Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 53 Apartemen Arya


__ADS_3

“Hayuk turun.”, kata Arya pada Dinda saat ia membukakan pintu mobil untuknya.


“Kenapa mas Arya ajak aku kesini? Lebih baik kita pulang saja.”, jawab Dinda.


“Kita bicara di dalam.”, perintah Arya.


“...”, Dinda masih belum bergeming dari tempat duduknya.


“Kamu dengar perintah saya, kan? Kita bicara di dalam.”, ucap Arya.


Dinda melihat ke arah Arya sebentar dan bergidik ngeri. Dia akhirnya turun dari mobil dan mengikuti pria itu.


Mereka sudah berada di parkiran apartemen Arya, tempat yang tempo hari Dinda kunjungi.


Kalau dihitung - hitung, sudah dua kali dia ke apartemen ini. Pertama, hanya di parkiran saja sebelum menikah. Dan kedua saat pak Cecep mengambil kotak yang entah isinya apa.


Begitu sampai di lantai apartemen, Arya menarik Dinda masuk karena gadis itu masih ragu - ragu. Dinda malas untuk masuk ke apartemen ini karena sudah pasti banyak sekali barang - barang yang mengingatkan Dinda pada wanita itu lagi. Sarah, mantan istri mas Arya.


“Apa maksud Pak Arya mengajak saya kesini?”, Dinda melepas tarikan tangan Arya. Dia masih belum mau masuk.


“Kita bicara di dalam.”, respon Arya tegas.


“Apa bedanya bicara disini dan didalam?”, Dinda masih membantah.


“Kamu mau ada yang melaporkan keributan disini? Kamu mau malu? Makanya kita bicara di dalam. Saya gak mau masalah ini berlarut.”, balas Arya.


“Masalah itu dari pak Arya, bukan saya. Pak Arya mau saya menyudahi pernikahan ini dengan masuk ke apartemen ini? Melihat foto mantan istri mas Arya masih terpajang rapi di dalam kamar?”, Dinda setengah berteriak.


Arya tidak menjawab dan menarik lengan Dinda masuk. Dinda berusaha melepasnya, namun kekuatan Arya sudah pasti lebih mendominasi.


Begitu sampai di dalam, Dinda melepaskan paksa tarikan tangan Arya. Arya juga membiarkannya karena toh mereka sudah ada di dalam.


“Masuk.”, perintah Arya.


Dinda sedikit terkejut karena tampilan apartemen sudah berbeda dari terakhir kali dia kesini. Sebelumnya, apartemen ini berwarna coklat dengan tema kayu dan didominasi oleh warna coklat dan hitam. Tapi sekarang, warna putih sudah mendominasi apartemen ini.


Tidak hanya warna, desain dan tata letaknya bahkan barang - barang yang ada di dalam juga banyak sekali perubahan. Dinda tidak lagi melihat ada barang - barang couple di dalam rumah ini. Aromanya juga sudah berbeda.


Sebelumnya, Dinda mencium aroma campuran rose dan mint di apartemen ini. Tetapi sekarang, dominasi aroma buah dan sedikit aroma manis yang tidak Dinda kenali mengisi ruangan ini. Dinda masuk ke apartemen yang sama, tetapi dia seperti berada di dimensi yang berbeda.


“Sini.”, Arya meminta Dinda untuk duduk di sofa ruang tamu.


Dinda yang masih terkejut melihat perubahan apartemen hanya mengikuti perintah Arya.


“Sekarang cerita, kenapa seminggu ini kamu bersikap dingin ke saya.”, Arya tidak ingin berputar - putar. Dia langsung to the point.

__ADS_1


Dinda tidak mau duduk di sebelah Arya. Dia memilih untuk duduk di sofa lain yang berada di sampingnya.


“Kapan pak Arya merenovasi apartemen ini?”, Alih - alih menjawab pertanyaan Arya, Dinda malah menanyakan hal yang lain.


“Waktu kita bulan madu. Sekarang cerita. Kamu sebenarnya kenapa?”, kata Arya.


“Saya lihat pak Arya..”, ujar Dinda.


“Sebentar, bukannya saya sudah minta kamu untuk panggil saya mas. Apa perlu saya unboxing kamu di apartemen ini?”


Dinda menatap Arya tajam. Tatapan tidak senang.


“Oke, terserah kamu. Malam ini kamu bisa memanggil saya apa saja.”


“Dimana pak Arya waktu saya liburan dengan teman - teman saya?”, tanya Dinda masih dengan tatapan tajamnya.


“Di luar. Bukannya waktu itu kamu whatsapp saya? Sepertinya saya sudah balas.”, jawab Arya.


“Dimana?”, Arya merasa aneh diinterogasi oleh Dinda yang jauh lebih muda darinya.


“Maksud kamu?”


“Jawab saja pertanyaan saya, pak Arya dimana malam itu?”


“Iya, pak Arya dimana dan ngapain malam itu.”, air mata Dinda menetes dan sontak membuat Arya kaget.


“Kamu nangis?”, Arya bergerak pindah dari sofa yang ia duduki ke sofa yang Dinda duduki. Arya baru akan memegang bahu Dinda, namun Arya menepisnya.


“Jawab saja pertanyaan saya. Waktu itu pak Arya dimana dan ngapain?”


“Saya…. Saya… ehm.. Saya keluar nongkrong sebentar di cafe mall.”, Arya berpikir keras akan menjawab apa sebelum mengeluarkan kalimatnya.


“Kalau pak Arya masih memilih untuk bohong. Lebih baik saya pulang.”, Dinda beranjak dari tempat duduknya menuju pintu apartemen.


“Din… saya keluar nongkrong, memang kenapa? Bohong, apanya?”


“Kalau pak Arya mau kembali dengan wanita itu, silahkan. Ceraikan saya.”, kata Dinda kembali menepis tangan Arya yang memegang lengannya.


“Din! Maksud kamu apa sih? Kamu ngomong ‘Cerai’? Kamu?”, Arya kehilangan kata - katanya dan mengacak - acak rambutnya.


“Pak Arya gak mau jujur sama saya. Sebelum menikah dan bahkan setelah menikah pun, Pak Arya pengen saya yang memutuskan hubungan aneh kita ini, kan? Oke, saya bodoh untuk berpikir bahwa ini adalah cara balas budi saya ke mama Inggit. Tapi saya salah. Saya justru akan menghancurkan perasaan keluarga Pak Arya lebih dalam dengan menerima perjodohan ini.”, ungkap Dinda tak lagi bisa menahan tangisnya.


“Kamu kenapa sih? Saya gak ngerti. Siapa yang minta kamu untuk bercerai dari saya?”, tanya Arya bingung.


“Itukan yang Pak Arya mau. Pak Arya gak perlu lagi sembunyi - sembunyi menemui perempuan itu dan tidur dengannya. Setelah kita bercerai, pak Arya bisa sepuasnya tidur dengan dia.”, suara Kirana bergetar hebat.

__ADS_1


“Dinda, jaga bicara kamu. Saya ini suami kamu. Kamu ngomong apa sih?”


“Saya ada disana sewaktu pak Arya masuk ke kamar wanita itu. Pak Arya menghabiskan malam dengan dia, kan?”, Dinda tak lagi bisa membendung tangisannya.


“Oh God.. ”, Arya memijat dahinya dan mengacak - acak rambutnya.


“Kamu duduk dulu. Saya bisa jelaskan.”, Arya akhirnya bisa menangkap gambaran besar dari pengakuan Dinda barusan.


“Mau jelasin apa? Mau jelasin kalau pak Arya memang sudah tidur dengannya dan minta maaf? Gak perlu.”, Dinda berniat membuka pintu apartemen dan keluar. Namun, Arya sudah lebih dulu menarik tangannya.


“Sakit…”, ujar Dinda merintih.


Tarikan tangan Arya begitu kuat sehingga membuat Dinda merintih kesakitan.


Arya menarik Dinda duduk kembali di kursinya.


“Saya tidak tidur dengan dia. Disana tidak hanya ada saya dan mantan istri saya, tapi juga teman kencannya. Jadi, semua yang ada di pikiran kamu itu tidak benar.”, kata Arya dengan tegas.


Arya memaksa Dinda duduk kembali di sofa. Arya berjinjit di bawahnya untuk menahan gadis itu.


“Kalau memang benar begitu. Kenapa mas Arya harus bohong? Saya berkali - kali tanya pak Arya dimana waktu itu, tapi pak Arya bohong.”


“Saya takut kamu salah paham.”


“Apa bedanya?”


“Din, sewaktu di Maldives, saat kita setuju untuk memberikan waktu masing - masing, saya tulus dengan itu. Saya memberikan waktu ke kamu dan kamu juga memberikan waktu untuk saya menyelesaikan masalah saya dengan mantan istri saya.”


“Dengan cara tidur bersamanya di hotel?”


“Din.. saya gak tidur sama dia. Oh god... harus berapa kali saya bilang ke kamu. Saya gak tidur sama dia. Saya gak tidur dengan siapapun kecuali istri sah saya. Setelah saya bercerai dari Sarahpun, saya gak pernah tidur dengan wanita manapun. Dan saat saya menikah dengan kamu juga begitu.”, tegas Arya setengah berteriak.


Dia frustasi karena Dinda terus menuduhnya tidur dengan Sarah.


Arya tahu, siapapun yang melihat dan mendengar hal ini pasti sudah mengira dia tidur dengan Sarah. Tapi, bukan seperti itu kejadiannya dan Arya bingung harus bagaimana menjelaskannya ke Dinda.


Arya dan Dinda diam sejenak. Mereka tenggelam dengan pikirannya masing - masing.


“Sepertinya kita tidak bisa melanjutkan pembicaraan ini. Besok kita bicara lagi. Kamu pasti capek. Istirahat dulu.”, Arya beranjak ke pintu dan menguncinya.


Kemudian dia pergi ke kamar utama dan berniat untuk membersihkan dirinya lalu tidur.


Dinda terdiam di sofa sambil menangis. Baginya, masalah seperti ini terlalu rumit untuknya yang baru berusia 23 tahun. Tiba - tiba dia merindukan rumah. Dia rindu bundanya dan Arga, adik laki - lakinya.


Dia ingin segera menghilang dari tempat ini dan menangis sejadi - jadinya di pelukan bundanya. Dia bahkan tak bisa menceritakan ini pada temannya. Dia juga tak ingin bercerita pada Inggit.

__ADS_1


__ADS_2