Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab Spesial: Suasana Arisan Keluarga Pradana


__ADS_3

Setting: sebelum Dinda hamil


“Halooo… Mba Dinda… apa kabar? Ya ampun aku kangen banget loh sama mba Dinda.”, teriak Fams yang melihat Dinda baru tiba dari kejauhan. 


Di sebelahnya tentu saja tak lain dan tak bukan adalah Arya Pradana. Pria yang setiap tiga bulan terpaksa menghadiri acara arisan keluarga. 


Salah satu cara agar keluarga Pradana bisa tetap erat hubungannya satu sama lain adalah melalui arisan. Sebenarnya bukan nominalnya, tetapi momen kumpul - kumpulnya. Kalau tidak, mungkin mereka hanya akan bertemu setahun sekali saat lebaran saja. 


Masing - masing keluarga dekat sebenarnya sering bertemu. Namun, untuk keluarga yang jauh - jauh seperti antar ponakan itu belum tentu bisa bertemu. 


Setiap kali acara ini berlangsung, Arya dan Ibas menjadi yang paling pusing. Arya pernah absen lama sekali dari acara arisan keluarga. Di tahun pertama pernikahannya dengan Sarah, Arya rutin menghadiri arisan ini. Namun, di tahun kedua dan ketiga, Arya sudah tidak pernah terlihat lagi. 


Pria itu baru saja terlihat lagi beberapa bulan setelah dia bercerai karena mama Inggit yang tak berhenti memaksanya. Alhasil, Arya harus putar otak untuk skak mat semua omongan yang menyinggung masalah rumah tangganya. Tentu saja, Arya adalah ahlinya untuk urusan itu. 


“Wah.. iya.. Aku juga kangen banget sama kamu. Kamu apa kabar Fams. Sudah jarang ke rumah. Apa karena ada aku ya?”, ucap Dinda bercanda. 


Sebelum Arya menikah, Fams sering datang ke rumah untuk main dan menginap. Tetapi setelahnya, batang hidung sepupu Arya sudah tak pernah terlihat. 


“Bukan kok… memang belum ada momennya lagi.”, jawab Fams mengajak Dinda untuk duduk diantara sofa - sofa yang ada disana. 


Arya? Pria itu sudah menghilang sesaat setelah bertemu Dito barusan. Bersama dengan Ibas juga. 


“Kenapa? Nyariin mas Arya, ya? Tenang aja. Seperti biasa, mereka pasti sedang ada di kamar Dito, main PS. Kamar dia kan luas. Dari tadi sudah banyak keluar masuk kamarnya.”, ujar Fams. 


Kali ini acara arisan dilaksanakan di kediaman tante Meri. Lebih tepatnya rumah yang sudah lama tidak ditinggali dan hanya ditinggali oleh Edo, Gita, dan Ditto. Sementara Tante Meri sendiri sudah lebih sering tinggal bersama dengan suaminya di Kalimantan untuk mengurus bisnis mereka. 


Tapi sekalinya pulang, dia akan mengitari semua rumah saudara - saudaranya. Sesupel itu memang. Tapi kalau gossip keluarga juga jadi si paling nomor satu. 


“Hai Gita, kamu apa kabar?”, tanya Dinda saat Fams sudah mengajaknya ke area para perempuan yang umurnya tidak berbeda jauh. 


Salah satunya adalah Gita, adik dari Edo. Gita orangnya tidak sesupel Fams. Dia masih pemalu dan tidak pernah menyapa lebih dulu. Jika Dinda adalah seorang introvert, maka Gita lebih introvert lagi. 


“Eh mba Dinda. Baru datang ya mba? Alhamdulillah aku baik. Kamu apa kabar? Mas Arya mana?”, tanya nya. 


“Biasa, sudah berkumpul di sarang para penyamun.”, jawab Fams menunjuk ke lantai dua dimana kamar Ditto berada. 


“Gimana mas Arya?”, tanya Fams penasaran. 


“Hm? Gimana apanya?”, tanya Dinda bingung. 


“Baik ga? Romantis nggak?”, tanay Fams penasaran. 


“Ih kamu gak sopan tanyanya. Dinda kan jadi malu.”, ucap Gita. 


“Ha- ha.. Tiba - tiba jadi panas, ya.”, ujar Dinda pura - pura mengipas dirinya menggunakan telapak tangan. 


“Ohiya… pengantin baru kamu mana ndah? Kok tidak kelihatan?”, tanya Tante Meri yang baru saja meminta ART nya untuk membawakan lebih banyak makanan ke meja yang terletak di ruangan tengah. 


“Oh.. Bianca dan Reza sedang Honeymoon. Mereka kan sempat telat pesan tiket. Aku bilang, ya udah ganti destinasi aja. Tapi keduanya tidak mau dan terus memaksa sampai ada tiket yang available.”, jawab Tante Indah yang sudah ikut nimbrung disana. 


Sepertinya semua anggota keluarga sudah komplit. 


“Tapi kita terlalu mepet loh mengadakan arisannya. Baru saja sekitar bulan lalu Bianca sama Reza menikah. Sudah arisan aja.” 


“Aku aja masih berasa di pesta pernikahan Arya, tahu gak?” 


“Iya bener, soalnya setelah pernikahan Arya, perasaan gak ada henti - hentinya ya acaranya. Pokoknya adaaa aja.”


“Dinda belum ada tanda - tanda mba Inggit?” 


“Hush, sudah gak usah ditanya - tanya. Nanti kalau rezekinya ada juga dikasih.” 


“Iya betul, biarkan menikmati masa - masa romantis dulu.”


Tak lama Arya terlihat keluar dari kamar Ditto. Dia berjalan turun dan menghampiri area tempat duduk Dinda bersama dengan sepupu - sepupu lainnya. 


“Sayang, bisa ikut aku sebentar?”, panggil Arya. 


“Cieeee cieeeee… udah level sayang - sayangan nih mas Arya. Ih… kaya orang pacaran deh.”, goda anak - anak perempuan yang ada disana, termasuk Fams. Justru dia yang menjadi ketua gengnya. 


“Makanya, jangan kecil - kecil udah pacaran aja. Belajar dulu yang bener. Sekolah dulu yang tinggi. Baru begini aja sudah heboh.”, ujar Arya dengan suara dinginnya. 


“Ihhhh dingin….”, lanjut anak - anak itu terus menggoda Arya. 


Pria itu hanya geleng - geleng kepala melihat tingkah keponakannya. Berbeda dengan di kantor dimana karisma dan aura Arya tumpah ruah seperti air terjun. Kalau di lingkungan keluarga, dia lebih sering menjadi bulan - bulanan anak - anak kecil. 


“Mas Arya kenapa memanggil saya?”, tanya Dinda bingung. 


“Eh Arya mau kemana? Mau kabur ya, kamu? Sampai ajak - ajak istri segala.”, teriak tante Meri yang usilnya kebangetan. 


Ide Arya untuk kabur dari kegilaan arisan inipun bisa terbaca olehnya. 


“Enggaa.. Arya cuma mau ke atas doang sebentar. Ada yang harus dicari. Nanti juga turun lagi, kok.”, ujar Arya ngeles bajaj. 


“Cari apa sih?” 

__ADS_1


“Udah sih Mba yu… orang masing termasuk pengantin baru, kok. Biarin juga kalau mau ke kamar duluan. Sibuk amat.” 


“Tapi, belum pada makan loh. Dinda kamu belum makan, kan?” 


“Nanti aja tante. Cuma sebentar kok, nanti Dinda turun lagi.” 


Tante Meri akhirnya melepaskan taringnya karena melihat Dinda juga mendukung Arya. 


“Ya sudah, jangan lupa ya ke bawah lagi. Acara kita belum mulai, loh.”, teriak tante Meri. 


Sementara Arya sudah menarik lengan Dinda untuk naik ke atas. 


“Bagaimana ceritanya baru mulai? Udah jam berapa ini?”, gerutu Arya dengan suara yang pelan. 


“Dari tadi perasaan sudah haha hihi, apanya yang baru mulai. Mau sampai pagi arisannya?”, Arya sudah frustasi. 


Dari awal dia datang, dia sudah melarikan diri ke kamar Ditto hanya untuk menyaksikan bocah - bocah main PS, Ditto asyik dengan fotografinya, Ibas malah tetiba balik jadi anak kecil ikut malakin anak main PS. Sementara Edo. Hah, Arya bahkan sakit kepala kalau lama - lama ada di sampingnya. 


Dia sudah tidak tahan berada di tengah - tengah kekacauan suasana arisan keluarganya ini dan ingin segera melarikan diri. Hal pertama yang terbesit dibenaknya adalah Dinda. Lebih baik dia menarik Dinda untuk istirahat lebih cepat. 


“Mas Arya perlu apa?”, tanya Dinda ragu - ragu dan bingung. 


“Kamu mau disana sampai kapan? Saya sudah mau gila.”, ujar Arya. 


“Eh? Bukannya mas Arya sedang bermain di kamar Ditto?” 


“Sini. Hm.. sepertinya kamar kita yang ini.”, ujar Arya menarik Dinda masuk ke dalam. 


“Mas Arya!”, Dinda kaget karena pria itu langsung menariknya tiba - tiba ke dalam. 


Ceklek! Arya lantas mengunci pintunya. 


“Mas, memangnya ini benar - benar kamar kita? Bukannya biasanya sepupu wanita tidur bersama sepupu wanita yang lain dan begitu juga yang pria. Mana cukup kamarnya kalau berdua - berdua begini?”, tanya Dinda bingung. 


“Sudah tenang saja.”, ujar Arya mendekat ke arah Dinda. 


“Mas Arya mau ngapain?”, tanya Dinda bingung karena Arya terus mempersempit jarak diantara mereka. 


“Wuah.. disini ada balkon nya juga. Lihat deh itu mas.”, Dinda langsung menghindar dan berjalan ke arah balkon.


Namun, Arya tidak sebodoh itu. Dia langsung menarik dan mencium istrinya lembut. 


******** 


“Mas Arya, aku boleh tanya sesuatu?”, ucap Dinda saat mereka duduk santai di atas balkon kamar itu.


“Hn?”, respon Arya singkat. 


“Aku lihat hubungan mas Arya dengan mas Edo tidak baik. Apa ada masalah?”, tanya Dinda memberanikan diri. 


“Hn? Kenapa kamu tiba - tiba menanyakan tentang itu?”, tanya Arya heran. 


“Mas Arya janji tidak akan bertindak berlebihan.”, meski saat itu Dinda tidak yakin. 


“Hn? Memangnya kapan aku bertindak berlebihan?”, tanya Arya. 


“Saat aku terlibat pembicaraan dengan Dimas. Mas Arya langsung menarikku dan marah - marah.” 


“Ya itu kan beda, Din. Dia.. kamu berdua dengan dia di parkiran mobil, terus menurut kamu ada yang berpikir hal selain yang aku pikirkan? Siapapun kalau melihat itu pasti akan salah paham.” 


“Tapi, aku benar - benar tidak melakukan apapun. Hanya berbicara saja. Tentang teh.”


“Kamu memang hanya berbicara tentang teh. Tapi Dimas? Apa kamu yakin dia hanya berbicara tentang teh?” 


“Lalu bagaimana dengan mas Arya sendiri?” 


“Aku kenapa? Aku tidak pernah menciptakan situasi yang orang bisa salah paham.” 


“Ada.”, jawab Dinda. 


“Dengan siapa? Erick?”


“Mba Suci. Mas Arya sangat dekat dengannya. Terus beberapa wanita yang digosipkan mendekati Pak Arya.”, jelas Dinda. 


“Suci? Dia hanya MA. Lalu wanita? Wanita yang mana?”, tanya Arya. 


“Yang di sebut - sebut oleh anak - anak Business and Partners. Aku mendengar sendiri mereka berbicara di kamar mandi. Katanya mas Arya sedang mendekati seseorang.” 


“Hm? Aku tidak merasa sedang mendekati seseorang. Ah.. kamu tahu? Mungkin saja yang mereka maksud itu adalah kamu.” 


“Hm?”, tanya Dinda bingung. 


“Mereka mungkin tanpa sengaja pernah mendengar saya berbicara dengan kamu di telepon. Mungkin mereka menyimpulkan kalau saya sedang dekat dengan seseorang.”, jelas Arya. 


“Oiya, kenapa kamu tiba - tiba membahas tentang Edo?”, tanya Arya lagi. 

__ADS_1


“Mas Arya janji dulu tidak akan berlebihan.”, ucap Dinda ingin memastikan. 


“Ya, walaupun aku tidak mengerti dimana letak berlebihannya.” 


“Hm. Setiap kali ada pertemuan keluarga, aku jadi merasa bersalah karena tidak mengatakannya pada mas Arya. Tapi, waktu acara lamaran Bianca sekitar bulan lalu di puncak, Mas Edo menghampiriku di penginapan kita.”, ujar Dinda. 


Mendengar hal tersebut, Arya langsung memberikan reaksi. Reaksi yang tidak bisa dibilang santai. 


“Terus?”, tanya Arya dengan wajah tegang. 


“Tuhkan, mas Arya sudah mau marah saja.” 


“Ya siapa yang ga marah? Buat apa coba dia menghampiri kamu di penginapan? Pasti ada sesuatu yang dia lakukan dan membuat kamu tidak nyaman, kan? Apa? Coba katakan.”, ujar Arya. 


“Mas Arya tadi sudah janji untuk tidak marah - marah. Kenapa sekarang malah marah - marah.”, protes Dinda. 


Kalau begini ceritanya, dia tidak akan berani untuk mengatakannya. 


“Iya, iya. Aku tidak akan marah. Coba ceritakan.” 


“Aku merasa mas Edo tidak suka dengan mas Arya dan terus mengatakan padaku kalau mas Arya sebenarnya hanya mempermainkan aku saja. Mas Arya tidak benar - benar serius dan hanya ingin memanfaatkan kesempatan seperti dulu mas Arya memiliki hubungan spesial dengan kekasihnya.”, jelas Dinda. 


Setiap kali Dinda menghadiri pertemuan keluarga dan bertemu dengan Edo. Ingatan tentang saat itu kembali muncul dan mengusiknya. Bagaimana tatapan kebencian Edo dan perkataannya tentang Arya. 


Dinda berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya. 


“Heh.. seharusnya dia jadi penulis saja. Dia terlalu handal untuk memberikan kronologi karangan seperti itu. Pertama, saya tidak pernah mendekati kekasihnya. Memang kami pernah bertemu tanpa Edo. Tapi karena kekasihnya ingin meminta bantuan saya yang ternyata malah berujung pada hal tidak menyenangkan. Kedua, Edo mungkin memiliki jealous issue karena sejak kecil selalu dibanding - bandingkan dengan saya.”, terang Arya. 


Dinda mengkerutkan dahinya masih tidak mengerti. 


“Pacarnya datang menemui saya meminta bantuan dengan mengatakan Edo memperalatnya. Dan akhirnya saya tahu kalau itu hanya akal - akalannya saja. Saya terang - terangan meminta Edo putus dengan wanita itu. Seleranya terhadap wanita memang buruk, tapi saya tidak menyangka dia akan memacari tukang tipu.”


“Edo memiliki trust issue dan tidak percaya dengan omongan saya. Dia lalu menggoreng cerita itu dan mengatakannya pada Sarah. They fight. Dan mereka akhirnya putus. Entah bagaimana ceritanya Edo selalu menyalahkan saya tentang itu. Sampai dia membuat cerita aneh itu ke kamu.”, lanjut Arya lagi. 


 Dinda mengangguk - angguk paham mengenai cerita yang disampaikan Arya. 


‘Aku tidak mengenal mas Edo ataupun Mba Sarah. Seperti apa mereka. Aku hanya mengenal mas Arya. Baiklah, aku memutuskan untuk mempercayainya.”, ujar Dinda dalam hati. 


“Oiya Din, ngomong - ngomong, tumben kamu berani duduk di balkon jam segini?”, tanya Arya pada Dinda. 


“Oh, maksud mas Arya?”, tanya Dinda heran. 


“Lihat jam, sudah jam berapa ini? Kita di balkon malam - malam. Di depannya ada kolam renang. Suasana hening. Kamu tahu gak sih kalau rumah tante Meri ini sudah dari jaman Belanda loh.”, ucap Arya masih belum berhenti. 


Dinda melihat ke arah jam tangannya. 


‘Jam 12 malam.’, ucap Dinda dalam hati. 


Ia kemudian mengedarkan pandangannya sebentar ke sekeliling. Padahal mereka berada di tempat yang sama dengan posisi duduk yang sama. Tapi, perkataan mas Arya barusan membuat suasana jadi 180 derajat berubah total. 


Kalau dipikir - pikir, desain rumah tante Meri memang seperti desain rumah tempo dulu. Bulu roma Dinda langsung merinding. Dinda yang tadinya duduk berjarak dengan Arya perlahan mulai bergeser untuk mempersempit jarak di antara mereka. 


Arya tersenyum jahil di sampingnya. Dinda sudah menelan ludahnya saking keberaniannya langsung berubah. 


“Mas Arya apa - apaan sih.”, ujar Dinda yang juga merasa Arya sedang mengerjainya tapi kemungkinan itu hanya 10% di pikirannya. 


Tok tok tok tok tok 


“Hah! Mas Arya…”, Dinda yang tadinya mempersempit ruang diantara mereka dengan cara perlahan - lahan seperti siput, langsung melompat ke tajam ke arah Arya dan berlindung dibalik dada bidangnya. 


Dinda sangat terkejut karena tiba - tiba saja seseorang mengetuk pintu dari luar. 


“Woh woh woh lagi ngapain nih di dalam berduaan aja?”, ujar Ibas dan Ditto menangkap sepupu mereka berada di dalam kamar? ‘


Ditto yang saat itu sedang memegang kamera bahkan tak segan - segan untuk menangkap pemandangan dihadapannya. 


Mendengar suara cekrek cekrek beberapa kali, Dinda mengangkat kepalanya dari dada Arya. 


“Loh, tadi bukannya mas Arya kunci ya?”, tanya Dinda langsung keceplosan. 


“Waduh waduh.. Kakak iparku ternyata nakal juga ya. Pintu kamar nya mau dikunci. Memangnya mau ngapain?”, tanya keduanya, mereka masih di depan pintu kamar. 


“Oiya, pintu kamar ini sedang rusak. Jadi walaupun sudah di kunci, tetap saja bisa dibuka dari luar.”, ucap Ditto menjelaskan. 


“Eh? Kenapa bisa begitu?”, tanya Dinda heran. 


“Memangnya kamu mau ngapain sih tadi Din?”, kata Arya malah balik menggoda Dinda di hadapan sepupu dan adiknya. 


“Mas Arya usil banget sih.”, kata Dinda memukul - mukul Arya tidak terima. 


“Oiya satu lagi. Jam yang benar jam segini.”, ujar Arya menunjukkan jam di pergelangan tangannya yang masih menunjukkan pukul 11 malam. 


Arya menyadari kalau jam tangan Dinda rusak dan mencoba untuk menjahilinya. 


“Ah iya, rumah tante Meri bukan dibangun dari jaman belanda kok. Masih baru. Tapi doi emang suka aja sama style tempo dulu.”, ujar Arya tersenyum jahil. 

__ADS_1


“Mas Aryaaaaa!!!!”, teriak Dinda. 


__ADS_2