
Kring kring kring
Arya melihat ponselnya. Telepon dari Dinda. Arya melihat keluar jendela sebentar. Dia bingung apakah harus menjawabnya sekarang atau tidak. Dia takut kalau tiba - tiba Sarah bangun dan mengeluarkan suara. Arya takut Dinda salah paham.
“Halo, sayang.”, jawab Arya singkat.
“Hn.. sedang di luar sebentar. Tadi ada teman yang datang. Karena sedang ada acara, jadi kita mengobrol di cafe dekat sini.”, jawab Arya.
“Hn. Sebentar lagi. Kamu tidur duluan aja. Teman - teman mama pasti lama. Jangan dipaksakan. Tidur duluan saja, nanti sebentar lagi aku pulang.”
“Hn. Iya.. Waalaikumsalam.”, jawab Arya menutup ponselnya.
Sebuah taksi mendekat ke arah mereka, tepat di depan plang nama dari Cafe tersebut. Arya sudah menduga - duga mungkin itu adalah Dimas. Dan benar, pria itu keluar dari sana dan mengedarkan pandangannya. Dari jauh dia terlihat sudah bisa mengenal mobil yang ada di depannya.
Arya segera keluar dari mobil dan menunggu Dimas menghampirinya. Arya tak ingin berbicara dan berniat langsung pergi dari sana tanpa mengatakan apapun.
“Sarah, dia depresi. Aku mendapatkan diagnosisnya dari dokter beberapa hari yang lalu. Kemungkinan besar dia menderita depresi pasca keguguran tiga tahun lalu. Dia tidak pernah menerima pengobatan apapun dan mungkin dia juga tidak sadar kalau dia menderita itu. Semakin lama kondisinya semakin memburuk dan mungkin karena itu dia terus merasa terikat denganmu.”, terang Dimas pada Arya yang sudah hendak pergi membelakanginya.
“Untuk apa kamu mengatakannya padaku?”, balas Arya.
Dia belum menghadapkan wajahnya ke arah Dimas. Dia hanya menoleh sedikit ke arah jalanan.
“Aku berharap kamu tidak terlalu menyalahkannya.”, ujar Dimas.
“Dan membiarkannya terus mengganggu kehidupanku lagi?”, kata Arya.
“Arya..sulit baginya menerima kalau kamu sudah sepenuhnya tidak terikat padanya lagi. Aku tahu dia mengecewakanmu berkali - kali, tetapi perasaannya padamu tulus.”, ujar Dimas.
“Haruskah kita membahas ini? Lagi? Barusan kamu mengatakan kalau dia depresi pasca keguguran, kan? Dia hamil anak siapa? Aku? No.. dia hamil anakmu. Oh **.. should we discuss this? That was your life and her. She chose you. Dan sekarang kamu mau aku mengerti? Dia mencoba menghancurkan pernikahanku. Dia beberapa kali menemui Dinda and talk about all the bullshit. Aku harus mengerti?”, kata Arya mengeluarkan nada tingginya. Dia beberapa kali menahan dirinya untuk tidak melampiaskan amarahnya dengan memukul kaca mobil.
Arya beberapa kali menarik nafas karena kedua orang ini tak sekalipun membiarkan dirinya bernafas.
Dimas hanya bisa terdiam.
__ADS_1
“Jangan pikir, aku membawanya kemari tanpa Dinda karena aku masih punya perasaan padanya. No, totally wrong. Aku hanya tidak ingin papa masuk rumah sakit hanya karena Sarah. You bring her home. Solve your problem. And get the hell out of my life.”, ujar Arya menatap Dimas tajam sebelum pergi meninggalkan mereka.
Arya melangkah maju ke arah ojek pengkolan yang terletak di seberang Cafe. Pria itu tak lagi melihat ke belakang. Dia memanggil salah satu ojek dan menaikinya.
“Sh*t.”, ujar Dimas memukul pintu mobil dengan kepalan tangannya.
*********
“Arga, kamu mau di atas atau di bawah?”, tanya Ibas pada Arga yang sedang memperhatikan Dito memainkan game console milik Ibas.
“Dimana aja, mas. Aku bisa tidur bahkan di lantai sekalipun. Jadi santai saja.”, balas Arga yang masih sungkan dengan keduanya.
Padahal, Ibas dan Dito sudah sangat akrab dengannya. Namun, Arga merasa seperti ada gap di antara mereka. Ibas dan Dito, keduanya sama - sama lahir di lingkungan berada. Suasana kamar Arga jauh berbeda dengan kamar Ibas.
Di setiap sudut kamar Ibas, ada Gundam yang sejak dulu diinginkan oleh Arga. bahkan ada satu rak kecil berisi live figure karakter game hingga anime yang jelas - jelas juga menjadi favorit mayoritas anak laki - laki remaja.
Arga memperhatikan itu semua. Dia tahu, dia tidak boleh berpikir begitu. Dia sudah mendapatkan kehidupan yang jauh dari layak meskipun dia tidak memiliki sosok ayah. Tapi, meski Arga paham hal itu, tetap ada sedikit sisi dimana dia memimpikan privilege yang dimiliki oleh Ibas.
Ibas juga punya sosok kakak laki - laki seperti Arya yang bisa diandalkan. Sedangkan Arga, diusia sangat muda dia harus menjadi sosok laki - laki yang harus diandalkan dirumahnya.
“Arga? Arga?”, panggil Ibas yang melihat Arga termenung.
“Oh? Iya mas… maaf maaf.”, ungkapnya.
“Kamu sedang memikirkan apa? Serius sekali. Dito, gantian dong. Atau mainnya battle. Arga baru dapat giliran sekali, loh.”, ujar Ibas sambil merapikan tempat tidurnya.
Meski dia terkenal sangat manja dengan bantuan Bi Rumi, tetapi saat ada sepupu yang menginap di rumahnya, dia pasti jadi yang paling terdepan menjamu mereka di kamarnya.
Sekarang Ibas sedang mengambil tambahan guling di lemari untuk digunakan oleh Dito dan Arga.
“Gapapa mas. Saya gak terlalu ahli kalau game console. Mau lihat mas Dito main dulu biar mengerti.”, ujar Arga berbasa - basi menolak. Padahal dalam hati, dia ingin sekali untuk memainkannya.
“Jangan gitu. Kamu juga harus main. Atau nanti sering - sering main kesini, ya. Jangan cuma karena diajak aja. Kapanpun, kalau kamu lagi pengen main bareng, kita main bareng, ya.”, ujar Ibas mengajaknya.
__ADS_1
Tatapannya sangat ramah. Dia bahkan menepuk punggung Arga dan duduk disampingnya setelah persiapan tempat tidur untuk mereka bertiga malam ini selesai. Kamar Ibas lumayan besar, meski tak selebar punya Arya yang memang direnovasi.
Arga tersenyum sambil mengangguk.
“Arga, mba Dinda itu beneran gak pernah pacaran?”, tanya Dito tiba - tiba random.
“Woy, random amat kamu tanya-nya. Kan waktu itu sudah dibahas.”, kata Ibas melemparkan bantal sofa ke arah Dito.
“Ya.. mumpung ada Arga, kan iseng aja tanya.”, kata Dito mencari - cari alasan.
“Iya mas. Mba Dinda belum pernah pacaran.”, jawab Arga.
“Yang deketin? Masa iya gak ada. Mas Arya aja bertekuk lutut sama mba Dinda.”, tanya Dito lagi.
“Hahaha… memang begitu ya? Dulu waktu mba Dinda kuliah, memang ada beberapa senior atau teman sepantaran yang mendekati sampai datang ke rumah. Tapi… ya begitu. Mba Dinda hanya merespon formalitas saja. Tidak lanjut ke hubungan apa - apa.”, jawab Arga.
“Kenapa? Gak ganteng ya?”, tanya Dito.
“Hahahaha… bukan. Tapi mba Dinda ….”, Arga terdiam.. Dia bingung menjawabnya.
“Sudah - sudah.. Gak usah dijawab. Si Dito nih. Kalau penasaran, tanya aja langsung.”, ujar Ibas.
“Sama siapa? Mba Dinda?”, tanya Dito memastikan.
“Oh.. engga dong. Pawangnya. Mas aku, yang mulia raja.”, ujar Ibas dengan sedikit memasukkan ungkapan hiperbola.
“Ah engga ah… walaupun akrab sama mas Arya, kadang ngeri juga.”, kata Dito.
“Hahahahahha… kamu aja yang ketemu sesekali bilang begitu. Gimana aku yang ketemu hampir tiap hari. Ah… apalagi kalau ingat kejadian kemaren. Hah…. benar - benar ya mas Arya.. aura kaya gitu dapat dari mana. Perasaan papa tidak segalak itu.”, kata Ibas menggeleng - geleng kepala mengingat kejadian kemarin. Bahkan bulu kuduknya sampai berdiri.
“Mas Arya ngapain? Tidak - tidak, kamu ngapain?”, tanya Dito meralat pertanyaannya.
“Ah.. udah… gak mau diingat - ingat lagi.”, ujar Ibas.
__ADS_1