
Pagi menjelang, Arya mengerjap - ngerjapkan matanya bangun. Ia merasa badannya mulai mendingan. Tapi pegal luar biasa menjalar di sekujur tubuhnya.
Arya mengedarkan pandangan ke segala arah dan mendapati kepala Dinda sudah berada di sampingnya dengan tangan yang menggenggam tangannya.
Arya baru saja ingin menyibak rambut yang nampak menutupi wajah Dinda tetapi gadis itu sudah terlanjur bangun. Dinda bangun dan duduk. Ia meletakkan tangannya di kening Arya dan mengangguk - angguk lalu tersenyum.
“Akhirnya turun juga panasnya.”, kata Dinda. Dia kemudian bangun dari tempat tidur, mengambil mangkok berisi kompresan menuju kamar mandi. Tak lama, suara shower terdengar yang menandakan gadis itu sudah memulai ritual paginya.
“Dindaa.. Arya.. buka pintunya sayang.”, Arya bangun dan membukakan pintu.
Rupanya Inggit sudah ada bersama Bi Rumi yang membawakan sarapan mereka langsung ke kamar. Bi Rumi menaruh sarapan itu di meja ruang tamu di dalam kamar Arya sementara Inggit memeriksa panas badan Arya.
“Demam kamu sudah turun? Gimana badan kamu, sudah mendingan?”, tanya Inggit.
“Ya.. yang seperti mama lihat.”, kata Arya dengan suara dan ekspresi yang sudah lebih baik dari tadi malam.
“Bener kan mama, kamu gak akan nyesel mama jodohkan dengan Dinda. Mama yakin semalaman dia sibuk mengecek kondisi kamu.”, kata Inggit.
“Asal kamu tahu, pagi dini hari dia bangunin mama untuk tanya tentang kamu. Apa yang harus dia lakukan dan pastikan. Apa harus pastikan kamu makan, suhu tubuh harus berapa, AC harus dinyalakan atau engga. Ga ada yang setulus dia. Mama senang, mama gak salah pilih menantu.”, kata Inggit.
Inggit memang sangat kagum dengan sikap Dinda. Dia tahu Dinda anak yang tidak macam - macam. Setidaknya tidak seperti gadis - gadis dulu yang pernah dekat dengan Arya termasuk mantan istrinya. Tapi Inggit sama sekali tidak mengira, Dinda setulus ini.
Arya kembali memikirkan momen tadi malam. Sesaat dia mengakui bahwa perkataan mamanya benar. Tapi Arya hanya diam dan memilih untuk tidak menanggapi perkataan mamanya.
Inggit tak berlama - lama. Ia pamit keluar untuk sarapan bersama yang lain di bawah. Ia memerintahkan Arya untuk mengambil cuti sakit hari ini. Istirahat total. Meski sempat uring - uringan. Arya menyetujui. Toh, dia bisa tetap lanjut di ruang kerjanya secara virtual.
30 menit kemudian, Dinda keluar dari kamar mandi lengkap dengan handuk kimononya. Dia sudah mengeringkan rambutnya yang basah tetapi belum sempurna.
Dinda, gadis ini memang sangat konservatif terhadap hubungan pria dan wanita. Setidaknya itu yang Arya rasakan saat beberapa kali kontak fisik dengannya. Beberapa kali Arya memperhatikan Dinda di kantor. Meski rekan sesama timnya kebanyakan pria, tetapi dia menjaga jarak saat bersenda gurau atau bekerja dengan mereka.
__ADS_1
Dinda juga tidak dengan mudah membiarkan Arya menyentuhnya meski status mereka sudah sebagai suami dan istri. Dengar dari mamanya, Dinda juga belum pernah pacaran sampai mereka menikah.
Tapi percayalah, Dinda sama sekali tidak mengerti bagaimana menempatkan penampilannya di depan Arya. Seperti saat ini.
Handuk kimono nya tidak dipasang erat menyebabkan bagian dadanya sedikit terlihat, terutama karena tinggi badannya yang berada di bawah Arya. Ia juga tidak memperhatikan handuk kimono yang terlipat di bagian kaki sehingga memperlihatkan pahanya.
Kalau bukan karena sakit, Arya mungkin sudah ******* habis gadis di hadapannya ini. Inilah yang membuat Arya beberapa kali selalu berakhir dengan mencium Dinda. Bahkan beberapa kali bukan hanya ciuman biasa.
‘Apa dia di luar juga begini? Insensible, banget!’, ujar Arya dalam hati.
Dia secara tidak sadar sudah tergoda dengan gadis ini. Entah dari mana dan sejak kapan, tubuh Arya sudah tergoda dengan Dinda. Disaat pikirannya masih terus menolak, tubuhnya sudah bertindak lebih dulu.
Arya hanya bisa geleng - geleng kepala dan lanjut duduk untuk memulai sarapannya.
“Wah… sarapannya sudah ada.. Wah bubur ayam. Aku suka..”, kata Dinda girang.
Saking girangnya, dia lupa bahwa pemilik asli kamar ini sudah duduk rapi di sofa. Dinda langsung merapikan kimononya.
Belakangan ini, dia sudah mulai bisa mengeluarkan isi hatinya terhadap hal yang dia sukai di depan Arya.
“Saya gak nanya makanan kesukaan kamu. Duduk dan habiskan sarapannya.”, balas Arya tegas.
‘Sepertinya pak Arya sudah sembuh total.’, Dinda tersenyum dan segera duduk di sofa berseberangan dengan Arya.
“Pak Arya hari ini ke kantor?”, setelah lima menit tanpa suara, Dinda memberanikan diri bertanya. Aneh rasanya makan berdua dalam keheningan. Biasanya mereka selalu makan di meja makan bawah.
Ada Inggit, Kuswan, dan Bi Rumi yang berseliweran. Ada Ibas yang rame dan mba Andin yang sibuk dengan kedua puteranya.
“Saya online dari rumah saja. Kamu minta antar pak Cecep.”, balas Arya singkat di sela - sela suapan bubur nya.
__ADS_1
“Gapapa Pak. Saya naik ojol aja. Lebih cepat.”, jawab Dinda yang tidak di balas lagi oleh Arya.
“Bi Rumi hebat, ya. Beliau bisa masak semua menu tradisional. Rujak, Pempek, Tahu Gimbal, Bubur Ayam, Soto, aku berasa makan di restoran setiap hari.”, ungkap Dinda. Tanpa sadar dia sudah berceloteh panjang.
“Pak Arya, saya boleh bertanya?”, kata Dinda memberanikan diri.
“Ngomong aja. Dari tadi kamu ga berhenti ngomong, kan.”, balas Arya
“Di kantor lagi ribet, ya? Sampai Pak Arya harus lembur kaya tadi malam?”, tanya Dinda.
“Emang kantor gak pernah gak ribet? Selalu ribet, kan?”, jawab Arya dengan sedikit nada galak.
“Tapi saya gak pernah lihat pak Erick sampai lembur tengah malam.”, ungkap Dinda.
“Tahu apa kamu? Jam 6 sudah pulang. Lagian, gaji saya sama Erick memang sama?”, komentar Arya.
“Hmm.. iya juga sih. Pak Arya udah lama di kantor yang ini?”, Dinda mengangguk.
“Kamu lagi interview saya? Udah sana habiskan makanannya dan cepat berangkat ke kantor.”, ucap Arya tegas.
Dinda hanya bisa menunjukkan wajah cemberut. Dinda ingin sekali bisa mengobrol santai dengan Arya. Dia ingin mencoba mengetahui lebih dalam tentang pria itu.
Hubungan ini tidak bisa mengambang tanpa tujuan begitu saja. Sampai sekarang, sikap Pak Arya masih abu - abu. Dinda tidak tahu apakah Arya serius dengan pernikahan ini atau tidak.
Akhirnya pagi itu dilewatkan dengan sarapan bersama di kamar mereka. Sejam kemudian Dinda bergerak ke kantor dengan diantar pak Cecep. Dinda awalnya bersikeras ingin menggunakan ojek online tetapi Inggit memaksa pak Cecep saja yang mengantar.
Berkat hal itu, Dinda bisa menambah jam tidurnya. Ia menghabiskan sepanjang perjalanan dengan tidur di dalam mobil, hal yang selama ini sekuat tenaga ia tahan saat berangkat bersama Arya.
Disisi lain, Arya hanya bisa minum obat dan istirahat sebentar sebelum masuk ruang kerja di kamarnya.
__ADS_1
****