
“Kamu mau pilih yang mana?”, tanya Arya pada istrinya.
Tatapan wajahnya menjurus meski dari arah pandangannya, Arya hanya bisa melihat bagian atas kepala Dinda.
Bibirnya sesekali mencium rambut istrinya. Dia merasakan kenyamanan disana.
Pria itu memainkan rambut Dinda yang sudah dibuka ikatannya.
Hembusan dinginnya AC membuat Dinda merasa nyaman dan hangat diatas tubuh suaminya.
“Bagaimana kalau mulai dari yang berat dulu.”, ujar Dinda menjawab mantap.
Bukankah pepatah mengatakan bahwa berakit rakit ke hulu berenang renang kemudian, bersakit sakit dahulu bersenang senang kemudian.
Jadi, ayo mendengar obrolan berat yang akan disampaikan oleh Bapak Arya Pradana terlebih dahulu sebelum mendengarkan bagian yang menyenangkannya.
“Oke. Tentang karir kamu.”, kata Arya lembut dengan suara baritonnya. Meski begitu tetap saja terpancar aura serius dari wajahnya.
Lagi - lagi Dinda mengangkat kepalanya dan mengarahkan pandangannya serius pada Arya. Gadis itu menanti kalimat selanjutnya dari Arya
Dari nada bicara Arya sepertinya ada kalimat lanjutan. Tapi, setelah menunggu beberapa saat, Dinda tak kunjung mendengarnya dari Arya.
“Apa HRD sudah memberitahu mas secara terpisah?”, tanya Dinda deg - degan. Akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya lebih dulu.
“Tidak, mereka tidak memberitahuku terpisah. Persoalan tentang kamu tetap ditangani oleb tim yang bersangkutan. Orang yang akan mengambil keputusan perkara intern tetap James. Aku hanya berkonsultasi dengan Gerald saja.”, terang Arya.
"Pak Gerald?", Dinda mungkin pernah bertemu dengannya tapi tidak mengenal pria itu.
Gerald adalah Senior Vice President yang hanya menangani pegawai dengan level senior manager ke atas.
Jadi tidak heran jika Dinda tidak mengetahuinua.
"Hm... dia HR para senior level. Kamu mungkin belum pernah bertemu.", jawab Arya.
“Lalu?”, tanya Dinda penuh harap.
Siapapun itu, dia berharap ada yang memiliki pandangan berbeda tentang posisinya setelah status pernikahannya terungkap.
“Kemungkinan terbaik yang bisa kamu dapatkan adalah kesempatan untuk menyelesaikan masa intern tanpa mendapatkan promosi menjadi karyawan tetap.”, ujar Arya.
Singkat, padat, dan jelas. Begitulah pria iu menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan business. Orangnya memang langsung pada poinnya.
Kali ini, pria itu tidak meminta Dinda untuk merebahkan tubuhnya di dada lagi karena dia tahu sebesar apa obrolan ini bermakna untuknya.
Gadis itu, meskipun dia tidak terlihat ambisius, tetapi di dalam hatinya dia ingin sekali bekerja. Meniti karir dan berkarya. Menghasilkan uang dari jerih payah sendiri.
Arya bisa melihat dengan jelas semangatnya saat beberapa kali terlibat meeting besar. Perusahaan memang tidak salah memilih intern. Disaat karyawan tetap mungkin sudah bosan dengan meeting ini, tetapi para intern sangat antusias, termasuk Dinda.
Beberapa kali saat Dinda sudah tertidur, dia iseng melihat catatan - catatan Dinda di atas meja.
Kadang meski sudah sampai rumah, dia tetap menulis beberapa poin to do list yang harus dia kerjakan besok dan apa pelajaran yang dia ambil hari ini.
Dinda memasukkannya dalam kotak dan menyembunyikannya di dalam lemari pakaian. Meski begitu selalu ada cara bagi sesuatu untuk muncil.
Saat Arya sedang berganti pakaian, dia tanpa sengaja melihatnya karena benda itu terselip diantara dua kain celana. Saat celana itu ditarik maka botol itu terjatuh.
Arya tidak membaca seluruhnya, melainkan hanya sebagian saja. Tetapi meski dari sebagian kertas itu, Arya bisa tahu seberapa gigih istrinya.
“Syukurlah… benar mas? Berapa persen kemungkinannya.”, tanya Dinda yang bersemangat.
Gadis itu bahkan menjadikan tubuh Arya layaknya sebagai meja belajar.
“Aaak… kamu mau kita terus mengobrol atau melakukan hal lain?”, disaat - saat serius begini, Arya masih sempat - sempatnya menggoda Dinda.
Tapi, bagaimana Arya tak menggoda karena dia sendiri juga sudah tergoda terlebih dahulu. Gadis ini mungkin tidak menyadari sudah sedekat apa posisi mereka berdua sekarang. Dinda mungkin tidak sadar dan terbiasa karena perhatiannya telah merasuk sepenuhnya pada informasi penting mengenai karirnya.
“Aak.. uhuk uhuk.”, Arya sampai terbatuk - batuk, saat Dinda refleks menepuk dadanya.
“Maaf - maaf mas Arya, aku sama sekali gak sengaja.”, tutur Dinda cepat langsung mengusap - usap dada suaminya, yang beberapa detik lalu dia tepuk.
“Kamu mau menggoda saya atau mau memberi saya pelajaran, kenapa sakit sekali.”, kata Arya.
Sakit memang, tapi tidak se-berlebihan itu. Dia senang menggoda istrinya. Apalagi membuatnya panik.
“Terus - terus?”, kata Dinda tidak sabaran mendengar kelanjutannya.
“Cium dulu.”, ujar Arya memajukan sedikit bibirnya.
Dinda langsung speechless tak percaya bila pria yang mengatakan ini di depannya adalah Pak Arya Pradana. Pria paling dingin bahkan jika dibandingkan dengan merk - merk kulkas ternama.
“Karyawan mas Arya pasti gak ada yang tahu kalau mas Arya seperti ini.”, kata Dinda.
Dia belum memberikan ciumannya. Matanya menyipit penuh telisik ke arah suaminya.
__ADS_1
“Bukankah aneh kalau mereka tahu aku seperti ini pada wanita? Memangnya siapa lagi yang sedekat ini?”, kata Arya sukses membuat jantung Dinda langsung berdetak kencang.
Seketika dia langsung bangun dan berbalik membelakangi Arya. Bukan apa - apa. Dinda hanya ingin memeriksa seberapa cepat jantungnya berdetak saat ini. Apakah ini masih termasuk batas normal.
Arya yang khawatir ikut bangun. Ia memeluk istrinya dari belakang dan menyesap aroma dari lehernya.
“Hm? Jadi mau tahu kelanjutannya atau tidak.”, ujar Arya yang bukannya membuat detak jantung Dinda semakin tenang tetapi justru semakin berpacu.
“Mas Arya jangan dulu.”, kata Dinda membuat Arya heran.
“Hm? Jangan apa?”, tanya Arya bingung. Dia masih memeluknya erat dari belakang.
“Aku gak bisa nafas. Jantung aku berdetak terlalu kencang.”, ujar Dinda jujur.
“Hahahahahahahahaha…. “, Arya akhirnya tak bisa menahan tawanya yang pecah dan menggema di kamar mereka.
“Ihhh mas Arya..”, Dinda melirik sedikit ke belakang karena pria itu tertawa lebar.
“Fuh… berapa kali pun aku menahan kayanya ga bakal bisa ngelewatin kamu malam ini.”, ujar Arya mempererat pelukannya.
“Hn?”
Cup.. satu ciuman sudah mendarat di leher istrinya.
“Mas, bukannya kita masih mau meneruskan pembicaraan yang berat tadi.”, kata Dinda berusaha menggeser kepalanya karena pria itu masih tak berhenti.
“Besok aja. Besok kan libur.”, kata Arya sudah tidak fokus pada pembicaraannya yang tadi.
“Aku penasaran.”, kata Dinda tak bisa lagi menghindar karena pria itu sudah mencoba membalik tubuhnya.
“B-E-S-O-K”, ujar Arya tepat di wajah istrinya.
‘Hah’, sudah tak ada kesempatan lagi untuk membuat pria ini putar balik.
Dinda ibarat sudah membuka segelnya.
**********
Pagi hari, Inggit sudah sibuk di dapur. Hari ini, teman - teman arisannya akan datang kesini. Sudah saatnya giliran Inggit yang menjamu sebagai tuan rumah. Awalnya, Inggit sempat lupa sampai grup chat arisannya penuh dengan pembicaraan seputar arisan bulan ini kemarin.
Inggit benar - benar merutuki dirinya karena sudah pikun padahal dia merasa dirinya masih sangat muda. Dia bahkan belum sempat mengatakan pada anak - anaknya kalau malam ini rumah akan penuh.
Terlebih, antusiasme teman - teman arisan Inggit mengarah pada pernikahan Arya. Pernikahan keduanya digelar tertutup. Hanya orang - orang terdekat yang termasuk keluarga besar saja yang datang.
Saat itu dia baru memutuskan untuk memaksa puteranya tinggal di rumah setelah beberapa kali membuat kekacauan. Tak jarang Ibas yang menjadi kontak langsung keluarga untuk pihak keamanan apartemen harus mengatakan pada mamanya kalau Arya tergeletak tak sadarkan diri di lobi apartemen.
Meski itu hanya sesekali, tetapi Inggit tak tahu lagi betapa malunya dia saat itu. Entah bagaimana caranya hal tersebut sampai ke telinga teman - teman arisannya. Inggit bahkan absen di beberapa pertemuan.
Baru tahun ini dia mulai berseri dan aktif kembali sampai tidak ingat kalau malam ini adalah giliran rumahnya yang dipakai.
“Bu, sudah bilang Den Arya belum. Nanti Den Arya ngamuk loh, Buk kalo tiba - tiba ada rame - rame di luar keluarga besar.”, kata Bi Rumi yang hapal betul bagaimana sifat salah satu putera majikannya.
“Iya, bibi jangan bikin saya jantungan dong. Saya juga deg - deg-an mau kasih tahu dia. Aduh.. jaman sekarang ya, kenapa malah mamanya yang takut sama anaknya.”, kata Inggit menghela nafasnya.
“Sudah dibilang belum Bu?”, tanya Bi Rumi kembali, respon Inggit barusan dinilai belum menjawab pertanyaannya sama sekali.
“Tadi saya sudah ke kamarnya, masih di kunci. Sepertinya belum bangun. Tahu gitu saya bangunin pas Subuh tadi.”, kata Inggit.
“Memangnya Den Arya sudah shalat shubuh, Bu?”, tanya Bi Rumi kaget.
“Alhamdulillah sudah Bi. Saya gak tahu kapan persisnya tapi sekitar dua minggu lalu, saya itu mau ngecek sesuatu ke kamar mereka. Kebetulan shubuh - shubuh. Trus Arya yang bukain pintu, pake sarung, trus wajahnya basah kaya habis ambil wudhu. Saya alesan aja masuk ke dalem, ternyata benar mau siap - siap shalat jamaah shubuh.”, kata Inggit menceritakan apa yang dilihatnya beberapa minggu lalu.
“Wah.. luar biasa juga ya, Bu. Perubahannya den Arya. Tapi kalau ngamuk masih sama.”, lanjut Bi Rumi lagi.
“Tuh kan, Bibi.”
“Makanya, Ibu bilang ke Den Arya kalau ada ibu - ibu arisan mau datang. Hm.. ibu - ibu arisan kan 100x lebih pedes omongannya dari pada Nyonya Meri.”, kata Bi Rumi memberikan perumpaan yang terkesan hiperbola.
Tok tok tok tok
Inggit mencoba untuk mengetuk pintu kamar Arya. Beberapa kali dia mengetuk, tidak ada suara dari dalam.
“Nyenyak sekali tidurnya berdua.”, komentar Inggit.
Dia kemudian beralih ke putera satunya lagi. Inggit melewati kamarnya. Ceklek. Anaknya yang satu lagi tidak mengunci kamarnya.
“Yaa ampuuuuuunnnnnnn Ibasssssss… habis ngapain kamu?”, teriak Inggit begitu membuka pintu dan melihat kamar puternya sudah seperti tong sampah.
Ibas tertidur dan game consolenya masih menyala. Sampah snack dan makanan kering berserakan. Ada yang sudah habis dan ada juga yang hanya habis sebagian saja. Ada beberapa cup kopi dan juga minuman soda.
“Ini kamu yang habisin sendiri. Anak ini…….”, kata Inggit.
Suara omelannya barusan sama sekali tak membuat Ibas bergeming. Ibarat kucing, dia hanya sempat meliuk sebentar kemudian tidur lagi diantara tumpukan bantal. Entah sudah seperti apa bentuknya sekarang. Bahkan di rambutnya pun ada pop corn.
__ADS_1
“Ibasss…”, teriak Inggit.
“Apasih ma? Ibas masih ngantuk.. Tidak sadarkan diri… Ibas lupa kunci pintu ma… Mama ko bisa disini?”, Ibas hanya meracau sesukanya.
Dia tidak minum yang aneh - aneh, tapi kondisinya seperti orang teler. Mungkin dia baru saja tidur beberapa menit yang lalu setelah ngegame semalaman.
“Awas aja. Apartemen? No. Kamu harus tinggal disini sampai kamu menikah. Gila aja ini bocah. Hah…. punya anak cowok cuma dua tapi kelakuannya ngalahin yang punya anak banyak. Yang satu dinginnya kaya kutub utara, yang satu gak jelas.”, Inggit keluar dari kamar itu sambil menutup kembali.
Dia tidak sanggup lagi bahkan hanya untuk marah - marah.
Hari ini adalah tanggal merah. Jam sudah menunjukkan pukul 6 lewat. Tetapi selain dirinya, Kuswan dan juga Bi Rumi, nampaknya belum ada yang keluar dari kamar mereka.
“Hm? Nenek?”, makhluk kecil yang mungil baru saja keluar dari lorong paling ujung.
“Safa.”, salah satu cucu kembarnya berjalan sempoyongan masih dengan baju tidur dan juga rambut mereka yang acak - acakan.
“Uyuyuyuyu sayang nenek sudah bangun? Samawa mana?”, tanya Inggit sambil menggendong cucunya.
“Masih tidur.”, jawab Safa pelan.
Dia mengucek - ngucek matanya. Begitu sampai di gendongan Inggit, Safa menidurkan menenggelamkan wajahnya di pelukan neneknya. Sepertinya anak itu belum benar - benar bangun.
“Mau turun sama nenek atau lanjut tidur?”, tanya Inggit.
“Tante Dinda mana? Safa mau main sama tante Dinda.”, ujar Safa mengangkat wajahnya dan mengarahkan pandangannya pada kamar Arya dan Dinda.
“Tante sama om masih tidur sayang. Kamu mau di bawah sama nenek? Nanti nenek buatkan sarapan yang enak, mau?”, tanya Inggit.
“Mama mana sayang?”, tanya Inggi lagi sambil mencium gemas cucunya.
“Mama masih tidur sama samawa, nek. Tadi Safa kabur.
“Hm? Safa kabur?”
“Iya safa kira tante Dinda udah bangun. Kemarin tante Dinda janji mau main hari ini karena libur.”, kata Safa masih berusaha bangun dengan mengucek matanya sedikit.
“Hm.. main berdua sama om Arya juga ya? Main apa?”, tanya Inggit sambil membawa cucunya itu turun ke bawah.
“Engga main sama tante Dinda aja. Om Arya galak.”, jawab Safa yang langsung membuat tawa Inggit pecah.
“Ohiya? Om Arya galak?”, tanya Inggit sengaja memancing informasi dari cucunya.
“Iya. Waktu Tante Dinda mau ajak main. Om Arya bilang ga boleh lama - lama main sama tante. Karena tante punya-nya om. Aku cuma pinjam.”, jawab Safa mencoba meniru bagaimana gaya Arya waktu menjawab demikian padanya.
“Hah? Jadi Safa cuma pinjam. Katanya om Arya, tante Dinda punya dia?”, tanya Inggit lagi.
Safa mengangguk mantap.
“Ya sudah, nanti nenek bantu bujuk om Arya biar pinjemin tante Dindanya yang lama jangan sebentar.”, kata Inggit.
***********
Dari Sarah
“Dim, hari ini ke gym bareng yuk, mumpung libur.”
Dimas
“Sorry, Sar. Aku sudah ada janji. Lain kali kita gym bareng ya. Infonya jangan dadakan.
Begitu membaca pesan yang ditulis oleh Dimas, Sarah membanting ponselnya ke sudut ruang tamu. Kebetulan, dia sedang duduk di salah satu kursi yang menghadap ke TV.
Sarah mengambil remote TV miliknya dan mengganti - ganti salurannya. Namun, tidak ada diantara channel itu yang dia suka.
Dia lantas kembali melemparkan remote itu ke arah yang berlawanan dari ponsel. Keduanya bernasib sama. Tak lama Sarah berteriak dan menggeser semua yang ada di meja sampai berjatuhan. Beruntung disana hanya ada tumblr dan vas bunga yang terbuat dari rotan.
Dia tak lagi bisa menghubungi Dika karena merekapun sudah lama tak saling sama sejak sikap asal tuduh Dika padanya tempo hari.
‘Padahal bukan aku yang mengatakan pada istrinya. Aku berharap aku memang benar - benar melakukannya. Tapi seseorang telah lebih cepat dibandingkan dengan aku.’, pikir Sarah kesal.
Bukan, bukan dia yang mengatakan berita omong kosong perihal perselingkuhan Dinda dan Dika pada Rianti. Dia memang beberapa kali mencoba demikian namun mengurungkan niatnya. Dengan begitu, Dia tak akan menghancurkan hubungan Dinda dan Arya tetapi malah memperkuatnya.
Kalau ingin menghancurkannya, dia harus melakukan hal yang lain. Tetapi dua pria itu sudah tak lagi berada dalam kendalinya. Hari sudah tinggi. Sarah berdiri dan mengambil kembali ponsel yang sudah dia jatuhkan.
“Oh? Siapa ini?”, kata Sarah saat mendapati seseorang mengirimkannya pesan.
Sebuah foto dan pesan singkat yang dikirimkan padanya tepat saat ponsel ia lemparkan barusan. Ya, mungkin saat itu karena sebelumnya, Sarah sama sekali tidak melihatnya. Kalau dia membaca pesan itu lebih dulu, dia takkan meleparkannya.
‘Menarik.’, ucap Sarah dalam hati sambil mengeluarkan senyuman sinis penuh arti miliknya.
“Tapi siapa yang mengirimkan ini padaku?”, ujar Sarah.
“Ah tidak masalah, aku sudah melihat di sosial medianya dan fotonya sama. Menarik sekali.”, senyum Sarah merekah saat membayangkan apa yang akan dia lakukan.
__ADS_1