
“Guys, kumpul - kumpul dulu.”, Delina sibuk memanggil rekan - rekannya yang lain untuk berkumpul di sebuah ruang meeting besar yang dia booking.
Hari ini adalah hari terakhir masa intern Dinda sesuai dengan keputusan yang sudah dibuat oleh HRD beberapa waktu lalu. Sesuai tradisi yang selalu ada di perusahaan, Dinda mengundang semua anggota divisi untuk menghadiri acara makan - makan yang dia selenggarakan.
Beruntung, tak banyak kesibukan ataupun meeting di hari ini sehingga dia bisa membooking slot jam 5 untuk semua rekan - rekan satu divisi. Dinda menyediakan suguhan hangat berupa bakso yang dia pesan dari kenalan bundanya.
Ratna memang membuka jasa catering tetapi untuk menu bakso, dia menyerah. Sudah sejak lama dia mengakui kalau dia bukanlah ahlinya. Sehingga, dia merekomendasikan kenalannya untuk memenuhi pesanan putrinya.
Sekitar satu jam yang lalu, Dinda sudah sibuk bolak - balik untuk mengatur suguhan ini masuk ke area kantor dan ditata rapi di area pantry. Bakso harus disuguhkan dengan hangat, sehingga tidak bisa dibawa ke dalam ruang meeting.
Ruang meeting ia gunakan hanya untuk memberikan salam perpisahan kepada rekan - rekan dan supervisor di divisinya yang sudah membimbingnya selama kurang lebih hampir 9 bulan ini.
Pembicaraan tadi malam antara Dinda dan Arya.
“Kamu tidak mengundangku?”, tanya Arya yang baru saja keluar dari ruang kerjanya.
“Mengundang apa mas?”, sahut Dinda yang sibuk melakukan research itinerary apa yang bagus untuk babymoon ke Korea Selatan yang dijanjikan oleh Arya.
Dia terlihat sangat serius sampai - sampai membeli peta Korsel lengkap di toko buku. Seolah, Dinda akan mengitari seluruh wilayah Korea Selatan.
“Ini.”, Arya menyodorkan screenshot undangan di ponselnya kepada Dinda.
Dinda memicingkan matanya melihat undangan tersebut. Dia bisa mengetahui kalau itu memang undangan meeting yang dia kirim kepada semua anggota Divisi Digital and Development. Setelah memastikan hal tersebut, Dinda lantas melihat ke arah pengirim screenshot tersebut.
‘Erick.’, tertulis nama bosnya disana.
‘Hm… Pak Erick pasti sudah mengompori mas Arya deh.’, pikir Dinda dalam hati.
“Mas, ini kan undangan internal divisi Digital and Development. Masa aku undang mas Arya juga. Lagian, nanti yang ada acaranya jadi dingin kalau ada Pak Arya.”, kata Dinda blak - blakan.
“Oh.. begitu.”, Arya nampak seperti menerima alasan yang disampaikan Dinda barusan.
“Tapi kan saya pernah menjabat sebagai Kepala Divisi Digital and Development. Walaupun hanya sementara.”, bukannya menyerah, ternyata Arya berbalik dan mengungkapkan alasannya.
Dia malah mengambil duduk di samping Dinda. Arya duduk di atas sofa, sementara Dinda memang sedari tadi lebih nyaman duduk di atas karpet lantai. Ia menaruh laptopnya di atas meja dan dengan posisi begitu, dia jadi lebih mudah untuk mengoperasikannya.
__ADS_1
“Trus, mas Arya mau saya undang juga? Tapi mas, nanti suasananya malah jadi krik - krik kalau mas Arya datang. Shushhh… kaya angin dingin yang tiba - tiba bikin orang - orang merinding.”, Dinda bahkan mencontohkannya di hadapan Arya.
“Kamu kira saya makhluk halus, bikin merinding?”, ujar Arya kesal dan berdiri dari kursinya menuju kasur.
‘Memang begitu kan? Kalau ada yang melakukan survey, pasti 9 dari 10 mengatakan kalau mas Arya itu…’, Dinda tak menyelesaikan gumaman dalam pikirannya dan memutuskan berdiri untuk menyusul suaminya.
‘Auh..Fuh’, padahal masih 5 bulan, tapi Dinda sudah mulai kesulitan untuk melakukan pergerakan.
Dia merasa sudah tak se-fleksibel dulu lagi.
“Mas Arya marah?”, tanya Dinda mendekati suaminya dari pinggir ranjang.
Arya sudah menaikkan selimut ke atas pinggangnya. Namun, ia nampak masih melihat isi ponselnya.
“Enggak.”, jawab Arya singkat.
“Tuhkan, mas Arya marah.”, jawab Dinda.
“Enggak.”, balas Arya lagi.
Biasanya dengan cara ini, kemarahan Arya bisa perlahan berkurang.
“Aku mau di hari terakhir kamu di kantor, semua itu tahu kalau kamu itu istri aku.”, Arya berbalik menghadapkan wajahnya ke Dinda.
‘Tuhkan, aksi coel mencoelnya berhasil.’, senyum menang Dinda terlihat dari wajahnya.
“Bukankah semua sudah mengetahuinya. Kenapa masih perlu ada pengumuman lagi?”, kali ini Dinda sungguh tak mengerti apa maksud suaminya.
“Beda. Sejak aku mendeklarasikan kalau kamu itu istri aku, aku gak pernah berada di satu frame yang sama dengan kamu di kantor.”, terang Arya.
“Hm.. satu frame ya.. Tapi bukannya kita sering satu frame di kantor?”, di ingatan Dinda, mereka hampir setiap hari berada di satu frame kalau di kantor.
“Dimana? Mobil? Parkiran? Lobby? Lift? Tangga Darurat? Ruangan saya?”, Arya menyebutkan semua tempat - tempat dimana memang belakangan ini dia sering mencuri - curi waktu untuk bersama dengan istrinya.
“Hm.”, kata Dinda.
__ADS_1
“Audiensnya?”, balas Arya. Sekarang dia mengambil posisi bangun dari tempat tidur dan duduk bersandar supaya bisa lebih nyaman berbicara dengan Dinda.
“Audiens? Memangnya kita lagi syuting film apa?”, tanya Dinda sambil tertawa.
“Tunggu, jangan bilang mas Arya itu pengen …. Mas Arya, ini beneran mas Arya, kan? Kok kaya anak ABG gitu sih?”, tanya Dinda merasa mengerti apa yang ada di pikiran suaminya sekarang.
“Yaa… saya begini - begini kan laki - laki juga, Din.”, ucap Arya sok cool.
“Aku gak bilang mas Arya perempuan, kan.”, Dinda lagi - lagi tertawa.
“Beneran maksud mas Arya seperti itu? Beneran?”, Dinda lagi - lagi menggoda Arya.
Sepertinya malam ini menjadi momen yang pas baginya untuk menggoda suaminya. Padahal biasanya hanya Arya yang bisa menggodanya. Ini momen langka yang harus Dinda manfaatkan dengan sebaik - baiknya.
Flashback selesai
“Hayoo hayooo… udah ga ada kerjaan lagi kan?”, tanya Rini pada bawahannya yang masih setia duduk di kursinya.
“Iya iya mba. Sebentar satu email lagi.”, ujarnya.
“Okee.. yang udah langsung ke ruang meeting, ya. Kasihan itu Dinda sudah siapin makanannya.”, ujar Rini menggerakkan semua yang nampaknya sudah berdiri dan siap berjalan menuju ruang meeting.
Delina sudah bergerak langsung ke ruang meeting menemani Dinda yang sepertinya sedikit deg-deg-an. Padahal, tadinya dia masih biasa saja. Tetapi, begitu semua orang berkumpul, dia merasa gugup.
“Tenang, Din. Ga bakal ada yang makan kamu, kok. Yang ada pada kangen.”, ujar Bryan menepuk bahu Dinda.
“Yah… ga ada Dinda jadi gak seru dong kantornya.”, celetuk Andra.
“Ga seru kenapa ndra?”, tanya Rini menimpali dari belakang.
“Ga ada yang bening, haha.”, dia tertawa lebar.
“Eh… eh… ada Pak Arya…”.
Andra yang barusan melemparkan jokes receh langsung membeku begitu nama itu disebut. DIa mematung dengan wajah yang pucat.
__ADS_1