Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 107 Apartemen Arya


__ADS_3

“Mas Arya kita mau kemana?”, Dinda melihat Arya tidak mengambil jalan biasanya. Arya justru memutar ke arah lain.


Dinda mencoba bertanya beberapa kali tetapi Arya hanya diam. Matanya tajam menjurus ke depan dan fokus menyetir. Bahkan saat ada lampu merahpun, Arya tidak menoleh sama sekali ke arah Dinda dan hanya melihat ke luar jendela sebelah kanannya saja.


Menyerah. Dinda hanya bisa diam dan mengikuti Arya. Dia masih tidak mengetahui apa kesalahan yang sudah dia buat. Jauh rasanya pikiran bahwa Arya cemburu melihat dia bersama Dimas karena hingga pagi ini pun Arya tak memberikannya jawaban yang membuat hatinya tenang.


Rupanya, Arya melajukan mobilnya ke arah apartemen. Selalu saja, setiap mereka ada masalah, Arya akan membawanya ke apartemennya.


‘Kali ini apa yang dia inginkan?’, tanya Dinda bingung.


Arya memarkirkan mobilnya di tempat biasa. Saat mobil sudah berhenti sempurna. Arya menghadap ke belakang. Tadinya Dinda kira Arya ingin mulai berbicara dengannya. Tapi gadis itu salah, Arya menoleh ke belakang untuk mengambil tas laptopnya.


Kemudian dia turun dan membanting mobil keras sampai - sampai Dinda tersentak kaget. Arya menunggu Dinda turun dari mobilnya tanpa mengatakan apapun, bahkan menolehpun tidak. Saat Dinda sudah turun dari mobil, Arya mengunci mobil dan lanjut berjalan ke arah lift, masih membisu.


Dinda hanya bisa mengikuti arah langkah Arya tanpa mengatakan apapun. Dia takut. Dinda hanya bisa melirik ke arah Arya. Tidak ada orang lain disana, bahkan di dalam lift pun. Begitu lift terbuka, Arya langsung naik diikuti dengan langkah kaki Dinda.


Arya memasukkan password apartemen membuka pintu dan melihat ke arah Dinda agar gadis itu masuk. Tatapannya masih tajam. Dinda buru - buru masuk. Arya mengikutinya. Ia membanting pintu sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam melewati Dinda yang masih terkejut dengan sikap pria itu.


'Dia kenapa sih? Seharusnya aku yang marah disini. Dia menyeretku begitu saja dengan kasar tanpa mengatakan apapun. Kalaupu. aku salah, seharusnya di mengatakannya.', ujar Dinda dalam hati.


Arya melempar tasnya ke kursi kerjanya. Dia berjalan ke arah kulkas, mengambil minum, dan menutupnya dengan kasar. Semua pergerakan yang dia lakukan meninggalkan suara yang keras. Suara kulkas di tutup dengan kasar, gelas diletakkan diatas meja dengan kuat sampai Dinda takut gelas itu akan pecah.


Mulut Dinda terkunci. Dia tidak terbiasa dengan sikapnya yang seperti ini. Awal menikah, Arya memang dingin. Tapi, tidak sedingin ini. Dia ingin sekali menghampiri pria yang baru saja masuk ke kamar itu dan bertanya ada apa dengannya. Tapi Dinda tak sanggup. Dia hanya bisa mengedarkan pandangan ke seluruh arah dengan tatapan kosong.


‘Mas Arya kenapa sih?’, lirih Dinda dalam hati.


Kali ini, dia sudah tidak bisa menahan diri. Air mata turun tanpa ia sadari. Dinda langsung menghapusnya cepat. Dia tak ingin Arya melihatnya.


Lama dia terdiam di sofa ruang tamu sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Kebetulan, Arya sudah selesai mandi. Dia sudah mengenakan kaus dan piyamanya. Setelah itu, dia membanting pintu lemari dan berlalu dari kamar melewati Dinda yang terdiam begitu saja.


Tercekat. Mulut Dinda yang tadi sudah ingin bertanya malah tercekat. Dia tak sanggup berbicara melihat ekspresi pria itu yang masih sangat marah. Dia bisa melihat Arya bergerak menuju meja kerjanya, membuka laptop, dan fokus pada apa yang ada di hadapannya seolah Dinda tidak ada disana.


‘Kenapa dia harus menyeretku kesini kalau dia sendiri mengacuhkan aku begini.’, teriak Dinda dalam hati.


Akhirnya Dinda memutuskan untuk mandi dan mencoba berbicara dengan Arya setelahnya. Dinda berharap kali ini bibirnya tidak lagi tercekat dan bisa mendapatkan penjelasan atas perlakuan pria itu.


******


“Ada apa denganmu? Wajahmu lusuh sekali?”, tanya Sarah yang sudah menenggak satu gelas koktail di tangannya.


“Arya, aku rasa dia tidak akan pernah kembali padamu lagi.”, perkataan Dimas yang tiba - tiba membuat Sarah terkejut dan menoleh padanya mencari penjelasan.


“Apa maksudmu?”


“Mata pria itu, dia seperti ingin menghabisiku saat itu juga.”, kata Dimas membuat Sarah semakin bingung.

__ADS_1


“Apa maksudmu? Kalau bicara yang jelas.”


“Apa yang dilakukan Arya saat dia tahu kita berselingkuh?”, tanya Dimas tiba - tiba.


“Hm? Kenapa kamu malah membahas itu?”


“Kamu bilang, dia tidak mengatakan apapun kan? Dia terus menjalankan aktivitasnya seolah tidak terjadi apa - apa. Kamu bilang dia tidak marah atau berkata apapun. Dia bahkan tidak menemuiku, menghajarku, atau memberikan peringatan padaku. Perkataan cerai juga bukan keluar dari mulut Arya kan?”, kata Dimas.


“Hm. Aku yang memintanya bercerai karena aku takut dia tahu aku mengandung anakmu. Sialnya, pada akhirnya dia juga mengetahuinya dan membuatku semakin sulit untuk kembali padanya.”, ucap Sarah kesal.


‘Tapi tadi, mata Arya benar - benar sangat marah. Apa dia semarah itu hanya karena aku berbicara dengan Dinda? Apa pria itu memang sudah benar - benar menghapus Sarah dan mengisi Dinda di hatinya. Aku bahkan tak bisa berbicara apapun saat menghadapinya tadi.’, kata Dimas dalam hati.


“Jadi apa maksudmu? Kamu bertemu dengan Arya lagi?”, tanya Sarah.


“Bukan apa - apa. Aku pulang.”, ujar Dimas mengambil jaketnya yang tergantung di kursi dan pergi begitu saja meninggalkan Sarah di bar.


"Heh, kamu sudah mengatakan hal yang mengerikan tadi, lalu pergi begitu saja? Dimas! Dim!", Sarah memanggilnya, namun Dimas tak menghiraukannya.


Dimas mengeluarkan ponselnya begitu sampai di dalam mobil dan mencari nomor Dinda. Dia ingin memeriksa keadaan gadis itu. Dia berharap Arya tidak melakukan apapun padanya.


Beberapa kali Dimas menelepon, tetapi tidak ada yang mengangkatnya.


******


Dia tidak membuka laptop untuk melanjutkan pekerjaannya. Dia bahkan tidak menghidupkannya. Dia hanya membukanya agar Dinda melihat dia sedang bekerja. Bagaimana Arya bisa bekerja jika kepalanya dipenuhi oleh bayangan tawa Dimas dan Dinda di parkiran tadi. Foto yang dikirim oleh nomor yang tidak dikenal itu juga mengitari kepalanya dan membuat hatinya semakin panas.


Tak lama terdengar dering telepon dari meja di sofa. Rupanya Dinda tidak memasukkan ponselnya ke dalam tas dan meninggalkannya di atas meja. Arya menghampiri ponsel itu dan melihat nama ‘Dimas’ tertera disana.


“Brengsek.”, itu adalah kata pertama yang keluar dari mulut Arya. Dia tidak mengangkat ponsel itu dan hanya menatapnya marah.


"Aku jelas akan membuat perhitungan dengan laki - laki ini. Arghhh", Arya meringis frustasi.


Arya bergerak ke kamar dan kebetulan sekali Dinda baru saja selesai mandi.


“Sudah sejauh apa hubungan kamu dengan Dimas, hah?”, tanya Arya dengan nada menghakimi.


“Maksud mas Arya apa? Hubungan apa? Aku tidak punya hubungan apa - apa.”


“Lalu kenapa dia menghubungimu sampai sebanyak ini. Masih bilang tidak ada hubungan apa - apa? Pagi ini bahkan kamu bertanya padaku tentangnya.”, kata Arya dengan nada yang penuh penekanan. Dia bahkan melempar ponsel Dinda ke atas kasur.


“Aku hanya bertanya bagaimana jika …. Ah sudahlah. Aku tidak mengerti kenapa aku harus menjawab semua pertanyaan mas Arya, sementara mas tidak menjawab pertanyaanku sama sekali.”


“Kenapa? Apa peduli mas Arya kalau aku mengobrol dengan Dimas? Toh, mas Arya gak punya perasaan apa - apa ke aku, kan?. Sikap mas Arya dari tadi sampai sekarang, seolah - olah mas Arya cemburu. Berhenti membuat aku bingung dan berharap banyak.”, teriak Dinda namun nadanya lirih.


Entah keberanian dari mana. Setengah jam yang lalu dia masih takut berbicara bahkan mulutnya terkatup. Tapi sekarang dia mengatakan apapun yang dia inginkan.

__ADS_1


“Aku suami kamu.”, teriak Arya.


“Iya. Suami yang tidak pernah bisa melupakan mantannya.”, kali ini hati Dinda bergetar hebat saat mengatakannya. Jauh di dalam hati dia tak ingin mengatakannya dan memperjelas posisinya dalam hubungan ini.


“Heh… Din?”, kata Arya dengan tatapan tidak percaya pada apa yang dia dengar dari mulut Dinda.


“Iya kan?. Aku bodoh selama ini sudah menyerahkan semuanya ke mas Arya saat di dalam hati mas Arya cuma ada Sarah, Sarah, dan Sarah. Seharusnya aku mendengar ucapan mas Arya waktu itu untuk membatalkan pernikahan ini. Aku salah. Aku salah. Seharusnya aku tidak keras kepala dan berharap bisa menggantikan posisi Sarah di hati mas Arya.”


“Aku benar - benar tidak mengerti. Kenapa mas Arya memberikan perasaan hangat kepadaku. Kenapa mas Arya menciumku dengan lembut. Kenapa mas Arya memberikan perlakuan - perlakuan yang membuat aku berharap sementara di hati mas Arya bahkan tidak bisa melupakan perempuan itu.”


“Kenapa mas Arya menyeretku kesini. Marah dan bersikap dingin seolah aku sudah melakukan kejahatan dengan bertemu dan berbicara dengan Dimas meski saat itu dia hanya sedang memberikan dan menjelaskan tentang teh. Kenapa mas Arya bereaksi berlebihan, membuatku berpikir dan berharap lebih meski nyatanya tidak.”


Seolah tanpa titik dan koma, Dinda terus meracau mengeluarkan isi hatinya.


Arya menatap Dinda dengan tatapan tidak percaya. Kemudian, tiba - tiba, ponsel Dinda kembali berbunyi. Arya melihat ke arah ponsel dan mendapati nama Dimas disana. Pria itu masih mencoba menghubungi Dinda.


Bayangan wajah Dinda pagi ini saat melihat nama Sarah sedang memanggil di ponselnya kembali terngiang. Situasinya persis seperti saat ini dia melihat ada nama Dimas di ponsel Dinda. Kesal, Marah, dan semua rasa yang membuat dadanya sesak dan tidak nyaman muncul.


Arya kembali mengarahkan tatapannya ke wajah Dinda. Dia bisa melihat bulir air mata turun dari pelupuk gadis itu.


Sebelum Arya menyadarinya, pria itu sudah mengeliminasi jarak antara dirinya dan istrinya. Tubuhnya bergerak lebih dulu mendaratkan ciuman dibibir Dinda yang sontak langsung membuat gadis itu kaget.


Tidak berhenti disitu saja, ciuman itu bergerak semakin dalam dan semakin dalam lagi. Bahkan, bibir Arya sudah menyesap bagian yang lain.


“Mas Arya… lepasin.. Mas Arya apa - apaan.. Mas… Mas Arya..”, Dinda berusaha mendorong Arya sekuat tenaga, tapi tenaga pria itu tentu saja lebih kuat.


Berkali - kali Dinda memukul bagian tubuh yang bisa dia pukul. Dinda berusaha mendorong Arya beberapa kali namun gagal hingga akhirnya pria itu yang merenggangkan pegangannya.


“Hah hah hah..”, Dinda melayangkan tatapan marah ke Arya.


Alih - alih menghentikan aksinya, Arya justru kembali melayangkan ciumannya bahkan mengangkat gadis itu ke atas ranjang dan kembali menghujaninya dengan ciuman. Arya berhenti saat ia merasakan ponsel Dinda kembali berdering.


Arya mendecih. Kali ini, Arya mengambil ponsel itu dan menekan tombol ‘Terima’ bahkan mengaktifkan mode speaker sebelum menaruhnya diatas nakas.


“Halo, Din?”, kata Dimas dari seberang telepon.


Arya kembali melancarkan aksinya dengan mencium Dinda. Dia juga mendaratkan ciuman lain di tengkuk, leher, dan bagian lain tubuh istrinya. Tak segan, Arya juga membuat beberapa kissmark yang tentu saja membuat Dinda mengeluarkan suara.


“Din? Kamu gapapa?’, tanya Dimas terdengar ragu karena dia bisa mendengar dengan jelas suara bibir yang bertemu dan suara tak biasa dari Dinda, efek kissmark yang diberikan oleh Arya.


“M-mas Arya… Mas Arya… Le…”, sebelum Dinda menyelesaikan kalimatnya, Arya sudah menutup bibir itu dengan bibirnya.


“Hah .. hah … hah..”, Arya melepaskan ciumannya sebentar, memberikan ruang pada Dinda untuk bernafas. Arya juga mengambil kembali ponsel yang masih terhubung dan mematikannya.


Kemudian, tanpa mengatakan apapun, Arya bangun dan beranjak dari posisinya, meninggalkan Dinda yang masih marah, bingung, dan tidak habis pikir dengan tindakan pria itu barusan.

__ADS_1


__ADS_2