
Dika selesai melakukan pembayaran. Proses berlangsung sedikit lebih lama karena dia lupa pada password credit card nya. Karena takut kartunya terblokir, dia berpikir keras sebelum akhirnya berhasil memasukkan password yang benar.
“Ada - ada saja, Pak. Saya sudah takut kalau Bapak salah menekan password untuk kedua kalinya.”, ujar Erick sambil bercanda.
“Bapak langsung pulang?”, tanya Erick.
“Iya.. meeting hari ini berlangsung lebih lama dari perkiraan. Sesuai perkiraan saya, perusahan ini memang tidak memberikan kendor bagi karyawannya. Sekarang saya tahu kenapa Pak Arya bisa sesibuk itu.”, ujar Dika.
“Hm? Bapak sudah sempat mengobrol dengan Pak Arya?”, tanya Erick.
“Ah.. hm.. Hanya mendengar dari mulut ke mulut karyawan saja.”, jawab Dika.
Tentu saja bukan itu jawaban sebenarnya. Dika mendengar Arya yang sangat sibuk dari mulut Sarah yang terus mengeluhkan masalah itu padanya. Mereka memang sudah lama memiliki hubungan spesial. Tetapi bukan hubungan serius. Bahkan mereka sebenarnya juga terbilang sangat jarang bertemu.
Namun, setiap bertemu, mereka memang memilih tempat di hotel. Tidak banyak hal spesial yang terjadi. Bahkan, kebanyakan yang mereka lakukan adalah percakapan ringan tentang masalah pribadi yang mayoritas adalah permasalahan rumah tangga.
Awalnya, Dika dan Sarah bertemu di bar. Kemudian pertemuan mereka berlanjut karena mereka merasa ada koneksi meski permasalahan mereka berbeda. Kondisi pernikahan Sarah saat itu sedang tidak baik. Dia sedang dalam tahap pembahasan masalah perceraian dengan Arya.
Dia juga sedang menghindari Dimas karena dia baru sadar bahwa saat itu, dia sedang mengandung anak sahabatnya itu. Akhirnya Sarah mencari pelarian lain dan bertemu dengan Dika. Pria itu juga punya permasalahan yang berbeda. Pernikahannya selama 8 tahun membuatnya tidak bahagia.
Ia dijodohkan karena alasan finansial orang tuanya dengan seorang wanita yang sama sekali tidak dia cintai. Dari pernikahan itu, dia memiliki seorang putera yang kemudian dia baru sadar kalau anak itu bukanlah anaknya. Saat dia menikah, istrinya sudah hamil anak orang lain.
Kenyataan inilah yang membuat hubungan keduanya semakin tidak baik dari waktu ke waktu. Pertemuannya dengan Sarah membuatnya bisa melupakan permasalahnnya di rumah. Selama dua tahun lebih dia kehilangan kontak dengan Sarah dan setahun terakhir baru bertemu kembali tanpa sengaja karena Sarah masuk ke perusahaan dimana dia juga bekerja. Hubungan itu dimulai kembali.
“Pak Dika. Halo.. Pak.”, panggil Erick yang berusaha membangunkan Dika dari lamunannya.
“Ah iya… kalau begitu hayuk. Kamu bagaimana? Kamu kembali ke kantor dong ya? Mengambil mobil. Saya antar saja.”, kata Dika menawarkan.
“Oh tidak perlu Pak.”, jawab Erick basa - basi menolak.
“Tidak usah sungkan. Saya juga akan melewati arah yang sama dengan perjalanan ke kantor.”, kata Dika.
“Haha.. baiklah kalau bapak memaksa. Saya tidak ada pilihan untuk menolak.”
“Nah begitu, dong. Rini mana? Sudah duluan?”, tanya Dika melihat ke sekitarnya.
“Iya Pak.. dia sudah dijemput oleh pacarnya.”
Keduanya berjalan keluar restoran sambil meneruskan perbincangan ringan.
“Loh, Din. Kamu masih disini?”, tanya Erick pada Dinda yang terlihat menunggu sesuatu.
“Ah iya, Pak Erick, Pak Dika.”, balas Dinda saat menyadari ternyata di belakang Erick masih ada Pak Dika.
“Kamu dijemput?”
“Iya, Ah.. saya sudah pesan ojek online dan sedang di jalan.”, jawab Dinda.
“Benar? Mau saya antar saja? Sepertinya yang lain sudah pulang.”, kata Dika menawarkan.
__ADS_1
“Tidak perlu Pak Dika. Tadi juga Bryan sudah menawarkan, tapi saya balik dengan ojek online saja. Dekat kok, Pak.”, Dinda menolak dengan sopan.
“Hm.. beneran? Rumah kamu dimana memangnya?’, tanya Dika lagi.
“Di daerah Z, Pak. Sudah biasa kok, Pak naik ojek online. Tidak apa - apa. Bapak duluan saja.”
“Hm.. beda arah ya.. Ya sudah kalau begitu. Kabari saya atau Erick kalau sudah sampai di rumah ya. Hanya memastikan saja, karena hari sudah larut.”, ujar Dika.
“Baik, pak.”
Dika dan Erick segera berjalan menuju ke parkiran mobil. Beruntung restoran ini memiliki parkiran terpisah dan luas sehingga mereka tidak perlu kesulitan untuk memarkirkan mobil.
“Apa tidak apa - apa Dinda pulang sendirian? Sudah jam 10 lewat.”, tanya Dika.
“Tidak masalah, sebentar lagi juga su… ah maksud saya, sebentar lagi juga supir ojek onlinenya datang. Dia juga sudah setuju untuk mengabari kalau sudah sampai di rumah.”, ujar Erick hampir saja keceplosan.
Sekitar 20 menit yang lalu, Arya menghubungi Erick karena dia kesulitan menghubungi Dinda. Saat menghubungi ke rumah, Bunda dan Arga juga mengabarkan Dinda belum pulang. Saat itulah, Erick menghubungi Erick dan tahu kalau ternyata ada acara dinner bersama traktiran dari Dika.
Arya juga sudah mengirimkan pesan pada Dinda sesaat sebelum gadis itu hendak memesan ojek online. Awalnya Dinda tidak mengindahkannya, namun pesan selanjutnya membuatnya menuruti perintah Arya.
From: “Mas A ❤️”
Kamu bisa pulang sekarang sendiri, tapi besok pagi semua orang kantor akan tahu kalau saya suami kamu.
Arya tidak punya pilihan selain memberikan pesan itu pada istrinya. Jika tidak, Dinda pasti tidak akan menurutinya dan pulang sendiri di jam selarut ini.
Mobil Dika yang didalamnya juga ada Erick melewati Dinda yang sedang menunggu di depan restoran. Dika menekan klakson mobil sebagai kode bahwa dirinya dan Erick pulang duluan. Dinda tersenyum ke arah mobil itu.
From: “Mas A ❤️”
Kamu tunggu disana sebentar.
Arya sudah kembali ke rumah beberapa jam yang lalu dan langsung mengambil mobilnya untuk menjemput Dinda. Perjalanan dari rumah ke kantor seharusnya hanya sekitar 30 - 45 menit. Tapi ada sesuatu di depan jalan yang membuat mobilnya terjebak macet.
“Ah… kenapa macetnya harus datang disaat seperti ini.”, ujar Arya kesal.
Jalanan yang sedang dilewatinya ini biasanya tidak pernah terkena macet. Kecuali memang ada event khusus. Jalanan ini memang menjadi jalanan yang sering terkena imbas macet jika ada acara tertentu karena berada di daerah yang strategis.
“Aku harap kemacetan ini tidak berlangsung lama.”, ujar Arya sambil melihat jam tangannya.
Syukurlah, hal yang menjadi kekhawatirannya tidak terjadi. Meski sempat terjebak di kemacetan selama lebih dari 20 menit, akhirnya mobilnya kembali bisa melaju melewati jalanan di waktu yang semakin larut ini.
Begitu menemukan restoran yang dimaksud, Arya langsung memarkirkan mobilnya. Dia kesulitan menemukan Dinda padahal dia sudah meminta gadis itu untuk menunggunya di depan restoran.
“Apa dia memilih pulang sendiri?”, ujar Arya.
Saat dia berbalik ternyata Dinda keluar dari Cafe menuruni tangga. Dari jarak jauh, Arya tahu jika Dinda sudah menyadari keberadaannya.
“Darimana saja kamu? Saya kan sudah bilang tunggu disini.”, kata Arya langsung mencecar Dinda dengan pertanyaan.
__ADS_1
“Ke kamar mandi. Pipis. dr. Rima bilang wanita hamil tidak boleh menahan pipis. Aku baru permisi ke dalam untuk numpang pipis.”, jawab Dinda. Meski dia memberikan jawaban yang detail, namun nada jutek masih bisa Arya rasakan.
“Hm.. Kamu sehat?”, itu adalah pertanyaan kedua yang keluar dari mulut Arya.
Dinda tidak menjawab dan membuang muka. Sebenarnya dia sudah bosan seperti ini. Dia mau segera berbaikan dengan Arya tapi dia bingung bagaimana caranya. Pria kulkas tiga pintu itu juga tidak berinisiatif untuk berusaha mendekatinya.
Dinda jadi merasa serba salah. Jika dia tiba - tiba bersikap baik, Arya pasti akan terus menggampangkan masalah ini. Masalah tentang siapa yang menjadi prioritas sebenarnya dalam hidupnya. Kesibukannya atau istrinya.
“Ya sudah kalau kamu masih marah? Kita pulang sekarang.”, ujar Arya sambil merangkul tangannya di pinggang Dinda untuk mengarahkan gadis itu ke mobil.
“Mas Arya akan terus mengabaikan ini kan? Mas Arya tahu ada masalah tapi mas Arya tidak peduli. Kalau begitu, kenapa mas Arya jemput aku disini?”, ucap Dinda memilih untuk berhenti berjalan menuju mobil.
“Terus, kamu mau kita berantem disini? Masuk dulu ke mobil, kita bicarakan di tempat yang lebih tenang. Hanya ada kita. Mengerti?”, meski Arya mengucapkannya dengan nada yang pelan, namun Dinda bisa merasakan ketegasan dari kalimat yang dia ucapkan.
Akhirnya Dinda mengikuti Arya dan masuk ke dalam mobil. Sebagai bentuk protesnya, dia tidak melihat ke arah depan apalagi ke arah Arya. Dinda memilih untuk melihat ke arah jendela. Tiba - tiba Arya mendekatinya.
“M-mas Arya mau apa?”, tanya Dinda kaget ketika wajah pria itu sudah berada di hadapannya. Bahkan Dinda bisa mendengar deru nafasnya.
Seketika fokus Dinda hilang dan menutup matanya. Seolah dia menanti sesuatu dari Arya.
“Pasang seatbeltnya. Sekarang sudah pakai mode tilang elektronik. Sekali kena lumayan juga.”, kata Arya mengklarifikasi tindakannya.
Melihat Dinda yang menutup matanya membuat senyuman tipis muncul di bibir Arya. Tadinya situasi sedikit intens karena protes yang dilakukan Dinda, tapi sekarang rasa lelah Arya hilang melihat tingkah istrinya itu.
“Kita mau kemana?”, tanya Dinda setelah setengah perjalanan ia sadar kalau ini bukan jalan menuju rumah. Bukan kediaman Kuswan ataupun rumah bundanya.
‘Apartemen. Lagi - lagi mas Arya membawaku kesini. Pasti setiap ada masalah selalu di bawa kesini. Apa mas Arya pasang jimat yang bisa menghilangkan kemarahan orang disini?’, Dinda mulai berimajinasi yang tidak - tidak.
Padahal, alasan Arya memilih tempat ini cukup simpel. Selain apartemen lebih dekat dari restoran, apartemen juga lebih dekat ke kantor. Besok dia harus ke kantor pagi - pagi karena ada meeting.
Arya tidak menjawab pertanyaan Dinda dan lebih fokus pada jalanan. Hari sudah semakin larut, jalanan mulai sepi. Saat seperti ini, fokus menyetir harus lebih diutamakan karena banyak orang yang melaju dengan kecepatan tinggi sembarangan.
“Oh? Mba Dinda?”, sapa seseorang pada Dinda setelah mereka sampai di parkiran.
“Oh? dr. Rima.”, Dinda menoleh ke belakang dan menunjukkan wajah sumringahnya saat dia melihat dr. Rima di belakang.
“Baru pulang?”, tanya Dinda sambil berhenti menunggu dr. Rima yang berjalan ke arahnya.
“Iya. Baru selesai. Tumben ke apartemen. Oh halo… Pak Arya, ya?”, dr. Rima baru menyadari seseorang keluar dari pintu kemudi mobil.
Berbeda dengan Dinda, dr. Rima belum pernah bertemu Arya dalam keadaan sadar. Mereka baru pertama kali bertemu di parkiran dan dr. Rima saat itu masih dalam keadaan mabuk. Sehingga, dia tidak ingat sama sekali.
Beberapa waktu yang lalu mereka sempat berbicara karena Arya menanyakan keadaan Dinda, namun itu juga melalui telepon.
“Halo. Selamat malam.”, balas Arya.
“Baru pulang dari luar kota? Sibuk sekali ya, sampai tidak sempat menemani istrinya kontrol.”, dr. Rima tak ragu menyindir Arya.
“Ah.. iya.”, sindiran dr. Rima langsung kena to the point. Arya yang tadinya bersikap cool langsung merasa bersalah mendengar hal itu lagi. Masalah yang sampai saat ini belum terselesaikan antara dia dengan Dinda.
__ADS_1
“Kandungan Dinda sehat. Tapi, kehadiran suami saat istri periksa rutin ke rumah sakit sangat berarti bagi dia sebagai dukungan mental.”, ujar dr. Rima.
“Ah.. iya dok. Saya akan coba untuk menemani Dinda kedepannya. Kalau begitu.”, ucap Arya saat mereka sudah sampai di lantai apartemen.