
Suasana pagi di kantor sedikit berbeda dari biasanya. Rutinitas yang padat dan wajah - wajah serius minggu ini berganti dengan wajah - wajah antusias para pekerja budak korporat. Tidak terkecuali divisi Business dan Partners yang dikenal paling sibuk, paling jutek, paling serius, dan paling hectic.
Pagi - pagi mereka sudah bergosip setelah menerima email dari HRD tentang rutinitas tahunan kantor, ‘Team Building’. Berbeda dari tahun sebelumnya, Business dan Partners yang dibawahi oleh Arya akan mengadakan team Building bersama dengan tim Digital dan Development. Total mereka hampir mencapai 70 orang. Ada sekitar 22 tim Digital and Development termasuk intern dan 58 tim Business dan Partners yang terbagi dalam 2 sub divisi.
“Wah.. gak menyangka sama sekali kalau tim building kita kali ini akan ke Lombok. Kirain akan ke luar negeri.”, sahut Bryan lesu.
“Lombok bagus tahu yan. Kamu sih keseringan liburan ke Bali dan Lombok. Tapi, tempat wisata kaya Bali dan Lombok itu mau didatangi berkali - kali juga seperti baru pertama kali. Setuju gak? Siska ikut nimbrung dalam pembicaraan tim DD yang saat itu sedang bercengkrama di dekat pantry.
Saat itu masih sekitar pukul 7.30 pagi. Bryan memang terkenal selalu datang pagi karena dia menghindari kemacetan. Sedangkan Siska memang selalu datang pagi untuk mempersiapkan berbagai hal yang diperlukan oleh bosnya, Arya. Sebagai sekretaris, Siska harus memastikan semua jadwal dan kebutuhan Arya sudah ada di tempatnya sebelum pria itu datang.
Siska sudah 4 tahun menjadi sekretaris Arya. Sebelum diangkat menjadi Head of Business and Partners, Arya bekerja di perusahaan lain dan pertama kali bergabung,
Dulu, Arya hanya membawahi 3 tim Business and Partners saja. Namun, kini ia membawahi hampir seluruhnya bahkan menjadi Head sementara tim Digital and Development. Hanya dalam waktu singkat, karir Arya melejit begitu tajam.
“Tapi enak gak sih, jadi makin rame Tim Buildingnya. Sekarang tim Business and Partners bisa jalan bareng Tim DD.”, kata Siska.
“Ga salah kamu? Sejak kapan tim BP dan DD sedekat itu.” kata Bryan mengeluarkan unek - uneknya.
Tim BP (Business and Partners) adalah tim paling elit di kantornya. Merekalah yang memegang banyak proyek dengan klien. Ibarat manusia, tim BP adalah jantung perusahaan. Sedangkan tim DD adalah divisi baru yang mungkin belum genap 2 tahun. Sebelumnya tim DD hanya seperti tim IT biasa, tetapi karena perkembangan era digital yang semakin pesat, maka tim ini dipecah.
Tim DD bertugas untuk hal - hal yang berbau research Digital baik Internal maupun External. Sehingga, keterlibatannya masih sangat minim di kantor.
“Suci sudah datang belum?”, tanya Siska.
“Belum lihat.”
“Sepertinya dia lebih santai di DD, tidak seperti saat di BP. Kerjanya meeting terus.”, sahut Siska sambil berlalu meninggalkan Bryan di pantry.
Ponsel Siska berbunyi.
“Halo, pak Arya.”, jawab Siska.
“Kamu tolong siapkan materi meeting saya jam 2 nanti di meja sekarang, ya.”, perintah Arya to the point.
“Baik. Pak.”, Siska langsung bergegas ke mejanya. Meski sudah 3 tahun membersamai pak Arya, tetapi Siska tidak pernah santai menghadapi bos nya itu. Aura Arya terlalu kuat dan bisa menaklukkan siapa saja. Setiap karyawan yang dipanggil ke ruangannya saja selalu panas dingin.
Sementara itu di mobil.
“Yakin kamu gak mau cuti dulu?”, kata Arya pada Dinda yang mulai hari ini sudah menaiki mobilnya lagi. Terima kasih pada berbagai masalah yang muncul, Arya bahkan lupa kapan terakhir kali Dinda duduk di mobilnya.
Dinda hanya menggeleng. Arya meletakkan telapak tangannya di kening Dinda.
“Badan kamu agak panas loh Din?”
“Gapapa, mungkin karena pengaruh AC aja. Kemarin saya sudah bolos kantor tanpa pemberitahuan. Saya takut pak Erick marah.”, jelas Dinda. Meskipun Erick adalah orang yang santai dan supel. Tetapi, Dinda tetap merasa tidak enak. Seharian dia tidak memberi kabar sama sekali.
“Kalau kamu rasa tidak enak badan, kamu hubungi saya, ya.”, kata Arya yang dibalas anggukan olehnya.
Seperti biasa, Dinda turun di sebuah parkiran kantor, beberapa blok dari kantor mereka. Selanjutnya, Arya akan meneruskan perjalanan menggunakan mobil dan Dinda berjalan kaki beberapa ratus meter agar mereka tidak terlihat bersama oleh orang kantor.
__ADS_1
“Morning, Din. Kemana kamu kemarin?”, sapa Delina pada Dinda di jalan lift bawah. Mereka masuk berbarengan.
“Sakit mba. Saya gak sempat info pak Erick. Gimana ya, pak Erick tanya saya ga mba?”
“Erick sih nggak, soalnya dia sibuk meeting seharian. Tapi Rini, SPV kamu yang tanya.”
“Oh..duh mba Rini marah ga, ya?”
“Marah sih nggak, bingung aja karena kamu ga masuk tanpa kabar. Ntar, kamu langsung bilang ke dia aja kalo kamu kemarin sakit dan gak sempat info. Yakin, sudah sembuh?”
Dinda mengangguk.
“Masih lesu begitu, seharusnya kamu istirahat lagi aja.”
“Hm.. gapapa mba. Udah baikan kok.”, balas Dinda.
Begitu sampai ke area divisinya, Dinda langsung menghadap Rini yang memang sudah sampai sejak pagi. Rini adalah SPV yang baik dan santai. Sehari - hari di kantor, dia tidak terlihat seperti bos atau teman.
Tapi, kalau ada yang berbuat salah, dia tidak akan segan juga untuk memberikan peringatan. Termasuk Dinda saat ini. Rini menjelaskan bahwa meskipun dia sakit, seharusnya ada seseorang di rumahnya yang berinisiatif memberitahukan. Rini memaklumi dan melewatkan kejadian kali ini karena Dinda masih intern. Tetapi selanjutnya, dia berharap Dinda bisa lebih disiplin.
“Hai Din, abis diomelin Rini, ya?”, tak tahu dari mana, Bryan sudah ada saja di sampingnya saat Dinda melamun di pantry. Tadinya ia ingin mengambil minum, tetapi dia malah bengong.
Dinda hanya tersenyum simpul.
“Kamu lesu banget, kenapa? Mau ngopi di bawah dulu? Masih ada promo loh 30% off sampai minggu depan.”, ajak Bryan.
“Enggak dulu, Bry. Em.. yang lain kemana. Aku tidak melihat mba Suci, Andra, dan mas Azis.”, tanya Dinda. Ya. area divisinya sangat sepi. Beberapa tim tidak ada di tempatnya.
“Kamu kemarin kemana Din? Dicariin, loh”, sahut Andra begitu tiba di kantor.
“Siapa?”, tanya Dinda.
“Dicariin pak Arya.”, jawab Andra.
“Bercanda.”, jawab Dinda spontan.
“Ih beneran. Hayolohhh…bolos ga bilang - bilang.”, kata Andra bercanda.
“Ga mungkin. Erick aja ga nanyain aku, apalagi pak Arya.”, kata Dinda.
Tak lama, Arya bersama beberapa anggota timnya melewati pantry. Sepertinya menuju ruang meeting. Dua orang yang ada di pantry langsung terdiam beku seperti patung. Seolah - olah mereka habis melihat hantu.
“Wahh… kenapa dia tiba - tiba lewat. Bikin jantungku mau copot aja.”, sahut Andra.
Meski dia sudah lama bekerja disini, tetapi dia tetap merasa deg-deg-an kalau harus berhadapan dengan orang bernama Arya. Dulu, Andra hanya mendengar desas desus betapa killernya kepala divisi satu itu. Tapi kini, sejak Arya mengambil alih kepemimpinan divisinya juga, Andra bisa melihat langsung dan membuktikan di ruang meeting bahwa desas desus itu adalah fakta.
Melihat orang lain dimarahi saja bisa membuatnya takut. Apalagi jika dia yang dimarahi.
“Hampir saja kamu, Ndra.”, kata Bryan tertawa.
__ADS_1
“Halah, kamu juga tadi membeku, kan?”, sahut Andra.
“Kamu gak deg-deg-an Din waktu dipanggil ke ruangannya?”, tanya Andra pada Dinda.
“Hm..deg-deg-an sih. Tapi…”
“Kamu sama aja kaya Siska, tertipu wajah tampan iblis.”, sahut Andra.
“Orangnya tuh..”, kata Bryan memberikan kode seolah Arya ada disana di dekat pintu. Andra berada di posisi membalik badan sehingga dia tidak tahu.
Dia langsung membeku lagi yang dibalas oleh senyuman Dinda. Melihat Dinda senyum, Andra meragukan Bryan dan memberanikan diri melihat ke belakang.
“Wah… brengsek kamu Bryan. Awas kamu, kapan - kapan, aku kerjain kamu.”, Andra merasa tenang begitu melihat tidak ada orang di belakangnya. Bryan hanya bercanda.
*****
“Pak Arya, di bawah ada Cafe baru. Sepertinya kita belum pernah meeting disana. Mungkin…”, Siska sedang memberikan saran pada Arya tentang tempat meeting yang lebih casual. Sekali sebulan, mereka memang mengadakan meeting di tempat yang lebih santai.
“Mulai hari ini, saya akan lebih sering meeting di kantor. Selanjutnya, kamu bisa pesankan saja kopinya untuk tim dan dibagikan.”, kata Arya dengan sorot mata yang membuat Siska tidak nyaman.
‘Mau berapa tahun pun kerja disini, ga akan kuat dengan aura gelap, Pak Arya. Serem.’, kata Siska dalam hati.
Mereka baru saja selesai meeting selama dua jam membahas pembagian kerja untuk proyek yang baru dia menangkan di Singapura kemarin. Arya menyerahkan sepenuhnya pada tim untuk memberikan pengalaman pada mereka. Arya memilih anggota yang baru join tidak lebih dari 1 tahun agar mereka bisa belajar.
Di ruang meeting sudah tidak ada siapa - siapa lagi. Namun, karena meeting berikutnya hanya berjarak 1 jam saja, Arya memilih untuk tetap di ruang meeting.
Ponsel Arya bergetar, ada beberapa pesan WhatsApp yang masuk dan belum di balasnya. Salah satu pesan yang masuk adalah dari nomor yang tidak dikenal (kemungkinan Dimas) dan Sarah.
Sudah sejak kemarin, Arya membiarkan pesan itu di ponselnya tanpa membuka apalagi membacanya. Tertulis angka 10 pada baris nama Sarah, yang berarti wanita itu sudah mengirimkan 10 pesan padanya.
Arya melihatnya sebentar dan meletakkan kembali ponselnya dengan kasar. Sorot matanya tajam memperlihatkan pelipisnya yang menegang.
‘Berapa kalipun aku pikir, aku tak pernah menyangka keduanya bisa berbuat sejauh ini. Jika dia hamil, berarti dia sudah punya anak. Lantas, dimana anaknya? Mengapa dia mengajakku kembali saat dia sudah memiliki anak. Tidak, aku sudah tidak peduli.’
4 tahun yang lalu…
“Sayang, kamu lembur lagi?”, tanya Sarah pada Arya melalui sambungan telepon. Pria itu sudah dua hari tidak pulang ke apartemen dan selalu saja beralasan sibuk di kantor.
“Hm.. malam ini aku akan pulang.”, jawab Arya singkat.
“Kamu berubah.”, kata Sarah.
“Sar, jangan mulai lagi. Aku hanya sedang banyak kerjaan. Sampai di rumah, kita ngobrol, ya.”
“Apakabar liburan kita?”, tanya wanita itu lagi.
“Tanggal berapa?”
“Kamu bahkan tidak ingat padahal aku sudah katakan berkali - kali.
__ADS_1
“Come on. There are a lot of things, I need to remember at this time.”
“Sudahlah. Kamu juga tidak akan ingat kapan anniversary kita. I hope too much. Kerja saja, gak usah pulang.”, Sarah menutup ponselnya.