaan ini.”, jawab Arya yang sudah duduk di hadapan Gerald.
Seseorang datang mengetuk pintu dan ternyata adalah sekretaris Gerald. Wanita itu membawakan satu cangkir kopi untuk Arya dan infused water.
“Saya tidak akan berputar - putar, Pak. Saya hanya ingin memberitahukan kalau sebenarnya saya sudah menikah.”, ucap Arya memulai kalimat pertamanya dengan to the point.
“Oh? Kabar baik kalau begitu? Mau memberi undangan ternyata.”, ucap Gerald tertawa.
“Bukan akan menikah, Pak. Tapi saya sudah menikah sekitar 6 bulan yang lalu. Karena berbagai alasan saya tidak bisa mengumumkan pernikahan saya ataupun menggelar pesta.”, ujar Arya.
Gerald tampak berpikir. Sampai disini dia mengerti.
“Okay..”, jawabnya.
Artinya, dia mengerti dan silahkan dilanjutkan ceritanya.
“Istri saya adalah Dinda Lestari, Intern di divisi Digital and Development.”, ujar Arya.
Dia bisa melihat dahi Gerald sedikit mengkerut karena dia sedang berpikir dan menyusun puzzle yang baru saja dilemparkan oleh Arya.
“Saat istri saya diterima di perusahaan ini sebagai intern, kami belum saling mengenal. Kami dijodohkan dan baru sadar kalau kami satu kantor. Dan itu juga terjadi hanya berselang beberapa hari sebelum saya ditunjuk sebagai Kepala Divisi pengganti di Digital and Development.”, ujar Arya berterus terang.
Raut wajah Gerald perlahan berubah dari yang tadinya tegang menjadi lebih santai.
“Kami menyembunyikan hubungan kami sementara karena takut ada kesalahpahaman dalam proses diterimanya Dinda di perusahaan ini sebagai intern. Saat itu saya juga menjabat sebagai Kepala Divisi pengganti.”, jelas Arya lagi.
“Apakah Pak Arya memberikan perlakuan khusus pada Dinda selama menjabat sebagai Kepala Divisi D&D?”, tanya Gerald terus terang.
Dia sudah bisa mengetahui dimana permasalahannya.
“Tidak. Tidak sama sekali. Semua keputusan tetap dipegang oleh Erick selaku VP yang langsung berada di bawah Head D&D saat itu. Saya hanya berperan sebagai controller selama posisi Head disana kosong. Saya tidak mempengaruhi keputusan apapun karena D&D bukan kapasitas keahlian saya.”, jawab Arya.
“I see.. Apakah Dinda sebagai Intern pernah memegang proyek besar?”, tanya Gerald kembali.
“Hm.. sepengetahuan saya, hanya satu proyek besar yang dia pegang selama saya menjabat. Keputusan itu sudah dibuat sebelum saya menikahinya. Setelah itu, saat ini dia sedang diminta mendukung satu proyek besar lainnya tapi itu murni atas keputusan Dika selaku Kepala Divisi D&D yang baru.”, jawab Arya.
“Hem.. baiklah saya paham. Untuk kasus ini sebenarnya, solusi yang saya tawarkan sama. Yakni, Dinda sebaiknya mengundurkan diri dari pekerjaannya. Seharusnya dia melakukannya saat mengetahui bahwa kalian satu kantor. Namun, saya juga paham mengapa Pak Arya mendatangi saya dan menjelaskan ini semua. Tentunya, Pak Arya mengharapkan agar hubungan Pak Arya tidak disangkut pautkan dengan posisi Dinda saat ini.”, ujar Gerald.
“Namun, saya perlu diskusi terlebih dahulu dengan Manager HRD yang bertanggung jawab untuk Dinda. Bagaimana keputusannya nanti, saya akan mengabarkan Pak Arya. Maaf, berarti sampai sekarang tidak ada yang mengetahui hubungan Pak Arya dengan Dinda?”, tanya Gerald lagi.
“Ada beberapa orang tertentu yang sudah mengetahuinya. Tapi belum semuanya karena saya dan Dinda belum memberitahukannya.”, jawab Arya.
“Hm.. Jika Dinda masih ingin mempertahankan posisinya sebagai intern, saya menyarankan agar tidak memberitahu terlebih dahulu. Kami akan memberikan solusi secepatnya, maksimal satu minggu. Agar saat hubungan Pak Arya memberitahukan status hubungan Pak Arya, kita bisa mentackle kecurigaan - kecurigaan karyawan yang tidak perlu. Bagaimana?”, usul HRD.
Arya nampak berpikir dan belum menjawab.
“Hm.. tentunya itu hanya saran. Jika Pak Arya tidak setuju dan ingin mempublikasikannya, tidak masalah. Hanya saja jika terjadi kesalahpahaman tentang keputusan profesionalitas Bapak di ranah pekerjaan, HRD tidak bisa pasang badan dan Dinda selaku karyawan mungkin akan kami minta mengundurkan diri.”, ucap Gerald.
“Kenapa bukan saya?”, tanya Arya.
__ADS_1
“Saya minta maaf karena terlalu to the point. Sebagai HRD saya menghargai semua kepentingan karyawan. Namun disisi lain saya juga perlu mengutamakan keberlangsungan perusahaan. Damage yang terjadi dengan mundurnya seorang intern dan Kepala Divisi jelas berbeda. Saya sangat berharap Pak Arya memahami ini.”, jawab Gerald.