
Seminggu setelah kejadian di hotel tempo hari, Dinda masih bersikap dingin pada Arya. Ia memilih untuk berbicara seperlunya. Ia juga akan bersikap biasa saja di depan orang tua Arya. Arya sudah mencoba bertanya beberapa kali pada Dinda, namun gadis itu hanya menjawab seolah tidak terjadi apa - apa.
“Pak Arya, Pak?”, Siska, sekretaris Arya sudah memanggilnya beberapa kali untuk mengingatkan perihal meeting sore ini. Namun Arya masih saja melamun dengan tatapan kosong.
“Pak?”, Akhirnya Siska memberanikan diri untuk menepuk bahu bosnya itu.
“Iya? Kenapa?”, Arya langsung terperanjat kaget dan masuk ke mode seriusnya.
“Saya cuma mau mengingatkan, Pak. Nanti sore, Pak Arya ada meeting bersama tim Finance. Ada yang perlu saya persiapkan, Pak?”, kata Siska.
“Kamu print performance divisi Business and Partners dan Digital and Development, sama expense yang dilaporkan tim finance tiga hari yang lalu, ya. Sepertinya kamu di cc di dalam emailnya.”, perintah Arya.
“Oh.. baik, Pak. Oiya, siang ini sekitar 15 menit lagi ada pelatihan aplikasi smart report dari tim DD (Digital and Development), Pak Arya mau ikut bergabung?”, kata Siska lagi.
Meeting akan dilaksanakan sekitar 15 menit lagi, namun Pak Arya masih belum bergerak. Siska hanya ingin memastikan apakah dia akan ikut atau tidak.
“Oh iya, saya ikut. Sebentar lagi saya naik. Kamu bisa panggilkan Dinda dari divisi DD?”. perintah Arya lagi.
“Aah.. sepertinya dia sudah bersiap ke atas, Pak. Berhubung meetingnya sekitar 15 menit lagi. Jadi, mungkin sedang mempersiapkan materinya.”
“Oke.. saya langsung ke atas saja kalau begitu.”
“Perlu saya pesankan kopi di bawah, Pak?”
“Gak perlu.”, Arya langsung beranjak dari kursinya dan bersiap menuju lantai 10.
Diperjalanan, Arya menerima pesan dari Inggit, mamanya. Sepertinya dia ingin mengajak Arya dan Dinda untuk makan malam diluar bersama dengan keluarga tante Indah.
Arya membalas pesan itu dan segera menekan tombol lantai 10 begitu sampai di dalam lift. Tidak butuh waktu lama, Arya sudah sampai di ruang meeting. Sudah tinggal 10 menit lagi, tetapi belum ada juga yang datang.
‘Mungkin masih terjebak meeting lain.’, begitu pikir Arya, karena dia juga tidak melihat beberapa bawahannya di meja mereka.
Arya membuka pintu ruang meeting. Perhatian Dinda yang sedang menyusun materi pelatihan di atas meja langsung teralihkan oleh kehadiran orang yang paling tidak ingin dia lihat beberapa hari ini.
“Selamat Siang, Pak.”, Dinda berusaha untuk profesional. Di kantor, mereka bukanlah suami istri, sehingga Dinda merasa wajib baginya untuk bersikap biasa saja.
“Materinya sudah siap? Berapa lama pelatihan kali ini?”, tanya Arya.
Dia juga bersikap sama dengan Dinda. Berusaha untuk menjaga profesionalitas di kantor. Sebenarnya ia ingin sekali berbicara sesuatu berhubung hanya mereka berdua di ruang meeting ini.
Namun, karena Dinda sudah memulai sikap formalnya, Arya mengurungkan niatnya. Dia hanya duduk di kursi paling depan sebelah kanan sambil membaca materi yang telah disiapkan oleh Dinda.
Tak lama ponsel Dinda pun berbunyi. Ternyata Inggit juga mengirimkan pesan ajakan makan malam itu pada Dinda. Saat membacanya, Dinda menoleh sedikit ke arah Arya yang masih serius membaca slide. Dinda menghela nafas dan menutup kembali telponnya.
Sebenarnya dia lelah terus bersikap dingin pada pria itu. Dia ingin meminta penjelasan, meski sepertinya baginya tak ada lagi yang perlu dijelaskan.
__ADS_1
“Halaman 9, maksudnya laporannya bisa diduplikat? Aksesnya tetap sama atau setting lagi dari awal?”, tanya Arya pada Dinda.
“Iya Pak, kalau sudah di duplikat. Aksesnya mengikuti yang sebelumnya. Tapi, masih bisa juga disetting ulang.”
“Ini sudah sesuai posisi masing - masing karyawan kan?”
“Iya Pak..”. Jawab Dinda lagi.
Arya terus bertanya pada Dinda perihal poin yang ingin dia klarifikasi dan Dinda menjawabnya dengan lugas. Selama lima menit, mereka saling sahut terkait project tersebut hingga satu per satu karyawan mulai berdatangan.
Erick juga datang sekitar 20 menit setelah pelatihan tersebut dimulai. Pelatihan berjalan lancar meskipun di tengah - tengah, Arya dan Erick harus keluar karena ada yang harus diselesaikan secara tiba - tiba.
*****
“Sebelum kita makan malam sama mama dan papa. Boleh saya tanya kamu kenapa? Seminggu ini kamu selalu bersikap dingin ke saya.”, Arya sudah melajukan mobilnya menuju restoran yang disebutkan Inggit tadi siang.
Begitu selesai meeting sore, Arya kembali ke kantor untuk menjemput Dinda di tempat biasa dia menunggu. Seminggu adalah waktu yang cukup menurut Arya untuk memberikan waktu pada Dinda. Sekarang, dia sudah tidak bisa menunggu lagi dan menuntut penjelasan atas sikap dingin gadis itu.
“...”, tapi Dinda masih belum mau menjawab.
“Oke, kita makan malam sama papa dan mama sekarang. Pulangnya, saya mau kamu ke apartemen sama saya. Kita bicarakan disana.”, perintah Arya.
“...”, Dinda lagi - lagi tidak menjawab dan hanya turun dari mobil.
Arya memejamkan matanya sebentar, menghela nafas, dan akhirnya turun dari mobil. Begitu turun, mereka langsung disambut oleh Inggit dan Kuswan yang ternyata juga baru datang diantar oleh Pak Cecep, supir mereka.
“Makasih ma. Engga, kok. Gapapa. Dinda juga laper.”, jawab Dinda tersenyum.
“Jadi, tante Indah sama om Surya mengajak kita makan di luar. Dia bawa Reza sama Fams. Kamu kan kemaren baru ketemu sama Fams aja, sedangkan abangnya belum. Makanya mama ajak Arya dan kamu makan bareng.”
“Hmm..”, Dinda hanya menjawab dengan anggukan.
“Si Reza ini sebentar lagi mau menikah. Ya.. tidak sampai sebulan lagi sudah lamaran.”
“Oooh.. Fams itu kan di bawah aku, ma. Kalau Reza ini? Aku takut salah titel nanti. Hehe.”, kata Dinda sambil tersenyum simpul.
“Oh dia lebih tua dari kamu. Ehm.. berapa tahun Arya, di bawah kamu?”, tanya Inggit pada Arya yang masih mengekor di belakang.
“Empat tahun, ma. Dia masih 30-an.”, jawab Arya dari belakang.
“Ih.. kamu udah tua Arya. Cepetan punya anak, ya. Dinda jangan lupa ya, baju kemaren dipake terus tiap malam.”
‘Tadi kan bahas Reza, kenapa tiba - tiba bahas itu lagi.’, komentar Dinda dalam hati.
“Nah, mama kurang tahu calonnya umur berapa. Nanti langsung kita tanya aja.”, kata Inggit yang dari kejauhan sudah bisa melihat Indah dan Surya. Mereka langsung bertemu sapa, cipika - cipiki dan duduk setelah dipersilahkan.
__ADS_1
“Oh.. aura kamu beda sekarang Arya.”, kata Surya saat menyapa Arya.
“Dinda juga semakin cantik aja ya, dari terakhir kita ketemu. Gimana sayang? Sudah ada tanda - tanda hamil?”
‘Pertanyaan keramat banget, selalu aja ditanyakan.’, bathin berteriak dalam hati.
“Kalo udah rezekinya pasti ada kok, Tante. Tenang aja.”, jawab Arya sambil memegang bahu Dinda sebentar sebelum duduk di sebelahnya.
“Beda banget, ya auranya kalau Dinda. Sama yang sebelumnya, mana pernah bisa makan bareng begini.”, kata Indah.
Dinda bingung harus menunjukkan ekspresi apa. Akhirnya dia hanya tersenyum simpul. Arya, dia seperti tidak menggubris ucapan tantenya itu.
“Reza mana om?”, tanya Arya.
“Nahiya, bintang utamanya mana nih? Gak kelihatan.”
“Nah itu dia..”, Reza terlihat keluar dari arah toilet.
“Halo tante… apa kabar?”, sambut Reza begitu sampai di meja mereka. Dia menyapa Inggit yang lebih dekat dengannya terlebih dahulu, lalu Kuswan, dan Arya. Setelahnya, dia menyapa seseorang yang belum pernah ia temui sebelumnya.
“Halo.. kamu pasti Dinda ya? Salam kenal, ya. Aduh jadi bingung panggil apa, soalnya mas Arya kan diatas aku. Apa perlu panggil mba, nih?”, kata Reza.
“Gapapa, panggil Dinda aja.”, kata Dinda tersenyum.
Mereka akhirnya menikmati hidangan malam itu dengan sesekali bersenda gurau. Meski Arya sudah menunjukkan wajah tak enaknya, Indah masih beberapa kali membahas Sarah.
“Ngapain di bahas, mba.”, kata Inggit berusaha menghentikan kakak iparnya ini.
“Ya.. biar Aryanya lebih menjaga Dinda, Inggit. Soalnya kan, wanita seperti Dinda itu sudah susah dicari jaman sekarang. Harus bersyukur loh, kamu Arya.”
“Iya tante.”, jawab Arya sambil sesekali memegang tangan Dinda untuk menunjukkan kemesraan mereka.
“Jadi, calon kamu umurnya berapa, Reza?”, tanya Kuswan.
“23 om.”
“Loh, sama dong sama Dinda. Bisa temenan nanti.”, kata Kuswan.
“Ohiyaa.. Benar om. Nanti aku juga kenalkan ke Dinda. Nanti om, tante, mas Arya, dan Dinda datang kan ke acara lamaran?”
“Loh iyaa, dong. Kamu boleh gak datang, tapi kami pasti datang.”, jawab Kuswan.
“Waduh, om masih dendam aja sama Reza. Reza si mau cancel om, tapi bagaimana, dapat modal nikahnya dari sana. Hahahaha.”, kata Reza bercanda.
Dia tidak hadir baik di acara lamaran, maupun pernikahan Arya, sehingga Kuswan terus saja menjahilinya.
__ADS_1
Acara makan malam itu selesai dengan sempurna. Seperti yang sudah diduga, Indah memang mengajak Kuswan dan keluarganya dinner untuk memberitahukan secara resmi perihal rencana pernikahan Reza dan meminta bantuan untuk ikut terlibat dalam pernikahan anak pertamanya itu. Tentu saja, Kuswan dan Inggit dengan senang hati membantu.
*****