Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 153 Orang - Orang Baru


__ADS_3

Arya sedang berdiri bersandar di sebuah lemari kayu yang ada di ruangan meeting hari itu. Dia bersama 4 orang timnya baru saja selesai meeting dengan klien sekitar 20 menit yang lalu. Segera setelah klien mereka keluar meninggalkan ruangan yang bertempat di lokasi yang sama dengan hotel, Arya langsung berdiri dan memijat leher dan dahinya.


Ia yang awalnya berdiri membelakangi kini berbalik bersandar sambil tangannya ia pangku di dada. Ia menghela nafas sebentar dan memijat jidatnya lagi. Keempat karyawan yang ia bawa sudah membeku tanpa suara. Kecepatan detak jantung mereka saat ini mungkin sudah melewati batas normal karena mereka sudah bisa memahami gerak - gerik Arya.


Mereka hanya bisa menunggu lemari es berwujud pria tampan di depan mereka meledak dengan segala omelannya.


“Bisa - bisanya kalian datang ke ruang meeting ini tanpa menyelesaikan dan finalisasi dokumen yang kalian bawa? Haruskah saya ad-lib di setiap meeting? Come on, ini bukan meeting pertama kalinya dan Pak Teddy, saya kecewa loh kalau endingnya seperti ini untuk meeting sepenting ini.”, ujar Arya dengan nada yang super dingin.


“Mohon maaf Pak Arya, seharusnya saya memeriksa dokumen itu sekali lagi dan tidak membiarkan adanya kesalahan.”, jawab Pak Teddy, sementara tiga karyawan yang lain hanya diam. Mereka masih harus menunggu kemarahan Pak Teddy pada mereka setelah Pak Arya keluar. Yah, burung yang bertengger di paling bawah selalu akan terkena double kill dari para atasan di atas mereka.”


“Saya gak pernah ekspektasi kesalahan seperti ini terlewatkan dan sampai ke klien. Alasan saya menerima meeting yang mendadak ini adalah karena saya percaya dokumennya sudah final. Untung klien tidak komplain besar.”, ucap Arya lagi.


Pak Teddy, Manager tim 10 hanya bisa diam. Dia tahu, permintaan maaf sekali sudah cukup untuk mengakui kesalahannya pada Arya. Selanjutnya, dia hanya perlu mendengarkan kemarahan bosnya.


“Saya sudah melewatkan hal paling penting untuk meeting ini and you guys give me ‘shit’”, kali ini Arya mengeluarkan kata - kata yang lebih tajam.


Ia kemudian keluar dan membanting pintu. Sesaat setelah dia keluar dan membanting pintu, terdengar nafas lega dari keempat karyawannya.


“Hah… sudah beberapa kali dimarahi Pak Arya. Sekarang kata - kata seperti itu sudah mental.”, ujar Niko, salah satu bawahan Pak Teddy.


“Sudahlah Jim, tidak usah dipikirkan. Kita dulu awalnya juga begitu kok. Pak Arya kalau marah memang gitu. Sadis, sakit, dan nyelekit.”, ujar Niko pada salah satu karyawan yang memang baru 3 bulan masuk.


“Haha.. iya. Ingat, Pak Arya kalau marah memang sadis, tapi dia objektif. Saya akui kali ini adalah kesalahan kita. Niko, kamu benerin ya dokumennya sebelum di kirimkan via email ke klien. Awas kalo salah lagi.”, ujar Teddy.


“Iya siapp baik pak.”, jawab Niko lantang.


‘Tumber Pak Teddy  gak ikutan ngamuk. Biasanya beliau kalau dimarahi pak Arya pasti langsung sensi.’, ujar Niko dalam hati.


Disisi lain, begitu meninggalkan ruang meeting, Arya menaiki lift untuk turun ke lobi bawah. Dia berjalan ke arah kolam berenang dimana di sampingnya terdapat smoking area. Arya baru saja mengambil satu kotak rokok di kantongnya yang ia beli tadi pagi di mini market.


Ia membuka bungkusnya dan mengambil satu batang, lalu menaruhnya di ujung bibir. Tak berselang lama, ia sudah siap untuk memantikkan api melalui lighter yang ada di tangan kanannya. Sedikit lagi batang rokoknya sudah akan terbakar, ponselnya berbunyi.


Arya menghela nafas sebentar dan kembali mengambil batang rokok di mulutnya. Sementara tangan yang lain mengambil ponsel di kantong dan melihat siapa yang menelepon.


“Ya halo Rick?”, sapa Arya setelah membaca siapa yang menghubunginya.


“Sedang dimana? Tumben tidak nge-gym hari ini?”, tanya Erick di seberang ponselnya.


“Ternyata adanya kepala divisi baru di tempatmu membuat perubahan yang signifikan, ya.”, kata Arya.


“Heh? Apa hubungannya pertanyaanku dengan itu?”, tanya Erick heran.


“Ya, sampai - sampai kamu tidak tahu jika aku sedang meeting di luar kota.”


“Aah… ternyata sedang meeting di luar kota. Pantas saja. Ya… sepertinya kita sudah jarang makan siang bersama karena Pak Arya selalu meeting di luar atau sedang sibuk.”

__ADS_1


“Hem.. jangankan denganmu. Aku saja jarang makan bersama istriku sendiri.”, jarang - jarang Arya membicarakan tentang Dinda apalagi menyebutnya dengan panggilan ‘istriku’ di depan orang lain.


“Dinda? Wah.. Pak Arya, hati - hati loh. Biasanya kalau istri dianggurin, nanti ada mendekati.”, canda Erick.


“Enak saja. Jangan membuat pikiranku semakin kacau. Bulan depan aku benar - benar harus mengatur jadwal kerjaku dengan baik. Kamu menelepon hanya untuk membicarakan itu?”, tanya Arya.


“Ah.. ada satu lagi. Tadi Jessica menghampiriku dan menanyakan tentangmu.”, kata Erick.


“Lalu kamu jawab apa?”, tanya Arya.


“Tentu saja aku menjawab tidak tahu. Kamu tidak ada hubungan apa - apa dengan Jessica, kan? Dia mencari dan menanyakanmu seolah kalian ada ‘something’.”, tanya Erick.


“Jangan bercanda.”


“Kalau dulu kamu punya 1000 wanita simpananpun, aku tidak masalah. Tetapi kalau sekarang, aku akan menjadi pendukung Dinda.”


“Karena Dinda bawahanmu?”


“Tidak. Karena dia terlalu baik untukmu. Hahahahaha.”, tawa Erick langsung pecah.


“Siapa Dinda?”, tanya seorang wanita di samping Erick.


“Arya, sebentar ya. Aku tidak tahu jika ada si Jess disampingku.”, kata Erick sambil berbisik agar Arya memutuskan teleponnya.


Jessica, wanita 28 tahun yang sebelumnya pernah menjadi MA di Business and Partners sebelum kepala Divisinya adalah Arya. Dulu, saat Jessica masih satu kantor dengan Erick dan Arya, Arya masih seorang Manager Tim.


Beberapa orang pernah menggosipkan Arya berpacaran dengan Jessica dan bahkan mempercayainya. Hal ini karena Arya sangat sibuk dengan pekerjaannya dan tidak begitu ambil pusing dengan gossip yang beredar. Dia juga tidak mengklarifikasi apapun. Sebaliknya, Jessica membuat situasi semakin ambigu dengan membuat seolah - olah mereka memang ada sesuatu.


“Kamu ini, seperti hantu saja tiba - tiba muncul.”, ucap Erick pada Jessica.


“Sedang bicara dengan siapa? Dinda siapa? Pacar baru kamu? Tadi itu Arya, kan? Dia sedang dimana?”, tanya Jessica penasaran.


“Sudahlah bukan urusan kamu. Aku tidak sedang berbicara dengan Arya. Lagipula, memangnya kamu tidak tahu kalau Arya sudah pindah tempat Gym?”, kata Erick.


Dia bisa melihat wajah Jessica yang kaget?


“Pindah tempat gym? Sejak kapan? Dimana? Kenapa tidak mengatakannya?”, Jessica mencecar Erick dengan banyak pertanyaan.


“Untuk apa aku harus memberitahumu. Lagipula, Arya sudah menikah, jadi jangan mendekatinya lagi.”, kata Erick.


“Sudah menikah dan sudah bercerai, kan? Lalu apa masalahnya?”, kata Jessica ngotot.


“Masalah. Karena Arya sudah menikah lagi setelah bercerai. Jadi, dia sudah TAKEN sekarang. Sudahlah jangan mendekati dan mengganggunya terus. Lebih baik kata - kata seperti ini keluar dari mulutku, bukan dari mulut Arya.”, kata Erick memberikan peringatan.


“Heh.. aku tidak percaya. Aku sudah sangat senang saat dia akhirnya bercerai dari wanita bernama Sarah itu.”

__ADS_1


“Terserah kamu mau percaya atau tidak. Sudahlah, aku mau pulang.”, kata Erick meninggalkan Jessica di depan mesin TreadMill sendirian.


‘Ah.. kenapa anak MA yang rotasi di Business and Partners selalu saja kecantol sama Arya. Kasian sekali Kepala Divisi satu itu.’, ujar Erick sambil berjalann ke arah kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Dia lupa kalau sudah meninggalkan ponselnya di atas mesin TreadMill.


“Oh.. pria itu lupa mengambil ponselnya.”, kata Jessica.


Dia langsung naik ke atas mesin TreadMill dan mengambil ponsel Erick. Beruntung, layar ponsel belum terkunci karena ada beberapa proses aplikasi yang masih berjalan. Erick tidak menyadari kalau ponselnya tertinggal.


“Hm… Dinda.. Apa gadis itu pacar Erick yang baru? Aku simpan saja nomornya, mungkin saja aku bisa mengerjai Erick suatu hari nanti.”, kata Jessica tersenyum licik.


“Hm? Intern? Jadi, Dinda ini anak Intern? Hahaha… Erick, apa dia mengencani seorang Intern. Dasar.”, Jessica segera menyimpan nomor ponsel Dinda ke ponselnya dan memberikan nama yang sama.


“Oh iya, apa aku telpon Arya dari nomor ini ya? Ah.. tidak - tidak, dia pasti akan sangat marah. Aku tahu, dia bukan tipe yang santai seperti Erick. Kalau dia marah, bisa gagal dong aku mendekatinya. Padahal sudah susah - susah menunggu dia bercerai dari istrinya. Apa kabar ya si Sarah itu?”, kata Jessica.


*******


Setelah Erick menutup ponselnya, Arya melihat foto pada layar ponselnya. Foto cincin pernikahannya. Dia baru saja mengganti profpic ponsel kantornya dengan foto cincin pernikahan mereka.


Teringat akan Dinda, Arya membuang puntung rokok yang dipegangnya ke dalam tong sampah. Dia mengurungkan niatnya untuk merokok. Sejak Dinda hamil, dia semakin termotivasi untuk bisa berhenti merokok. Meski beberapa kali masih sulit ia kendalikan, tapi dia tetap berusaha.


Arya berjalan menjauhi kolam renang, namun dia baru sadar jika satu bungkus rokok masih ada di kantongnya. Arya mengambil bungkus tersebut dan membuangnya juga ke dalam tong sampah.


Tak lama berselang, ponsel kantornya kembali berbunyi. Kali ini dari nomor yang tidak dia kenal.


“Halo..”, sapa Arya pada orang di seberang sana yang dia tidak tahu siapa. Mungkin klien, menurutnya, karena itulah Arya mau mengangkatnya.


“Halo, Pak Arya? Wah ternyata nomor Pak Arya masih yang ini?”, kata Jessica dari seberang sana.


Dia memutuskan untuk menggunakan nomor baru menghubungi Arya agar seolah - olah dia sudah berganti nomor. Padahal, dia sengaja membeli yang baru agar pria itu mau mengangkat teleponnya. Jika Jessica menggunakan nomor yang lama, Arya mungkin tidak akan mengangkatnya. Dia sudah mencobanya beberapa waktu lalu.


“Oh.. ada apa?”, jawab Arya dingin.


“Apa kabar?”, kata Jessica berbasa - basi.


“Tidak usah basa - basi. Apa maumu?”, kata Arya to the point namun terdengar kasar.


“Heh… saya tidak tahu kalau Pak Arya sedang buru - buru. Apa saya telepon nanti lagi saja?”, tanyanya.


“Kalau tidak ada yang penting, saya tutup teleponnya.”, kata Arya yang memang sudah akan menutup teleponnya.


“Ah tunggu - tunggu. Dinda.. Dinda.. Pacar Erick yang baru? Saya dengar Erick menyebutnya.”, Jessica tidak ingin Arya segera menutup ponselnya. Satu - satunya yang dia ingat saat itu dari pembicaraan mereka adalah Dinda. Karena itu dia menyebut nama gadis yang tadi dia dengar dari mulut Erick.


“Ada urusan apa kamu dengan istri saya?”, kata Arya lagi - lagi to the point. Jessica sudah tidak bekerja lagi di kantornya, dia sudah tidak pernah bertemu dan melihatnya. Jadi, Arya pikir tak masalah dia bersikap terbuka perihal Dinda adalah istrinya.

__ADS_1


“Hah? Istri Pak Arya? Dinda?”, tanya Jessica heran. Sampai beberapa detik yang lalu, dia masih mengira kalau Dinda yang disebut - sebut oleh Erick adalah pacarnya. Ternyata bukan.


“Iya.. Dinda adalah istri saya. Bukan pacar Erick. Saya rasa kamu tidak ada urusan penting dengan saya. Kalau begitu, bye.”, Arya sudah tidak sabar ingin menutup ponselnya sejak tadi.


__ADS_2