
“Selamat Sore Dinda!”, sapa dr. Rima dengan ramah.
Wajahnya ceria padahal Dinda adalah pasiennya yang ke sekian. Satu hari, dia mungkin bertemu dengan puluhan pasien dengan kondisi yang berbeda - beda. Hari yang melelahkan bagi seorang dokter namun penuh dengan dedikasi. Kadang Dinda bingung, bagaimana dr. Rima bisa menjaga ekspresinya dengan sangat baik di depan para pasiennya.
Dan mungkin saja semua dokter seperti itu. Saat mereka bertemu dengan pasien, mereka harus tetap ramah dan ceria. Padahal, bukan tidak mungkin mereka juga memiliki persoalan hidup yang kurang lebih sama atau bahkan mungkin lebih berat dari yang lainnya.
“Hm.. sepertinya ada yang berbunga - bunga hari ini. Jelas berbeda dengan kontrol bulan - bulan sebelumnya.”, kata dr. Rima mengarahkan pandangannya pada Arya yang sudah setia berdiri di samping istrinya.
Dinda tersenyum lebar mengiyakan perkataan dr. Rima. Dia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar. Sementara di belakang, Arya hanya mengeluarkan ekspresi datar miliknya.
“Oiya.. silahkan duduk. Saya sampai lupa untuk mempersilahkan duduk. Saking silaunya dengan kemunculan seseorang.”, ujar dr. Rima pada Dinda dan Arya juga mengikuti di belakangnya.
Kebetulan memang tersedia dua kursi di hadapan meja kerja dr. Rima. Arya menggeser bangkunya ke belakang dan mempersilahkan Dinda untuk duduk terlebih dahulu. Selanjutnya baru dia yang ikut duduk.
“Oke.. Dinda Larasati sudah 4 bulan lebih ya kandungannya. Karena kemarin sempat di reschedule ya jadwal untuk kontrolnya. Sejauh ini bagaimana? Ada yang kurang nyaman?”, tanya dr. Rima sambil membuka rekam medis Dinda di sebuah dokumen yang ada di mejanya.
“Alhamdulillah untuk saat ini masih baik - baik saja, dok. Tidak ada ketidaknyamanan yang saya rasakan. Mual juga sepertinya sudah berkurang. Padahal sebelumnya sangat intens sekali setiap pagi.”, jawab Dinda.
“Iya, mualnya sudah jarang sekali ditemukan. Dinda juga rutin mengkonsumsi susu hamil yang merk xxxxx setiap malam. Oh.. dia jadi lebih sering ke kamar mandi sih, dok belakangan ini. Kamu merasakannya kan?”, tutur Arya menambahkan keterangan dari Dinda kemudian diakhiri dengan pertanyaan konfirmasi pada Dinda.
“Ohiya, Dok. Belakangan sering sekali buang air kecil ke kamar mandi. Jadi, kadang kalau sedang di luar jadi kesulitan. Tidak boleh ditahan kan, dok?”, tanya Dinda memastikan.
Keluhan yang dia rasakan ini memang masih baru semingguan ini. Kalau dia sedang berada di rumah atau di kantor, mungkin mudah sekali baginya untuk bisa bolak balik kamar mandi. Persoalannya adalah ketika dia sedang berada di jalan terutama di dalam mobil dalam keadaan macet.
Dia jadi kesulitan untuk mencari tempat untuk berhenti sementara. Kalau Dinda sedang dengan Arya, dia merasa lebih leluasa untuk meminta pria itu berhenti sejenak. Tetapi, kalau yang saat itu mengantarnya adalah Pak Cecep atau kebetulan dia pergi dan pulang bersama dengan Ibas, Dinda mulai agak sungkan dan lebih memilih untuk menunggu sampai dia pulang ke rumah.
“Apa saya harus mengurangi konsumsi air putih?”, tanya Dinda.
“Hm.. memang agak tricky ya. Tapi disarankan kamu tidak mengurangi konsumsi air putih. Justru mengatur dan menyeimbangkan konsumsi air putih. Saat buang air, pastikan kamu sudah mengosongkan sepenuhnya ya. Jadi mungkin agak ditunggu sebentar untuk memastikan kalau kamu sudah benar - benar selesai.”, tutur dr. Rima.
“Ingat, jangan menahan pipis. Jadi, usahakan untuk mengelola aktivitas kamu. Biasanya kapan tuh yang paling susah cari tempat buang air kecil?”, tanya dr. Rima.
“Saat di perjalanan dok. Terutama ketika jam sibuk dan macet.”, jawab Dinda.
“Hm.. berarti kamu usahakan untuk menghindari area - area macet. Kalau memang merasakan sudah ingin buang air kecil, jangan ditahan, segera cari toilet. Mungkin triknya bisa dengan mengatur jadwal pergi dan pulang agar tidak terjebak macet. Ada keluhan lain?”, tanya dr. Rima.
“Untuk saat ini hanya itu saja dok. Selebihnya masih lancar dan sehat.”, jawab Dinda lagi.
“Baguslah kalau begitu. Anaknya takut sama papanya sepertinya ya. Sampai - sampai tidak mau rewel.”, canda dr. Rima.
“Oke, yuk coba kita USG untuk melihat perkembangannya. Bulan lalu belum sempat melihat jenis kelaminnya, ya?”, tanya dr. Rima memastikan.
Meskipun sudah sebulan yang lalu, tetapi dia masih ingat kalau waktu itu Dinda dan Arya belum sempat melihat jenis kelamin karena sang bayi menutupinya.
“Ha-ha.. Iya dok. Waktu itu belum sempat.”
“Sudah gak sabar dong ya. Kira - kira jenis kelaminnya apa nih?”, tanya dr. Rima seolah - olah ingin membuat keduanya merasa deg-deg-an.
“Mana saja tidak masalah dok. Yang terpenting keduanya sehat.”, jawab Arya datar.
Dinda hanya tersenyum memberikan kode pada dr. Rima. Dinda sebagai istri Arya yang sudah sering berinteraksi dengannya tentu sudah terbiasa dengan respon - respon Arya yang terkadang datar, dingin, atau serius.
Sementara itu, sepertinya dr. Rima belum sepenuhnya terbiasa karena dia hanya pernah bertemu dengannya sesekali saja.
dr. Rima langsung mengerti dengan kode yang diberikan oleh Dinda.
‘Mohon dimaklumi dok. Lemari es.’, begitu kira - kira bisik Dinda pada dokter Rima yang langsung dibalas tawa renyah darinya.
“Okay, sudah siap Dinda, Pak Arya?”, tanya dr. Rima.
“Iya, dok.”, Dinda dan Arya menjawab bersamaan.
Dinda sudah berbaring di kasur dan Arya juga sudah duduk rapi di sebelahnya memegang tangan istrinya. Tangan yang selalu hangat terasa untuknya.
dr. Rima mengoleskan sesuatu terlebih dahulu sebelum meletakkan alat USG itu ke permukaan perut Dinda yang memang sudah terlihat baby bump nya.
__ADS_1
“Okay… sebentar.. Sebentar… nah ini sudah kelihatan. Selamat ya, Dinda dan Pak Arya, anaknya laki - laki. Hm.. nanti mewarisi ketampanan papanya, nih.”, goda dr. Rima.
Arya tidak bergeming dengan candaan dr. Rima. Dia lebih fokus melihat ke arah istrinya. Disini, dr Rima sedikit mengenang masa lalu. Bukan masa lalu yang menyenangkan karena saat itu, tidak ada pria seperti Arya yang menemaninya seperti Dinda saat ini.
Bukan sekali dua kali dokter Rima terjebak dalam perasaan - perasaan haru seperti ini. Dari banyaknya pasien yang dia temui, tentu banyak juga dari mereka yang ditemani oleh suaminya. Sebuah dukungan yang membuat wanita hamil menjadi lebih kuat dan lebih bahagia.
Meski mungkin kesannya sederhana, hanya berada disana dan melihat perkembangannya. Tetapi, dukungan sederhana itu sangat berarti bagi mereka.
Dinda tersenyum melihat ke arah monitor yang menampilkan putra kecilnya. Masih kecil sekali. Dia menatapnya terpana. Puteranya. Dia tidak percaya kalau yang ada di perutnya sekarang adalah puteranya, dengan Arya.
Tanpa Dinda sadari, air mata turun dari pelupuk matanya. Rasa haru menyelimuti perasaannya. Tadinya hanya satu dua tetes. Kemudian semakin lama semakin banyak.
“Sayang, sayang kamu kenapa?”, tanya Arya langsung khawatir melihat Dinda.
Dia khawatir jika tiba - tiba istrinya merasa ada yang sakit di suatu tempat. Melihat hal itu, dr. Rima memberikan pengertian pada Arya bahwa istrinya sedang tidak apa - apa. Dia hanya terharu saja.
“Dinda, sudah jangan nangis lagi. Malu sama dr. Rima, loh.”, kata Arya bercanda.
“Bukannya tambah reda, tangis Dinda malah makin kencang. Arya akhirnya bangun dan memeluk Dinda.
“Kamu akan jadi ibu yang hebat. Baby kecil baik - baik saja di dalam. Kalau kamu nangis, dia jadi salah paham dan berpikir kamu sedih.”, kata Arya.
Mendengar itu, dr. Rima bergidik sedikit. Ini pertama kalinya dia melihat sisi lain Arya melalui kata - katanya. Bulan lalu, pria itu mengejutkannya dengan datang tiba - tiba dalam kondisi ngos - ngosan dan rambut serta penampilan kurang rapi.
Sekarang, pria super dingin, datar, dan tidak ramah itu justru sedang menenangkan istrinya yang terharu lewat kata - katanya.
‘Ternyata pria ini juga bisa mengeluarkan kata - kata manis. Beruntung sekali kamu, Din.’, ucapnya dalam hati.
“Nanti beliin es krim ya, mas Arya.”, kata Dinda tiba - tiba memecah keheningan ruangan.
Bahkan, dokter magang yang standby di belakang dr. Rima pun tak bisa membendung gelak tawanya.
************
Inggit memanggilnya dengan suara yang keras berharap anaknya itu mendengarnya.
"Ma, apa - apaan sih teriak - teriak. Ini jadwalnya Rafa dan Samawa tidur siang, loh. Nanti kalau mereka bangun, mama yang harus tanggung jawab.", kata Kuswan yang sedang santai membaca korannya sambil menonton televisi.
Entah yang mana yang mau dia kerjakan lebih dulu.
"Papa gak usah cerewet. Lagian papa aneh. Mau nonton atau baca koran?", Inggit tak mendengar perkataan suaminya.
"Buk, mau panggil siapa? Biar Bi Rumi yang panggilkan.", ujar Bi Rumi menawarkan diri.
"Ohiya, bagus kalau begitu Rum. Kamu sudah selesai ngerumpi dengan pembantu sebelah? Dari tadi dicariin ga ketemu.", ujar Inggit sekarang melampiaskan kekesalahannya pada Bi Rumi.
"Haha.. Bi Rumi cuma ngobrol sebentar kok Bu sama orang sebelah. Kan bagus Bu mengetahui dunia sekitar, supaya up-to-date.", ujar Bi Rumi sambil bercanda.
"Iya... Iya.. tolong panggilkan Ibas ya Rum. Saya mau minta antar ke rumah teman.", ujar Inggit.
"Arisan lagi, Bu? Memangnya Pak Asep kemana?", tanya Bi Rumi bingung.
"Pak Asep sedang izin pulang. Anaknya tiba - tiba sakit. Saya suruh bawa mobil aja biar segera di bawa ke rumah sakit. Kan ada Ibas di rumah.", kata Inggit.
"Lah, Bu. Bukannya den Ibas ke kantor ya, Bu? Memangnya sudah pulang?", tanya Rumi bingung.
"Sudah. Ga lihat mobilnya itu nangkring di depan."
"Ohiya..hahaha. Bibi lewat pintu belakang soalnya. Belum lihat ke depan.", ucap Bi Rumi.
"Ya sudah, kalau begitu hayoo panggilin anaknya.", kata Inggit turun lagi ke bawah.
**********
"Iya ma?", Ibas sudah turun.
__ADS_1
"Kamu kok belum mandi dan ganti pakaian? Kan sudah pulang dari tadi.", walaubagaimanapun, Inggit tak melupakan omelannya.
"Ketiduran tadi. Mama mau kemana? Arisan lagi?", tanya Ibas dengan ekspresi bingung.
Sekali lagi di bertanya - tanya, entah berapa jumlah arisan yang diikuti mamanya ini.
"Hush, nanti papa kamu dengar. Arisan itu sebagai bentuk silahturahmi. Semakin sering semakin bagus dong. Tapi, kali ini mama gak mau ke tempat arisan. Mama mau mengunjungi teman mama. Anaknya baru saja lahiran.", kata Inggit menjelaskan.
"Jauh ga ma? Bensin Ibas tinggal sedikit."
"Nanti mama isiin. Lagian kamu bohong kan? Setiap mengantar mama, mama berasa kamu peras. Masa habis mulu bensinnya?"
Ibas hanya tersenyum jahil dan mengambil kunci mobilnya di salah satu laci di lemari tengah.
*********
"Teman mama yang mana sih, ma? Kenapa gak sekalian bareng mas Arya dan Dinda aja. Mereka juga bukannya ada jadwal kontrol ke rumah sakit hari ini.", tanya Ibas.
"Mama juga sudah menghubungi Arya tadi. Mereka sudah pulang dari tadi dan mau nge-date dulu. Lagian kamu itung - itungan sekali sih mengantarkan mama.", ujar Inggit kembali keluar cerewetnya.
'Itu dia ma, kalau mengantarkan mama, Ibas ga perlu putar radio. Orang mama ngerocos terus seperti mesin pop corn. Ga berhenti - berhenti.', ujar Ibas dalam hati.
"Dinda memang punya kesabaran tingkat tinggi.", celetuk Ibas tiba - tiba.
"Oh ya jelas dong.", balas Inggit percaya diri.
"Ya, sabar banget menghadapi mama yang kalo ngomong gak berhenti - berhenti. Terus sibuknyaaa luar biasa.", kata Ibas terang - terangan.
"Kalian bertiga itu ya, kalah sama Dinda. Dinda kalau lagi pergi - pergi sama mama pasti nemenin mama ngomong. Coba kalo sama kalian, mama berasa sedang berbicara dengan tembok.", curhat Inggit.
Ibas sontak tertawa mendengarkan penuturan mamanya. Dia kira selama ini hanya dia yang seperti itu. Ternyata Mba Andin dan mas Arya juga begitu.
"Apalagi sama Arya. Mama berasa disupirin sama supir taksi. Persis kaya papa kamu.", kata Inggit lagi.
"Temen mama yang mana sih?", akhirnya Ibas mengangkat topik pembicaraan.
Kadang dia jadi kasian dengan mamanya yang semangat dan baterainya tidak pernah habis - habis kalau ngobrol.
"Tante Retno. Anaknya yang perempuan kan baru melahirkan.", jawab Inggit.
"Hah? jangan bilang tante Retno yang anaknya cuma tiga tahun di bawah mas Arya itu? Yang sempat ngejar - ngejar mas Arya waktu SMA?", tanya Ibas.
"Bener yang itu."
"Wah.. waktu mas Arya menikah dengan mba Sarah kan dia yang seolah paling menderita. Mana waktu itu dia ngajak mas Arya ngobrol lagi setelah menikah. Terus kayanya dilabrak deh sama Mba Sarah. Aku ngakak waktu itu.", ujar Ibas.
"Ma, bukannya mereka sombong banget ya ma. Hayoloh tar mama dikata - katain. Lagian ngapain sih ngejengukin. Ibas yakin deh, pas mama pulang pasti sakit hati. Inget ga, waktu yang anak perempuannya udah menikah terus gak lama mas Arya cerai. Mama kan abis ketemuan ama tante Retno langsung emosi, ma dikata - katain.", ujar Ibas ingat betul episode itu.
"Yah.. namanya juga menjalin silahturahmi, Ibas. Walaupun orangnya begitu, ya didengarkan saja. Dulu juga waktu mas kamu baru cerai mama gak menghindar, kan. Tetap ikut arisan seperti biasa."
"Iya, ma. Tapi kan abis itu mama ngomel - ngomel. Soalnya tante Retno membanding - bandingkan menantunya dengan mas Arya.", ujar Ibas.
"Yah legowo ajalah. Namanya kan niatnya silahturahmi. Lagian sekarang mama kan sudah percaya diri lagi. Mas kamu sudah menikah lagi, punya istri, sedang hamil juga. Benteng mama sempurna. Tak ada celah.", ujar Inggit percaya diri.
**Di Rumah Sakit **
"Waduh - waduh, makasih banyak loh jeng Inggit sudah mau menjenguk kesini. Sebenarnya ga boleh loh jenguk malam - malam begini. Tapi saya minta khusus dengan pihak rumah sakit supaya diperbolehkan. Mumpung suaminya anakku kan dokter disini.", ujar Retno dengan girangnya.
Ternyata benar perkiraan Ibas, bahkan belum masuk inti. Masih perkenalan saja dia sudah langsung mengeluarkan kartu AS nya.
Ya. Anak tante Retno berjodoh dengan seorang dokter di Rumah Sakit ini. Saat melalui serangkaian acara menjelang pernikahan, Inggit sudah tidak tahu lagi setebal apa telinganya harus mendengar obrolan Retno.
Pada saat itu juga bertepatan dengan Arya yang baru saja resmi bercerai. Untuk mereka yang menganggap pernikahan adalah pertarungan. Maka mereka menang dalam kompetisi ini. Sedangkan Inggit, harus legowo.
******
__ADS_1