Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 193 Will miss you, bae


__ADS_3

“Pak Arya, gawat Pak.”, suara Siska memecah romantisme Arya dan Dinda malam itu.


Arya sampai harus menjauhkan ponselnya sebentar mendengar suara sekretarisnya itu.


'Hm.. apa lagi ini, baru juga menikmati momen sebentar, sudah ada saja hal tiba - tiba yang muncul. Jangan bilang kalau aku harus menggantikan orang lain lagi untuk perjalanan bisnis.', Arya berpikir pada kemungkinan yang sangat menakutkan itu.


Bayangkan, dia sudah menggantikan berapa orang dalam dua bulan ini sampai - sampai dia harus tidur di sofa.


Belum lagi drama kecelakaan saat dia berusaha untuk memenuhi janjinya menemani Dinda untuk periksa ke Rumah Sakit.


Suara kepanikan terdengar jelas dari Siska. Tidak biasanya dia panik seperti itu. Arya tetap duduk di bangkunya. Ekspresi wajahnya masih datar. Sementara Dinda dengan gigih mengambil beberapa potong bakso di bakwan malangnya.


Tadinya, dia hanya menginginkan bubur ayam. Tetapi, melihat bakwan malang yang dipesan Arya telihat begitu menggiurkan, Dinda juga tidak bisa mengelak untuk memenuhi keinginannya.


'Sepertinya aku harus pesan satu lagi untukku.' ujar Dinda dalam hati.


“Gimana dong Pak. Barusan saya dapat kabar kalau Pak Teddy di serang orang tidak dikenal. Beliau ada di rumah sakit sekarang.”, jelas Siska.


Arya bisa mendengarkan suara hiruk pikuk jalanan dari arah telepon Siska.


Terdengar jelas suara klakson mobil disana. Kadang samar - samar dia juga suara live music dari belakang. Mungkin dia sedang di jalan atau cafe, begitu kira - kira pikiran Arya.


“Diserang orang tidak dikenal? Dimana? Coba kamu tenang dulu, lalu ceritakan pelan - pelan secara runut. ”, Arya berdiri dari bangkunya dan menjauh untuk mendengar keterangan lebih lanjut dari Siska.


Tidak hanya suara dari arah belakang Siska yang sangat ribut. Suara di tempat Arya juga tidak kalah karena waktu sudah semakin larut dan suara - suara pesanan makanan mulai bermunculan.


"By the way, Pak Arya sedang berada dimana? Saya mendengar ada suara orang prsan bakso. Tidak mungkin di klub.", kata Siska malah membahas yang lain.


"Saya sedang makan di luar bersama istri saya.", jawab Arya.


"Ooh tumben makan makanan seperti bakso. Mas Arya lagi makan di pedaganv kaki lima ya? Wuhhh.. so sweet banget. Seumur - umur bekerja jadi sekretaris Pak Arya, aku belum pernah melihat Pak arya makan di abang - abang kaki lima.", Siska mulai berceloteh.


Siska mulai cerewt karena dia tidak berhadapan langsung dengan Arya. Kalau dia berhadapan dan melihat bagaimana ekspresi Arya sekarang. Dia tidak akan berani.


"Kamu mau cerita tentang hal serius atau mau membicarakan bakso? Pilih salah satu atau saya tutup teleponnya.", Arya mulai panas.


'Aku juga kenapa menjawab pertanyaanya lagi. Karena terbawa suasana dengan Dinda, seperti nya aku lupa untuk bersikap galak.', ujar Arya dalam hati.


Dinda memasang ekspresi bingung. Tapi dia tidak ambil pusing karena pasti urusan kantor kalau Arya sudah berbicara dengan Siska.


“Pak Arya gak akan percaya. Jadi, Pak Teddy ditemukan tidak sadarkan diri di parkiran kantor. Parkiran Pak Arya di lantai itu juga kan?”, tanya Siska.


“Hm. Kamu tahu sekitar jam berapa kejadiannya?”, tanya Arya agak terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya.


“Hm..? Sekitar 1 atau 2 jam yang lalu.”, jawab Siska.


Dia tidak begitu yakin dengan jawabannya. Tapi, berhubung dia baru saja menerima berita itu dan menurut pengakuan keluarga, kejadiannya tidak berselang lama, Siska langsung mencoba menyimpulkan.


‘Kira - kira di waktu yang sama saat Dinda mendengar suara aneh di parkiran. Apa ada hubungannya dengan yang kami dengar tadi? Masa sih? Bukankah parkiran di kantor sangat aman. Kenapa mereka bisa kebobolan begini?’, kata Arya dalam hati.

__ADS_1


“Lalu, Teddy baik - baik saja?”, tanya Arya memastikan.


“Saya belum dapat informasi detailnya. Saya kebetulan menghubungi beliau untuk perjalanan bisnis besok. Dari situ saya mendengar detailnya dari keluarga Pak Teddy. Wah, masa iya bisa diserang di parkiran yang ada pengawasan satpamnya. Aneh banget ga sih, Pak.”, pikir Siska.


“Besok Teddy harus berangkat ke Sulawesi, kan? Join project yang sebelumnya dibantu oleh Suci?”, tanya Arya baru teringat.


“Nah, itu dia Pak Arya. Karena itu saya juga harus menghubungi Pak Arya dan mendiskusikannya langsung. Bagaimana ya, apa dibatalkan saja? Tapi menurut keluarga Pak Teddy, meski mereka belum mendengar detailnya dari Dokter, tetapi sepertinya butuh masa pemulihan, karena beliau mendapatkan beberapa luka dari pukulan benda tumpul, Pak. Dari luar sih tidak parah, tapi who knows ada luka dalam.”, ujar Siska dengan nada bingung.


"Sepertinya Pak Arya rekor dalam dua bulan ini sering menggantikan perjalanan bisnis di luar. Pak Arya tidak apa - apa? Bukannya waktu itu Pak Arya bilang mau melonggarkan waktu supaya bisa check-up rutin kandungan istri Bapak?", lanjut Siska lagi.


Kalau dihitung - hitung, Arya memang sudah rekor dalam dua bulan ini menggantikan anak buahnya melakukan perjalanan bisnis. Mulai dari Gilbert yang tiba - tiba membuat masalah. Lalu, Susan. Arya hanya bisa geleng - geleng kepala sambil memijat dahinya.


“Besok, jadwal meetingnya jam berapa?”, tanya Arya.


“Hm. Sekitar jam 3 sore untuk meeting dengan tim perencanaan nya, Pak. Sementara untuk survei membutuhkan waktu sekitar seminggu. Lumayan lama. Tapi hal ini karena kita harus mengunjungi masing - masing area yang menjadi target mereka. Lokasinya ada di beberapa kota di Sulawesi, Pak. Perjalanan antara satu tempat dengan tempat yang lain juga memakan waktu kurang lebih 3-5 jam perjalanan.”, kata Siska.


“Team Leader yang lain, ada yang punya waktu available? Ah.. meski saya tidak yakin karena banyak juga dari mereka yang kelimpahan project dari Gilber.”, tanya Arya.


Arya juga nampak tidak percaya diri. Sedari tadi dia sudah berkali - kali memijat pelipisnya.


'Apa salahku sampai - sampai di saat - saat penting harus menggantikan banyak meeting.', pikir Arya dalam hati.


Meskipun hubungannya dengan Dinda sudah sangat baik belakangan ini bahkan bisa dibilang jauh lebih baik. Namun, Arya tetap memiliki kekhawatiran jika suatu hari nanti Dinda merasakan seperti apa yang dirasakan oleh Sarah.


Arya tidak menampik bahwa bayang - bayang itu ada dalam pikirannya.


“Maaf Pak, untuk saat ini saya belum punya datanya. Tapi, saya akan coba cek kembali satu persatu dan infokan ke Pak Arya segera.”, jelas Siska.


“Siska ya mas Arya? Kenapa? Apa ada masalah?”, tanya Dinda.


Sebelum menjawab pertanyaan Dinda, Arya mengarahkan pandangannya ke mangkok bakwan malang miliknya yang kini tinggal kuahnya saja. Padahal dia hanya menerima telepon sekitar 5-8 menit saja.


“Sepertinya ada masalah lain. Bakwan Malang saya kemana?”, tanya Arya dengan wajah datar miliknya.


“Ah.. Oh.. Aku udah pesan satu lagi kok. Ternyata enak.”, jawab Dinda tanpa rasa bersalah.


Ekspresi Arya membuat Dinda jadi salah tingkah.


“Bukan aku kok, yang disini yang pengen.”, kata Dinda mengarahkan tangannya ke perutnya.”


“Sekarang kamu menyalahkan calon bayi yang bahkan belum tahu Bakwan Malang itu apa.”, kata Arya akhirnya duduk di tempatnya kembali.


“Anyway.. Benar, sudah kamu pesan?”, tanya Arya.


“Hm.. sudah. Tadi pesan 2.”, kata Dinda.


“Kamu masih mau makan lagi?”, tanya Arya kaget.


“Bukan aku. Tapi ini.”, Dinda kembali mengarahkan tangannya ke perutnya.

__ADS_1


“Ada masalah apa di kantor? Tadi Siska, kan?”, tanya Dinda mencoba mengalihkan perhatian Arya. Sekaligus, dia memang ingin tahu apa yang baru saja mereka bicarakan. Sepertinya terdengar serius.


Saat itu, Bakwan Malang yang Dinda pesan sudah tiba.


“Pak Teddy, Team Leader 10 diserang orang tidak dikenal. Dia ditemukan tidak sadarkan diri di dekat mobilnya.”, kata Arya.


Dinda terkejut mendengarnya. Arya tak ingin Dinda khawatir, sehingga dia tidak menceritakan bagian dimana suara yang mereka dengar di parkiran mungkin saja berkaitan dengan kejadian ini.


“Din, jadwal periksa kehamilan kamu masih minggu depan kan? 10 hari lagi ya?”, tanya Arya.


“Iya. Kenapa mas? Mas Arya harus menggantikan pekerjaan Pak Teddy ini?”, tanya Dinda.


“Hm. Sepertinya begitu. Kalau Team Leader lain tidak ada yang bisa menggantikan. Aku terpaksa harus terbang ke Sulawesi dalam waktu dekat.”, jelas Arya.


“Mas Arya gak usah khawatir. Aku gapapa kok. Aku mengerti. Aku gak akan paksa mas Arya lagi untuk wajib menemani aku. Kan ada mama. Aku juga bisa minta ditemani Bunda.”


“Aku akan mempercepat waktu business trip kali ini. Jadi, tetap bisa untuk menemani kamu periksa kehamilan.”


“Hn.”, Dinda tersenyum sambil menikmati Bakwan Malang yang dia pesan.


“Aku tadi pesan beberapa bungkus lagi buat Ibas, Mba Andin, Bi Rumi dan Pak Cecep. Sama buat keluarganya juga. Untuk mama sama papa, kita beliin fruit cake yang waktu itu yuk mas. Ada di dekat sini kan tokonya?”, kata Dinda menampilkan ekspresi ceria.


“Hn.”, balas Arya tersenyum.


********


“Maaf ya sayang. Harus pergi lagi seminggu. Kamu baik - baik ya. Jangan pergi sendiri. Kalau Pak Cecep lagi gak available, kamu minta tolong Ibas.”, Arya berpamitan pada Dinda di depan pintu keberangkatan.


“Iyaa.. mas Arya juga ya. Jangan sampai kejadian yang di Bangkok waktu itu terjadi lagi. Aku khawatir banget.”, kata Dinda sambil memeluk Arya dan mengusap - usap punggungnya.


“Hn.”, jawab Arya sambil mengecup bibir istrinya singkat.


Flashback satu hari yang lalu. 


“Pak Arya, tidak ada Team Leader yang available untuk menggantikan. Bahkan hampir semua sedang on going project. Saya bisa memundurkan meetingnya dengan klien di Sulawesi tetapi hanya satu hari, Pak. Mereka tidak bisa memundurkan agenda yang sudah dirancang.” 


Kalimat dari Siska kemarin sukses membuat Arya dengan berat hati harus menerimanya. Hal yang terjadi pada Pak Teddy sangat disayangkan. Namun bisnis harus berlanjut.


Dinda, meski di luar dia menerimanya dan terlihat baik - baik saja. Tetapi, saat memeluk Arya, dia sudah merindukannya. Dinda sudah sangat terbiasa dengan kehangatan dan aroma pria itu yang selalu berada di sebelahnya saat tidur. Begitu pula dengan Arya.


Interaksi mereka terbatas. Di rumah hanya bisa sepulang kerja dan saat weekend. Kadang weekend pun, Arya dan Dinda juga punya agenda masing - masing. Social Life.


Belakangan ini, Dinda juga dilema dengan keberlangsungan karirnya. Sebelum menerima posisi yang ditawarkan oleh HRD, dia sangat bersemangat untuk bisa menjadi karyawan tetap. Namun, setelah Dinda menyampaikan dan berkomitmen untuk menerima kesempatan itu, dia jadi merasa ragu dengan keputusannya.


‘Apakah aku terlalu egois untuk terus memperjuangkan karirku.’, kata Dinda dalam hati.


Meski Arya sudah mengatakan bahwa itu adalah pilihannya, namun ada rasanya dimana Dinda berpikir hal ini tidak adil untuk Arya. Dia juga meminta pria itu untuk merahasiakan hubungan mereka sampai masa internnya selesai.


“Take care ya mas. Jangan lupa makan yang teratur, jangan merokok dan plis jangan minum.”, kata Dinda menatap Arya intens.

__ADS_1


‘Aku sudah merindukannya bahkan saat aku belum melepaskannya.’, kata Dinda dalam hati.


Hal yang serupa juga dipikirkan oleh Arya.


__ADS_2