
“Reza, makan dulu. Jangan langsung pulang.”, Inggit berteriak dari dapur tatkala Reza datang.
Arya menghubunginya tadi sore di sela - sela meeting untuk menjemput Bianca dan mengantarnya pulang. Jarak rumah Bianca dari rumahnya jauh karena rumah Bianca berada di daerah sekitar apartemen Arya.
Bianca kaget saat Dinda mengatakan kalau Reza akan datang menjemputnya.
“Kamu masih bertanya mas Arya sayang atau engga ke kamu. Dia sampai telpon mas Reza loh buat jemput aku, Din. Takut banget kayanya kalo aku nginep disini.”, ujar Bianca berbisik ke Dinda di lantai atas.
“Haha… nggak kok, Bi.”, Dinda menjawab dengan nada tidak yakin karena dia sudah mendengar ultimatum Arya tadi agar jangan lama - lama.
Kekesalan Arya bertambah karena sekarang mamanya malah meminta Reza duduk dan makan di rumah.
‘Kenapa pake diajak makan segala. Tahu begitu aku suruh pak Asep mengantarkan Bianca. Jadi makin lama, kan.”, gerutu Arya dalam hati.
Pria ini sengaja meminta Reza untuk menjemput calon istrinya agar wanita itu tidak menginap di rumah dan membuatnya tidur sendirian. Sekarang, Inggit malah mempersilahkan Reza untuk makan malam bersama dimana papanya pasti akan mengobrol panjang sampai dia tidak pulang - pulang.
Arya tahu benar karena hal seperti ini sudah sering terjadi. Reza adalah teman ngobrol terbaik Kuswan. Tidak seperti Arya yang dengan santainya menghentikan pembicaraan jika menurutnya tidak penting, Reza menjadi idaman para pria paruh baya seperti Kuswan. Reza sangat sopan dan terus meladeni mereka berbicara hingga berjam - jam.
Dinda segera turun ke bawah untuk membantu Inggit menyiapkan makan malam, meski sebenarnya Bi Rumi sudah mengerjakannya semua.
“Maafin tante ya, Reza tidak datang ke lamaran kalian. Tante bahkan baru tahu, loh kalau calon istrinya ternyata temannya Dinda. Pertanda jodoh itu, ya.”, ujar Inggit sambil tersenyum girang mempersilahkan Reza duduk. Begitu dia melihat Bianca dan Dinda turun, Inggit juga melayangkan senyum ramahnya pada calon istri Reza.
“Din, tolong panggil Ibas sama Andin di atas, ya. Arya mana, sudah selesai mandi?”, tanya Inggit setengah berteriak karena Dinda berada di tangga.
“Tadi sudah ma, tapi sedang terima telpon di kamar, ma. Dinda panggilan mba Andin sama Ibas dulu, nanti baru cek mas Arya.”, Dinda yang sudah berada di anak tangga pertengahan naik kembali untuk melaksanakan perintah Inggit. Dia berjalan menyusuri ruang atas yang di dominasi oleh lantai keramik dan cat dinding putih.
Tidak banyak perabotan di atas sehingga kesannya sangat luas. Dinda berbelok ke kanan. Lurus dari arah kamar Dinda dan Arya, ada sebuah lorong yang ujungnya akan menuju ke pintu kamar Ibas.
Tok tok tok
Dinda mengetuk pintu terlebih dahulu.
“Iya..”, jawaban dari Ibas menandakan laki - laki itu mempersilahkan Dinda untuk membuka pintu.
Dinda membuka pintunya namun tidak masuk. Dia bisa melihat kamar Ibas yang super berantakan. Dia masih setia di depan meja dengan PC yang lengkap mulai dari dua buah monitor, satu buah CPU, satu buah laptop dan speaker di bagian atas.
“Mama suruh ke bawah. Makan malamnya sudah siap.”
“Engga ah.. Bilang mama nanti aku makan sendiri.”, kata Ibas yang masih mengalungkan headsetnya di leher.
“Kata mama harus. Soalnya di bawah lagi ada mas Reza.”
“Tumben, ngapain mas Reza kesini?”, tanya Ibas.
“Calon istrinya itu teman aku. Dia lagi main kesini. Trus mas Arya telepon mas Reza buat antar dia pulang.”
“Ahh Bianca yang kamu bilang waktu itu?”, tanya Ibas memastikan.
Saat hanya ada mereka berdua, Dinda dan Ibas memutuskan untuk menggunakan bahasa yang lebih casual dan saling memanggil nama. Tapi, jika ada orang selain mereka, kecuali mas Arya, Ibas akan memanggil Dinda dengan sebutan ‘mba’.
“Sana ke bawah. Ya ampun, kamar kamu berantakan banget. Kamu pasti belum mandi.”
“Haha tahu aja. Iya - iya, lima menit lagi aku ke bawah. Kalo enggak pasti mama drama.”
Dinda hanya tersenyum lalu menutup pintunya kembali. Ibas mirip sekali dengan mas Arya untuk urusannya dengan mamanya.
Dari kamar Ibas, Dinda kembali lagi keluar lorong dan berbelok ke arah kanan. Disana ada lorong lain yang menuju kamar Mbak Andin. Ada dua kamar disana. Kamar mbak Andin dan satu lagi kamar untuk anak - anaknya.
Sebelumnya, itu hanya satu ruangan, tetapi karena anak mbak Andin sedang latihan tidur sendiri, maka Inggit meminta tukang untuk memberikan dinding. Meski begitu, masih ada pintu penghubung antara dua kamar yang bisa dengan mudah dilalui oleh krucil jika mereka takut tidur sendirian.
Tok tok tok
Dinda mengetuk pintu dengan hati - hati.
“Mba Andin…”, panggil Dinda pelan. Dia takut suaranya terdengar oleh anak mbak Andin, Rafa dan Samawa.
“Iya din?”, tidak seperti Ibas, Andin membuka pintu dan menyambut panggilan Dinda.
“Mama suruh ke bawah, mba. Makan malam. Kebetulan di bawah lagi ada mas Reza.”, ujar Dinda.
“Reza? Ada angin apa dia kesini? Ada tante Indah juga?”, tanya Andin lagi.
__ADS_1
“Cuma mas Reza. Jadi hari ini Bianca main kesini terus mas Arya telepon mas Reza untuk antar Bianca pulang soalnya mobilnya tadi mogok dan masih di bengkel.”, Dinda harus menjelaskan hal yang sama kembali.
Beruntung tidak ada lagi orang yang harus dia panggil sehingga dia tidak perlu menjelaskan sekali lagi.
“Hm.. oke. Nanti mba ke bawah. Oiya Din, kapaan kita jalan?”, tanya Andin tiba - tiba.
“Oiya, mba. Jadi lupa. Minggu ini, gimana? Aku minggu ini kosong, kok. Mas Arya kayanya mau ke Thailand.”
“Meeting lagi dia?”, Tanya Andin.
“Hehe iya.”
“Duh… kasihan banget, adik kayak satu ini, ditinggal mulu sama suaminya. Ntar mba bilangin Arya ya. Kalo istrinya ditinggal terus ntar disambar orang lain.”, ujar Andin.
“Haha…”, Dinda hanya bisa membalas dengan tawa renyahnya.
“Okee… minggu ini ya. Nanti mbaa titip Rafa sama Sam ke Mama.”
“Dibawa gapap juga kok, mba.”
“Jangan, percaya deh. Mereka lebih rewel dari yang kamu kira. Ini aja barusan tidur setelah berantem dua jam. Ya udah, mba ganti baju dulu ya. Abis itu langsung turun. Ibas ada?”
“Ada mba, tadi juga aku udah panggil.”
“Arya?”, tanya Andin lagi.
“Oh mas Arya lagi terima telpon kayanya.”
“Hm… anak itu ya. Sibuk terus. Ya udah.”
“Okee mba Andin.”, ujar DInda sebelum meninggalkan kamar kakak iparnya itu.
Menurut Dinda, mba Andin adalah orang yang sangat ramah. Tadinya Dinda kira mbak Andin itu jutek dan menyeramkan. Mengingat Arya saja dingin seperti es batu. Jadi, tidak heran jika Andin mungkin juga seperti itu.
Tapi, sebenarnya Andin sangat supel. Mungkin orang yang baru bertemu dengannya pertama kali akan menilai dia cuek, tapi justru dia sangat asyik. Sayangnya, karena masih mengurus perceraian dan apartemen, Dinda jarang sekali bertemu dengan Andin.
“Dari mana kamu?”, tanya Arya yang muncul bersamaan dengan Dinda yang baru saja dari kamar Andin.
“Mas Arya kenapa manggil mas Reza segala? Kan kalo kemalaman, Bianca bisa menginap disini dulu.”
“Nah ini. Dia menginap disini, terus kamu berdua ngerumpi sampai pagi dan aku ditinggal tidur sendirian?”
“Jadi beneran itu alasan mas Arya telepon mas Reza?”, tanya Dinda dengan nada tidak percaya.
“Mas Arya tu udah bucin, Din. Hilang belaian dikit langsung parno.”, entah menggunakan jurus apa, Ibas tiba - tiba muncul di belakang mereka tanpa terdeteksi.
“Udah selesai bertapanya? Kenapa gak sekalian nginep di gua aja, kamu?”, ujar Arya sarkas pada adik laki - lakinya.
“Din, minggu depan nonton lagi, yuk.”, bukannya menjawab pertanyaan Arya, Ibas malah melontarkan mengajak Dinda jalan.
“Eh eh.. Jangan bawa - bawa istri orang, Udah sana, nonton aja sendiri. Terakhir kamu ajak Dinda nonton, mas harus standby di depan toilet umum wanita nungguin dia, tahu gak?”, tegas Arya pada Ibas.
“Ha? Katanya kamu gak takut, Din?”, Tanya Ibas.
“Udah - udah. Itu terakhir kali mas bolehin kamu jalan sama Dinda. Sudah sana, buruan cari pacar.”, protes Arya.
“Minggu depan aku mau jalan sama mbak Andin.”
“Loh loh kok kamu gak bilang - bilang Din?”, tanya Arya protes.
“Baru tadi janjinya. Lagian mas Arya mau ke Thailand kan?”
“Ya.. masa gak izin dulu.”
“Ini, mau ijin. Boleh ya mas.”
“Bayar.”, tagih Arya.
“Bayar? Pake apa? Masa izin bayar. Lagian aku intern mas, gajinya kecil.”, kali ini, Dinda yang melayangkan protes.
“Selama ini memang kamu bayar sogokan cuma pake duit.”, jawab Arya santai.
__ADS_1
Seolah mengerti apa yang dimaksud Arya, Dinda langsung menyumpal mulut pria itu dengan tangannya karena takut Ibas tahu. Sayangnya terlambat, koneksi antena Ibas lebih tinggi dari kebanyakan orang sehingga dia tahu apa yang dimaksud Arya.
“Yaelah. Asal pintunya dikunci aja, ya. Gak kaya tempo hari. Kalian tu meracuni pikiran yang suci ini, tahu gak?”, Ibas segera meninggalkan pasangan tersebut sebelum dia semakin tercemar.
“Tuh kan mas Arya, jadi malu sama Ibas.”
“Ngapain malu. Memangnya kita melakukan hal yang ilegal. Dia aja yang main masuk kamar orang.”
Perdebatan mereka akhirnya berakhir saat Inggit berteriak dari bawah. Arya dan Dinda ikut turun beberapa langkah di belakang Ibas yang sudah lebih dulu. Andin juga mengikuti dari belakang. Dia tidak membawa kedua anaknya karena mereka baru saja tertidur setelah perdebatan panjang.
“Hai Bas, Apa kabar? Sudah selesai kuliahnya?”, tanya Reza begitu melihat Ibas.
“Sudah mas, tinggal wisudanya aja sebentar lagi.”, jawab Ibas sambil mengambil duduk di samping Dinda. Dari tadi dia bingung memilih tempat duduk. Saat melihat Dinda mengambil tempat, Ibas duduk disampingnya tanpa menghiraukan Arya.
Arya akhirnya menepuk bahu Ibas memintanya minggir. Ibas langsung melayangkan tatapan jengkelnya.
“Maunya nempel terus. Padahal di kamar juga tar bareng. Posesif, banget. Din, hati - hati. Mas Arya kalo sudah posesif bisa banting barang, loh. Jangankan barang, orang aja dibanting.”, pungkas Ibas sekenanya. Akhirnya dia memilih tempat duduk di samping Andin.
Ibas sangat menghindari duduk di samping papa atau mamanya. Dia lelah menjadi bulan - bulanan nasehat panjang yang membuat kupingnya panas.
“Wah.. mas Arya se-posesif itu sekarang? Gak heran sih, waktu lamaran kemarin saja, hilang entah kemana bersama Dinda.”, ujar Reza ikut berkomentar.
“Eh.. yang benar, Za? Kamu bawa Dinda kemana, Arya?”, tanya Inggit sambil senyum - senyum.
Arya tidak menjawab. Dia memilih untuk memberitahukan lauk yang dia inginkan pada Dinda karena istrinya itu sedang mengambilkannya makan.
“Jadi, kapan nikahnya, Reza. Tante lupa.”, kata Inggit sambil mengambil beberapa tisu dan menaruhnya di meja tengah.
“Dua minggu lagi tante. Minggu depan mungkin sudah mulai ambil cuti.”, Jawab Reza.
“Kamu kerjanya dimana sih?”, Inggit terus melontarkan pertanyaan pada Reza.
Bianca hanya diam mendengarkan karena ini pertama kalinya dia berinteraksi dengan keluarga Arya yang notabene tidak pernah dia kenal sebelumnya kalau tidak karena Dinda.
“Bianca satu kampus ya sama Dinda. Jodoh itu memang gak kemana, ya.”, ujar Inggit lagi.
Dia yang paling sibuk bolak - balik dan mengobrol sedari tadi. Sementara Kuswan hanya menimpali sedikit - sedikit.
Ibas hanya menjadi observer, sedangkan Andin sudah bersyukur tidak menjadi bahan obrolan karena alur hidup yang rumit baginya sudah sangat melelahkan.
Dinda dan Arya seolah sedang berada di zona yang berbeda. Mereka asyik sendiri. Sesekali Dinda menjelaskan omongan - omongan Inggit pada Bianca agar temannya itu nyambung. Karena belum sering bertemu, Bianca tentu saja belum familiar dengan keluarga besar mereka.
Tapi, setiap kali Dinda menoleh ke arah Bianca, tak lama Arya pasti ada saja hal yang membuatnya menarik fokus Dinda.
“Minggu ini kamu jadi jalan dengan mbak Andin?”, ini sudah pertanyaan ke sekian dari Arya.
“Iya, belum tahu jamnya. Baru juga tadi janjiannya, mas.”
“Mas Arya berangkat ke Thailandnya penerbangan jam berapa? Pergi sendiri bareng pak Asep, kan?”, Tanya Dinda.
“Loh, kok gitu. Kamu tidak mau mengantar?”, ujar Arya di sela - sela suapannya.
“Biasanya juga gak pernah diantar.”, jawab Dinda polos.
“Jadi kamu lebih milih jalan dengan Andien?”
“Ih.. kok jadi begitu sih kesimpulannya?.”
Meski samar - samar, Andien mengetahui apa yang sedang dibicarakan oleh adik laki - lakinya itu. Andien mencolek Ibas dan menunjuk ke arah Arya lalu menggeleng - gelengkan kepalanya.
“Sejak kapan dia begitu?”, Tanya Andien.
“Sejak dia dapat yang dia inginkan. Mas Arya bahkan melarangku membawa Mba Dinda jalan. Dia ingin menguasai istrinya sendiri.”, jelas Ibas.
“Emang mas kamu biasanya begitu, ya?”, tanya Andien lagi pada adiknya paling bungsu, Ibas.
“Menurut mba aja. Aneh sih dia belakangan.”
Masing - masing sibuk pada pembicaraan mereka. Malam itu jadi makan malam paling ramai setelah sekian lama di rumah Inggit. Kuswan juga terlihat senang berbicara dengan Reza.
Arya, pria itu mendengus kesal menyesali keputusannya memanggil Reza untuk menjemput Bianca. Bukannya makin cepat pulang, Reza dan Bianca malah makin lama stay di rumah.
__ADS_1
Arya tidak masalah jika mereka stay. Tapi yang membuatnya kesal adalah, Inggit yang menyuruhnya ikut mengobrol di ruang tamu. Sepanjang obrolan, Arya hanya diam dan menatap istrinya yang masih terus berbincang hangat dengan yang lain dan tidak menghiraukan dirinya.