Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 118 Pandangan Ibas


__ADS_3

“Hai Din, lagi ngapain?”, tanya Ibas pada Dinda yang sedang duduk sendirian di taman.


Dinda pulang lebih cepat hari ini karena di kantornya ada kebijakan pulang lebih awal sekitar jam 3 atau 4 sore khusus di hari kamis dan berlaku sekali sebulan. Minggu ketiga adalah giliran Bryan, Dinda, dan Andra karena mereka tidak berada di line pekerjaan yang sama meski satu divisi.


Ibas yang baru pulang dari kongkow - kongkow bersama temannya heran melihat Dinda duduk sendiri di taman dan tertarik untuk menghampirinya.


“Hm?”, Dinda menoleh pada sumber suara yang menghentikan lamunannya.


“Kamu, lagi ngapain? Di taman sendirian, udah sore. Tar kesambet loh.”, kata Ibas sambil menyelipkan candaan di dalamnya.


“Masih jam 5. Mama udah pulang?”, tanya Dinda.


Saat dia pulang pukul 3.30 hari ini, Inggit dan Kuswan sedang tidak di rumah. Bi Rmi bilang mereka sedang ke rumah tante Indah melihat dan memeriksa sejauh mana persiapan mereka mengingat acara tinggal dua hari lagi.


“Kayanya belum. Di depan gak ada mobil lain selain punya mas Arya dan mba Andien.”


“Oiya, mobil kamu kemana?”, tanya Dinda.


Sudah beberapa hari ini Dinda tidak melihat ada mobil Ibas yang parkir di depan rumah.


“Disidak sama papa.”


“Hah? Disidak? Kenapa lagi kamu?”


“Ketahuan ngerokok. Hm.. malu - maluin banget.”


Dinda sontak langsung tertawa. Dia tertawa lepas karena menurutnya situasi ini sangat kocak.


“Kenapa pake ketawa segala sih? Lagian aku heran, perasaan mas Arya ngerokok, mabok, ke club, hampir tiap hari… Aahhh… maaf Din. Dulu kok itu, dulu.. Sebelum mas Arya menikah sama kamu.”, kata Ibas setelah sadar dia sudah membuka kotak pandora Arya.


Dinda tahu kalau sebelum menikah Arya memang merokok. Di kantor, sesekali Arya memang terlihat merokok di Cafe kantor atau di taman bersama dengan karyawan lain. Saat sudah menikahpun, Arya masih sesekali melakukannya.


Tapi untuk mabuk, jujur Dinda baru tahu saat sudah menikah. Itu juga karena kejadian tempo hari yang Dinda tak ingin mengingatnya lagi. Dia tidak tahu kalau sebelum ini Arya memang sering minum.


“Beneran Din. Sebelum nikah sama kamu. Asli. Setelah nikah sama kamu, aku gak pernah lihat mas Arya pulang malam dalam keadaan mabuk. Bahkan beberapa minggu ini, aku juga gak pernah lihat mas Arya merokok.”, kata Iba menjelaskan.


Dia merasa salah bicara dan perlu mengklarifikasinya pada Dinda.


“Aah.. by the way, kenapa jadi aku yang diinterogasi. Jadi, kamu ngapain disini sendirian? Bengong lagi. Kangen sama mas Arya, ya?”, tembak Ibas langsung to the point.


Dirinya kini juga ikut mengambil duduk di samping Dinda. Gadis itu tak memberikan responnya.

__ADS_1


“Udah.. jangan ditungguin seperti itu. Dia juga nanti pulang kok. Kaya dia ga pernah pulang aja. Besok, kan, pulangnya?”, tanya Ibas lagi.


“Sarah, aku ingin kembali lagi padamu. Baiklah, kita mulai lagi hubungan kita. Aku akan mengatur semuanya.”


Kali ini, bayangan pembicaraan yang dia dengar tadi pagi terlintas kembali dikepalanya. Dinda memang sudah menunggu - nunggu telepon dari Arya. Sayangnya, saat Arya menghubunginya, Dinda malah sedang berdiskusi dengan Delina tentang pekerjaan. Ya, jam kantor sudah dimulai saat Arya menghubunginya.


Dinda harus mencari tempat untuk bisa mengangkat telepon itu. Belum lagi, Delina tanpa sengaja melihat layar ponsel Dinda yang memang berada di dekat mereka. Tulisan ‘Mas ‘A’ ❤️ tentu saja menarik perhatian Delina.


“Din, ada yang telpon. Wah… siapa itu Mas ‘A’? Ada emoticon lovenya lagi? Pacar kamu, ya? Wahh pacarnya mas-mas, ya Din?”, kata Delina. 


Godaan Delina pada Dinda menarik perhatian Andra karena dia juga sedang berada di samping Suci yang tempat duduknya berada di dekat mereka. 


Dinda segera mengambil ponselnya dan pergi ke toilet untuk mengangkatnya. Pandangan Andra tertuju pada reaksi Dinda dan sudah barang tentu kesimpulan yang ada di kepala mereka adalah Dinda sedang menerima telepon dari pacarnya. 


“Halo? Halo? Mas Arya?” 


Sayangnya, saat Dinda menangkat telepon, tak ada jawaban Arya. Tapi dia malah mendengar kalimat itu secara tidak langsung dari Arya. 


“Sarah, aku ingin kembali lagi padamu. Baiklah, kita mulai lagi hubungan kita. Aku akan mengatur semuanya.”


Terkejut. Tentu, Dinda terkejut mendengarnya. Dia langsung refleks mematikan ponselnya karena tak ingin mendengar kalimat selanjutnya. 


Pertama, dia sudah mencoba tidak mengindahkan gosip yang beredar bahwa Arya sedang bersama Sarah di Bangkok. Kedua, dia tak menduga kalimat itu keluar saat Arya menghubunginya. Dan berbagai spekulasi muncul di kepala Dinda. Overthinking. Berbagai skenario muncul di kepalanya. 


‘Apa mas Arya salah pencet? Sehingga tanpa sengaja menghubunginya saat dia sedang bersama Sarah?’


‘Jadi mereka memang bersama? Kenapa’


‘Apa maksud kata - kata mas Arya?’ 


Pertanyaan - pertanyaan seperti ini mungkin sudah ratusan kali ia pikirkan dan terus muncul. Seharian dia tidak fokus dengan pekerjaannya. 


Di taman ini, dia juga masih memikirkan pertanyaan yang kurang lebih sama.


“Din? Kamu melamun? Bisa - bisanya melamun. Kita dari tadi ngobrol, loh.”, kata Ibas menjentikkan jarinya di hadapan wajah Dinda untuk menyadarkan lamunan gadis.


“Oh.. Eh? Iya.. ? Kamu ngomong apa?”, tanya Dinda begitu dia tersadar dari lamunannya.


“Wah.. beneran calon - calon kesambet nih. Udah ah masuk. Jam segini melamun, yang ada kamu bisa ditempel jin, Din.”, lanjut Ibas lagi memperingatkan.


“Kenapa sih? Ada masalah sama mas Arya?”

__ADS_1


Dinda tidak menjawab. Dan itu cukup menjadi jawaban bagi Ibas bahwa tebakannya benar.


“Mas Arya kenapa? Kalian baik - baik aja, kan?”


“Menurut kamu, apa mas Arya akan kembali pada Sarah?”, Entah keberanian darimana, Dinda malah menanyakan itu pada Ibas. Dinda bingung dia harus berbicara pada siapa? Bertanya pada siapa?


“Hah? Ngomong apa kamu? Ya.. ga mungkinlah. Mas Arya mana mungkin kembali pada mba Sarah. Kenapa kamu tiba - tiba bertanya seperti itu?”


Dinda tidak menjawab dan hanya menatap Ibas saja seolah ia memberitahukan yang menjadi pikirannya melalui tatapan matanya.


“Jangan bilang mba Sarah? Kamu ketemu mba Sarah? Dia bilang apa ke kamu?”, Ibas yang tadinya sudah berdiri, kembali duduk.


“Engga. Dia tidak menemui aku, kok. Aku juga belum pernah bertemu dengannya.”


“Terus?”


“Hm.. gak ada.. Tiba - tiba kepikiran itu aja.”


“Gak mungkin kamu tiba - tiba kepikiran itu disaat hubungan kamu dan mas Arya baik - baik aja. Setidaknya yang aku lihat beberapa waktu belakangan, plus kemarin waktu mas Arya berangkat. Kenapa? Mas Arya yang ngomong mau balik sama Sarah?”, tanya Ibas memfokuskan perhatiannya pada Dinda.


Tadinya, Ibas tidak menyadari bahwa raut wajah Dinda gelisah.


“Kenapa kamu bisa berpikir begitu?”, tanya Dinda pada Ibas. Klai ini dia tidak menghadapkan wajahnya pada Ibas.


“Din, lihat sini. Din?”, panggil Ibas untuk melihat ke arahnya.


“Mas Arya, bukan tipe cowo yang cium cewe di depan orang lain. Bahkan saat dia masih menikah dengan mba Sarahpun, dia tidak pernah menunjukkan itu. Tapi, beda saat dia sama kamu. Di pernikahannya dulu pun, dia gak pernah cium mba Sarah di depan kita. Ya,. kalo mba Sarah nyosor duluan, beberapa kali. Tapi gak pernah dari mas Arya duluan. Tapi, saat menikah dengan kamu, bahkan masih hari akad aja dia udah bikin Dito punya banyak bahan buat di foto, kan?”


“Dan ini aku bisa jamin. Mas Arya, ketemu Sarah itu adalah sebuah kesalahan. Ya.. walaupun dimata kamu aku masih bocah, tapi setidaknya aku bisa menilai itu. Dan mas Arya pernah bilang kok ke aku.”


“Mas Arya, walopun tampilan dan auranya gelap begitu, dia sayang banget sama keluarga. Mba Sarah, bikin dia jauh dari keluarga. Kamu tahu kan keluarga kita kompaknya kaya gimana. Tapi, kamu sebaliknya.”


“Orang berprinsip seperti mas Arya, ga mungkin milih untuk kembali pada Sarah. Sebuta apapun cinta dia dulu. Gak mungkin dia balikan sama Sarah, aku bisa jamin. Aku gak akan tanya lagi apa yang membuat kamu berpikir begitu. Tapi Din, kalau kamu dengar seperti itu dari mba Sarah, jangan percaya. Kalau bukan mas Arya yang ngomong LANGSUNG ke kamu, jangan percaya.”, lanjut Ibas.


“Satu lagi, emang mas Arya itu kadang brengseknya, dia suka bikin  orang bingung dengan tindakan dia. Tapi dia bukan tipikal cowo selingkuh kok, yang mesra sama istrinya, mesra juga sama cewe di luar sana. Kalau ‘amit-amit’ dia emang mau balikan sama Sarah, ga mungkin dia masih bersikap romantis ‘’iuhh’’ kaya kemaren. Asli, dia bikin mental aku breakdown. Bisa - bisanya shot film romantis depan rumah. Mana ada mama sama papa, lagi. Depan aku yang lagi jomblo pula. Hah..”, jelas Ibas. Bahkan dia sengaja menekankan pada kalimat terakhirnya.


Dia memang kesal dengan mas Arya yang tebar skinship di depan rumah saat keberangkatannya kemarin.


“Mana dia terang - terangan pula ngecengin aku.. Ahh… Dia itu memang ada jiwa - jiwa pamernya… “, Ibas terus berceloteh meluapkan kekesalannya pada Arya termasuk saat dia tak sengaja melihat Arya dan Dinda di kamar tempo hari.


“Udah ah masuk.”, ucap Dinda sambil berdiri dan berlalu dari taman menuju rumah.

__ADS_1


“Eh.. Din, kamu dengarin aku ga sih? Jadi kapan mau nonton horor lagi? Ga dibolehin mas Arya ya? Haha..”, kata Ibas menutup sore ini dengan tawanya yang pecah.


******


__ADS_2