Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 72 Kehidupan Perkantoran Bagian 1


__ADS_3

Arya menyetir mobil menelusuri jalan - jalan kota di malam hari. Sepulangnya dari dinner di pinggir pantai, Arya dan Dinda bertolak pulang karena besok adalah hari senin dan sekarang sudah pukul 10 malam.


Masih setengah perjalanan, namun Dinda sudah tertidur lelap di bangku penumpang, sebelah kiri Arya. Mungkin dia sudah lelah karena keluar sejak jam 11 siang bersama Ibas. Apalagi, perutnya juga kenyang dengan berbagai pagelaran makanan seafood yang dihidangkan.


Arya melirik ke samping di sela - sela menyetir. Setiap ada lampu merah, dia melirik ke samping untuk memastikan gadis itu masih berada di posisi yang nyaman. Helaian rambut Dinda sudah menutup wajahnya beberapa kali karena posisi kepalanya menghadap ke jendela mobil.


Dinda sudah melepas hijabnya begitu masuk ke dalam mobil Arya karena sudah gerah seharian. Hal itu pula yang menarik perhatian Arya. Terkadang saat mobilnya harus berhenti karena lampu merah, Arya menyempatkan diri untuk memindahkan helaian rambut itu ke belakang telinga Dinda, agar dia bisa memandangnya.


Arya juga sesekali tertawa, jika kepala Dinda tanpa sengaja membentur jendela karena efek rem atau belokan. Namun, gadis itu tetap melanjutkan tidurnya seolah tidak terjadi apa - apa.


Ponsel Arya berbunyi.


“Iya halo, ma.”, jawab Arya. Ternyata Inggit yang menghubunginya.


“Kalian dimana? Belum pulang?”, tanya Inggit khawatir karena sudah hampir jam 11 malam.


“Ini lagi di jalan pulang kok, ma. Mama tidur duluan saja.”, jawab Arya.


“Ya sudah. Kamu hati - hati, ya Arya nyetirnya. Jangan ngebut - ngebut.”


“Iyaa..”, jawab Arya kemudian mematikan sambungan teleponnya.


Kurang lebih setengah jam setelahnya, Arya sudah masuk ke area perumahan. Jalanan sedikit macet karena sepertinya ada hajatan yang menghasilkan kepadatan mobil berlalu lalang. Arya mengintip ke arah Dinda sedikit dan dia tersenyum karena Dinda masih saja tertidur pulas.


Setelah berjibaku dengan beberapa belokan alternatif di daerah perumahan, Arya berhasil sampai dan memarkirkan mobilnya di depan rumah. Arya baru akan membuka seatbelt Dinda namun ponselnya kembali berdering.


Tertulis nama Suci di layar ponselnya. Arya berpikir sebentar, kemudian memutuskan untuk tidak mengangkatnya.


Arya sudah melepaskan seat belt Dinda namun gadis itu masih saja tertidur. Arya akhirnya membuka pintu dan memutuskan untuk mengangkatnya ke masuk ke rumah.


“Halo, Bi Rumi. Bisa bantu bukain pintu, Bi?”, perintah Arya melalui sambungan telepon.


Semua orang sudah tidur dan dia tidak punya pilihan selain membangunkan Bi Rumi.

__ADS_1


“Iya Den, silahkan - silahkan.”, Bi Rumi langsung membuka pintu dan mempersilahkan Arya yang sudah membawa Dinda dalam gendongannya untuk masuk.


Arya menghela nafas sebentar sebelum menaiki tangga. Berhubung kamar mereka berada di lantai 2, jadi menggendong Dinda hingga kamar menjadi tantangan tersendiri. Beruntung dia memiliki badan yang kekar dan rajin nge-gym. Arya berhasil membawa Dinda dan membaringkannya di kasur.


“Luar biasa kamu, Din. Bisa - bisanya masih tidur pulas.”, ucap Arya dengan suara pelan.


Arya memandangi Dinda yang terlihat sangat cantik malam itu. Meskipun make-up nya sudah memudar karena sudah seharian dan efek gerilya mukbang seafood, tapi Arya justru menyukai wajah polosnya.


Ternyata tidak cukup memandangnya saja, tanpa sadar, dia sudah mendekatkan wajahnya. Dia menyeka beberapa helai rambut di bibirnya sebelum kemudian menciumnya. Ciuman tipis dan singkat.


Arya takut jika dia mencium gadis itu terlalu lama, dia malam menginginkan hal yang lebih.


*****


“Pagi semuanya. Sis, keruangan saya sebentar, ya.”, ujar Arya di pagi yang cerah.


Hari Senin menjadi hari terberat bagi sebagian besar orang terutama pekerja kantoran. Mereka dipaksa bangun dari mimpi akhir pekan dan masuk ke rutinitas dunia nyata di kantor.


Berbeda dengan Arya, pria itu sepertinya sangat bersemangat masuk kantor hari ini. Mungkin memang setiap hari dia selalu bersemangat. Arya dikenal sebagai karyawan paling ambisius yang setiap tahun selalu dapat promosi.


“Oke, berdasarkan meeting dengan HRD, manajemen sudah memutuskan bahwa acara Team Building kantor tahun ini memasang tema dalam negeri. Untuk tim kita akan melaksanakan Team Building di Lombok. Tolong, kamu umumkan ke divisi Business and Partners yang saya pegang, dan divisi Digital and Development, ya. Jangan lupa untuk bikin form konfirmasi kehadiran.”, perintah Arya pada Siska yang sudah menghadapnya di ruangan.


“Baik, Pak. Untuk tanggalnya?”, tanya Siska.


“24-27 bulan ini. Untuk agenda akan kita diskusikan bersama masing - masing manager team. Kamu juga bantu atur waktunya.”, jawab Arya.


“Ohiya, pak. Intern?”, tanya Arya.


“Tahun ini karena diadakan di dalam negeri, manajemen memutuskan bahwa intern ikut dan biaya akan ditanggung oleh manajemen. Okay, ada pertanyaan lain? Saya ada meeting di atas jam 9 kan?”


“Iya Pak, Pak Arya ada meeting dengan klien dan beberapa kepala divisi di atas jam 9.”


“Oke.. kalau ada yang mau menemui saya, bilang jam 3 baru bisa ditemui, ya. Soalnya setelah ini saya lunch di luar sama mereka.”

__ADS_1


“Oke baik, Pak.”, jawab Siska lugas.


Arya segera berlalu dan keluar dari ruangannya membawa sebuah tablet. Penampilannya hari ini simpel dan rapi seperti biasa. Namun, auranya sedikit berbeda. Aura gelapnya mungkin berkurang 1%.


Dia mengenakan jas tipis dan kemeja tanpa dasi, dan celana bahan dengan warna senada. Sebenarnya, kalau saja pak Arya tidak tampan dan rapi, Siska sudah mengundurkan diri jadi sekretarisnya sejak lama.


Meski auranya seperti iblis, tapi wajahnya tetap enak di pandang. Terkadang, Siska juga sering sekali pamer dengan teman - teman sesama sekretarisnya. Apalagi mereka yang memiliki bos yang rata - rata sudah berusia.


*****


‘Guys, Dinner on me, ya! Hari ini gue ulang tahun, jadi gue mau traktir kalian. Shuttt… buat yang aku undang aja, ya. Stay quiet!’


Begitulah kira - kira bunyi email Andra yang Dinda baca pagi ini. Setelah selesai membaca email, Dinda langsung melirik si yang punya hajatan alias Andra. Dengan gaya sok asiknya, dia memberikan tanda seolah - olah, ‘see you tonight, ya’, pada Dinda.


Sepertinya dia hanya mengundang inner circlenya saja, yang berarti kemungkinan besar adalah Delina, Bryan, Fas, Suci, dan Albert. Dinda berpikir sebentar. Jika ini Dinner, sudah barang pasti mereka akan pulang malam. Dinda harus meminta ijin pada Arya terlebih dahulu.


Sayangnya, Arya sedang sibuk meeting dan kemungkinan besar baru bisa diganggu setelah sore. Dia sudah mengatakannya tadi pagi. Dan, jika Dinda meminta izin lalu membatalkannya menjelang acara, Andra pasti akan marah.


Di kantor, hal yang paling penting adalah menjaga pertemanan tetap aman. Jika tidak, hidup di dunia perkantoran akan berat. Dinda akhirnya memutuskan untuk mengirimkan WhatsApp saja ke ponsel Arya.


“Kamu datang kan, Din?”, baru saja Dinda selesai mengetik pesan, Andra sudah menghampirinya. Kebetulan, Rini dan pak Erick serta beberapa orang Digital and Development tidak ada disana.


“Iya, bisa dong, Din. Jarang - jarang loh ada acara begini. Andra udah baik banget mau traktir kita.”, Delina ikut membujuk.


“Iya .. iya.. Aku ikut kok, Del. By the way, selamat ulang tahun, ya Andra.”, ujar Dinda.


Andra menyodorkan tangannya pada Dinda dan dibalas oleh gadis itu. Dinda sudah merasa tidak enak bersalaman dengan Andra tetapi pria itu justru meminta lebih. Dia seperti ingin menarik Dinda dengan lengannya, berharap bisa mendapatkan pelukan ringan sebagai ucapan selamat ulang tahun. Namun, Dinda berhasil menolaknya dengan halus.


Andra menyadari hal tersebut dan segera mengurungkan niatnya. Dia lantas bersikap seperti biasa.


“Thanks, Din. Kita berangkat jam 7 ya,, guys. Tempatnya dekat, kok. Di Cafe mall depan.”


“Siapp.. “, ujar Delina dan Dinda bersamaan.

__ADS_1


Dari kejauhan, Erick dan Rini terlihat menuju kemari. Dinda, Delina, dan Andra, kembali melanjutkan pekerjaan mereka.


__ADS_2